THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP

THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP
BAB 235



Ketiga buah mobil yang berada diluar gerbang pun sudah ditempatkan pada tempat parkir karena mereka tidak ingin menjadi pusat perhatian pengendara yang lain.


Setelah mobil sudah terparkir rapi didepan halaman rumah kediaman keluarga Wibawa, mereka kembali masuk kedalam, dan beberapa saat kemudian sebuah mobil memasuki halaman tersebut, ternyata mereka adalah beberapa orang anak buah Abiyasa yang sudah dihubungi untuk menjalankan tugasnya menjaga keamanan rumah bos mereka itu. Sesuai dengan arahan yang lain mereka kemudian menjalankan kewajibannya tersebut untuk siap berjaga-jaga di rumah tersebut.


Mobil yang ditumpangi keluarga papah Andre dan sebuah taksi pun memasuki halaman rumah pribadi keluarga Wibawa.


Mereka pun turun dari mobil dan melangkah menuju kearah pintu rumah tersebut dimana rumah itu pintunya masih terbuka dengan lebar.


" Assalamualaikum.." sapa papah Andre.


" Waalaikumsalam.." sahut mereka yang ada di dalam menjawab salam dari Papah Andre.


Keluarga Papa Andre melangkah mendekati mereka, Clarissa,Marco dan Anindita pun menyalami kedua orang tuanya tersebut.


Kemudian mereka pun kembali duduk di ruang tengah itu.


" Kenapa dengan Pak Wawan?" tanya Abiyasa seraya menatap ke arah security-nya yang berbaring di sofa tidak jauh dari mereka.


Clarissa kemudian menjelaskan semuanya kepada Abiyasa, merekapun mendengarkan penjelasan dari Clarissa.


Papa Andre dan yang lainnya pun mendengarkan keterangan dari Clarissa tidak ada satupun dari cerita Clarissa dilewatkan oleh mereka, mereka pun kemudian menganggukkan kepalanya terdengar suara mobil memasuki halaman rumah tersebut Mereka pun menoleh ke arah luar.


" Assalamualaikum..."


" Waalaikumsalam " jawab Mereka yang ada didalam seraya menatap kearah luar.


Terlihat Arvin melangkah menuju ke arah mereka, saat Arvin hendak duduk, dia terkejut melihat dua anak buahnya yang terlihat meringis kesakitan, Arvin kemudian mendekatinya.


" Ada apa ini? Irwan, Abil, kenapa dengan kalian? sampai terluka? Apakah penyusup sudah ditangkap?" Tanyanya bertubi-tubi pada kedua anak buahnya itu.


" Maaf Ndan, penyusup sempat lolos, tapi Bu Clarissa sudah mengetahui Ndan serta mengenali wajahnya si penyusup." Ucap anak buah Arvin yang bernama Abil yang cedera.


Arvin menoleh kearah Clarissa,dan Clarissa hanya tersenyum sembari menganggukkan kepalanya.


" Yang benar Ris?kalau kamu sudah mengetahui siapa sebenarnya penyusup yang masuk ke rumah Abiyasa ini?"


Lagi-lagi Clarissa hanya menganggukkan kepalanya saja.


" Benar Vin, kalian gak usah khawatir aku pasti akan menemukannya dan membawanya ke hadapan kalian." ucapnya sembari tersenyum membuat mereka yang ada di situ penasaran siapa sebenarnya penyusup yang masuk ke dalam rumah keluarga Wibawa.


Beberapa menit kemudian terdengar rintihan dari security yang bernama Wawan tersebut, Dia kemudian bangun dari duduknya dan memegang kepalanya yang sedikit sakit, mereka semua menatap ke arah Pak Wawan, saat dia menoleh kearah mereka juga dia menatap satu persatu mereka dan matanya pun singgah di wajah papah Andre, melihat tuan besarnya ada diantara mereka, ditambah lagi karena dia baru sadar telah duduk diatas sofa keluarga Wibawa tersebut, dia pun langsung berdiri dengan sempoyongan.


" Ma..maaf.. maafkan saya pak Andre." ucapnya seraya berusaha untuk tegar berdiri, lalu Papa Andre menyuruh dia duduk kembali.


" Pak Wawan silakan duduk aja, karena keadaan pak Wawan tidak memungkinkan untuk berdiri." ucapnya.


Pak Wawan pun kembali duduk karena keadaannya memang tidak bisa memungkinkan dirinya untuk berdiri.


Sementara menunggu kesadaran Pak Wawan pulih kembali, mereka membiarkan pak Wawan diduk rileks di sofa tersebut.


" Sebenarnya apa yang terjadi dengan Pak Wawan.?" tanya Papa Andre pada Anindita.


