
Setelah semuanya beres, Morgan melangkah menju kearah ruangannya dengan sedikit tergesa-gesa diapun langsung menghentakkan tubuhnya dikursi sofa ruangannya tersebut.
terdengar helaan nafasnya yang dalam sembari menyenderkan tubuhnya disandaran sofa seraya menatap langit langit ruangannya itu.
" Akhirnya semua sudah beres, Astaga ! sudah jam berapa ini?" ucapnya seraya membenarkan posisi duduknya dan menatap jam yang melingkar dipergelangan tangan kanannya tersebut.
" Ya Allah sudah jam lima sore, aku harus pulang segera sebantar lagi waktu magrib tiba." ucapnya bergegas mengambil keperluannya dan langsung keluar dari dalam ruangannya dan menuju mobilnya tersebut.
Sesampinya didalam mobilnya saat dia mau menghidupkan mesin mobilnya dia dikejutkan dengan suara gawainya yang berbunyi ...
" Aahhh!!! siapa sih yang menghubungi ku lagi pasti dia...!!" ucapnya seraya melihat layar gawainya tersebut.
" Nah!! benarkan apa kataku! siapa sih dia ini, apa maksudnya menghubungi aku tanpa memberitahukan siapa dia sebenarnya!!"
" Siapa kamu sih!! kalau tidak penting jangan menghubungi aku terus!! kamu ini selalu mengganggu aku saja, apa keperluan kamu hah!!!!" teriaknya didalam mobilnya sendiri seraya menjawab si pemanggil tersebut.
" Hahahaha... Morgan, jangan marah-marah kaya gitu dong sayang...,masa sih marah menjawab panggilanku." ucap suara diseberang sana dengan santai dan dia juga tidak menghiraukan kalau Morgan terdengar suaranya yang sedang marah-marah itu dengannya.
" Terserah!!!!! mulai sekarang jangan hubungi aku lagi, karena aku tidak mengenal kamu dan terserah kamu mengenal aku atau tidak itu urusan kamu!!! Karena aku sudah terganggu banget tau nggak sih hah!!" ucapnya kemudian mematikan sambungan dari gawai pribadinya itu.
Dengan penuh kekesalan yang mendalam dia pun langsung melajukan mobilnya menuju kearah rumah.
Beberapa saat mobilnya memasuki halaman rumah mertuanya, tapi dia tidak langsung turun melainkan dia mengambil gawainya dan mengirim chat pribadi pada Clarissa, setelah menunggu sesaat balasan Clarissa langsung mampir di gawai pribadinya tersebut.
Dia tersenyum dan kemudian dia keluar dari mobilnya dan melangkah menuju arah pintu utama rumah mertuanya itu.
" Assalamualaikum.." ucapnya.
" Waalaikumsalam.." jawab Anindita.
Dia terkejut dengan teguran sang istri yang sedang duduk diteras depan sembari bersantai dengan membaca buku tentang seputar ilmu kedokteran dan segelas teh manis yang dingin, Morgan tidak memperhatikan kearah teras bagian kiri karena dia langsung saja melangkah dan tidak menyadari kalau istrinya sejak tadi memperhatikan mobil suaminya yang baru masuk dan beberapa menit berada di dalam mobil tanpa segera turun.
" Sayang.." ucap Anindita, dia melihat sang istri berdiri menghampirinya yang hendak masuk kedalam, Morgan menghentikan langkahnya dan mendekati istrinya itu, Anindita meraih tangan suaminya dan mencium punggung tangan suaminya tersebut, Morgan mencium kening istrinya tersebut sembari memeluk pinggang ramping sang istri, Morgan pun membawa sang istri kembali duduk ditempat istrinya duduk semula.
" Kok kamu ada disini sayang, sudah mandikah?" tanya Morgan sembari duduk disamping sang istri.
Anindita mengangguk...
" Aku memang sengaja menunggu kamu datang dan sengaja juga duduk disini sambil menikmati waktu magrib tiba." ucapnya.
" Oh..." ucap Morgan singkat seraya menghirup minuman teh dingin milik sang istri tersebut.
" Aku lihat kamu cukup lama berada didalam mobil, memang ada apa?" tanya Anindita sembari menatap Morgan dengan tatapan penuh tanda tanya.
