
Morgan dan Arvin mendekati Maya dan Ariel,Ariel yang sedari tadi menundukkan kepalanya tidak berani lagi mengangkat kepalanya dan berbicara. Dia hanya bisa mengusap wajahnya dan meringis kesakitan karena tamparan dari Arvin.
" Kamu memang keterlaluan Dedy! dengan diriku! aku sudah benar-benar menyayangi kamu ternyata kamu menipu aku!!" geram Maya.
" Apa bedanya kejahatan kamu di masa lalu dengan kejahatan kami di saat ini?" ucap Morgan santai.
" Tidak ada bedanya sama!! sama jahatnya!! tapi yang lebih jahat sekali adalah kamu!! kamu sudah mematahkan hatiku!!"
" Kamu sadar berbicara seperti itu? ini hanya mematahkan hatimu bukan mematahkan lehermu?" ucap Morgan tersenyum sinis.
Maya mendelik ke arah Morgan seraya mendengus dengan kesal.
" Kalau kamu pikir ini bukan kejahatan yang sama dengan kejahatan kamu di waktu itu,apakah kamu tidak berpikir saat melakukan kejahatan itu pada Lia hah?! apakah orang yang kamu sakiti seperti itu akan menanggung kebahagiaan?! tidak kan!! malah derita bertahun-tahun yang dia rasakan! terhindar dari keluarganya bertahun-tahun lamanya!!dan pasti sudah membesarkan anak dari lelaki tidak bermoral ini!!" ucap Morgan lagi sembari menunjuk Ariel yang hanya bisa terdiam.
Maya terdiam sesaat.
" Aku bukan Dedy!!tapi melainkan Morgan! aku teman Arvin, sayangnya kamu kurang pintar untuk membedakan mana orang jahat sungguhan dan mana orang jahat tidak sungguhan yang hanya pura-pura dan memancing seseorang tersebut agar mengakui semua kesalahannya.!" ucap Morgan panjang lebar.
Maya beralih menatap kearah Arvin.
" Arvin maafkan aku Arvin! tolong aku Arvin jangan bawa aku ke kantor polisi." ucapnya seraya menyentuh tangan Arvin, tapi Arvin dengan gesit langsung menepiskan tangan Maya. Maya terdiam, karena dia mendapatkan perlakuan kasar dari Arvin.
" Aku bertahun-tahun mencari kebenaran ini Maya dan bertahun-tahun juga aku menyembunyikan masa laluku baik dengan kedua orang tuaku dan calon istriku serta dengan sahabat-sahabatku. Tapi dengan begitu mudahnya kamu mengeluarkan kata minta maaf denganku,kamu tidak menanggung rasa derita yang pernah aku rasakan karena perbuatan kamu itu,sampai saat ini aku tidak bisa untuk memaafkan kamu Maya!" ucap Arvin.
" Tapi itu masa lalu Vin,kita bisa membicarakan semuanya kan, kita bisa memulainya dari awal Vin, kamu pasti sangat mencintai aku juga kan sama seperti aku yang juga sangat mengiginkan dan sangat mencintaimu,kamu terpaksakan mencintai Nadine karena Nadine sekilas mirip dengan Lia! sadarlah Vin, akulah yang sangat mencintai kamu selamanya sampai aku menutup mata." ucap Maya seraya menatap Arvin dengan tatapan penuh harap, berharap Arvin akan merubah pikirannya tersebut.
" Jangan pernah berharap Maya!Nadine adalah Nadine, dan bukan Lia,Walaupun ada sedikit kemiripan antara Nadine dan Lia, tapi aku tidak menyamakan antara Nadine dan Lia, Lia adalah Lia dan tidak akan pernah berubah menjadi Nadine begitu pula sebaliknya ingat itu!!" ucap Arvin seraya mencengkram kedua wajah Maya dan menghempaskannya karena Arvin sudah sangat membenci Maya.
Maya pun terdiam dan menundukkan kepalanya dengan mengusap wajahnya karena rahangnya terasa sakit karena cengkraman Arvin.
Mereka semua terkejut disaat Maya mengucapkan kata kalau Nadine mirip dengan Lia, papah Andre menatap kearah Ayah Candra dan Ayah Candra hanya bisa mengangkat kedua pundaknya mengekpresikan ketidak tahuannya.
Papah Boby menatap kearah Maya dan Ariel,dia kemudian mendekati lagi kearah mereka berdua.
" Ariel!" panggil papah Boby, Ariel mengangkat wajahnya, dan menatap kearah papah Boby, ada rasa ketakutan yang dirasakan oleh Ariel.
" Ya Om " ucapnya pelan.
" Siapa nama orang tua Lia?! Jawab dengan jujur!" Tanya Papah Boby.
