
" Apa kita hubungi Abiyasa dan Clarissa?" Tanya Arvin.
" Tidak usah! Biarkan mereka istirahat di rumah, menunggu kalau ada orang yang kembali meneror rumah papah Andre karena Nika dan Amelia berada di sana " ucap Morgan.
" Benar juga ya, biarkan kita dengan anggota yang lain menangkap mereka." Ucap Arvin seraya menganggukkan kepalanya.
" Aku mau menghadap dulu dengan pimpinan, kamu mau ikut?" Ajak Morgan.
" Ya iyalah aku ikut, aku kan ikut andil dalam penggerebekkan ini." Ucapnya tersenyum.
Mereka kemudian melangkah menuju lantai atas kantornya tersebut dimana ruang pimpinannya berada.
*****
Jam makan siang sudah tiba, langsung saja Abiyasa keluar dari ruangannya dan melangkah menuju kearah ruangan Clarissa.
Abiyasa langsung membuka begitu saja pintu ruangan Clarissa, Abiyasa terkejut melihat Clarissa yang menelungkupkan wajahnya dimeja kerjanya dengan bertopang kedua tangannya, lalu Abiyasa melangkah perlahan mendekati Clarissa seraya menyentuh pundak sahabatnya itu seraya memanggilnya dengan pelan.
" Clarissa...Ris? "
" Hmmm..." Jawab Clarissa seraya mengangkat wajahnya dan menatap kearah Abiyasa.
" Kamu kenapa Ris? Wajahmu terlihat pucat." Tanya Abiyasa seraya menatap lekat kewajah Clarissa.
" Hehehe ...aku Nggak apa-apa kok Biy, mungkin kecapean aja."
" Jangan bikin khawatir Ris, kalau kamu kecapean jangan masuk kerja Ris, karena kalau kamu kenapa-napa bisa jadi berabe nantinya." Ucapnya merasa khawatir dengan kondisi Clarissa yang sangat terlihat pucat itu.
" Tadi sedikit mual perut ku, tapi sekarang udah agak mendingan." Ucapnya tersenyum
" Mual? Kita kerumah sakit sekarang aja ya,atau keruang kesehatan,dan biar sekalian aku hubungi Marco ya?" Ucapnya.
" Nggak usah Biy, kitakan mau pulang juga kan, aku nggak kenapa-napa kok, mungkin benar kali aku kecapean karena tadi malam begadang kali ya." Ucapnya tersenyum seraya mengambil tas kerjanya beserta gawainya.
" Ya udah kalau gitu kita langsung pulang aja, aku takut nantinya istri orang kenapa-napa." Ucap Abiyasa seraya mempersilahkan Clarissa duluan berjalan.
" Hati-hati Bola, jalan tuh yang pelan, jangan terlalu cepat ntar kamu pingsan lagi nantinya." Ucap Abiyasa karena melihat Clarissa terlalu cepat jalannya.
" Tenang aja nggak bakalan pingsan kok." Ucapnya seraya tersenyum.
Abiyasa mensejajari langkah Clarissa memasuki lift dan mereka berduapun turun kelantai bawah dan melangkah kembali beriringan menuju kearah Mobilnya dan beberapa saat kemudian mobil tersebut meninggalkan kantor Wibawa Group.
Didalam Mobil Abiyasa sesekali menoleh kearah Clarissa yang semakin terlihat sangat lelah dan terlihat menahan sesuatu yang akan keluar dari mulutnya.
" Ris, kamu mau muntah ya?"
Clarissa memberi tanda dengan tangannya dan tangan satunya menutup mulutnya.
" Kalau mau muntah, dimuntahkan aja Ris, biar lega." Ucap Abiyasa.
Lagi-lagi Clarisa menggelengkan kepalanya,terlihat Clarissa menghela napasnya dengan dalam.
Abiyasa terus melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, beberapa saat kemudian mobil yang dikendarainya itu memasuki halaman rumahnya.
Dia memarkirkan Mobilnya disembarang tempat,karena melihat wajah Clarissa terlihat kelelahan, saat Clarissa mau membuka pintu Mobil Abiyasa melarangnya, namun Clarissa tersenyum dan mengatakan kalau dia bisa sendiri dan masih kuat berjalan, Abiyasa pun langsung turun dengan cepat, tapi Clarissa adalah wanita yang keras kepala dia pun tetap turun dari mobil Abiyasa, saat dia menutup pintu mobil Abiyasa dia merasa melayang badannya dan tanpa diurungkan lagi dia pun langsung terjatuh di halaman rumah Abiyasa, Abiasa terkejut, Ayesha yang memang sedari tadi menunggu sang suami duduk di teras pun terkejut dia kemudian memanggil orang tua dan mertuanya yang ada di dalam.
