
Papah Andre yang sedang asyik duduk diteras belakang rumahnya itupun dihampiri Mamah Anisha yang ikut juga duduk di teras tersebut.
Kenapa terus teras belakang yang jadi tempat bersantai keluarga Wibawa diwaktu senggangnya mereka? karena teras belakang adalah tempat yang paling sejuk dan bisa menikmati angin semilir yang menenangkah hati, setelah rumah mereka kembali sepi para sahabat dan anak-anaknya tidak berada dirumah, Papah Andre langsung melangkah kan kakinya menuju teras belakang tersebut sembari terdiam seorang diri.
" Ada apa sayang? sepertinya ada sesuatu yang dipikirkan?" tanya Mamah Anisha sembari menyentuh pundak Suami tercintanya.
Papah Andre menoleh kearah Mamah Anisha yang sudah berada duduk disampingnya itu.
Papah Andre tersenyum dan terdengar helaan nafasnya yang berat.
" Setelah kami menemui seseorang yang dipercaya menempati dan menjaga rumah mendiang Rendy, tepatnya sahabat mendiang Sinta dan Rendy, dia menceritakan suatu rahasia yang sangat mengejutkan Papah dan Boby." Ucap papah Andre seraya membenarkan posisi duduknya.
" Hal mengejutkan apa kah itu sayang?" Tanya Mamah Anisha lembut seraya menoleh kearah sang suami yang menatapnya sesaat dan kemudian memberikan senyuman manisnya sembari membelai pipi sang Istri.
" Dia menceritakan tentang Amelia."
" Amelia? Ada apa dengan Amelia pah?
" Iya ada apa dengan Amel?"
" Iya kenapa?" Ucap dua suara yang tiba-tiba begitu saja hadir diantar mereka berdua.
Mereka berdua langsung menoleh kearah suara yang ternyata suara Abi Yosep dan Ayah Candra yang sudah berada didepan pintu rumah tersebut.
Mereka berdua langsung duduk dihadpan sepasang suami istri itu.
" Yosep, Candra...kebetulan sekali aku mau menghubungi kalian berdua." Ucap Papah Andre tersenyum dan merasa bahagia kedua sahabatnya itu datang ke rumahnya tanpa di undang.
" Assalamualaikum..." Ucap keduanya sembari tersenyum dan menyalami Papah Andre dan Mamah Anisha.
" Wa'alaikumussalam..." ucap mereka berdua...
" Terus kenapa kamu tidak langsung menghubungi kami? untung saja Candra seperti ada kontak batin yang sangat erat dengan mu Ndre, setelah dia menemani aku kerumah sakit tadi sekitar jam tiga subuh lalu dia mengajak aku mengunjungi mu." Terang Abi Yosep
" Ke rumah sakit?" tanya Papah Andre heran
" Siapa yang sakit mas?" tanya Mamah Anisha.
" Kak Dwi Nis, dia drop, makanya aku bawa kerumah sakit." ucap Abi Yosep
" Kak Dwi? sakit apa ?" Tanya papah Andre.
" Biasalah Ndre, sakit tua, Alhamdulillah sudah agak mendingan dan dijaga oleh Bella dan tadi sudah aku hubungi juga Reno dan istrinya untuk segera kerumah sakit, karena aku mau pulang mandi." terang Abi Yosep.
" Apa Bi ? tante Dwi masuk rumah sakit?" tanya Ayesha yang datang membawakan minuman untuk mereka semua.
" Iya nak, tapi sudah tidak apa-apa, gula darah tante mu naik nak jadi harus dirawat intensif dirumah sakit." Jawab Abi Yosep tersenyum sembari meraih uluran tangan Ayesha yang mencium punggung tangan sang Abi dan Ayah Candra.
" Nanti aku dan istriku beserta Ayesha akan menjenguk kerumah sakit."
" Oh ya Ndra, gimana urusan pernikahan Arvin?" Tanya Papah Andre.
" Alhamdulillah Ndre, sudah rampung tinggal nunggu harinya saja." ucap Ayah Candra tersenyum.
" Kapan sidang BP4R nya?" tanya Abi Yosep.
" Katanya sih jam delapan pagi ini, tapi tadi di hubungi orang kantor ditunda beberapa jam tepatnya jam sepuluh pagi ini." terang Ayah Candra sembari tersenyum
" Terus apa tadi yang kamu bilang tentang Amelia, ada dapat kabar apa kamu dari luar negeri Ndre." Tanya Abi Yosep.
Lagi-lagi Papah Andre menghela nafasnya dengan pelan dan melepaskannya juga degan pelan dia membenarkan posisi duduknya lagi.