" Pak Yuasa Akbar dia sudah meninggal beberapa tahun lalu." Ucapnya
" Kenapa dia bisa meninggal!" Tanya papah Boby lagi.
" Ya Sallam! Boby pertanyaannya aneh banget, ya pastilah dia jatuh sakit atau kecelakaan." Ucap Abi Yosep seraya menepuk jidadnya sendiri.
Papah Andre dan Ayah Candra hanya terkekeh.
" Yos, bisa aja kan meninggalkan karena bunuh diri menanggung malu akibat ulah anaknya yang sebenarnya tidak dilakukan Lia, tapi karena kelauan si kuda laut ini!" Ucap papah Boby seraya mendorong pundak Ariel dengan pelan.
" Benar om, dia meninggal karena saat itu setelah mendengar kalau Lia ternoda oleh selingkuhannya pak Yuasa langsung mendapatkan serangan jantung dan ibunya Yuni sari mengalama defresi setelah pamannya mengusir Lia dari rumahnya, saya sangat bersalah om." Ucapnya seraya menangis kesesugukkan.
" Heh buaya!!Nggak usah menangis,tidak berpengaruh aku dengan tangismu itu, menyesalkan kamu sekarang! Makanya kamu itu harus berpikir kalau mau berbuat sesuatu!siapa yang rugi ?!!" Ucap keras papah Boby.
" Aku Om yang rugi" Ucap Ariel sembari menghapus air matanya yang sudah terlanjur keluar.
" Bukan kamu kobra!tapi Lia yang rugi!Rugi sudah kehilangan kehormatan yang selalu dia jaga dengan susah payah, kehilangan bapaknya, dan kehilangan kasih sayang ibunya yang sudah mengalami defresi yang berlarut-larut serta kehilangan keluarganya,Apakah kamu waras dan bahagia sudah membuat kehidupan seorang wanita seperti Lia?Kamu sakit Ariel!!" Ucap papah Boby seraya menatap Ariel dengan tatapan mata yang tajam, emosi papah Boby mulai memuncak setelah mengetahui kedua orang tua Lia menderita terutama Ibunya Lia.
Ariel tidak bisa berkata-kata dia diam karena sudah kehabisan kata-kata yang dikeluarkannya.
" Sudahlah Bob, biarkan sisanya polisi yang akan mengungkap kejahatan mereka yang lain." Ucap Papah Andre seraya mendekati Papah Boby dan merangkulnya untuk membawanya duduk.
" Kenpa dilarang Ndre, biarkan mak kita ini marah dan meluapkan emosinya." Ucap Ayah Candra sembari terkekeh.
Papah boby tersenyum...
" Sialan kamu Yos" Ucapnya terkekeh.
" Aku sih nggak apa-apa kalau Boby terus meninggkat amarahnya disamping buat hiburan kita sih, tapi dia sudah tua say, kalau terlalu banyak marah nantinya dia akan terkena serangan jantung bahaya kita jadinya." Ucap Papah Andre terkekeh, di ikuti oleh para sahabatnya tersebut terkekeh juga.
Maya melirik kearah bapak-bapak yang sedang terkekeh ria karena bercanda tersebut.
Maya kemudian menatap kearah Arvin, dan lagi-lagi menyentuh tangan Arvin dan langsung di tepiskan Arvin karena reflek Arvin terkejut.
" Arvin, maafkan aku, bukti-bukti juga sudah ada dengan pihak kalian jadi aku tidak ingin lagi mengancam tamu dan Nadine Aku juga ingin minta maaf dengan Nadine." ucap Maya memelas.
" Terlambat Maya!! karena sudah terlanjur aku menderita untung saja Nadine bisa percaya kepadaku dan tidak percaya denganmu!dan aku juga sudah berkata jujur dengan Nadine dan syukur Nadine tidak marah dan sampai aku bisa membuktikan kalau aku tidak bersalah yang telah kalian buat selama ini "ucap Arvin.
Abiyasa mendekati mereka.
" Maya,Ariel kesalahan kalian ini sangat fatal, menghancurkan kehidupan satu keluarga, apa kalian tidak merasa kasian dengan Lia?seharusnya kalian itu berpikir jernih di saat kalian ingin menjerumuskan seseorang dengan tipu muslihat kalian itu apa jadinya kalau tipuan kalian itu menyebar keluar sana,dan bagaimana nasib wanita yang sudah jadi korban kejahatan kalian tersebut! orang di luar sana bisa saja percaya kalau itu adalah Arvin dan Lia tapi mereka tidak tahu kebenarannya karena lebih baik kalian menanggung akibat kalian sendiri Karena ulah kalian itu siapa yang menabur dia yang akan menuai " Ucap Abiyasa.
