THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP

THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP
BAB 293



Terlihat dari kejauhan sebuah mobil Ambulan rumah sakit sedang melaju dengan kecepan sedang dan terlihat tergesa-gesa, sopir taksi tersebut memperlambat laju taksinya karena sedang berpapasan dengan sebuah mobil Ambulan tersebut.


" Sepertinya ada orang yang sakit dibawa mobil Ambulan itu ya Ndre." Ucap papah Boby.


" Ya iyalah Bob, masa bawa orang tamasya hehehe..." Ucap Papah Andre.


" Hehehe...benar juga sih, tapi siapa tahu bawa orang yang sudah meninggal." Ucap papah Boby lagi.


" Bisa jadi..." Ucap papah Andre singkat.


" Masih jauh lagi nggak pak sopir tempatnya?" Tanya papah Boby menanyakan alamat yang dituju.


" Sebentar lagi pak..." Ucap sopir taksi tersebut.


Taksi yang ditumpangi papah Andre dan yang lainnya akhirnya sampai ditempat tujuan setelah Papah Andre membayar taksi tersebut dan mengucapkan terimakasih sopir taksi itupun tersenyum dan menganggukkan kepalanya kemudian dia membawa taksinya meninggalkan mereka semua.


Sepi! Rumah yang mereka datangi tersebut terlihat sepi dan tidak ada tanda-tandanya ada orang disana.


" Apakah benar ini rumahnya?" Tanya papah Andre.


" Iya Om, ini benar alamatnya yang diberikan Amir pada Nico." Ucapnya.


" Coba kamu hubungi lagi, nomernya biar memastikan lagi almatnya, benar ini atau bukan." Ucapnya papah Boby seraya memperhatikan rumah tesebut.


" Iya Om..." Ucap Nico seraya mengambil gawainya dan hendak menghubungi Amir, tiba-tiba seseorang menegur mereka semua dan mengejutkan mereka.


" Maaf pak, tamunya Amir?" Tanya seorang ibu-ibu yang terlihat baru datang dari tempat lain.


" Iya Bu, apakah ini memang benar rumahnya Amir?" Tanya papah Andre.


" Silahkan masuk dulu pak." Ucapnya seraya membukakan pintu pagar dan mengiring mereka memasuki halaman rumah tersebut.


" Silahkan duduk..." Ucapnya seraya mempersilahkan duduk diteras rumahnya itu.


Kemudian mereka pun duduk dan diikuti oleh sang ibu tersebut.


" Iya pak, ini adalah rumahnya Amir, dan baru saja Amir membawa ibunya kerumah sakit setia, karena ibunya mengalami drop sakit yang dideritanya selama ini." Ucapnya terlihat sedih.


" Barusan bu?" Tanya kak Nico dianggukkan oleh ibu tersebut.


" Ambulan tadi itu?" Ucap Amelia lagi.


" Iya Mbak, mungkin berpapasan dengan taksi kalian." Ucapnya.


" Kok ibu tahu kalau kami adalah tamunya Amir?" Tanya Kak Nico.


" Tadi sebelum Amir memasuki mobil Ambulan mengantarkan mamahnya kerumah sakit dia sempat bilang kalau temannya mau kerumah ini, dan saya dipintanya untuk menjamu tamunya tersebut." Ucapnya.


" Maaf bu kalau boleh tahu ibu siapanya Amir?" Tanya papah Andre.


" Saya ibunya Amir, ibu kandungnya Amir." Ucapnya seraya menatap mereka semua.


" Ibu kandungnya Amir? Nama ibu siapa? Mohon maaf saya bertanya pada ibu yang sangat pribadi.


Terdengar helaan nafas ibu tersebut.


" Iya pak, tidak apa-apa...saya ibu Ema." Ucapnya tersenyum.


" Kalau ibu adalah ibunya Amir? Terus ibunya amir yang sekarang yang bernama ibu Nellyana siapa?" Tanya kak Nico merasa heran.


" Maaf saya tidak bisa cerita sama kalian semua karena saya juga tidak pernah cerita ke Amir kalau dia adalah Anak kandung saya..." Ucapnya.


Terdiam! Semua terdiam! Dan mereka tidak ada suara ataupun pertanyaan dari mulut mereka yang ada dikepala mereka hanyalah rasa ingin tahu kenapa Amir ada bersama ibu Nellyana dan Amir bukanlah anak kandung ibu Nellyana tersebut, tanpa diketahui Amir kalau Amir adalah Anak ibu Ema.