" Umi! Mamah! Cepatan Clarissa pingsan.!" Teriaknya.
Mendengar teriakan Ayesha Mereka pun semuanya berhambur lari keluar, Marco langsung berlari cepat menemui Abiyasa yang sudah mengangkat tubuh istrinya itu menuju kearah dalam dia pun langsung mengambil tubuh istrinya yang digendong oleh Abiyasa, Abiyasa pun memberikan Clarissa kepada Marco, kemudian Marco membawanya ke kamarnya yang berada di samping kamar Abiyasa yang ada di lantai bawah.
" Ada apa Nak? Kenapa Clarissa bisa jatuh pingsan?" tanya mama Anisha.
" Iya ada apa Nak? Kenapa bisa dia pingsan dan wajahnya pucat sekali " ucap Umi Vita sembari melangkah mengikuti langkah Mama Anisha yang mengikuti langkah Abiyasa yang menuju ke kamar Clarissa yang ada di rumah Abiyasa.
" Abiyasa nggak tahu mah, Umi, dari rumah dia baik-baik aja, Abiyasa terkejut melihat Dia menelungkupkan wajahnya di meja kerjanya dan Abiyasa sudah melihat wajahnya pucat, tapi dia mengaku tidak ada apa-apa, saat di mobil seperti mau muntah, tapi dia tidak mau mengeluarkan muntahnya itu dan sampai di rumah baru dia jatuh pingsan." Terang Abiyasa.
Mama Lala yang berada di kamar kecil, dan tidak mengetahui kalau anaknya itu sudah datang dan jatuh pingsan, saat dia keluar dan merasa heran melihat semua orang berada dikamar Clarissa.
" Ada apa ini? kenapa rame-rame?"
" Clarissa... Clarissa pingsan La." ucap Abi Yosep.
" Apa ?" mendengar ucapan Abi Yosep dia pun terkejut dan langsung berlari menuju ke arah dalam kamarnya sang anak.
" Mbeb... ada apa dengan anak kita?" tanyanya pada papah Bobby yang duduk di samping Clarissa.
" Tidak tahu Mbeb, dia turun dari mobil Abiyasa sudah jatuh pingsan." Terang papah Boby.
" Ada apa Biy? Kenapa Clarissa bisa pingsan? padahal kan dari rumah dia baik-baik aja?" Tanya Mama Lala pada Abiyasa.
" Ya Tante, dia memang baik-baik aja tadi,tapi Biyas juga tidak tahu, Setelah Biyas Mau mengajak dia pulang untuk makan siang dan tidak akan pulang lagi ke kantor, dia sudah terlihat pucat dan terlihat capek, Kata dia sih efek dari begadang tadi malam itu aja yang dijelaskannya dengan Abiyasa." Jawabnya.
" Ya kan Mbeb, makanya anak perempuan itu jangan di ajak begadang Sayang, kalau kecapean ya jadinya begini kan!"
" Ya Mbeb, maaf kan aku ya." ucap papa Boby.
" Sebentar lagi Anindhita datang aku sudah menghubungi Dita agar cepat pulang untuk memeriksakan Clarissa." ucap papa Andre.
Mereka semua mengangguk Marco kemudian memberikan aroma minyak angin agar Clarissa cepat sadar dari pingsannya.
" Kenapa sih Nak,kamu tidak langsung membawanya ke rumah sakit atau kesehatan di kantor, tim kesehatan di kantor kan ada nak.?" tanya Mama Anisha.
" Ya Mah, sudah Abiyasa sarankan, tapi Clarissa menolak, mama kan tahu Clarissa tipe orangnya keras, ya Abiyasa tidak bisa memaksa dia juga Mah, lagi pula dia mengatakan dirinya kuat-kuat padahal terlihat sekali dia tadi mau muntah." Ucap Abiyasa.
Semua menatap kearah Abiyasa, papah Bobby dan Ayah Candra saling pandang, begitu juga papah Andre dan Abi Yosep saling berpandangan, para laki-lakinya menyadari dan berpikiran yang sama, Sedangkan para perempuannya kebingungan dengan keadaan Clarissa.
Kemudian mereka berempat pun tertawa terkekeh, mereka menatap pada suaminya yang sedang terkekeh dalam keadaan Clarissa masih tidak sadarkan diri.
" Iih...apaan sih Mbeb, anaknya juga lagi nggak sadarkan diri dia malah terkekeh." Ucap Mamah Lala seraya menatap papah Boby.
" Entar kamu akan tahu juga."
" Memang Ada apa sih Abi?" tanya Umi Vita pada Abi Yosep.
Para suaminya peka dan para istri mereka tidak terpikir sampai kesana.
Clarissa kemudian membuka matanya dia menatap satu persatu orang yang ada di dalam kamar tidurnya itu.