" Begini Pah, Pak Wawan diberikan suntikan obat penenang dosisnya tidak terlalu banyak, dosis yang dipakai oleh penjahat itu untuk melumpuhkan pak Wawan hanya sementara,tapi setelah sadar pak Wawan masih tetap mengalami kantuk yang luar biasa dan dia jua mengalami sedikit pusing."


Papah Andre hanya menganggukkan kepalanya saja.


" Apakah Cctv dekat pos penjagaan berfungsi?"


" Nggak tahu pah, Anindita hanya kebetulan melintas ruang Cctv dan saat itu lah Dita melihat sipenjahat itu,makanya Dita langsung hubungi papah " terangnya.


" Nah itu dia Cctv dekat sana pasti merekam kejadian itu." Ucap Clarissa.


" Ya udah coba Biyas cek dulu." Ucapnya seraya berdiri melangkah menuju kearah ruangan Cctv yang ada dirumah tersebut.


" Yang jadi pertanyaan, Kenapa saat itu Pak Wawan lengah sampai bisa diberikan suntikan obat penenang itu." ucap Anindita.


" Sepertinya ada kejanggalan di sini." ucap Arvin di dalam batinnya seraya menatap kearah Pak Wawan yang terlihat masih mencari kesadarannya yang penuh.


" Pah Cctv yang berada didekat pos tidak berfungsi." Ucap Abiyasa.


" Sebentar Biy, aku cek dulu keluar." Ucap Arvin seraya berjalan keluar dan kemudian di ikuti dua orang anak buahnya tersebut.


" Bagaimana kamu melihat penyusup itu Dita?" Tanya mamah Anisha.


Mamah Anisha dan papa Andre pun menganggukkan kepalanya seraya berpikir keras siapa sebenarnya laki-laki itu yang begitu mudahnya masuk kedalam rumahnya tersebut.


" Biyas, Cctv didekat pos itu rusak, kayanya memang sengaja dirusak agar tidak terlihat aksi si penyusup " terang Arvin.


Papah Andre dan Abiyasa langsung saling pandang.


" Ya sudah kalau seperti itu Pak Wawan lebih baik Pak Wawan istirahat dulu setelah pernikahan Anindita kami akan mengusut tuntas semuanya." ucapan Abiyasa dianggukkan oleh Pak Wawan.


Papa Andre tidak ingin bertanya lebih banyak kepada Pak Wawan karena melihat kondisi pak Wawan yang terlihat bengong setelah bangun dari tidurnya, terlihat matanya masih mengantuk karena kandungan dari obat penenang yang masih berada didalam tubuhnya tersebut, Saat ditanya pun pak Wawan hanya terlihat bengong yang hanya dia bisa lakukan menatap orang yang bertanya kepadanya dan menganggukkan kepalanya saja hanya itu yang bisa dilakukannya.


Kemudian Clarissa Bun menanyakan perihal seseorang yang ada di rumah sakit tersebut.


" Om, Risa mau bertanya dengan om sebenarnya siapa sih yang di rumah sakit sehingga membuat Mama dan Papa harus nginep di rumah sakit?" tanyanya.


Papa Andre menoleh ke arah Clarissa sembari tersenyum.


Papa Andre kemudian menarik napasnya dengan pelan dan melepaskannya dengan pelan juga membenarkan duduknya, lagi-lagi dia menghela nafasnya, Abiyasa pun mengetahui kalau Papanya itu tidak ingin bercerita di depan semua orang yang ada di rumahnya, kemudian dia pun menyuruh anak buahnya yang masih ada di dalam untuk segera kembali ke tugas mereka masing-masing dan salah satu dari anak buah Abiyasa diperintahkan untuk membawa Pak Wawan ke rumah sakit agar bisa diberikan pengobatan dan dipinta untuk istirahat agar memulihkan kesehatan dan kesadarannya tersebut.


Begitu juga dengan Arvin dia juga memerintahkan anak buahnya yang ada disitu untuk segera menyelesaikan tugas mereka masing-masing, Arvin memerintahkan dua anak buahnya untuk membawa anak buahnya yang lain yang sudah terkena cedera ke rumah sakit keluarga Wibawa, dengan sekali anggukkan Mereka pun langsung melangkah dan membawa kedua teman mereka yang cedera tersebut, di karena pukulan dari penyusup itu,mereka membawanya ke rumah sakit keluarga Wibawa.


Tidak lupa para Art nya juga diperintahkan kembali untuk segera masuk ke kamar mereka masing-masing, yang masih berada di ruang tengah tersebut hanya keluarga Wibawa.


" Terima kasih ya Abiyasa,memahami keinginan papah, dan terimakasih ya Arvin kamu juga memahami keinginan dari Om mu ini." ucapnya sembari tersenyum menatap Abiyasa dan Arvin.


Abiyasa dan Arvin pun menganggukkan kepalanya.


