
Lia masih terdiam Dia masih merasa tidak percaya akan semuanya ini, Dia seakan-akan bermimpi dengan apa yang dialaminya saat ini.
" Lia " panggil Niko seraya menatap kewajah Lia.
Lia menatap kearah Niko dan tersenyum.
" Apakah kamu merasa tidak yakin dengan semua ini?"
Lia terperangah mendengar ucapan Niko.
" Ah...hmmm,sebenarnya iya,karena Mas Niko kan tahu Aku ini adalah seorang wanita yang tidak ada statusnya punya anak tapi tidak punya suami, dibilang janda tapi tak pernah menikah,dan terasa kaget aja tiba-tiba seseorang datang untuk menjadikan ku sebagai istrinya dan semudah itu menerima keadaan ku yang mempunyai masa lalu yang kelam, Aku merasa seakan-akan bermimpi gitu lho Mas." terangnya terlihat diwajahnya sedikit ada kesedihan antara yakin dan tidaknya,antara mimpi dan kenyataan.
Niko tersenyum mendengar pengakuan Lia.
" Lia sayang, kamu tidak bermimpi dan ini adalah kenyataan,Aku benar-benar menginginkan kamu sebagai istriku, tulus banget dalam hati ini,tidak ada didasari rasa kasian atau sebagainya yang ada hanya didasari rasa cinta dan kasih sayang yang tulus untukmu, Aku benar-benar ingin hidup bersamamu Lia, membina rumah tangga yang Samawa bersamu,Aku ingin antara kamu dan Aku menjadi kita yang selalu bersama menjaga Kevin dan Adik-Adiknya kelak." ucap Niko seraya menatap wajah cantik dan manisnya Lia.
Lia menatap kemanik bola matanya Niko Dia berusaha mencari kebohongan disana,namun sayang! Dia malah menemukan jurang kejujuran yang sangat dalam dimata tersebut,Lia sekarang menjadi yakin pada Niko kalau Niko adalah pilihan Allah untuknya dan Lia pun juga yakin pada hatinya untuk membina rumah tangga yang diridhoi yang maha kuasa,hati Lia sangat berbunga-bunga dan tidak bisa untuk dilukiskan karena terlalu banyak bunga yang bermekaran setelah sekian lama bunga dihatinya layu dan tidak segar,sampai saatnya Niko datang dan menyirami bunga tersebut dengan ketulusan cinta dan kasih sayangnya untuk Lia membuat bunga tersebut mekar begitu cepat dalam hitungan detik.
Mereka berdua saling pandang dan tiba-tiba mereka berdua dikejutkan akan kehadiran buah hati Lia yaitu Kevin yang baru saja datang dari sekolahnya,semenjak Lia pindah tempat tinggal bersama dengan orang tua dan dua saudaranya Kevin sudah mulai masuk sekolah dengan fasilitas sekolah yang memang pantas untuknya,Dokter Roni memasukkan ke sekolah yang terbaik buat keponakan tersayangnya itu.
" Mamah... Assalamualaikum" ucapnya seraya meraih tangan Lia dan mencium punggung tangan sang Mamah,Dia langsung tersenyum pada Niko dan seakan mengetahui kalau Niko yang akan menjadi Ayah sambungnya itu,Dia pun langsung meraih tangan Niko dan mencium punggung tangan Niko dan dengan lembut Niko mengusap kepala Kevin.
Niko langsung memeluk Kevin dan mencium pipi Kevin dengan penuh kasih sayang yang tulus,Kevin pun tidak ragu Dia pun membalas pelukan Niko seraya berucap yang membuat Lia dan Niko terkejut dengan ucapan Kevin.
" Papah,Kevin kangen,kangen banget." ucapnya seraya dengan erat memeluk tubuh Niko.
Niko menatap kearah Lia dan kemudian Dia tersenyum.
" Iya sayang, papah juga kangen kamu,papah kangen banget." ucap Niko seraya membalas pelukan Kevin dengan erat dan mengusap punggung Kevin dengan lembut,dan bocah itupun terlihat bahagia sekali berada didekapan calon Ayah sambungnya tersebut.