" Ada apa ini? kenapa kalian kumpul di kamar Risa seperti ini?"
" Ya iyalah kami kumpul di sini, kamu kan tadi pingsan makanya aku khawatir, Untung aja kamu pingsan sudah di depan rumah." Ucap Abiyasa.
" Sebenarnya ada apa nak? apa yang kamu rasakan?" tanya Mamah Lala.
" Saat berangkat dari rumah kita tadi menuju ke rumah Om Andre, Risa merasa pusing, tapi Risa tahan saat Abiyasa mengajak Risa ke kantor, Risa ikut aja karena Risa pikir pusing ini cuma pembawaan begadang tadi malam kurang tidur." ucapnya
" Kurang tidur gimana sih Nak? papa dan suamimu aja kamu tinggal kamu malah mendengkur tidurnya." Ucap papah Boby, Clarissa membelai kepalanya sendiri dan tersenyum.
" Nah saat di dalam ruangan Clarissa merasa perutnya Clarissa mual mau muntah tapi nggak mau keluar juga muntahnya,pusing semakin menjadi, Clarissa kan gak tahu ada apa di dalam tubuh Clarissa." Terangnya.
" Jangan-jangan..." ucap Mama Lala seraya menatap papa Boby sambil tersenyum.
" Nah itu yang aku maksud Mbeb.. jangan-jangan hehehe..." Papa Bobby pun terkekeh.
" Mudah-mudahan aja." ucap papah Boby sembari menadahkan tangannya dan mengusap wajahnya dengan kedua tangan.
" Astaghfirullahaladzim, Kok aku nggak sadar ya, jangan-jangan posisi Clarissa sama kayak Ayesha." ucap mama Anisha di anggukan oleh Umi Vita.
" Ya sudah sekarang kamu istirahat aja dulu ya Nak, sembari kita menunggu Anindita datang dan memeriksa keadaan kamu, karena kamu katanya nggak mau dibawa ke rumah sakit atau menggunakan jasa medis yang ada di kantor." ucap papah Andre.
" Iya Om, Risa memang nggak mau, karena Risa pikir kan cuma masuk angin aja." Ucapnya.
" Ya udah kalau kayak gitu, kamu istirahat aja dulu ya nak, kami mau keluar dulu." Ucap Mamah Anisha, kemudian mamah Anisha mengajak yang lain keluar kamar Clarissa
Lalu mereka pun keluar dari kamar Clarissa yang ada di dalam cuma kedua orang tua Clarissa dan suaminya, beberapa saat kemudian sebuah mobil memasuki halaman rumah kediaman keluarga Wibawa, Siapa lagi kalau bukan mobilnya Anindita, Anindita pun bergegas masuk ke dalam dan menuju ke arah ruang tengah di mana mereka semua duduk.
" Assalamualaikum " ucap Anindita.
" Waalaikumsalam " jawab mereka semua.
" Dimana Clarissanya?"
" Ada tuh di dalam kamarnya." Jawab mamah Anisha.
Kemudian Mama Anisha berdiri lagi diikuti oleh Umi Vita,mereka berdua mensejajari langkah Anindita menuju ke dalam kamar Clarissa yang masih ditemani kedua orang tuanya serta suaminya itu.
Anindita pun kemudian memeriksa Clarissa dengan teliti, walaupun sebenarnya Anindita adalah dokter umum tapi dia juga mengetahui kalau sebenarnya Clarissa sudah berbadan dua.
Anindita pun tersenyum mereka menatap kearah Anindita.
" Selamat ya Om, tante, Clarissa sudah berbadan dua, kalau ingin mengetahuinya lebih lanjut lebih baik Clarissa di bawa aja ke dokter kandungan yang ada di rumah sakit kita, biar melihat berapa minggu dia sudah hamil."
" Alhamdulillah Ya Allah, akhirnya aku juga akan menyusul Andre mempunyai cucu, benarkan terkaanku." ucap Papa Boby sembari memeluk Mamah Lala, mereka berdua sangat senang sekali, Clarissa pun langsung memeluk sang suami, dia merasa bahagia sekali karena sudah dititipkan calon buah hati mereka dan cintanya dengan Marco, Tidak terasa airmata Clarissa pun menetes karena merasa bahagia sekali, mereka yang ada diluar pun merasa bahagia mendengar ucapan dari Umi Vita kalau Clarissa hamil muda.
" Ya udah besok aja Clarissa memeriksakannya lebih detail lagi dengan dokter kandungan." ucap Clarissa dianggukkan oleh mereka semua.
" Ya udah sekarang kamu istirahat aja, wajah kamu terlihat pucat aku kasih vitamin aja ya, kamu bisa meminumnya." ucap Anindita.