" Clarissa maafkan Om tadi tidak langsung menjawab pertanyaan kamu, Om tidak bisa berbicara di hadapan mereka semua karena ini bersangkut paut dengan keluarga kita." ucapnya.


Clarissa pun terkejut mendengar ucapan dari papa Andre mengatakan perihal bersangkut paut dengan keluarga.


" Maksud Om? Risa jadi nggak mengerti apa yang dimaksudkan Om itu."


" Begini Risa, yang di rumah sakit itu adalah anak dari om Rendy dan tante Sinta kamu."


" Om Rendy dan tante Shinta?" Ucap Clarissa.


" Apakah kamu tidak mengenali mereka Ris?" tanya Abiyasa.


Risa menarik napasnya dengan pelan dan melepaskannya dengan berat.


" Dulu Mamah memang ada cerita tentang Om Rendy dan tante Shinta yang pindah ke luar negeri, tapi Bagaimana rupa mereka Mama tidak cerita sama sekali,itu juga Aku mendengar seperti angin lalu aja Biy, Mamah juga cerita dulu saat aku masih kuliah Biy,memangnya kenapa dengan mereka Om?"


" Om Rendy dan tante Sinta mu itu sudah meninggal dunia dan anaknya berada di sini sekarang mereka mengalami suatu musibah." Terang Papah Andre menjelaskan pada Clarissa.


" Mengalami suatu musibah? Kenapa Papa dan Mama tidak cerita dengan Risa." Ucap Clarissa.


" Papa dan mamamu tahunya baru sekarang, makanya mereka berada di sana untuk mendekatkan diri mereka dengan Amel dan Nika." Terangnya lagi.


Clarissa pun menganggukkan kepalanya.


" Tapi musibah apa sih Om yang menimpa mereka?" Tanya Clarissa karena dikepalanya penuh tanda tanya.


" Begini Ris, mereka itu terkena musibah disebabkan..." Arvin pun Kemudian menceritakan dari awal sampai akhir dan Clarissa mendengarkan dengan sejelas-jelasnya tidak ada satupun yang terlewatkan dari ceritanya Arvin tentang Amelia dan Nika.


" Begitulah Ris, ceritanya." ucap Arvin pada Clarissa, Clarissa hanya bisa menganggukkan kepalanya.


" Iya Ris, kita harus menuntaskan ini semua, aku juga penasaran sebenarnya Om Rendy itu memiliki perusahaan berlian sendiri atau dia hanya menanam saham dengan perusahaan temannya, aku ingin tahu semuanya." Sambung Abiyasa.


" Setelah mendengar semuanya ini, aku juga Biy sangat penasaran,Tapi bagaimana kita mencaritahunya? Apakah kita harus keluar negeri untuk mencari tahu itu semua?" Tanya Clarissa.


" Tenang aja Ris, aku akan menyuruh seseorang yang berada di sana untuk menyelidiki semuanya." ucap Abiyasa, Papa Andre dan mama Anisha hanya menganggukan kepalanya menyetujui apa yang dikatakan sang anak.


Papa Andre percaya dengan anak-anaknya dan keponakannya itu pasti akan menyelesaikan masalah Amelia dan Nika.


" Arvin, Clarissa dan Marco, Om percaya dengan kalian, terutama kamu Abiyasa, Papa yakin kamu akan bisa membantu mereka dan menyelesaikan semuanya, serta mengetahui siapa sebenarnya dalang ini semua, sehingga membuat Om Rendy dan tante Sinta kalian meninggal dunia, kamu harus menuntaskan semuanya, Papa ingin mengetahui siapa dibalik ini dan rencana siapa ini semua sehingga merubah keadaan keluarga Amelia." ucap papa Andre di anggukan oleh mereka semua.


" In sya Allah pah, semuanya akan terungkap setelah acara pernikahan Anindita, kami akan bergerak dengan cepat, Papa dan yang lainnya nanti tinggal menunggu hasilnya saja, secepatnya Abiyasa akan menyelesaikan semuanya bersama dengan yang lainnya." Ucap Abiyasa seraya menatap kearah para sahabatnya.


" Papa yakin dengan kalian semua nak, kalau kalian semua bergerak dengan izin Allah semuanya pasti akan terungkap, Papa sangat penasaran sekali apa yang diperbuat mereka berdua sehingga Rendy meninggal di penjara dan karena apa juga dia sampai di penjara Begitu juga dengan Sinta istrinya itu sama-sama pergi untuk meninggalkan selama-lamanya meninggalkan kedua anaknya tersebut, ingin rasanya Papa yang menyelesaikan semuanya dan berangkat ke luar negeri untuk mencari tahu, tapi karena ada kalian Papa berharap dengan kalian untuk mengetahui dalang dari semua masalah ini." Ucapnya lagi sembari menepuk pundak anaknya dengan pelan, Abiyasa menganggukan kepalanya.