Kevin kemudian melepaskan pelukannya dan Dia menatap lekat kewajah Niko,dan Niko pun langsung mengusap wajah tampan Kevin dan memberikan senyuman manisnya.
Kemudian Lia mengajak mereka berdua masuk kedalam untuk berkumpul kembali dengan mereka.
Mereka yang didalampun terkejut melihat keakraban antara Niko dan Kevin,padahal baru pertama sekali Kevin melihat Niko,dan Kevin tidak lepas dari Niko,tangannya bergelayut dengan manjanya di lengan Niko.
" Cucu Nenek yang ganteng, ganti baju dulu gih,sama Bi Minah ya." ucap Tante Raisa.
" Iya Nek." ucapnya tersenyum seraya menatap kearah Niko.
" Papah, Kevin ganti baju dulu ya, papah tunggu sini ya jangan kemana-mana tunggu Kevin selesai ganti ya Pah." ucapnya.
" Oke sayang! papah akan tunggu disini." ucap Niko seraya mengusap pipi calon Anak sambungnya tersebut.
Mereka yang ada diruang tengah tersebut terdiam dan menatap heran karena Kevin memanggil Niko dengam sebutan Papah,padahal Niko dan Kevin baru saja bertemu dan sebelum-sebelumnya mereka tidak saling kenal,dan disaat sudah kenal mereka berdua membuat kejutan yan fantastik sekali yaitu keakraban mereka berdua.
Niko mengiringi langkah kecil Kevin dengan tatapannya yang berjalan menuju kamarnya dilantai atas bersama dengan Bi Minah sang Asisten rumah tangga dikeluarga Tante Raisa.
" Kenapa kalian menatap seperti itu? ada yang salah ya?" tanya Niko.
Mereka semua menggelengkan kepalanya dan tersenyum.
" Alhamdulillah ya Allah Engkau memberikan seorang jodoh yang terbaik buat Lia dan calon Ayah yang terbaik juga buat Kevin." ucap Tanye Raisa didalam batinnya.
" Kamu hebat Bang Niko dalam satu hari kamu sudah bisa mengambil hati Kevin dan Dia juga terlihat sangat menyukaimu." ucap Abiyasa tersenyum.
" Abang juga enggak tahu Biy, kenapa bisa Dia menyukai Abang, Tapi Abang bersyukur dengan yang maha kuasa karena dengan izin darinya semuanya berjalan dengan lancar, Abang senang sekali baru kali ini Abang merasakan kebahagiaan yang tiada taranya, Abang juga tak henti-hentinya bersyukur karena kebahagiaan itu didapat dengan begitu indahnya." ucapnya seraya tersenyum sambil melirik kearah Lia, Lia pun merasa bahagia dengan ucapan Niko, bukan sekedar ucapan tapi ini Niko memang memperlihatkan perlakuannya yang benar-benar tulus mencintainya dan tulus menerima Kevin sebagai Anak sambungnya.
Merekapun kemudian saling berbicara terpancar kebahagiaan di wajah mereka, sampai akhirnya pun mereka berpamitan pulang dengan berat hati Niko mengucapkan perpisahan dengan sang buah hati sambungnya tersebut. karena Dia harus kembali ke rumah orang tuanya, sebelum ada kata sah Dia tidak bisa untuk membawa Lia dari rumah Tante Raisa sang Ibundanya.
Kevin menangis melihat kepergian Niko, Dia memeluk Niko dengan berucap.
" Papa jangan lama-lama pergi, Kevin kesepian, Kevin tidak mau lagi kehilangan Papa, sudah lama Kevin tidak bertemu dengan papa, Kevin merindukan Papa, jadi jangan lama-lama lagi Papa meninggalkan Kevin." ucapnya dalam pelukan Niko.
