THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP

THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP
BAB 256



Setelah makan siang, Morgan dan Arvin langsung berpamitan kembali dengan yang lainnya karena mereka berdua akan menjalankan misi mereka, tapi Abiyasa menatap kedua sahabatnya itu dengan perasaan heran.


" Kenapa kalian begitu cepat, setidaknya kalian istirahat sebentar." Ucapnya pada kedua sahabatnya itu.


" Karena kerjaan banyak Biy, makanya aku putuskan hari ini masuk kerja." Jawab Morgan seraya menatap Arvin, Arvin hanya menganggukkan kepalanya.


Anindita menghampiri suaminya itu.


" Hati-hati ya sayang." Ucap Anindita seraya tersenyum dan merangkul sang suami.


" Iya sayang..." Ucapnya seraya mencium kening sang istri dan membalas rangkulan istrinya.


Abiyasa menatap Anindita...


" Sepertinya Anindita menyimpan sesuatu." Ucap batin Abiyasa.


" Ya udah ya Biy, kami pergi dulu ya, oh ya sayang, kamu juga hati-hati ya kerumah sakitnya." Ucap Morgan.


" Nggak sayang, aku sudah nggak balik kesana lagi,besok pagi aja, karena urusannya sudah selesai dirumah sakit." Ucap Anindita seraya tersenyum.


Morgan menganggukkan kepalanya sembari sekali lagi mencium kening sang istri.


" Assalamualaikum..." Ucap keduanya.


" Waalaikumsalam..." Jawab Abiyasa dan Anindita seraya menatap kepergian mereka berdua, sampai mobil mereka berdua pun sudah tidak terlihat lagi dari pandangan mereka berdua.


Anindita pun beranjak hendak masuk kedalam rumah.


" Dita.." panggil Abiyasa.


" Iya kak.." jawabnya seraya menghentikan langkahnya.


" Kesini sebentar, ada yang kakak mau tanyakan denganmu." Ucap Abiyasa berjalan menuju kearah kursi teras depan dan langsung menghentakkan tubuhnya seraya menghela nafasnya dengan panjang.


Anindita langsung terkejut dan dia pun langsung menyembunyikan rasa terkejutnya itu.


" Pasti kak Biyas mau bertanya tentang suami ku dan Arvin kenapa mereka begitu cepat berlalu dari rumah ini." gumam batin Anindita.


Anindita pun berjalan mendekati sang kakak dan duduk didepan Abiyasa. Abiyasa menatap Adiknya itu yang terlihat menyembunyikan sesuatu.


" Dita, Morgan ada bicara apa dengan mu?" tanya Abiyasa sembari menatap tajam sang Adik.


" Tidak ada yang diomongkannya dengan Dita kak."


" Dita! kakak tidak suka dengan kata TIDAK " ucap Abiyasa.


Dita tersentak, dan menatap wajah kakaknya itu, dia tahu kalau kakaknya itu sudah berkata seperti itu kakaknya sudah mengetahui kalau ada sesuatu yang disembunyikan.


" Mereka berdua akan melakukan penggerebekkan dengan sekelompok yang salah satunya sudah mengikuti kalian saat pesta pernikahan Dita." ucapnya akhirnya.


" Maafkan aku suamiku, karena sudah mengingkarinya untuk tidak mengatakan semuanya pada kak Abiyasa." gumam batinya seraya menghela nafasnya dan menggigit bibir bawahnya tersebut, terlihat Abiyasa terkejut dan mengusap wajahnya dengan kasar dan membetulkan posisi duduknya.


" Kenapa mereka tidak mau bicara semuanya padaku?" tanya Abiyasa.


" Mereka berdua bukan tidak ingin memberitahukan berita ini tapi kata mereka biarlah kakak berada dirumah disamping kakak bisa beristirahat dan menjaga siapa tahu ada yang meneror rumah kita, lagi pula kata Morgan tiba waktunya dia beraksi karena sudah kelamaan fakum." terang Anindita.


Abiyasa langsung mengambil gawainya dan menghubngi Morgan.


" Waalaikumsallam..kalian dimana sekarang?"


" Ada dikantor, kenapa Biy...?" tanya Morgan seraya menatap kearah Arvin.


" Oke! aku akan sgera kesana, tunggu aku jangan kemana-mana ya!" ucapnya seraya mematikan sambungan suaranya sembari berdiri dan melangkah kedalam dan berpamitan dengan keluarganya terutama sang istri, setelah mendapat ijin dari mereka semua Abiyasa pun melangkah menuju kearah mobilnya dan tanpa sepengetahuan Abiyasa kak Niko mengikuti langkah Abiyasa, saat Abiyasa memasuki mobilnya Kak Niko juga memasuki mobilnya diapun terkejut melihat senyum kak Niko yang sudah duduk di kursi samping Abiyasa.


" Kak, kakak mau kemana?"


