THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP

THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP
BAB 135



Tepat jam 8 pagi mama Anisha dan Umi Vita beserta Mama Lala dan Bunda Adel mengajak Ayesha memeriksakan kandungannya.


Mereka berlima meninggalkan rumah kediaman keluarga Wibawa, mobil yang di kendalikan oleh Mamah Lala melaju menuju kearah rumah sakit milik keluarga Wibawa.


Mobil melaju dijalan beraspal tanpa hambatan.Beberapa menit kemudian mobil memasuki halaman rumah sakit dan menuju kearah tempat parkir yang telah di sediakan oleh pihak rumah sakit tersebut.


Mereka tersenyum dan turun bersamaan menuju keruangan dokter spesialis kandungan, mereka berjalan menyusuri koridor rumah sakit dan mereka mengikuti prosedur untuk membiasakan diri antri dalam berobat. Walaupun mamah Anisha adalah istri dari pemilik rumah sakit tersebut dia tetap mengikuti prosedur untuk mengambil kartu antrian.


Beberapa saat menunggu tibalah saatnya giliran Ayesha, dia dan mamah Anisha serta umi Vita memasuki ruangan dokter spesialis kandungan, dan mamah Lala dan bunda Adel hanya menunggu di luar ruangan.


Setelah berada di dalam beberapa saat kemudian mereka keluar dari ruangan tersebut dengan senyum yang sumringah kedua wanita yang sedang menunggu mereka di luar sudah dapat menebak karena terlihat dari raut wajah mereka sangat bahagia. Mamah Lala dan bunda Adel pun saling pandang dan tersenyum.


Mereka berdua langsung mendekati ketiga wanita yang baru saja keluar dari ruang periksa dokter spesialis kandungan tersebut.


" Akhirnya kita punya cucu juga." Ucap mamah Lala tersenyum bahagia.


" Gimana ya reaksi para suami-suami kita nantinya kalau mereka mendengar kabar kehamilan menantu kita." Lanjut mamah Lala tersenyum bahagia.


" Pasti sangat senang karena mendapatkan kabar bahagia ini." ujar Mamah Anisha.


" Ayo kita pulang,biar Ayesha bisa istirahat." Lanjut Bunda Adel.


Mereka semua tersenyum dan menganggukkan kepala meraka menyetujui ajakan bunda adel.


Mereka melangkah menyusuri koridor rumah sakit dan langsung menuju kearah mobil mereka yang terparkir, dengan senyum bahagia mereka memasuki mobil tersebut, dan mobil yang di kemudikan mamah Lala pun akhirnya meninggalkan rumah sakit dan melaju di jalan beraspal tanpa hambatan menuju kearah rumah kediaman keluarga Wibawa.


*****


Di rumah sakit yang ada di kota dimana Marco di rawat.Mereka sedang menunggu Abiyasa yang sedang mengurus semua Administrasi dari Marco.


Abiyasa pun melangkah di koridor rumah sakit tersebut menuju ke arah ruangan di mana Marco di rawat dan para sahabatnya yang menunggu kabar darinya.


Abiyasa membuka pintu ruangan VVIP yang merawat Marco.


" Assalamualaikum." Ucapnya dengan wajah sedih.


" Waalaikumsalam." Jawab mereka yang ada di dalam.


Mereka semua menatap kearah Abiyasa yang terlihat sedih.


" Ada apa Bi,ada apa dengan wajahmu yang terlihat sangat sedih.?"


" Maaf nggak bisa di rujuk." Ucap Abiyasa sembari menatap wajah Clarissa dengan tatapan sedih.


Mereka semua terkejut dengan ucapan Abiyasa.


" Kenapa? nggak bisa Bi?" Tanya Arvin.


" Kamu kan dengar kalau kata dokter yang menangani kak Marco bisa aja di rujuk, kenapa sekarang tidak bisa.?" Tanya Morgan.


" Iya Bi? apa alasan mereka menahan Marco disini?" Tanya Clarissa terdengar sedih dari nada bicaranya.


" Aku juga tidak tahu Ris, kalau memang Marco masih di haruskan dirawat disini, aku sih nggak masalah, tapi aku tetap pulang hari ini, secara aku merindukan istriku." Ucapnya enteng.