Morgan tidak menatap langsung sang istri yang menanyakan perihal dirinya cukup lama berada didalam mobil, karena dia menyembunyikan rasa gugupnya tersebut dengan pura-pura menikmati minuman dingin milik sang istri sampai minuman itu habis diteguknya, setelah dia dapat menguasai rasa gugupnya itu dia pun langsung tersenyum sembri menatap wajah istrinya yang cantik itu.
" Aku tadi menerima panggilan Clarissa, katanya dia mau kesini bersama suaminya, dia tidak jadi tidur di rumah pribadinya itu." Ucap Morgan.
" Oh...gitu ya...ya udah ayo kita masuk dan segeralah bersihkan diri mu bentar lagi waktu magrib tiba " ucap Anindita tersenyum dan diapun langsung berdiri dan mengajak suaminya itu masuk kedalam, karena waktu magrib sebentar lagi tiba.
Morgan hanya mengangguk dan mengikuti langkah sang istri memasuki rumah mereka dan langsung menuju kearah kamar pribadinya.
Sebenarnya Morgan sudah memiliki rumah pribadinya sendiri hasil dari kerja keras Morgan semasa dia masih berpacaran dengan Anindita dan akan ditempati oleh mereka berdua tapi karena mamah Anisha masih melarang mereka berdua untuk pindah kerumah pribadi mereka dikarenakan mamah Anisha menginginkan mereka tetap berada dirumah besar tersebut, dan terpaksa rumah pribadi Morgan hanya ditempati sepasang suami istri yang bertugas sebagai tukang kebun dan asisten rumah tangganya.
*****
Clarissa dan Marco yang berada dirumah pribadinya itu pun masih bersantai diruang keluarga, Clarissa langsung menghubungi nomer yang sudah diberikan Morgan padanya tersebut, nomer gawai yang selalu mengganggu Morgan terus menerus dengan menyembunyikan nama sebenarnya tersebut dan menyuruh Morgan menebak siapa si penelpon itu.
Clarissa kemudian menghubungi nomer tersebut, satu kali tidak langsung di jawab si pemilik nomer misterius itu, dua kali juga tidak ada jawaban, lalu Clarissa mengirim chat pribadi dengan isi agar dia menjawab panggilannya tersebut, chat itupun dibaca si pemilik nomer itu dan dia hanya membalas chat dari Clarissa dengn mengirimkan emotikon tersenyum dan tanda mantap dengan jari jempol.
Kemudian Clarissa menghubungi kembali si pemilik nomer gawai misterius itu.
Panggilan pertama dari Clarissa langsung dijawab oleh pemilik nomor tersebut, terdengar suara perempuan di seberang sana...
" Halo, selamat sore.." sapanya.
" Iya sore.."
" Maaf mbak, apakah saya mengenal kamu mbak?"
" Kamu tidak mengenal saya, tapi saya mengetahui kamu." Ucap Clarissa
" Maksudnya?"
" Saya mengetahui kamu ini dari teman saya yang sering kamu hubungi."
" Siapa ya Mbak ?"
" Kamu kenal sama Morgan?"
" Oh..Morgan.. hahaha, Ya mbak Saya kenal banget.. Mbak siapanya? istrinya ya?"
" Bukan! saya bukan istrinya Morgan, tapi saya kakak iparnya Morgan."
" Oh,,, istrinya Kak Marco ya." Ucapnya santai, terdengar tenang dari nada bicaranya, Clarissa menatap ke arah layar gawainya dan dia pun langsung menatap kearah suaminya yang duduk disampingnya.
" Ada apa Sayang?" Tanya Marco, Clarissa hanya menggelengkan kepalanya dan melanjutkan pembicaraannya lagi.
" Kamu kenal dengan suami saya?"
" Iya mbak, Saya kenal baik sama suami Mbak, Dia orangnya baik sekali, orangnya juga ganteng sama seperti Morgan." Ucapnya terkekeh.
" Apa-apaan ini.." gumamnya dalam batinnya.
" Kamu kenal dengan Morgan, kamu juga kenal dengan suami saya, Sebenarnya kamu siapa?" Tanya Clarissa.
Marco langsung menatap kearah istrinya dengan wajah terkejut.
" Bukan siapa-siapanya mbak, tapi aku ada hubungan dengan kedua laki-laki tersebut yaitu Kak Marco dan Morgan."
" Maaf ya nggak usah berbelit-belit deh ah! Bilang aja siapa sebenarnya kamu ini? siapa ya?! Lebih baik kamu katakan saja dengan saya." ucap Clarissa.
