THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP

THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP
BAB 184



Pak Bowo dan Pak Rizal terdiam saat papah Boby memarahi mereka,namun dengan lekat pak Rizal menatap kearah papah Boby,sedangkan pak Bowo hanya memegang pipinya yang terasa sakit bekas cengkraman tangan papah Boby.


" Apa kamu lihat-lihat hah! belum pernah ya melihat Aku hah!!" bentak papah Boby seraya menatap kearah pak Rizal.


Pak Rizal langsung seketika menundukkan kepalanya,begitu juga dengan pak Bowo menundukkan kepalanya juga.


Kemudian Pak Rizal mengangkat kepalanya dan menatap ke arah Papa Boby dengan tatapan yang sinis seperti tadi, papa Boby menatap kearah pak Rizal tidak kalah sinisnya juga.


Pak Rizal pun langsung berdiri dari duduknya.


" Sebenarnya kalian ini siapa? dan ada hubungan apa dengan Lia.?!" tanya Pak Rizal.


" Apa perlu Aku kasih tahu hah!!"


" Ya! Aku berhak tahu lah, Aku yang bermasalah dengan Lia kenapa kalian yang yang begitu membabibuta denganku.!" ucap Pak Rizal.


" Apa kata kamu?! membabibuta?! hai jenglot!! seharusnya kamu itu berpikir, kalau punya masalah dengan Lia dan laki-laki itu apakah kalian tidak tahu laki-laki itu adalah Anak kami hah!!yang kamu culik itu Bapaknya! Ya jelaslah kami harus ikut campur! karena ini sudah menyangkut keluarga kami!! makanya kamu jangan bermain-main dengan keluarga kami!!walaupun kamu mempunyai anak buah segudang jangan salahkan kami untuk membuat kamu tidak berdaya!! makanya jangan sekali-kali kamu menyentil keluarga kami, ingat itu!!" ucap Papah Boby.


" Oke!! kalau laki-laki itu adalah keluarga kalian! tapi kenapa kalian mau bela Lia! kalian itu tidak tahu duduk perkaranya yang sebenarnya! di sini salah adalah Lia! Dia yang berbuat seperti itu dengan keponakan atau anak kalian itu!" ucapnya seraya menunjuk ke arah Arvin.


" Dan Kenapa juga kalian membela Lia! Lia itu jelas-jelas salah sudah tahu salah dia malah menjelaskan kepada kami Kalau Anakku lah yang punya salah! asal kalian tahu Anakku itu memang benar-benar mencintai Lia! Dianya aja yang tidak tahu Terima kasih! sudah ingin diangkat derajatnya tapi malah membuat kesalahan yang fatal!!" ucapnya seraya menatap kearah Lia dengan sangat marah nya.


" Eh sapi ompong!! Kalau sudah salah itu jangan ngeyel! kalau kamu mau tahu kebenarannya yuk mari ikut kami! biar kamu tahu siapa sebenarnya Anakmu itu!! dan berada di mana sekarang Dia! kamu mencari Anak mu kan?! yuk mari ikut Aku, Aku akan menggiring kamu menemui Anakmu itu!!" ucap papa Boby lagi dengan suara lantangnya.


Pak bowo dan Pak Rizal pun langsung menatap heran kearah Papa Boby, karena papa Boby berbicara seperti itu seolah-olah Papah Boby mengetahui di mana keberadaan Ariel Anaknya Pak Rizal tersebut.


" Eh!Kadal! ngapain kamu menatapku seperti itu hah! naksir ya denganku! tapi maaf formulirnya sudah habis!! ucap Papah Boby seraya menatap kearah pak Bowo dan pak Rizal.


Mereka yang ada disitu tersenyum mendengar papah Boby berbicara seperti itu.


" Satu lagi,asal kalian tahu Lia itu adalah bagian dari keluarga kami dan kamu tahu Lia ini adalah saudaranya Nadine Dan Nadine ini kembarannya Lia, lihat Nadine ini adalah calon istrinya Arvin, itu Noh namanya Arvin laki-laki yang ganteng yang cakep dan seorang polisi yang berada di dalam foto itu yang direkayasa oleh Ariel dan teman wanitanya bernama Maya, seolah-olah Arvin lah yang salah padahal yang berbuat sekeji itu adalah Anak mu sendiri!!" ucap papa Boby dengan penuh penekanan berkata di hadapan pak Rizal.


Pak Rizal pun tersentak ia masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh papa Bobby.