" Sebentar ya, saya akan buatkan minuman kalian pasti lelah dan haus." Ucapnya sembari melangkah meninggalkan mereka yang ada diteras rumah tersebut dengan menikmati angin yang sejuk dikotan B dan menikmati rasa ingin tahu mereka yang tingkat dewa itu.


Papah Andre terkejut mendengar perkataan Amelia.


Begitu juga papah Boby dan kak Nico.


Saat mereka terkejut dengan ucapan Amelia.


Tiba-tiba terdengar suara gawai kak Nico berbunyi, kak Nico kemudian mengambil gawainya dan menjawab panggilan tersebut.


" Assalamualaikum Mir?"


" Waalaikumsalam..."


" Kami sudah berada dirumah kamu Mir..."


" Maaf ya Nico aku tidak berada dirumah, karena aku berada dirumah sakit, tiba-tiba mamah drop dan tak sadarkan diri." Ucapnya.


" Iya kami sudah tahu dari ibu Ema, lanjut aja Mir, nanti kami akan menjenguk kerumah sakit, tapi kami beristirahat sebentar, setelah itu kami akan mencari penginapan untuk tempat beristirahat selama berada dikota ini." Ucap Kak Nico.


" Nggak usah Nic, lebih baik tinggallah dirumah ku, nanti bu Ema akan menunjukkan kamar untuk kalian." Ucap Amir.


" Baiklah, nanti aku akan kasih tahu pada kedua Om ku dan adikku." Ucapnya.


" Baiklah kalau gitu, tunggu saja ya nanti aku akan pulang secepatnya... Assalamualaikum..."


" Waalaikumsalam..." Mereka pun berdua saling memutus sambungan bicaranya dan kak Nico meletak kan kembali gawainya diatas meja.


" Amelia...kamu jangan berputus asa seperti itu, kita akan tetap mencari siapa kakak kandung kamu itu, dan Om harap kamu jangan bersedih, in sya Allah kita akan menemukannya kita kan belum bertemu langsung dengan ibu Nellyana, jadi masih ada harapan kita untuk mengetahui dimana sekarang kakak kandung kamu tersebut." Ucap papah Andre sembari tersenyum.


" Iya Om..." Ucap Amelia sembari menganggukkan kepalanya.


" Iya nak, kita pasti akan menemukannya..." Ucap papah Boby lagi, dan dianggukkan papah Andre.


" Penuh rahasia dan jiwa ingin tahuku semakin besar Ndre." Ucap Papah Boby.


" Sama Bob, aku juga rasanya ingin tahu semua kebenarannya." Sambung papah Andre.


" Tapi Om, cukup sulit bagi kita untuk mengenali siapa kakak kandung Amelia itu karena kita tidak ada fhoto atau sejenisnya yang bisa menguatkan kita sekarang ini." Ucap Nico.


" Iya memang benar apa katamu itu, tapi kita masih ada ibu Nellyana dan rumah sakit setia." Kata papah Andre.


" In sya Allah kita akan menemukannya..." Sambung papah Boby.


Didapur rumah Amir...


" Ya Allah,,, kenapa aku mengatakannya pada mereka kalau Amir adalah anak kandungku? Ya Allah apakah aku salah? Apakah aku salah ingin mengakui darah dagingku sendiri? Ini akibat dari perbuatan Ayahnya Amir, dasar lelaki jahat!! Tapi syukurlah setelah aku mengatakannya tadi tidak ada rasa takut didalam diriku seperti selama ini aku rasakan, dan Nellyana pun pasti akan mendukungku karena rahasia bertahun-tahun lamanya itu hanya aku dan Nellyana yang tahu karena selama ini aku hidup dengannya." Gumamnya seraya mengangkat nampan kecil yang berisikan air minum dan kue basah buatannya tersebut, dia melangkah menuju kearah depan dan tersenyum pada mereka berempat diapun langsung menyuguhkan minuman tersebut dan kue diatas meja.


" Silahkan diminum pak...mbak..." ucapnya.


Dianggukkan mereka dan mereka pun meminum dan mencicipi kue buatan ibu ema itu.


" Maaf bu, bolehkah saya bertanya?" Tanya papah Boby.


" Iya pak boleh, nanya apa ya pak?"


" Sejak kapan ibu bersama kelurga Amir?"


" Sejak saya masih gadis..." Ucapnya.


" Berarti ibu tahu cerita saat ibu Nellyana bekerja dirumah sakit setia?" Tanya Nico langsung secepat kilat menanyakannya pada Ibu Ema.


Ibu Ema terkejut mendengar pertanyaan dari kak Nico dia langsung mentap kearah kak Nico