" Kalau mbak ingin tahu siapa saya, kita bisa ketemu langsung aja Mbak, bagaimana? apakah Mbak mau bertemu dengan saya?" Tawarnya.
" Hahaha..." terdengar tawa di seberang sana dengan lepas...
" Maka dari itu Mbak, lebih baik mbak aja yang bertemu dengan saya, biar Mbak tahu semuanya, kalau seandainya saya yang langsung bertemu dengan Morgan, berarti ini bukan kejutan untuk Morgan." Ucapnya enteng.
" Kejutan? maksud kamu? apakah kamu ini masih ada hubungannya dengan masa lalunya Morgan?"
" Ada hubungan ataupun tidaknya di masa lalu Morgan lebih baik mbak langsung aja bertemu dengan saya, bagaimana Mbak?"
" Baiklah! aku akan menemui kamu di mana?"
" Besok pagi di kedai kopi yang terkenal di kota ini."
" Oke! Aku akan menuju ke sana."
" Kalau bisa mbak aja deh yang datang ke sini."
" Kenapa ? Kenapa mesti aku sendiri? Kenapa suami ku tidak bisa aku ajak?"
" Oke! nggak apa-apa juga sih kalau mbak mengajak kak Marco, biar kak Marco mengetahui siapa saya ini sebenarnya." ucapnya lagi sembari terkekeh pelan.
" Oke deal! waktu dan tempat yang sudah kita sepakati besok sekitar jam 8 pagi aku akan menuju ke kedai kopi tersebut." ucapnya lagi.
" Tapi dengan catatan mbak ya, mbak jangan bilang dengan Morgan dan jangan juga Mbak membuat rencana agar Morgan mengikuti Mbak bertemu dengan saya."
" Baiklah! saya akan mengikuti instruksi kamu."
" Janji?!"
" Iya Aku janji." ucap Clarissa
" Oke..." ucap wanita diseberang sana sembari memutus sambungan pembicaraan dari gawai mereka masing-masing.
Clarissa menghela napasnya dengan pelan dan meletakkan gawainya di atas meja yang ada di ruang keluarga rumahnya tersebut, Marco menatap ke arah istrinya menantikan penjelasan dari Clarissa tentang pembicaraan dia dengan wanita misterius yang selalu mengganggu Morgan dengan cara menghubunginya tanpa kenal waktu.
" Bagaimana sayang? Siapa dia?"
" Aku juga tidak tahu siapa dia, yang jelas dia mengenal kamu dan juga mengenal Morgan."
" Mengenal aku? perasaan aku tidak pernah mengenal perempuan yang mempunyai hubungan khusus dengan Morgan selain Anindita."
" Dia besok mengajak aku ketemuan, dan dia juga ingin bertemu dengan mu."
" Apa? Bertemu denganku? Aku tidak tahu dia menginginkan aku bertemu dengannya."
" Bukan menginginkan sayang, tapi nggak mungkin kan aku sendirian, karena dia juga mengenal kamu, awalnya dia mengatakan agar aku tidak membawa kamu, tapi aku menginginkan kamu ikut dan dia pun mengiyakannya, katanya kamu memang sudah kenal dekat dengannya, dan dia juga tidak ingin aku memberitahukan pertemuan ku dengan Morgan, jadi kamu juga jangan bilang dengan Morgan ya sayang." ucap Clarissa seraya menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa tersebut.
" Iya sayang, aku tidak akan bilang padanya, tapi aku tidak mengenal dia? Jadi membingungkan ini " ucap Marco sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
" Awas!! kalau kamu macam-macam ya sayang!" Ucap Clarissa seraya menatap sesaat suaminya.
" Macam-macam apa sayang??" Aku cuma satu macam aja yaitu kamu hehehe " kekeh Marco sembari mencubit dagu istrinya itu.
" Jangan sampai perempuan itu juga ada di masa lalu kamu, siapa tahu dia masa lalu kamu terdahulu, kemudian menjadi masa lalu Morgan." ucap Clarissa memberi ultimatum kepada suaminya.
Marco pun terkejut dengan ucapan sang istri, dia menatap langsung ke arah istrinya tersebut, Clarisa pun mendelik ke arah Marco dan langsung berdiri meninggalkan Marco menuju kearah kamar pribadinya, karena waktu salat magrib sudah tiba terdengar suara adzan maghrib dari gawainya tersebut, Marco pun kemudian mengekspresikan wajahnya dengan rasa ketidaktahuannya itu, dia pun kemudian berdiri dan menyusul sang istri menuju kamar pribadinya untuk mengambil air wudhu dan melaksanakan salat magrib berjamaah bersama istri tercintanya itu.