Mereka bertiga langsung menatap Abimanyu dengan lekat,dan Abimanyu santai-santai saja dengan ucapannya dia pun hanya cuek para sahabatnya menatap dirinya dengan lekat.


" Kenapa dengan mu Bi?apa yang terjadi?" Tanya Arvin.


" Kenapa apanya? aku sih biasa aja." kekeh Abiyasa.


" Kenapa kamu ngomong seperti itu Bi? kamu tidak memandang perasaan Clarissa, Marco dan Morgan? aku tidak menyangka kamu bisa berubah dalam hitungan jam." Ucap Arvin seraya menatap Abiyasa.


Abiyasa hanya tersenyum mendengar ucapan Arvin.


Clarissa dan Morgan hanya terdiam dan menundukkan kepalanya dan mereka pun tidak menyadari kalau Marco pun mendengar ucapan Abiyasa.


" hey!apa ada yang salah dengan ku, biasa aja kali, kalian bisa nungguin Marco disini, dan aku mau pulang nemui istriku,. aku kangen baget dengan istriku." Ucapnya lagi seraya tetap tersenyum.


" Silahkan kalau kamu mau pulang Bi, aku ingin tetap menemani Clarissa dan Morgan disini.


" Ayolah Vin, kamu kan kerja, sudah berapa hari kamu nggak masuk kantor, ntar kamu di pecat lho, biar aja di sini kan ada Morgan yang jagain kakaknya, dan Clarissa kamu harus juga pulang karena aku bos kamu, dan kamu harus masuk kerja, kalau kamu tidak mau masuk kerja aku akan pecat kamu, mau kamu tak punya kerjaan." Ucap Abiyasa seraya menatap kearah Arvin dan Clarissa secara bergantian.


Clarissa terkejut, mendengar ucapan Abiyasa yang baru kali ini di dengar oleh Clarissa menuntut dalam pekerjaan, dia mengenal Abiyasa sudah dari kecil sampai sekarang,tidak pernah sedikitpun dia merasa di sakiti atau di marahi Abiyasa, tapi...sekarang ini Abiyasa mengatakan itu padanya terlihat jelas dia menuntut akan kinerja Clarissa di kantornya.


" Kenapa kalian diam? aku benarkan dengan ucapanku, aku nggak salah kan?" Ucapnya.


" Aku tetap di sini Bi, biar sekali pun aku di pecat, karena sahabat lebih utama disaat kita senang sahabat akan hadir, dan di saat kita susahpun sahabat akan selalu ada di samping kita, karena sahabat itu berbeda dengan teman, teman akan ada di saat kita senang, tapi di saat kita susah teman akan pergi dan tidak mau membantu dan menemani kita " Ucap Arvin seraya menatap kearah Abimanyu.


" Arvin, kamu nggak usah bertengkar dengan Abiyasa,Abiyasa benar di sini aku yang punya kakak, jadi aku yang harus bertahan di sini, kalian silahkan pulang aja, begitu juga Clarissa, kamu Ris harus pulang juga dan benar juga kata Abiyasa kamu anak buahnya harus mengikuti aturan bos kamu, aku nggak apa-apa di sini " Ucap Morgan.


" Aku tetap disini!" Ucap Arvin dengan tegas.


" Aku juga tetap disini, biarpun Abiyasa mau memecatku aku akan terima, bagaimanapun Marco adalah tunangan ku, walaupun seandainya Marco bukan tunanganku tapi dia sehabatku aku akan tetap berada di sampingnya sampai dia sembuh." Ucap Clarissa.


" Kalau seperti itu, aku akan pulang kekota kita, tapi Clarissa harus mengurus kepulangan ku, karena pihak rumah sakit tidak ingi salah satu dari kita keluar dari sini."


Mereka semua menatap Abiyasa dengan tatapan aneh mereka yang tidak paham akan prosedur rumah sakit tersebut.


" Maksud kamu Aku? apa yang harus aku lakukan agar kamu bisa pulang kekota kita dan bertemu keluarga dan istri mu."


Ucap Clarissa mantap, dianggukkan dengan Morgan dan Arvin.


" Kamu sanggup untuk melaksanakan perintah rumah sakit ini?karena bagian adminnya tadi bilang padaku cara mengurus kepulangan salah seorang dari kita,karena kalian tidak mau pulang biar aku yang balik kandang." Ucap Abiyasa serius dengan kata-katanya.