" Ya ikut kamu lah, masa mau ikut Lia sih." ucap Kak Niko.


" Biyas mau kekantor polisi menemui Morgan dan Arvin.."


" Sama, kakak juga mau kesana." ucapnya santai sembari tersenyum.


Abiyasa menatap Kak Niko, sedangkan Kak Niko terus terkekeh sembari melirik sesaat ke arah Abiyasa.


" Abiyasa, Kakak sudah mendengar kok semua yang diceritakan oleh Anindita, mereka mau menggerebek orang yang mengikuti kamu itu kan, Kalian melupakan ku, kalau kalian hanya bertiga tidak lengkap itu namanya, biasanyakan kalian berempat, berhubung wanita sakti dikelompok kamu dalam keadaan hamil, makanya kaka yang akan menggantikannya biar kalian lengkap, hehehehe, walaupun kalian melakukan misi ini dengan beberapa orang anggota, tapi kakak masih menganggapnya tidak lengkap kalau hanya bertiga saja,oke!ayo kita berangkat, sekarang kalian sudah lengkap hehehe,,," Ucap kak niko terkekeh, Abiyasa pun tersenyum dan perlahan-lahan menjalankan mobilnya meninggalkan rumahnya tersebut.


Dirumah Abiyasa...


" Ada apa ya Abiyasa kekantor polisi? kan urusan dua orang tersebut yang sudah menguntit dia saat itu sudah selesai atau masih ada beberapa yang belum selesai." Ucap papah Boby.


" Mereka ada tugas menangkap dalang dari yang menguntit Abiyasa itu bang." Ucap bunda Adel.


Mereka semua terperangah menatap kearah bunda Adel.


" Yang benar Bun, Bunda tahu dari siapa?" tanya Ayah Candra.


" Arvin tadi cerita sewaktu dirumah dan dia minta ijin untuk hari ini dan besok dia sudah tak bertugas karena surat cutinya sudah keluar dan Bunda akan pingit dia." Ucap Bunda Adel tersenyum.


" Kenapa mereka tidak bilang dengan kita." Ucap Ayah Candra seraya menatap kearah ketiga sahabatnya tersebut.


" Biarkan mereka bertindak, aku yakin mereka pasti berhasil, dan tidak akan mengecewakan kita semua, karena masing-masing anak kita itu mewarisi sifat kita, untuk menyelesaikan masalah apapun dan dimanapun, hidup memang penuh dengan berbagai masalah, baik didunia nyata ataupun didunia maya, karena kalau tidak ada masalah ataupun musuh, bukan namanya hidup." Ucap papah Andre tersenyum sembari menatap satu persatu orang yang ada diruangan tersebut.


" Iya Ndre, aku juga yakin dengan mereka anak-anak kita" Ucap Abi Yosep.


" Benar katamu Ndre, jangankan hidup yang punya masalah dan musuh, matipun kita juga punya masalah dengan dosa yang diperbuat dimasa hidup." Ucap papah Boby tersenyum.


" Mudah-mudahan saja anak-anak kita tidak apa-apa dan mereka selamat dan tidak terjadi sesuatu yang menghawatirkan." sambung Ayah Candra.


" Amin..." ucap mereka semua mengaminkan ucapan Ayah Candra.


" Jangan sampai mereka melakukan misi tersebut diketahui dengan Bola, kalau dia tahu dia pasti akan menyusul mereka." Ucap papah Boby tersenyum sembari berbicara sedikit pelan karena takut kedengaran Clarissa, karena sedari tadi mereka berbicara tidak terlalu keras, untung saja kamar Clarissa sedikit jauh dari ruang tengah dan untungnya lagi ruang tidurnya yang ada dirumah papah Andre semua kedap suara dan tidak mendengar apapun yang diceritakan mereka diruang tengah itu, Clarissa tidak mendengarnya sama sekali.


Mereka pun menganggukkan kepalanya dan tersenyum...


" Bagaimana sekarang rencana kita selanjutnya?" tanya papah Boby.


" Kita tunggu sampai besok, kalau malam ini tidak ada peneror, besok mereka bisa menyelesaikan yang ada diluar negeri, tapi kalau ada peneror berarti besok mereka jangan berangkat dulu, kita selesaikan semuanya dulu disini, dan mudah-mudahan saja sebelum acara Arvin kita semua sudah bisa menyelesaikan semuanya." jawab Papah Andre.


Merekapun menganggukkan kepalanya.


" Sementara silahkan kalian istirahat dan jangan lupa sholat yang belum sholat dzuhur silahkan sholat dulu, setelah itu silahkan istirahat dikamar kalian masing-masing diluar sudah ada beberapa anak buah Abiyasa yang masih berjaga." ucapnya sembari tersenyum.


Mereka tersenyum dan mengangguk, dan berlalu dari hadapan papah Andre dan meninggalkan ruang tengah tersebut.