Beberapa saat kemudian setelah dia sholat magrib seperti biasanya mereka melaksanakan membaca Alquran, setelah selesai mereka berdua pun bersiap-siap untuk kerumah kediaman Wibawa karena Clarissa sudah memberitahukan pada sang mamah dan pada Morgan untuk menginap disana, karena sang mamah dan adiknya masih berada dikediaman keluarga Wibawa tersebut, papah Boby melarang istrinya dan anaknya itu untuk berada dirumah pribadinya, selama dia berada diluar Negeri.
Mobil yang dikendarai Marco dan Clarissa melaju dijalan beraspal menuju kediaman keluarga Wibawa, beberapa saat kemudian, mobil tersebut pun memasuki halaman rumah tersebut dan mereka berdua turun langsung dari mobil melangkah beriringan menuju pintu rumah yang tertutup rapat itu, Clarissa memencet bel rumah itu, dan pintu pun terbuka.
" Assalamualaikum..." Ucap Clarissa dan Marco.
" Waalaikumsalam..." Ucap Morgan sembari tersenyum.
Dia pun langsung menutup pintu kembali dan mengajak kedua orang tersebut duduk di depan teras.
" Kenapa kamu membawa kami duduk di teras, kami mau masuk kedalam." ucap Marco.
" Sebentar Kak, Aku ingin bicara dengan Clarissa, Ris sudah kamu hubungi dia?" tanya Morgan pada Clarissa.
" Sudah Mor aku hubungi, tapi dia tidak mau menjawabnya, aku kirim chat pribadi padanya, dia hanya membalasnya dengan emoticon tertawa, tersenyum, dan acungkan jempol." Terang Clarisa.
Morgan kemudian mengusap wajahnya dengan kasar dan menghela nafasnya dengan pelan.
" Kenapa? Kenapa dia tidak mau menjawab panggilan kamu ya Ris, kenapa dia selalu mengganggu aku." Ucap Morgan seraya menyandarkan tubuhnya.
" Apakah kamu sudah bicara dengan Anindita?" Tanya Clarissa.
Morgan menggeleng...
" Sebaiknya jangan dulu kamu bicara dengan Anindita." Ucap Clarissa lagi.
" Memang kenapa? Rencananya aku akan menceritakan semuanya pada istriku, dan aku akan menemuinya langsung bersama dengan istriku juga." Ucap Morgan menatap ke arah Clarissa.
" Jangan temui dia, dan jangan katakan juga dengan Dita, aku mau menyelidiki terlebih dahulu." Ucap Clarissa.
" Ya Morgan, lebih baik kamu jangan beritahu dengan Anindita terlebih dahulu, sebelum kami menemukan siapa dia ini " ucap Marco lagi.
Morgan pun menganggukkan kepalanya.
" Maafkan aku Morgan, aku memang tidak mau mengatakan kepadamu yang sejujurnya, karena aku sudah terlanjur berjanji dengan wanita misterius itu, sebelum aku mengetahuinya, Aku tidak ingin kamu tahu terlebih dahulu, karena dalam pembicaraan itu terdengar sepertinya dia bukanlah masa lalu kamu." ucap batin Clarissa seraya menatap ke arah Morgan.
Tiba-tiba pintu terbuka, Anindita keluar, dia pun mendekati mereka bertiga yang sedang duduk di teras depan itu.
" Kenapa kalian duduk di sini? ayo kita masuk kedalam, tante Lala dan mama sudah menunggu kalian, katanya mau makan malam bersama dengan kalian." Ucap Anindita.
" Aku bukannya mau makan malam aja disini, tapi aku mau tidur di sini juga, karena aku mengurungkan niat untuk tidur di rumah pribadi ku sendiri." Ucap Clarissa.
" Memangnya kenapa? rumah mu banyak hantunya ya hahaha.." ucap Anindita sembari tertawa lepas.
Clarissa pun langsung merangkul Anindhita dan mengajaknya masuk ke dalam dengan tertawa lepas juga, mereka berempat pun melangkah menuju ke ruang makan dimana nama Anisha dan Mamah Lala menunggu mereka.