" Udah cepat katakan apa yang harus aku lakukan biar kamu bisa balik kandang." Ucap Clarissa.


" Kamu harus mengepel semua ruangan yang ada di rumah sakit ini, Hahahahaha.." Ucap Abiyasa tertawa lepas dia tidak sadar kalau dia berada di dalam ruangan rumah sakit.


Mereka bertiga terperangah dan baru saja mengerti dengan ucapan Abiyasa barusan, dan langsung saja mereka bertiga menyerbu Abiyasa Ada yang mencubit pahanya ada yang mencubit pipinya dan ada yang mejewer kupingnya, Abiyasa pun tak kuasa melawan dia hanya bisa meringis kesakitan sembari mengucapkan kata 'Ampun'


Setelah puas dengan menghukum Abiyasa mereka tersenyum dan menyenderkan tubuh mereka di sandaran Sofa.


" Aku kira tadi beneran lho Bi kamu bilang seperti itu." Ucap Arvin.


" Mana aku tega meninggalkan kalian semua, slogan kitakan siapa yang merasa sakit ataupun bahagia kita sama-sama merasakannya, karena kita sahabat selamanya." Ucap Abiyasa tersenyum seraya mengusap pipi dan paha serta telinganya yang masih terasa sakit akibat serangan dari ketiga sahabatnya.


" Alhamdulillah sudah selesai, dengan izin Allah kita dimudahkan membawa Marco kembali ke daerah kita dan di rawat disana." Ucap Abiyasa tersenyum Seraya berdiri dan melangkah menuju ke arah pembaringan Marco di ikuti ketiga sahabatnya yang berada di sisi kiri kanannya Marco.


" Terima kasih ya Bi,Aku sempat sedih karena aku mengira tadi ucapanmu benaran, aku merasa bersalah banget Bi, kalau seandainya persahabatan kalian pecah gara-gara aku, aku tak akan pernah memaafkan diriku sendiri." Ucapnya seraya menatap Abiyasa dan yang lainnya.


" Kami tak akan terpecahkan Mar, karena kami ini di ciptakan sebagai sahabat yang sangat erat, walau apapun yang menghadang kami akan sama-sama menghadapinya." Ucap Abiyasa tersenyum dianggukkan ketiga sahabatnya tersebut.


Marco tersenyum..


" Terimakasih sekali lagi ya, karena kalian sudah mau menolongku."


" Tidak apa-apa Marco kamu kan adalah sahabat kami, calon suami dari teman kecil kami, jadi kamu adalah keluarga kami." Lanjut Abiyasa tersenyum Seraya mengelus bahu Marco yang masih terbaring.


Marco tersenyum terlihat jelas di wajahnya dia merasa bahagia karena ditemukan dengan orang-orang yang baik seperti Abiyasa dan calon istri yang sangat perhatian dan sangat baik sekali.


" Sebentar lagi papah dan yang lainnya ke sini,jadi kita menunggu mereka sampai,setelah itu kita langsung berangkat ke bandara, lebih cepat kan lebih baik kita berada di sana." Ucap Abiyasa.


" Mungkin bukan om Andre yang ke sini, tapi Papah ku Bi yang jemput kita,yang lainnya sudah menunggu di bandara, karena tadi papah bilang ke aku dengan mengirim chat pribadi." Ucap Clarissa.


Yang lain hanya mengangguk Kemudian beberapa saat datang seorang perawat membawa kursi roda yang diperlukan untuk Marco, Mereka kemudian memindahkan Marco ke kursi roda dan mereka pun kemudian keluar dari ruangan VVIP tersebut menyusuri koridor rumah sakit menuju ke depan rumah sakit itu, tidak lama mereka menunggu akhirnya Papa Bobby datang membawa sebuah taksi untuk mereka tumpangi,setelah mereka masuk dalam taksi dan beberapa saat kemudian mereka yang menumpangi taksi tersebut meninggalkan depan rumah sakit menuju ke arah tempat tujuan.


Terlihat semuanya bahagia karena mereka sudah mau pulang ke rumah mereka bertemu dengan kedua orang tua dan adik-adik mereka yang beberapa hari mereka tinggalkan.