" Makanya jadi orang tua itu harus selektif Jangan cuma melihat kebaikannya saja dan kalian juga tidak tahu kan perilaku Anak kalian di luar sana! jangan kejahatannya kalian dukung dengan mengatakan kalau Ariel itu hatinya baik! baik dari mana hah!! dilihatnya! katakan padaku kalian melihat kebaikan Ariel itu dari mana?! dari lubang jarum ?!" ucap papa Boby seraya mendekati pak Rizal sedemikian dekatnya sehingga membuat pak Rizal mundur selangkah dan langsung terjerembab ke arah sofa kembali, dan papa Boby pun mengangkat kakinya dan menaruhnya diatas sofa dengan bertopang tangannya dipahanya itu, dia pun langsung menarik kerah bajunya Pak Rizal


" Apa kamu masih tidak terima dengan penjelasan ku hah!! Kalau kamu masih tidak terima dengan penjelasanku sekarang, ayo kita kekantor polisi dan kamu pasti akan menemukan Anak kesayangan kamu itu disana!! asal kamu tahu Anakmu sudah kami ringkus dan sekarang mendekam di penjara!!" ucap papa Boby sembari menarik kerah bajunya Pak Rizal tersebut, pak Rizal pun tersentak dan dia terkejut membelalakkan matanya Kemudian papah Boby menghempaskan tubuh pak Rizal di sofa dengan kuat.


" Awww..." ucap pak Rizal singkat.


Pak Rizal kemudian membenarkan kerah bajunya yang sedikit kusut karena genggaman tangan papa Boby Dia kemudian memegang ujung sofa dan menundukkan kepalanya.


" Apa mungkin Ariel berada di dalam penjara? Aku tidak percaya kalau Anakku itu ada di dalam penjara, kesalahan apa yang diperbuatnya sehingga dia dipenjarakan, Aku akan naik banding!!" ucapnya di dalam batinnya.


" Kenapa kalian diam! silakan Kalian mau berbicara apa sebelum kalian Aku bawa ke kantor Polisi, agar kalian mempertanggungjawabkan semuanya, karena ini sudah ada buktinya kalau kalian menculik orang yang salah!! Kalian tadi bilang apa hah!! kata kalian, lebih baik Dia pak Candra tidak usah di bawa ke kantor Polisi! dan kalian akan melenyapkannya! siapa yang mau kalian lenyapkan hah!! Pak Chandra? kalian sudah gila! itulah bodohnya kalian lebih baik kalian menyadari akan kesalahan kalian berdua sekarang!!" ucap papa Boby lagi dengan sedikit keras.


Pak Rizal dan Pak Bowo hanya terdiam dan menundukkan kepalanya.


" Cepat!! katakan apa yang ingin kalian katakan!!" ucap papa Boby.


Lagi-lagi pak Bowo dan Pak Rizal tetap tidak bergeming mereka berdua tetap menundukkan kepalanya,dan akhirnya Diapun memberanikan dirinya berbicara lagi.


" Ayo bawa Aku menemuinya dan biarkan Aku menanyakannya sendiri kepadanya." kata Pak Rizal seraya menatap Papa Boby.


" Oke!!" ucap singkat papa Boby.


" Ya sudahlah Om Dia ini tidak akan pernah mengakui kalau Anaknya itu bersalah, Dia selalu mengatakan Anaknya itu adalah yang paling benar, lebih baik kita bawa aja mereka ke kantor polisi dan Dia pasti akan menemukan Anaknya di sana." ucap Morgan lagi.


Pak Rizal menatap kearah Morgan.


Pak Rizal pun langsung mengusap wajahnya dengan kasar kemudian Morgan memerintahkan beberapa anak buahnya untuk memborgol kedua orang tersebut dengan pasrah Pak Bowo dan Pak Rizal pun membiarkan kedua tangannya diborgol dan kemudian mereka pun digiring langsung menuju kedepan rumah dimana mobil patroli sudah tersedia di sana, beberapa saat kemudian mereka pun meninggalkan rumah tersebut menuju ke arah kantor polisi.


Merekapun kemudian ikut juga ke kantor polisi karena yang akan memberikan keterangan kepada pihak polisi tentang penangkapan yang dilakukan mereka dengan Ayah Candra, beberapa menit kemudian mereka pun sampai di kantor polisi,semuanya itu pun turun dan menuju ke ruangan Morgan setelah sampai di ruangan Morgan, Morgan pun meminta nomor pribadi dari mereka untuk menghubungi kedua istri mereka masing-masing, kemudian menghubungi pak Sahrul karena Pak Sahrul adalah Adik kandung dari Pak Bowo, Dia berhak tahu kalau sekarang pak Bowo berada dikantor polisi.


