
Mobil terus melaju dengan kecepatan sedang, dan selang beberapa waktu mobil mereka memasuki halaman rumah keluarga wibawa.
Dengan rapi mereka memarkirkan mobil mereka dan langsung keluar dari dalam mobil dan melangkah menuju kearah pintu utama rumah papah Andre.
Setelah memberi salam dan dijawab salam dengan sang istri mereka semua memasuki rumah tersebut.
Abiyasa dengan yang lainnya pun kembali lagi kekantor berhubung tidak jadi berangkat keluar negeri karena ditunda papah Andre.
Mereka pun langsung keluar lagi setelah berpamitan dengan istrinya dan yang lainnya, mobil Abiyasa pun langsung melaju menuju kearah kantornya tersebut.
Mereka yang ada di rumah Papah Andre pun kemudian memasuki kamar mereka masing-masing berhubung rumah papa Andre memang mempunyai beberapa buah kamar dan dapat menampung beberapa orang karena dari dulu orang tuanya memang mendesain rumah mereka itu dengan beberapa buah kamar karena keluarga dari kedua orang tua Papa Andre mempunyai keluarga besar.
Papa Andre melangkah menuju ke teras belakang dia pun langsung menghentakkan tubuhnya di sofa yang ada di teras belakang tersebut dengan menghela napas panjang.
Mama Anisa kemudian mendekati sang suami dia pun kemudian duduk di samping suaminya tersebut.
" Kenapa sayang cape ya ...?" tanya Mama Anisha sembari tersenyum menatap kearah suaminya tersebut.
" Awalnya memang capek tapi setelah melihat wajah dan senyuman mu sayang, capeknya langsung hilang, Kamu adalah obat yang paling mujarab hehehe.." ucap papa Andre sembari menyentuh dagu sang istri, Mama Anisha hanya tersenyum seraya meraih tangan suaminya tersebut dan menggenggamnya.
" Tidak terasa ya, sebentar lagi kita mempunyai cucu dan tidak terasa sudah kedua anak kembar kita sudah menikah, kita tinggal menjaga Almira yang masih jauh dari kata pernikahan." ucap Mama Anisha seraya menepuk-nepuk punggung tangan suaminya tersebut.
" Iya sayang.. tidak terasa sudah besar semua dan akan memberikan cucu untuk kita, padahal rasanya baru kemarin aja mereka bermain di pangkuan papah, tapi sekarang anak mereka yang akan bermain di pangkuan kita." ucap papah Andre lagi sembari tersenyum.
Merekapun berdua saling tersenyum dan lalu terdiam larut dalam lamunan mereka berdua sambil menikmati semilir angin di teras belakang.
Di kantor Wibawa Group...
Mobil yang ditumpangi oleh Abiyasa pun memasuki halaman kantornya, dia pun memarkirkan mobilnya tidak memakai jasa security Dia dan Clarissa pun turun dari mobilnya, karena Clarissa tidak menggunakan mobil pribadinya,dia satu mobil bersama dengan Abiyasa, mereka berdua pun melangkah menuju ke lantai atas, sesampainya di lantai atas Abiyasa masuk keruangannya tersebut, Clarissa juga melangkah menuju ke ruang kerjanya.
Sebelum Abiyasa Masuk ruangannya dia pun langsung memanggil Clarissa yang menuju keruanganya itu.
" Risa!" panggilnya, Clarissa menghentikan langkahnya dan berbalik arah menghadap ke Abiyasa dia pun mendekati Abiyasa yang berdiri di depan pintu ruangannya itu.
" Ada apa Biy?"
" Hari ini kita makan siang di rumah aja, Setelah itu kita nggak masuk lagi." ucapnya
" Oke siap Boss!"
Abiyasa tersenyum, mereka memasuki Ruangan mereka masing-masing dan mengerjakan pekerjaan mereka yang tertinggal beberapa saat.
Di kantor Arvin...
Arvin sudah sedari tadi sampai di kantornya itu dan duduk manis di ruangannya, dia menyandarkan tubuhnya di kursi kerjanya dia menatap langit-langit ruanganya tersebut.
" Tidak terasa 6 hari lagi aku sudah melepas status lajang ku." ucapnya sembari tersenyum.
" Mudah-mudahan sebelum hari pernikahanku masalah Nika sudah terselesaikan dan kami bisa berkumpul di hari pernikahanku nanti." ucapnya sembari mengusap wajahnya dan membenarkan posisi duduknya kemudian pintu ruangannya pun diketuk.