Clarissa hanya menganggukkan kepalanya, kemudian Marco pun membenarkan posisi tidur sang istri dia tak lupa mencium kening istrinya dan kedua pipi kiri dan kanan Clarissa, dia pun menghapus air mata sang istri, air mata kebahagiaan yang mengalir di kedua pipi mulus istrinya itu tidak terasa juga rasa bahagia itu pun sangat terpancar di wajah Marco.
Clarissa dibiarkan bersama dengan suaminya, Mamah Lala dan Papa Boby pun keluar dari ruangan kamar Clarissa menuju ke arah mereka duduk di ruang tengah.
" Aku bahagia sekali, karena aku sebentar lagi mau menjadi seorang kakek, kita sama Ndre." ucap papah Bobby.
" Alhamdulillah Bob, tapi ngomong-ngomong tidak Bapak tidak anak selalu aja ngikutin." Ucap Papah Andre tersenyum
" Maksud kamu.?" Tanya papah Boby sembari menatap sahabatnya itu.
" Kamu ingat nggak? saat istriku hamil lebih dulu dari Lala, tidak berapa lama istrimu juga ikut hamil makanya Clarissa dan kedua anak kembarku tidak jauh beda usianya, sekarang Aku sudah mau punya cucu eh kamu juga nyusul mau punya cucu, ya sama aja kan tidak bapak tidak anak ngikutin mulu." ucap Papa Andre sembari tertawa lepas, Mereka pun tertawa lepas juga.
" Hahaha... itu namanya kita tidak bisa dipisahkan Ndre dari dulu sampai sekarang." Ucap Papah Boby.
" Orang tuanya bersahabat,anaknya juga bersahabat dan jangan-jangan cucu kita juga bersahabat nantinya hahaha... ucap Ayah Candra.
" Hahahaha...Chandra sayang... kamu nikmati dulu belum punya cucu, Karena kamu belum punya mantu..." tawa mereka pun pecah kembali.
" Hahaha...jangankan punya cucu, punya mantu aja nunggu 6 hari lagi." Celetuk Abi Yosep sembari menatap ke arah Ayah Candra.
" Iya nih, benar banget, tunggu 6 hari lagi kamu udah punya menantu dan tunggu beberapa bulan lagi kamu punya cucu, hahaha." Tawa papah Boby sembari tertawa lepas, Ayah Candra cuma hanya cengar-cengir sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
" Nasib-Nasib, karena belum menandatangani surat kepemilikan menantu." ucapnya sembari tertawa juga, merekapun kemudian tertawa dengan lepas dan terlihat bahagia, dan giliran Ayah Candra yang jadi bulan bulanan mereka bertiga.
" Ya udah, sekarang kita makan siang bersama dulu yuk! karena sudah siap makanannya." ucap Mama Anisha.
" Sebentar Mah, Abiyasa mau menghubungi Morgan dan Arvin dulu, Biar mereka sama-sama makan siang dengan kita." ucap Abiyasa kemudian mengambil gawainya dan berlalu dari hadapan mereka untuk menghubungi kedua sahabatnya itu.
Gawai Abiyasa pun tersambung pembicaraan mereka berdua pun berlanjut, beberapa saat mereka berbicara pembicaraan pun terputus, Abiyasa kembali menatap layar gawainya dan kemudian memasukkan gawai tersebut ke dalam saku celananya, Mereka kemudian mendekati sang istri.
" Apa kata mereka?" Tanya papah Andre.
" Mereka sudah di jalan, memang sudah mau pulang ke sini." ucap Abiyasa sembari menggenggam tangan sang istri dan mengelus perut istrinya yang sudah besar.
" Ya udah kalau kayak gitu, kita tunggu aja mereka, biar kita bareng-bareng aja sambil merayakan kebahagiaan kita karena bertambahnya cucu kita." Ucap Papa Andre.
" Kamu nggak jemput Adel?" tanya papah Andre pada Ayah Candra
" Istriku sudah pasti dijemput Arvin, Karena tadi aku sudah kirim chat pribadi dengan Arvin." Jawab ayah Candra.
Beberapa saat kemudian mobil Morgan pun memasuki halaman rumah Abiyasa, dia memarkirkannya dengan rapi dan mereka bertiga turun dari mobil melangkah menuju ke arah pintu utama rumah kediaman keluarga Wibawa.
" Assalamualaikum " ucap Bunda Adel.
" Waalaikumsalam." Ucap mereka semua
Ayah Chandra pun berdiri dan menyambut kedatangan sang istri,kemudian mereka langsung diajak oleh Papa Andre untuk makan siang bersama, Arvin dan Morgan belum mengetahui kalau Clarissa sahabatnya itu sedang dalam keadaan hamil.