
Abi Yosep menghela nafasnya dan dia tidak bisa berkata-kata, karena dia mendengar Delbert berbicara tentang penolakan Bella pada dirinya.
Papah Andre, Ayah Candra dan Papah Boby menatap kearah Abi Yosep, meraka paham akan kegelisahan hati Abi Yosep sahabat mereka, karena keadaan Bella yang dulunya rumah tangganya tidak bahagia dan mengalami kekerasan pisik dan batinnya pasti akan membuat Bella trauma dalam membina rumah tangga lagi dan pasti saja Bella berpikiran tidak ada yang bisa menerima dia seutuhnya dengan keadaanya dulu yang pernah dijual belikan suaminya dengan kolega bisnis sang mantan suami.
" Belderet..." panggil papa Boby.
" Delbert Om, bukan Belderet.." sanggah Morgan terkekeh.
" Oh iya...habisnya sulit sih namanya...makan apa sih mamahnya kemaren ngidamnya sampai nama anaknya sulit banget disebut dilidah Om, coba parto kek, udin kek, biar bisa lancar penyebutannya hehehe,,, maaf bercanda, karena memang benar saya sulit sekali menyebutkan nama kamu..." ucap Papah Boby terkekeh, di ikuti Delbert dan William terkekeh juga dan yang lainnya hanya tersenyum saja, papah Boby memang bisa mengendalikan situasi yang terlihat mengesankan kesedihan itu.
" Iya pak, nggak apa-apa, dimaafkan..." Ucap Delbert tersenyum.
Mendengar Delbert mengucapkan kata dimaafkan papah Boby langsung menatap kearahnya dengan lekat,mereka yang mendengar pun langsung tertawa lepas.
" Ni anak bisa juga ngelucunya ..." Ucap Ayah Candra tertawa.
Setelah reda tawa mereka Abi Yosep memulai lagi bicaranya.
" Maaf Delbert apakah kamu selama kenal degan Bella selama ini, apakah sudah mengetahui sisi baik dan sisi buruknya kehidupan Bella,istilahnya masa lalu Bella, bukan apa-apa tapi kami sebagai keluarganya terutamanya saya sebagai Omnya Bella, menanyakan semua ini pada mu karena saya tidak ingin kamu menyesal setelah mengetahui semuanya." ucap Abi Yosep terlihat kesedihan diwajahnya.
William dan Delbert pun tersenyum mendengar ucapan Abi Yosep tentang sisi buruk dan baiknya Bella.
Terdengar Delbert menghela nafasnya dan membenarkan posisi duduknya.
" Awal ketemu Bella saya sudah yakin dengannya, dia memang belum pernah sama sekali menceritakan tentang masalalunya pada saya, saya tahu, sangat banyak yang disembunyikan Bella pada saya tapi saya tidak berhenti disitu saja, dengan bantuan kakak saya ini, saya diam-diam mencari tahu semuanya dan saya awalnya terkejut mendapati masa lalunya Bella yang mungkin tidak bisa dipercaya, saya sedih! benci! dan marah! dengan masa lalunya Bella, dalam artian marah dengan mantan suaminya yang begitu tega membuat kenangan yang buruk dihati Bella yang mungkin sangat membekas tak bisa dihilangkan dan dilupakan, setelah saya megetahui semuanya itu tidak membuyarkan perasaan saya, hati saya dan rasa cinta saya pada Bella, dan saya juga mengambil kesimpulan dari masa lalunya Bella itulah rupanya
selama ini dia menolak saya untuk berniat mengenal keluarganya dan berkeinginan melamarnya dan menjadikan dia sebagai milik saya seutuhnya, sekarang akses saya berkomunikasi dengannya sudah ditutupnya semua nomer saya, emal saya di blok Bella, setelah saya mengutarakan keinginan saya untuk menjadikan dia istri saya." terang Delbert sembari menangkupkan kedua telapak tangannya dan menutup sebagian wajahnya dengan bertopang kedua pahanya, terdengar helaan nafas panjangnya dan diapun terdiam.
Mereka yang mendengarkan perkataan dari Delbert hanya bisa menghela nafasnya.
" Saya pribadi sebagai kakak dari Delbert hanya bisa mendukung keputusan adik saya menjatuhkan pilihannya dengan Bella, karena saya yakin adik saya akan bahagia dengan pilihannya sendiri selama dia memang benar-benar menyayangi dan mencintai Bella dengan sepenuh hatinya dan membina rumah tangga yang didambakan oleh semua wanita yaitu suami yang bijaksana dan perhatian, dan juga penuh kasih sayang, singkatnya saya selaku kakak Delbert melamar Bella untuk dijadikan sebagai menantu dikeluarga saya tepatnya sebagai adik ipar jika diterima." ucap William sembari tersenyum.