" Saat kami memikirkan Amelia yang mau menikah dengan dr Rony, kami terpikir tentang wali nikah Amelia, saat dia berbicara dengan sahabat Mamahnya yang tinggal dirumah pribadi mereka, dia akan fokus mencari keluarga kandung sang Papah, bukan keluarga Rendy yang kami pikirkan bersama Boby tapi yang kami pikirkan nasabnya Amelia dia bernasab bapaknya atau ibunya saat itu dalam pikiran kami, kalian tahukan dulu mendiang Sinta yang sakit lupa ingatan itu, dia saat itu dalam keadaan hamil." ucap Papah Andre menghentikan bicaranya.
" Terus bagaimana selanjutnya?" Tanya Ayah Candra.
" Iya bagaimana selanjutnya dan benar juga sih dia saat itu dalam keadaan hamil dan megalami sakit yang hanya ingat masa lalu bukan masa sekarang, bagaimana selanjutnya nasib hubungannya dengan dr Roni apakah wali hakim nih pernikahannya nanti, dan apakah Tante Raisha akan menerima begitu saja?" tanya Abi Yosep.
" Iya kasihan Amelia." Sambung Ayah Candra.
" Tenang, nasab dari Amelia tetap Ayah kandungnya." Ucap papah Andre.
" Kamu yakin Ndre? kita kan tidak tahu Ndre ujung-ujungnya ntar kita yang berdosa kalau kita tidak mencari tahu." Lanjut Abi Yosep.
" Benar Ndre, apa yang dikatakan Yosep, pernikahan mereka biar kita tunda dulu dan kita bicarakan pada Tante Raisha sebenar-benarnya." Sambung Ayah Candra.
" Nah itu dia mantap! apa kata Candra kita bisa mencari tahu dulu semuanya." Lanjut Abi Yosep.
" Hei!! kalian berdua ini ngoceh aja, makanya dengarkan dulu tuh omongan Andre." ucap Papah Boby yang tiba-tiba muncul dan berada dirumah papah Andre lagi.
" Boby...kapan datangnya?" tanya Ayah Candra
" Iya nih, masuk nggak bilang-bilang." ucap Abi Yosep tersenyum.
" Assalamualaikum..." ucap Papah Boby seraya duduk disambing Abi Yosep
" Waalaikumsalam..." Jawab semuanya.
" Nah gitu dong, mengucap salam kalau mau masuk, jangan kaya jin aja, tang, ting, langsung berpindah dari tempat satu ketempat yang lainnya dengan mudah dan bikin kaget orang aja sih." ucap Abi Yosep terkekeh.
Papah Boby mendelik dan menutup mulut Abi Yosep dengan kedua tangannya tersebut dan Abi Yosep hanya terkekeh ditahan karena tidak bisa bersuara tertutup telapak tangan Papah Boby
" Nih mulut mau aku sumpeli combro aja nih, biar diam ngocehnya, habisnya ngoceh mulu kerjaannya." Ucap Papah Boby terkekeh.
Mereka pun tersenyum melihat dua orang tersebut bila bertemu pasti ada aja ulah mereka berdua itu.
" Kalian kenapa ngumpul nggak bilang sih dengan aku, kan aku sudah bilang tadi Ndre, kalau mau mendiskusikan semuanya hubungi aja babang tanvan ini, eh babang tanvan hampir daja terlewatkan." Ucap papah Boby tertawa lepas.
" Rencananya aku tadi memang hendak aku kumpulkan, tapi mereka sendiri berdua datang tanpa diundang sih hehehe." Sahut papah Andre.
" Iya mas Boby, mereka berdua baru datang dari rumah sakit." Sambung Mamah Anisha.
" Rumah sakit?" tanyanya terkejut
" Iya Bob, Kak Dwi masuk rumah sakit, gula darahnya tinggi dan drop
tapi sudah ditangani pihak rumah sakit dengan intensif." terang Abi Yosep.
" Nanti aku akan jenguk dengan ayang Mbeb." Ucapnya.
Dianggukkan Abi Yosep sembari tersenyum.
" Nah, bagaimana selanjutnya masalah Amelia tadi?" tanya Ayah Candra.
" Sebenarnya Amelia bukan anak kandung dari mendiang Rendy dan Sinta." Ucap papah Andre.
" Apa pah? bukan anak mereka?" tanya Mamah Anisha dianggukkan Papah Andre.
" Jadi anaknya yang asli kemana pah?" tanya Mamah Anisha lagi.
" Meninggal dunia saat berumur satu minggu."
" Innalillahiwainnailaihirojiun rojiun..." ucapnya pelan dilanjutkan Abi Yosep dan Ayah Candra serta Ayesha.