Mereka yang ada didekat Niko pun terasa terharu,padahal Niko berada di kota ini dan tidak begitu jauh dari rumah Tante Raisa masih bisa dijalani beberapa menit,tapi karena Kevin memang sudah bertahun-tahun tidak mendapatkan belaian dan kasih sayang dari seorang Ayah, akhirnya Dia menganggap Niko seperti Ayah kandungnya sendiri.
Dia juga sangat menyayangi Niko, padahal baru satu hari Dia bertemu, itu pun tidak lama.
" Sayang, nggak usah menangis, Kevin harus kuat, Kevin itu laki-laki, Kevin harus melindungi Mama kalau Papa tidak ada disamping Kevin, nanti Papa akan kembali lagi ke sini dan menjemput Kevin dan Mama untuk tinggal bersama dengan Papa, Kevin yang sabar ya sayang,Kevin tinggal ditempat Nenek dulu, Kevin sama Mama dulu Nanti papa akan berkunjung lagi ke sini." ucap Niko seraya mengusap air matanya yang menetes dari kedua matanya dan mengalir di pipi mungil sang buah hati sambungnya tersebut.
Kevin hanya menganggukkan kepalanya Dia pun kemudian meraih tangan Niko dan mencium punggung tangannya tersebut dengan mengucapkan kata.
" Hati-hati ya Papa, Assalamualaikum, ucapnya sembari tersenyum dipaksakan.
" Kevin sayang Papah." ucapnya lagi, kemudian Dia mencium pipi kiri dan kanan Niko.
Mereka semua yang menyaksikan mereka berdua terlihat sedih bercampur bahagia, terutama Lia dan Tante Raisa mereka berdua merasa bahagia sekali, karena sudah melihat Kevin menemukan orang yang memang tepat sebagai Ayahnya tersebut.
" Terima kasih ya Allah karena engkau telah memberikan jodoh yang terbaik untukku, Aku tidak akan memungkiri suatu saat Aku akan menceritakan semuanya kepada Kevin, siapa sebenarnya Ayah kandungnya. Tapi saat ini Aku belum siap ya Allah untuk mengatakannya karena Aku tidak ingin membuat Dia sedih,apalagi Dia baru menemukan kebahagiaan bersama dengan Mas Niko calon suamiku." batin Lia berbicara sembari mengukir senyuman di wajahnya, mereka semua tidak bisa mengukirkan kebahagiaan mereka, karena kebahagiaan mereka tidak bisa diukir kan dengan kata-kata ataupun dengan lukisan.
Kemudian mereka pun berpamitan dengan yang punya rumah, mereka semua memasuki mobilnya dan beberapa saat kemudian mobil tersebut meninggalkan rumah kediaman keluarga Tante Raisa, Kevin melambaikan tangannya mengucapkan kata perpisahan pada mereka, seakan-akan mereka tidak akan kembali lagi kerumahnya,Kevin mengukir senyum di wajahnya, walaupun air matanya masih menetes, Dia mengira Niko pergi jauh darinya, padahal Niko pulang ke tempat orang tuanya.
Mereka pun memandangi kepergian Mereka sampai hilang dari pandangan,lalu mereka memasuki rumah kembali dan menghentakkan tubuh mereka di ruang tengah lagi.
Dokter Roni menatap kedua Adiknya, Dia tidak menyangka akhirnya Dia bisa menyaksikan kebahagiaan untuk kedua Adik kembarnya itu.
" Ya Allah engkau memberikan kebahagiaan yang sangat bertubi-tubi kepadaku, dengan ijinmu Aku menerimanya dengan ikhlas, jangan tinggalkan kami dan berikan terus kebahagiaan ini untuk keluarga kami, di usia senja Mamah ya Allah akhirnya Dia bisa melihat kebahagiaan ini dan merasakannya Langsung Terima kasih ya Allah karena engkau telah memberikan jodoh yang terbaik untuk Lia dan memberikan seorang Ayah untuk Kevin,Aku tidak menyangka Ya Allah kebahagiaan ini engkau berikan dalam waktu yang singkat semoga kebahagiaan ini jangan kau ambil ya Allah biarlah menetap di keluargaku ini." ucapnya dalam batinya seraya menatap kedua Adik kembarnya tersebut yang sedang berbicara berdua sesekali mereka pun tersenyum dan menatap kearah saudara laki-laki mereka satu-satunya.