Maya dan Ariel hanya terdiam, Maya kemudian menundukkan kepalanya, Ariel sedari tadi tidak berani mengangkat kepalanya setelah ditanya papah Boby.
Ariel sudah menyadari akan kesalahannya selama ini.
" Jika seandainya Lia berada di sini aku akan bersujud di kakinya aku akan meminta maaf kepadanya dan aku akan bertanggung jawab dengan ini semua." gumamnya di sela ringisan rasa sakit yang masih terasa di bibir bawahnya karena tamparan dari Arvin tersebut.
Morgan kemudian mengambil gawainya dan dia pun kemudian menghubungi beberapa anak buahnya untuk menuju ke Villa kediaman keluarga Wibawa.
Mendengar Morgan menghubungi beberapa anak buahnya Maya langsung bersimpuh di kaki Morgan seraya memegang kedua kaki Morgan.
Morgan dan lainnya terkejut melihat gerakan Maya seperti itu, semua mata menatap kearah Maya.
" Dedi maafkan aku! tolong maafkan aku! jangan sampai kamu membawa aku ke kantor polisi!"
" Sudah aku bilang! aku bukan Dedi!namaku Morgan nama Dedi itu hanya tipu muslihat untuk dirimu!!"ucapnya.
Maya tetap memegang kaki Morgan dengan kuat.
Kemudian Clarissa melangkah mendekati Maya dia dengan kasar menarik Maya dari kaki Morgan dan mendorong kuat Maya ke arah sofa, Maya langsung jatuh tersungkur di sofa Dia menelungkupkan wajahnya terlihat tubuhnya bergetar ternyata Maya menangis, tapi mereka yang ada disitu tidak menghiraukan tangisan Maya, karena mereka tahu Maya tidak pantas untuk ditolong ataupun dibantu, karena Maya sudah sangat keterlaluan membuat rencana yang tidak masuk akal dan menghancurkan hidup seseorang.
" Bangun!!" perintah Clarisa seraya menarik lengan Maya dengan kasar.
" Tidak usah kamu menangis di hadapanku! karena itu tidak akan melunakkan hatiku dan hati yang lain, ini karena perbuatan kamu itu tidak pantas untuk dimaafkan !!Apakah kamu tahu sekarang Lia di mana? bagaimana kehidupannya ?bagaimana dia menjalani masa lalu yang ngeri yang telah kalian ciptakan untuknya!!" teriak Clarissa.
Maya terdiam dia terisak sembari menundukkan kepalanya dan sesekali dia menghapus air matanya, Morgan, Abiyasa dan Arvin kemudian kembali lagi duduk di sofa seraya menatap kearah Maya dan Ariel sembari mereka menunggu beberapa anak buah Morgan yang menuju ke arah Villa tersebut.
Papa Bobby, Papa Andre dan Abi Yosep serta Ayah Candra selesai mentransfer bukti semua ke gawainya Papa Andre untuk bahan pemeriksaan kemudian yang akan diperlukan oleh pihak polisi.
Beberapa saat mereka menunggu, sebuah mobil patroli polisi berhenti di halaman Villa milik keluarga Wibawa, Mereka kemudian berdiri dan langsung membawa Maya dan Ariel menuju keluar dan menyuruh mereka berdua masuk ke dalam mobil patroli tersebut.
" Lepaskan Aku! aku tidak salah! aku melakukan ini semua karena aku sangat mencintai Arvin!" Teriak Maya sembari berontak ingin melepas cengkraman tangan kedua anggota anak buah Morgan.
Dengan perintah Morgan mobil tersebut langsung melaju kembali dan menuju ke kantor polisi dengan membawa tersangka Maya dan Ariel.
Kemudian mereka pun berpamitan dengan penjaga Villa satu persatu mereka memasuki mobil mereka tersebut,perlahan-lahan kedua mobil itupun meninggalkan halaman Vila dan menuju ke arah rumah kediaman keluarga Wibawa.
Selang beberapa menit kemudian mobil pun memasuki halaman rumah keluarga Wibawa, Morgan berpamitan dengan mereka semua dan menuju kembali ke kantor polisi,
untuk memproses Maya dan Ariel.
Setelah Morgan meninggalkan tempat kediaman keluarga Wibawa mereka semua pun memasuki rumah Papa Andre yang sudah disambut oleh para istri mereka dan anak-anaknya.
Mereka melangkah menuju ke ruang tengah yang ada di rumah kediaman keluarga Wibawa tersebut,sejuta pertanyaan pun bersarang di otak masing-masing para istri mereka untuk menanyakan bagaimana hasil dari rencana para suami dan anak mereka tersebut, para suami mereka mengetahui akan rasa penasaran yang istri mereka rasakan sekarang.