Kemudian Papah Boby melanjutkan cerita Papah Andre, mereka pun mendengarkannya sampai selesai,.
" Begitulah ceritanya..." Ucap papah Boby.
Mereka terdiam, hening! tidak ada suara yang hanya terdengar suara burung yang berbunyi saling bersahutan.
" Kita akan mencarinya dari rumah sakit setia yang ada dikota B dan mencari nama suster Nellyana." ucap Papah Andre.
" Nanti malam kita ceritakan semuanya pada Amelia, kita undang dr Roni dan Tante Raisha, lebih enaknya lagi kita berkunjung kerumah mereka biar, kita ceritakan semuanya dengan mereka agar mereka mengetahui tentang Amelia biar tidak ada keraguan dalam menjadikan Amelia sebagai menantu mereka, setelah pernikahan Arvin kita akan berusaha mencari keluarga Amelia yang sesungguhnya yaitu saudara kandungnya yang masih selamat dalam insiden kecelakaan itu." ucap Papah Boby.
Dianggukkan oleh mereka semua.
" Tapi bagaimana kalau sehabis sidang BP4R nya Arvin dan Nadine, kita ajak aja langsung kesini bagaimana ? kita kumpulnya dirumah Andre aja, biar mereka bisa mendengar semua baik anak-anak kita seperti Abiyasa, Arvin, Morgan,Clarissa, Marco dan Niko, bagaimana? itu hanya sebagai usulan saja sih." ucap Abi Yosep.
" Benar juga sih, lebih cepat menjelaskannya kan lebih baik dan waktunya juga panjang kalau malam sih takut kantuk mendera...." ucap papah boby terkekeh.
" Kamu tuh yang nggak bisa menggendalikan kantuk kamu yang tingkat dewa itu..." ucap Abi Yosep sembari menyenggol tangan Papah Boby.
" Hehehee...ulat sagu masih ingat aja kalau aku nggak bisa mengendalikan kantuk." Celetuk papah Boby sembari melingkarkan tangannya dipundak Abi Yosep.
" Tapi dia juga sok-sokan ngasih saran pertemuannya malam saja, ntar kalau malam kelamaan dianya ngantuk dan ngomong nggak konsen, dasar ulat keket!" ucap Abi Yosep terkekeh.
Mereka pun terkekeh sembari mereka menikmati makanan ringan yang disediakan Ayesha untuk mereka nikmati.
Setelah kesepakatan ditentukan Abi Yosep dan Ayah Candra serta Papah Boby pamit dari rumah Papah Andre dan perlahan-lahan kedua mobil tersebut meninggalkan rumah kediaman Papah Andre.
Papah Andre dan Mamah Anisha pun memasuki rumah mereka lagi dan kembali duduk diteras belakang rumahnya tersebut.
*****
Tepat jam sepuluh pagi, mereka sudah berada dikantor Morgan karena mereka ingin menghadiri sidang BP4R sahabat mereka.
Abiyasa dan Clarissa serta Marco hadir di kantor tersebut hanya Nico saja yang tidak hadir karena Nico bertemu dengan client dari luar negeri, Papah Andre dan Mamah Anisha turut hadir juga menyaksikan sidang tersebut, acara sidang pun berjalan dengan lancar dan untung saja aula tempat digelarnya sidang BP4R tersebut besar dan bisa menampung puluhan orang, karena keluarga besar Arvin datang semua yaitu keluarga sahabat dari Ayah Candra datang semua menghadiri sidang tersebut, mereka semua mengikuti sidang tersebut sampai selesai.
Setelah selesai mereka menuju kearah mobil mereka setelah mereka menikmati makanan ringan yang dibungkus didalam kotak kecil yang rapi dan higienis ada sebagian dibawa mereka pulang karen mereka malas memakannya dan ingin memakannya dirumah saja dan ada yang langsung dimakan ditempat itu.
Saat dr Roni dan keluarga memasuki mobilnya, Papah Boby langsung mendekati mereka.
" Ron... " panggilnya.
" Ya Om,.." Jawabnya sembari menatap papah Boby yang melangkah mendekati mereka.
" Ada yang ingin Om sampaikan dengan kamu dan Mamah Raisha."
" Tentang apa Om?" tanya dr Roni heran seraya menatap wajah papah Boby.
" Tentang Amelia yang sangat penting sekali, bisa sekarang kamu bawa keluarga kamu ketempt Om Andre, kita bertemu disana saja dan kami berempat akan menyampaikannya disana." Terang Papah Boby.