Dokter Roni pun langsung merangkul kedua Adiknya tersebut Tante Raisa yang melihat mereka berdua tersenyum dan tidak terasa air matanya kembali menetes.
Namun Dia cepat-cepat mengusapnya Dia tidak ingin air matanya itu terlihat oleh ketiga Anaknya tersebut.
" Akhirnya Aku menemukan kebahagiaanku bersama dengan ketiga Anakku." ucapnya tersenyum mereka bertiga pun kemudian menatap ke arah sang Mamah kemudian mereka bertiga berdiri dan langsung memeluk Mamahnya itu.
Nadine dan Lia berada di sisi kiri kanan Tante Raisa dan Dokter Roni pun bersimpuh di lantai sembari merebahkan kepalanya di pangkuan sang mama kemudian Kevin yang berada duduk di depan Mereka pun terlihat heran karena melihat Om dan Tante serta Mamahnya sedang memeluk Neneknya itu.
Diapun kemudian bersuara.
" Kenapa cuma Nenek yang dipeluk sama kalian? Kevin juga ingin dipeluk." protesnya.
Mendengar kata-kata dari Kevin mereka pun langsung tertawa.
" Sini sayang Nenek peluk."
Kevin pun langsung berdiri dan mendekati Tante Raisa dan langsung menghambur ke dalam pelukannya dan Tante Raisa pun langsung memeluk Kevin.
Mereka pun merasakan kebahagiaan tersebut sangat sempurna bagi keluarganya sembari mengukir senyuman diwajah mereka, karena mereka tidak bisa mengukir kebahagiaan yang telah diberikan oleh yang mahakuasa dengan begitu dahsyatnya dengan apapun hanya senyuman sajalah yang bisa mengukirnya.
*****
Sesampainya di kediaman keluarga Wibawa mereka semua pun memarkirkan mobilnya dan turun dari mobil, mereka melangkah dengan senyuman menuju ke arah dalam rumah.
Mama Anisha dan yang lainnya langsung berganti pakaian masuk ke dalam kamarnya sendiri dan keluar lagi menuju kearah dapur, karena Mama Anisha sudah terbiasa kalau makan siang ataupun sarapan pagi Dia selalu memasak sendiri, Dia tidak ingin merepotkan asisten rumah tangganya,walaupun Dia tetap memperkerjakan asisten tersebut tapi bukan untuk memasak makanan untuk keluarganya, terkecuali Mamah Anisha terlihat sibuk barulah mereka yang mengerjakannya semua, Dia ingin melayani keluarganya tersebut dengan penuh kasih sayang, karena disamping Dia sebagai seorang istri Dia juga ingin menjadi seorang Ibu dan calon Nenek yang terbaik di keluarganya, dengan dibantu yang lainnya mereka pun mengerjakan masakan untuk makan siang mereka dengan begitu cepat.
Sedangkan para lelaki nya berada di ruang tengah membicarakan perihal keberangkatan mereka ke tempat Nayra
" Aku rasa besok pagi aja kita akan berangkat ke tempat Nayra, karena ini sudah siang juga." ucap Papah Andre.
" Iya, Aku juga merasa capek ingin istirahat dulu." ucap Papa Boby, di anggukan oleh mereka.
" Oke,kita besok kumpulnya nanti di mana? apa langsung ke bandara? Karena setelah makan siang ini Aku mau pulang ke rumah." ucap
Papah Boby lagi.
" Iya sama Aku juga mau pulang ke rumah." sambung Ayah Candra.
" Bukan kamu aja Ndra ,Bob, Aku juga mau pulang kerumah." ucap Abi Yosep.