Tapi tidak dengan wajah Arvin, dia terlihat sendu dan seakan akan menanggung beban yang sangat berat.


Morgan melihat ke wajah Arvin kemudian dia merangkul sahabatnya yang duduk disampingnya tersebut.


" Kamu yang sabar ya kita akan menyelesaikan semuanya, jangan kamu perlihatkan dulu wajah kamu seperti itu, nanti kedua orang tuamu akan merasa terbebankan pikirannya." Ucap Morgan seraya menepuk pundak Arvin dengan halus sembari tersenyum.


Arvin pun menoleh ke arah Morgan dia tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


" Tapi aku tetap akan mengatakan semuanya kepada kedua orang tuaku, agar mereka mengetahui semuanya karena aku tidak ingin masa laluku yang telah aku lupakan itu kemudian hari akan terungkap dan kedua orang tuaku mengetahuinya dari orang lain,aku tidak ingin itu terjadi,dan aku ingin kedua orang tuaku mengetahuinya dari diriku sendiri." Ucapnya Seraya mengusap wajahnya dengan kasar.


Abiyasa yang duduk di depan di samping sopir pun menoleh ke arah belakang.


" Tenang saja Vin semuanya akan kita tuntaskan sampai akar-akarnya, kamu harus yakin dengan kami yang akan menyelesaikan semuanya aku yakin Maya akan menjelaskan semuanya dan kita berdoa saja semoga Lia kita temukan." Ucap Abiyasa seraya tersenyum menatap kearah Arvin, Arvin menganggukkan kepalanya.


" Mudah-mudahan aja Bi." Ucapnya.


Beberapa saat kemudian mereka pun sampai di depan bandara, setelah mereka membayar semua taksi yang mereka gunakan untuk menuju ke bandara, mereka semua keluar dari taksi dan kemudian melangkah menemui mereka semua yang sudah menunggu, karena Papa Andre sudah berbicara dengan pihak bandara akhirnya mereka pun masuk kedalam jet pribadi keluarga Wibawa, beberapa saat kemudian jet pribadi itu langsung menuju ke arah tempat tujuan.


Di dalam jet pribadi...


Ayah Candra yang memperhatikan sang anak yang terlihat sedikit gelisah dia pun langsung mendekati Arvin yang duduk di sebelah Abiyasa, melihat kedatangan Ayah Candra Abiyasa pun berdiri dan berpindah duduk serta mempersilahkan Ayah candra duduk di samping anaknya tersebut.


Arvin terkejut melihat Ayahnya yang tiba-tiba duduk di sampingnya,dia tersenyum seraya menoleh kearah sang Ayah.


" Ada apa nak? tidak biasanya wajah kamu gelisah seperti itu dan terlihat sedih, cerita dengan Ayah, kalau ada masalah jangan di pendam sendiri,nanti bisa merusak hati dan pikiran." Ucapnya penuh kasih sayang,seraya menunjuk pelan kedada dan kepala sang Anak.


Arvin tersenyum dan hanya bisa menarik nafasnya dengan pelan.


" Jangan sampai bunda kamu melihat kesedihan di wajah mu nak, kamu kan tahu bunda kamu itu perasanya tingkat dewa." Ucap Ayah Candra lagi seraya tersenyum membayangkan wajah cantik sang istri yang sudah beberapa hari dia tinggalkan dan tidak bertemu,dan hanya melalui gawai saja bertatap muka.


" Iya Yah, sebenarnya Arvin punya suatu masalah yang belum Arvin selesaikan Yah, tapi nanti saja setelah sampai di rumah Arvin akan ceritakan semuanya dengan Ayah dan Bunda serta yang lainnya Yah." Ucapnya seraya menatap Kearah Ayah tercintanya.


" Baiklah nak, Ayah akan menunggu cerita kamu sesampainya di dumah, Ayah harap kamu jangan pernah menyembunyikannya dari Semuanya baik dari para sahabat mu ataupun om-om kamu,terutamanya Ayah dan Bunda kamu ini." Ucapnya seraya merangkul anak sulungnya tersebut.


Arvin mengangguk dan mereka semua pun terdiam menikmati perjalanan yang sekarang mereka lalui menuju kembali kerumah,dimana para istri dan orangtua perempuan,serta anak dan Adik mereka menunggu.