" Tok tok tok "
Arvin menoleh kearah pintu dia tersenyum melihat Morgan yang mengetuk pintu ruangannya itu, Morgan membuka pintunya dan melangkah menuju kursi yang ada di depan Arvin, Morgan pun menghentakkan tubuhnya di kursi tersebut.
" Kenapa kamu nggak bilang mau ke sini tadi, kalau kamu mau ke sini kan biar kita barengan tadi saat di rumah Abiyasa.
" Aku memang sengaja tidak mengatakan ingin ke kantor, sebenarnya aku juga tidak mau ke kantor sih, tapi karena istriku masih ada panggilan darurat yang tadi malam belum terselesaikan, lagi pula aku belum selesai urusanku dengan 2 orang yang mengikuti Abiyasa waktu hari pernikahanku itu." ucapnya sembari tersenyum.
" Oh ya, kalau seperti itu ayo kita menuju ke ruangan mu, pasti dia sudah mau mengatakan Yang sejujurnya, Dia disuruh siapa." ucap Arvin di anggukan oleh Morgan, mereka berdua pun langsung berdiri dari duduknya dan melangkah keluar ruangan Arvin menuju ke arah ruangan Morgan, sebenarnya Morgan Belum masuk kantor cutinya masih 2 hari lagi,tapi karena jiwanya ingin bekerja Akhirnya dia pun masuk kantor walaupun cutinya masih ada.
Morgan kemudian membuka pintu ruangannya di mana di dalam ruangan itu ada uji seorang diri, uji adalah orang kepercayaan dari Morgan diruangannya tersebut, uji menatap kearah Morgan dan Arvin.
" Pagi, menjelang siang Ndan." Sapanya.
" Pagi juga, Oh ya bagaimana kedua orang kemarin? Apakah mereka sudah mengatakan kejujuran mereka? Siapa yang menyuruh mereka?" Tanya Morgan sembari mengambil kursi yang tidak jauh dari meja uji itu.
" Sudah semua Ndan, mereka memberikan keterangannya dan memberitahukan siapa sebenarnya orang yang menyuruh mereka itu."
" Bagus, Siapa orangnya?" tanya Morgan
" Apakah mereka ada mengatakan alamat mereka di mana?" Tanya Arvin.
" Ada Ndan, alamatnya Jalan kenanga nomor 100."
" Berarti bukan di jalan patriot?"
" Bukan Ndan "
Morgan menoleh kearah Arvin saat mengatakan Jalan patriot.
" Ada apa Vin? Dengan Jalan patriot?" Tanya Morgan.
" Kemarin kami mengadakan pengintaian di Jalan patriot tersebut, tapi sampai saat ini belum diperintahkan untuk penangkapan, masih dalam pengawasan satu sampai dua orang saja yang mengawasi rumah tersebut."
" Berarti antara Jalan kenanga dan Jalan patriot tidak ada hubungannya sama sekali, berarti ini orangnya berbeda-beda." ucap Morgan dianggukkan oleh Arvin.
" Ya sudah kalau seperti ini, tolong panggilkan mereka berdua ke sini, aku ingin berbicara dengan mereka." Perintah Morgan pada Uji.
" Siap Ndan!" uji langsung berdiri dari duduknya dan melangkah keluar menuju ke arah ruangan sel tahanan, beberapa saat kemudian uji pun membawa 2 orang tersebut masuk kedalam ruangan Morgan.
Mereka berdua disuruh duduk di lantai ubin keramik dan Morgan pun berjongkok di hadapan mereka.
Mereka berdua hanya menundukkan kepalanya dan tidak berani menatap wajah Morgan.
" Kalian berdua sudah mengatakan penawaran untuk membantu pihak kepolisian agar menangkap orang yang telah memerintahkan kalian untuk menguntit keluarga Wibawa, Apakah kalian bersedia membantu dengan bersungguh-sungguh atau hanya ingin melarikan diri saja?" tanya Morgan, mereka berdua dengan cepat menganggukkan kepalanya.
" Hey!!kalau kamu berbicara dengan saya, kamu harus menatap wajah saya, saya tidak mau berbicara dengan orang yang hanya menundukkan kepalanya saja, karena bagi saya orang yang menundukkan kepalanya itu bisa-bisa berkata bohong!"
" Kami mau Pak! membantu untuk penangkapan orang yang telah menyuruh kami itu, karena kami sadar, kami salah pak! Kami tidak memikirkan kedepannya, Kalau kami ini hanya diperalat untuk menjadi pesuruh Mereka, kami menyesal Pak, sungguh-sungguh menyesal" ucap salah satu dari mereka.