" Kalian ini pada pulang ke mana sih, di rumah Ini kan cukup besar untuk kita semua, Kenapa nggak tinggal disini aja sih?" ucap Papah Andre terkekeh.
" Ya nggak enaklah Ndre, kasihan rumah kami." ucap mereka sembari tersenyum.
" Ya udah terserah kalian aja, Aku sih nggak masalah kalau kalian mau tetap tinggal di sini, atau kalian mau kembali ke rumah kalian,pintu rumahku selalu terbuka untuk kalian, karena kalian adalah saudara Aku." ucap Papa Andre tersenyum,mereka pun ikut tersenyum.
" Besok kita langsung ke bandara aja, jadi Abiyasa dan yang lainnya biar disini saja untuk mengerjakan pekerjaan yang lainnya dan kita yang akan menyelesaikan masalah Nayra." ucap Papah Andre.
" Iya Pah, lagipula Abiyasa tidak mau kemana-mana karena tidak ingin meninggalkan istri Abiyasa yang sedang hamil." ucapnya tersenyum.
" Iya Nak, kamu harus menjaga Ayesha dengan baik-baik, karena wnita hamil muda itu cerewet banget, seperti Mamahmu dulu, orang hamil itu sensitif, Papa aja didekati sama cewek Mamahmu langsung mau menghajar cewek itu." Terang Papa Andre.
" Apa pah,Mama seperti itu? Wah Biyas enggak menyangka dibalik kelembutan, kesabaran dan kecantikan Mamah rupanya Ada tanduknya dibalik itu semua hehehe..." Ucap Abiyasa terkekeh.
Mereka pun ikut terkekeh juga.
" Jangankan Mamahmu Biy, Umi mu aja dulu hamil istrimu itu mau makan sesuatu aja harus gerobaknya yang berwarna pink, kalau nggak warna itu,Dia nggak mau, ya Bingung lah Abi mencarinya, Untung aja masih ada yang lain yang membantu Abi menemukannya." ucap Abi Yosep tertawa lepas. mereka pun tertawa lepas mendengar ucapan Abi Yosep.
" Bukan kamu aja Sep, istriku juga hamilnya Arvin pengennya makan mangga muda,kalau nggak dapat mangganya nggak boleh pulang,kaliankan tahu Aku tidak bisa ketinggian sampai Aku nyangkut di atasnya karena takut turunnya." ucap Ayah Candra terkekeh.
" Apa? Ayah takut ketinggian? ya salam!" ucapkan Arvin sembari menepuk jidatnya.
" Kenapa kamu menepuk jidat mu Vin hehehe..." sambung Abiyasa
" Ternyata tidak jauh beda ya Aku juga takut ketinggian." ucap Arvin.
Mereka semua pun tertawa
" Kenapa kamu Diam Bob?" tanya Abi Yosep.
" Aku lupa Kalau istriku kemarin hamil Clarissa ngidamnya apa." ucap Papa Boby tersenyum sembari garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
" Bukankah ngidamnya Lala,ngajak kamu begadang sampai kamu berangkat kerja dengan mata yang merah karena tidak tidur semalaman, sampai akhirnya kamu tuh tidur di ruanganku hehehe." ucap Papah Andre.
Papah Boby hanya terkekeh.
" Kamu tahu aja Ndre, malah Aku ingin melupakan itu, eh ternyata disini kartu As ku dibuka sama kamu Ndre, jadi kalah deh Aku hahahah." ucap Papa Boby tersenyum.
Mereka semua langsung tertawa lepas, kemudian mereka dikejutkan oleh suara Ayesha mengajak mereka untuk makan siang, mereka bersama mengangguk dan melangkah menuju ke ruang makan, mereka menikmati makan siang buatan istri-istri mereka itu, dengan begitu nikmatnya dan penuh dengan rasa syukur yang tiada taranya.
Bersambung...
Maaf ππhanya bisa satu BAB saja karena saya masih dalam keadaan sakit,in sya Allah kalau udah mendingan double up.
Terimakasih...salam santun dari saya Sischa cintara.ππ