Abi Yosep menghela nafasnya dengan pelan dan menatap kearah para sahabatnya dan juga istrinya.
Para sahabatnya dan istrinya hanya mengangguk pelan dan memberikan senyum pada Abi Yosep untuk memberikan keputusan tentang lamaran untuk Bella walaupun mereka yang ada disitu semua adalah keluarga bagi Abi Yosep, tapi yang lebih berhak adalah Abi Yosep sendiri menerima atau tidaknya karena sekarang Abi Yosep adalah orang tua bagi Bella, walaupun sekarang Bella sudah berstatus janda tapi dia masih menghormati Abi Yosep sebgai orang tuanya.
" Delbert...saya selaku omnya Bella sangat berterimakasih denganmu karena mau mempersunting Bella sebagai istrimu, saya sangat bersyukur karena kamu mau menerima kekurangan dan kelebihan yang ada didiri Bella beserta masalalunya, saya setuju saja Bella mendapatkan jodoh lagi dan mau menerima dia apa adanya, tapi itu semua kembali lagi dengan keputusan Bella,karena itu semua Bella yang akan menjalaninya bersamamu,semua keputusan ada ditangan Bella." ucap Abi Yosep dianggukkan para sahabatnya dan keluarganya yang hadir diruang tengah tersebut.
Delbert dan William hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum, kemudian Umi Vita berdiri melangkah meninggalkan ruangan tersebut menuju kearah kamar Bella dimana Bella berada karena setelah para tamu berlalu dia langsung memasuki kamarnya, terdengar ketukan di pintu kamar Bella, dia yang sedang duduk dibibir ranjangnya sembari menatap fhoto sang mamah yang ada di tangannya itu pun langsung meletakkan fhoto tersebut diatas kasurnya dan berdiri melangkah berjalan kearah pintu kamarnya sambari menghapus air matanya yang masih tersisa.
Pintu kamar terbuka dan terlihatlah wajah Umi Vita yang tersenyum.
" Tante Vita, ada apa tante?" tanyanya sembari berusaha tersenyum, walaupun terlihat rona kesedihan diwajahnya, Umi Vita menyentuh wajah Bella dan menghapus sisa air mata yanng terlihat hendak mengalir diwajah cantik Bella.
" Jangan terus bersedih sayang, iklaskan mamah mu ya, jangan kamu halangi dengan kesedihan langkahnya, in sya Allah kita semua akan iklas dengan kepergiannya." ucap Umi Vita sembari menepuk pundak Bella dengan pelan dan penuh kelembutan dan kasih sayang.
Bella hanya bisa mengangguk dan mengucapkan kata Amin pelan hampir tidak terdengar.
" Sayang ayo kita turun kebawah karena ada seseorang yang ingin bertemu dengan mu." kata Umi Vita.
Bella terkejut mendengar ada seseorang yang ingin bertemu dengannya.
" Siapa Tante orang tersebut?" Tanyanya seraya menggenggam tangan Umi Vita.
Umi Vita tesenyum dan lagsung meraih tangan Bella dan mengajaknya turun kebawah.
" Lebih baik kamu temui saja dulu." Ucapnya dianggukkan Bella walaupun dia bertanya-tanya siapa yang ingin bertemu dengannya.
" Apakah dia? Aahhh!...tidak mungkin dia, karena kami sudah tidak berhubungan lagi, semua akses komunikasi sudah aku Blok beberapa bulan yang lalu, kalau bukan dia siapa?" Batin Bella beranya-tanya seraya melangkah menuju kelantai bawah, sesampainya dilantai bawah, Bella terkejut melihat siapa yang ada diruangan itu.
" Delbert..." ucapnya pelan seraya menatap kearah Delbert.
" Dia benar-benar datang..." ucap batinnya dan dia pun sangat terkejut karena dugaannya benar yang datang adalah Delbert seseorang yang hadir menghiasi hari-harinya secara virtual, benar-benar ada dipenglihatannya dan sekarang ada dirumahnya tepat dihadapannya itu.
Delbert menoleh kearah Bella dan begitu juga Bella menatap kearah Delbert yang nampak bahagia melihat sang pujaan hati dihadapannya berdiri karena Delbert sangat merindukan wajah, senyum dan suara Bella setelah beberapa bulan tidak bertemu karena semua komunikasi diputus Bella dengan secara sepihak.
" Sayang...ternyata kamu cantik sekali aslinya...Astaga! Kenapa Aku sudah tidak sabar untuk menjadikan dia Bidadariku" ucap batin Delbert dan wajahnya mengukir senyuman, Delbert yang bahagia karena bisa melihat langsung wajah Bella yang menurutnya cantik aslinya itu tapi tidak dengan Bella dia yang terkejut dan suara Umi Vita yang mengajaknya dudukpun tidak dihiraukannya.