" Apakah kamu benar-benar menyesal atau hanya pura-pura?!" Tanya Arvin.
" Kami benar-benar menyesal pak, sungguh menyesal kami pak, kami akan tetap menjalani hukuman penjara ini karena kesalahan kami, tapi setidaknya sebelum kami dipenjara Kami ingin juga mengajak mereka masuk penjara pak, karena kami tidak ingin hanya kami berdua saja yang berada di dalam sel tahanan dan merasakan dinginnya ubin keramik jeruji besi tersebut dan kami juga ingin bersama dengan mereka pak, Biar mereka juga merasakan penderitaan di dalam sel itu, kami tidak mau sendirian merasakan sakit pak, karena sakit yang kami rasakan ini adalah ulah dari mereka, memang kami salah membantu mereka pak, tapi karena kami tergiur dengan uang yang dijanjikan mereka pada kami, memang uang segitu itu adalah sangat besar bagi kami pak,tapi mungkin bagi mereka uang segitu sedikit, makanya kami ingin sama-sama membawa mereka juga masuk ke dalam sel penjara ini, biar juga mereka merasakan sakitnya seperti apa kami rasakan sekarang ini, walaupun kami baru satu malam berada di sini, tapi kami sudah merasakan betapa dinginnya hotel prodeo bapak ini." ucapnya lagi.
" Apakah mereka mengetahui kamu sudah tertangkap?" Tanya Arvin.
" Sepertinya iya pak, karena di rumah itu hanya ada 4 orang ditambah kami jadi 6 orang saja pak,tapi saya tidak terlalu mengenal ketiga orang tersebut, yang kami kenal hanya lah Pak Adipati, dialah orang yang merekrut kami untuk menjadi pesuruhnya, untuk menguntit keluarga bapak." ucapnya seraya menatap ke arah Morgan, kemudian dia kembali menatap kearah Arvin.
" Baiklah malam ini kalian akan membuktikan kata-kata kalian untuk membantu para kepolisian menangkap mereka semua dan mengetahui motif dari mereka menyuruh kalian mengikuti keluarga kami." ucap Morgan seraya berdiri dari jongkoknya menuju kearah tempat duduk.
" Baik Pak kami siap!" ucapnya dengan pasti, mereka berdua menatap ke arah Morgan, Morgan menatap langsung ke manik bola mata mereka berdua, Morgan tidak menemukan kepalsuan di mata tersebut, Tapi kebenaran dengan rasa penyesalan yang paling dalam, terlihat di bola mata kedua penguntit itu.
" Baiklah saya percaya dengan kalian berdua, tapi ingat! Jangan permainkan kepercayaan saya! jangan sampai kalian berdua menyalah gunakan kepercayaan saya ini, kalau disalah gunakan kalian akan merasakan akibatnya!" ucap Morgan seraya menatap keduanya dengan silih berganti, mereka berdua pun langsung menganggukkan kepalanya.
" Baiklah sekarang uji antarkan mereka kembali ke sel lagi " titah Morgan.
" Siap!" uji pun kemudian berdiri dan mengajak kedua orang tersebut kembali ke ruangan sel tahanan.
" Aku ikut dalam penangkapan mereka ya, karena besok aku sudah di pinggit dan surat cuti ku juga keluar besok." ucap Arvin sembari mendekati Morgan.
" Baiklah, tapi kamu harus hati-hati karena aku tidak mau tanggung jawab dengan Nadine kalau kamu nanti kenapa-napa."
" Siap! aku pasti akan hati-hati, aku juga akan izin dengan bunda, bunda pasti akan mengijinkan."
" Kalau masalah izin dengan Bunda Adel itu urusan kamu, karena aku juga nggak berani izin sama Bunda Adel, kamu kan tahu Bagaimana rasanya dimarahi Bunda Adel hehehe... kalau dia udah marah-marah aku juga takut." ucapnya sembari tertawa lepas.
Mereka berdua sama-sama tertawa.
" Ya udah kalau gitu ayo kita siapkan buat penggerebekkan nanti." Ajak Morgan.
" Siap Komandan! Laksanakan." Ucap Arvin tersenyum.
Mereka sama-sama tersenyum, dan berlalu dari ruangan Morgan untuk mempersiapkan penangkapan dalang penguntit tersebut.
Bersambung...
Terimakasih yang sudah memberikan dukungannya dalam karya saya ini, dengan berkomentar yang memberikan semangat pada saya.🙏