" Baiklah Om.." ucap dr Roni sembari mengangguk dan berpamitan memasuki mobilnya dan akan langsung menuju kerumah keluarga Wibawa.
" Maaf ya Tante Raisha,maukan kerumah Andre sebentar?" Tanya papah Boby langsung menjenguk dari jendela mobil dr Roni.
" Iya nak, Tante akan kesana.." ucapnya tersenyum.
" Terimakasih ya tante..." Ucap papah Boby tersenyum.
Dianggukkan Tante Raisha sembari tersenyum.
Di jalan menuju rumah keluarga Wibawa didalam mobil dr Roni...
" Ada apa Ron? Sehingga kita disuruh kumpul ditempat Om Andre kamu?" tanya Mamah Raisha merasa heran dan penuh tanda tanya besar dikepalanya.
" Nggak tahu juga Mah, tadi disuruh Om Boby untuk kerumah Om Andre saja, karena ada yang ingin disampaikan katanya dengan keluarga kita." Jawab dr Roni.
" Semoga saja tidak ada yang aneh menyangkut masalah hubungan ku dengan Amelia, Bismillah...." Ucap batinnya seraya matanya fokus kedepan jalannan karena posisinya itu sedang dalam keadaan menyetir mobilnya.
" Kira-kira tentang apa ya nak?"
" Roni juga tidak tahu Mah, tapi katanya tentang Amelia."
" Hah Amelia? Mamah jadi takut Ron.."
" Takut kenapa Mah?" Ucap dr Roni lembut pada sang mamah.
" Takut dibatalkan Om Boby kamu tentang pernikahan kamu dengan Amelia, Mamah sudah suka dengan Amelia dan sudah sepaham Mamah dengan calon mantu mamah itu."
" Mudah-mudahan aja Mah enggak, Roni juga sudah sayang banget Mah dengan Amelia dan Roni merasa Amelia itu wanita yang berbeda dimata Roni, dia itu sangat baik sekali."
" Jangan-jangan Om Boby akan mengatakan sesuatu tentang kak Amelia berkaitan dengan masa lalunya kak Amel kak." Ucap Lia
" Masa lalu Amel? Kalau masa lalunya dia sudah mengatakan semuanya dengan kakak." Jawab dr Roni.
" Siapa tahu Om Boby mengatakan... misalkan kak Amel sebenanya sudah janda atau sesuatu terjadi denganya saat berada diluar Negeri, dan apakah kakak akan menerima semuanya? Kalau itu benar terjadi." tanya Nadine.
" Iya kak benar, siapa tahukan kak Amelia tidak mengatakan semuanya pada kakak tentang masa lalunya itu dan masih ada yang disembunyikannya dengan kakak." Sambung Lia merasa khawatir juga kalau pernikahan kakaknya akan dibatalkan.
" Apakah kakak akan tetep mempertahankan cinta kakak dengan kak Amel? kalau seandainya kaka mengetahui semuanya, misalnya kejelekan kak Amel, kitakan tidak tahu nih, maaf kak kalau pergaulan kak Amel selama di luar Negeri." Sambung Nadine lagi.
Dr Roni menghela nafasnya dengan pelan dan tersenyum menanggapi perkataan dari dua adik kembarnya tersebut.
" In sya Allah kakak akan menerima dia apa adanya dengan keburukan, kejeleken dia dimasa lalu, walaupun dia tidak menceritakan semuanya pada kakak tentang apa yang terjadi dimasa lalu yang menimpanya, kakak mencintai dan menyayangi serta ingin menjadikannya pendamping hidup kakak hanya karena Allah." ucap dr Roni tersenyum tidak ada kebohongan yang terlihat diwajahnya.
Lia dan Nadine merasa bahagia mendengar ucapan kakaknya tersebut.
" Lia bangga punya kakak kaya kak Roni." Ucapnya tersenyum.
" Iya kak, Nadine juga bangga punya kakak yang hebat dan punya rasa ikhlas yang besar." Ucap Nadine tersenyum dan memeluk sang kakak dari jok belakang.
" Mamah sangat bangga sama kamu nak, mamah juga akan tetep mempertahankan calon menantu mamah itu hehehe apapun yang akan terjadi." ucap Mamah Raisha terkekeh pelan.
Dr Roni mengangguk dan tersenyum bahagia.
" Roni juga merasa bahagia dikelilingi oleh orang-orang yang sayang dengan Roni terutama kalian semua." Ucapnya tersenyum.
Mobil mereka memasuki halaman rumah keluarga Wibawa terlihat mobil yang lain sudah berada dihalaman rumah tersebut, karena mobil mereka itu sudah lebih dulu dari keluarga dr roni.