Abiyasa yang ditugaskan menjemput pak sahrul tersebut sudah sampai dihalaman kantor polisi mereka bertiga turun dan langsung melangkah menuju kearah ruangan Morgan.


Terlihat kesedihan dan kecemasan di wajah Pak Sahrul biar bagaimanapun Pak Bowo adalah saudara kandungnya. mereka hanya memiliki tiga saudara Pak Bowo,Bu Yuni Sari, dan dirinya sendiri.


Sekarang Bu Yuni Sari mengalami depresi yang sangat kuat sehingga mengharuskan Dia tinggal dirumah sakit jiwa, sedangkan Pak Bowo sekarang berada di kantor polisi, jelas terlihat kesedihan itu di wajahnya yang tua tersebut.


Mereka pun sampai ke dalam ruangan Morgan, Pak Bowo terkejut melihat sang Adik ada dihadapannya.


" Kakak " ucapnya.


Pak Bowo hanya menoleh sesaat dan kemudian menundukkan kembali wajahnya.


" Kenapa ini bisa terjadi Kak?" tanya Pak Sahrul.


Pak Bowo tidak bersuara dia hanya diam dan tidak berani menatap kearah Pak Sahrul.


" Sudah Aku katakan kepadamu Kak, Lia itu sudah hidup dengan kehidupannya sendiri, dan berapa kali pun Aku katakan kepadamu jangan mengganggunya lagi dan asal Kakak tahu Lia itu bukanlah keponakan kita, tapi biar bagaimanapun Dia tetap menganggapmu sebagai pamannya." ucap Pak Sahrul lagi.


Sebelum polisi menanyai lebih detail lagi dengan pak Bowo,pihak polisi membiarkan pak Sahrul berbicara dengan Pak Bowo.


Tapi lagi-lagi Pak Bowo berdiam diri Dia tidak berani menatap Adiknya tersebut yang berada duduk di depannya, sedangkan Dia duduk di lantai ubin keramik.


Kemudian datang lah istri Pak Rizal dan Pak bowo memasuki ruangan tersebut


Papa Andre, Abi Yosep,dan papa Boby terkejut melihat istrinya pak Rizal memasuki ruangan Morgan, sedangkan Ayah Chandra berada di kamar kecil saat itu, mereka bertiga saling pandang, tapi sayang istrinya pak Rizal tidak terlalu memperhatikan mereka yang ada di dalam ruangan itu,dia hanya memperhatikan suaminya yang sedang duduk di lantai ubin keramik itu, dan langsung mendekatinya.


" Ada apa ini Mas? kenapa sampai kamu ketangkap polisi seperti ini " ucap Bu Yetni.


Pak Bowo pun hanya tetap terdiam,mendengar pertanyaan sang istri.


" Kenapa juga kamu seperti ini Pah Kenapa? sampai kamu tertangkap polisi?Apa kesalahan kamu pah?" ucap istri Pak Rizal.


Pak Rizal kemudian menatap istrinya dengan sayu.


" Maafkan Papah Mah, karena ambisi Papa ingin menemukan Lia dan ingin mencari tahu dimana keberadaan Ariel dan membuat Papa akhirnya berada di sini." ucapnya pada sang istri.


Istrinya pun langsung memeluk sang suami yang masih duduk di lantai ubin keramik,Morgan dan Arvin beserta yang lainnya hanya membiarkan mereka maluahkan cerita mereka sebelum pihak polisi meminta keterangan kepada mereka berdua.


" Dimana Ariel Pah? di mana Anak kita?" tanya istrinya pada pak Rizal.


" Ibu silakan duduk dulu, nanti saya akan menjelaskannya semuanya." ucap Morgan.


Kemudian istrinya pak Rizal pun duduk dan menatap ke arah Morgan.


" Pak polisi di mana anak saya.?" tanyanya.


" Begini Ibu kesalahan yang telah dilakukan oleh Anak ibu membuahkan hasil Anak Ibu sekarang berada disini dan kami harus mengamankannya." terang Morgan.


" Apa ? Kenapa Anak saya diamankan? Apa salahnya? selama ini Anak saya baik-baik saja, Anak saya tidak pernah salah, Anak saya selalu baik dihadapan kami." belanya karena tidak ingin Anaknya disalahkan.


" Itulah salahnya Ibu! tidak melihat apakah kebaikan Anak Ibu itu dibatas wajar?atau memang sengaja berbuat baik dihadapan Ibu saja." ucap Morgan.


" Apa maksud bapak?" tanyanya seraya menatap ke arah Morgan dengan tatapan penuh tanda tanya.