THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP

THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP
BAB 302



Saat mereka dalam keadaan pikiran yang tidak menentu tentang keadaan kak Nico tiba-tiba Anindita keluar dari ruangan dimana kak Nico ditangani.


Anindita mendekati mereka, terlihat wajah Anindita yang memancarkan kesedihan, mereka yang melihat wajah Anindita pun langsung menatap penuh tanda tanya...


Abiyasa langsung mendekati sang adik...


" Bagaimana dek keadaan kak Nico?" tanya Abiyasa seraya memegang pundak sang adik.


Terdengar helaan nafas Anindita, dia pun menatap semuanya dan tatapannya jatuh pada Lia yang terlihat matanya sembab bekas Air mata.


" Kak Nico tadi mengalami muntah darah dan tidak sadarkan diri lagi, karena ada sedikit benturan dikepalanya, tapi Alhamdulillah kak Nico sudah melewati masa kritisnya dan tinggal menunggu dia sadarkan diri saja." Terang Anindita.


" Alhamdulillah..." ucap mereka semua dengan mengucap syukurnya pada sang pencipta yang sudah mendengrkan doa mereka semua.


" Alhamdulillah ya Allah Engkau sudah mengabulkan semua doa kami semua, terutama doa hamba yang lemah ini ya Allah..." ucap batin Lia dengan memejamkan matanya sesaat dan bertepatan jatuhnya airmata kepipi mulusnya, mereka yang mendengar ucapan Anindita itupun langsung mengucap syukur yang tiada batasnya pada yang maha kuasa yang telah mengabulkan doa mereka semua, terlebih lagi Lia yang mendengarnya dia sangat bersyukur karena sekejap itu diberikan cobaan dalam hidupnya dengan calon suaminya mengalami kecelaaan tapi sekejap itu juga yang maha kuasa mengabulkan doanya untuk bisa berkumpul lagi dengan sang calon suaminya.


Lia pun mendekati Anindita dan memeluk Anindita sembari mengucapkan sesuatu sambil menangis bahagia karena calon suaminya sudah melewati masa kritisnya.


" Terimaksih dok, karena sudah menyelamatkan mas Nico." ucapnya sembari dengan erat memeluk Anindita.


Anindita tersenyum dan mengelus pelan pundak Lia...


" Bukan aku yang menyelamatkan ka Nico, tapi karena ijin Allah lah kak Nico bisa melewati masa kritisnya dan dengan doa kalian juga yang tuluslah yang mampu membuat kak Nico bertahan dan dapat melewati semuanya." ucap Anindita seraya melepaskan pelukannya dan mengusap lembut airmata Lia.


" Sebentar lagi kak Nico akan dipindahkan keruangan rawat inap dan tetap masih dalam pengasan dokter Ilham yang menanganinya sedari awal, dan dia boleh dijenguk nantinya" ucap Anindita tersenyum sembari memegang kedua tangan Lia dan Lia tersenyum walaupun terpaksa karena wajahnya terlihat sembab dan dengan mata yang memerah karena menangis.


Dirumah kediaman keluarga wibawa, mamah Anisha harap-harap cemas menanti kepulangan sang suami dan yang lainnya, dia berusaha menghubungi sang suami tapi gawai suaminya itu tidak Aktif karena gawai papah Andre sementara waktu di non aktifkan karena dia tidak ingin sang istri mengetahui sebenarnya.


" Kenapa sampai sekarang suamiku belum sampai juga ya dirumah katanya sudah berangkat dari kota B, kok perasaan ku tidak enak, ya Allah semoga saja tidak terjadi apa-apa dengan suamiku dan yang lainnya." ucapnya sembari menatap layar gawainya yang ada ditangannya tersebut, kemudian dia menghubungi sang sang anak.


Beberapa kali mamah Anisha menghubungi Abiyasa tapi tidak dijawab oleh Abiyasa.


Abiyasa yang mendapat panggiln dari sang mamah hanya bisa menatap layar gawainya tersebut dan menatap kearah sang papah, dengan gelengan kepala sekali dari sang papah, dia hanya bisa membiarkan panggilan sang mamah.


" Kenapa anakku tidak menjawab panggilan ku, sebenarnya ada apa ini ya? ya Allah kenapa hati ini begitu tak tenang dan terasa resah sekali."


Sekali lagi dia menghubungi sang anak, dan tidak juga dijawab Abiyasa.


" Biar papah yang akan kasih tahu mamah kamu, mana gawai papah ?" tanya papah Andre seraya duduk perlahan dan menerima gawai yang diberikan oleh Abiyasa, papah Andre kemudian menghubungi sang istri dan langsung tersambung.


" Assalamualaikum Papa.." sapa Mama Anisha terdengar suaranya sangat mengkhawatirkan keadaan sang suami, Padahal dia tidak mengetahui sama sekali kejadian yang telah menimpa suaminya itu, Walaupun dia berada di kota yang sama tapi dia tidak mengetahui sama sekali Kalau Papah Andre dan yang lainnya mengalami kecelakaan.


" Waalaikumsalam...Sayang." jawab papa Andre.


" Papa di mana sekarang? kenapa baru aja menghubungi Mama ?Papa tahu kan mamah pasti panik kalau tidak mendengar kabar Papa." ucap mamah Anisha.


" Papa baik-baik aja,sekarang Mama minta diantar sama sopir ke rumah sakit Wibawa, nanti papa ceritakan semuanya, kalau mama sudah sampai di rumah sakit kita." Terang papah Andre.


" Rumah sakit ? Memang ada apa pah?"


" Nanti aja papa ceritakan, lebih baik Mama berangkat sekarang."


" Baiklah, pah... Mama segera kesana."


Kemudian pembicaraan suami istri itu pun terputus secara bersamaan, setelah saling mengucapkan dan membalas salam.


" Ada apa sebenarnya di rumah sakit? Kenapa suamiku menyuruh aku datang ke rumah sakit, kenapa jantungku semakin berdebar ya setelah mendengar rumah sakit." Ucap mamah Anisha pelan.


Kemudian dia pun melangkah masuk kedalam karena saat itu posisi dia berada di teras depan.


" Ada apa Mah? Mama mau ke mana?" Tanya Ayesha.


" Mama mau ke rumah sakit nak."


" Ada apa mah? Apakah tentang tante Dwi?"


" Mama juga tidak tahu nak.."


" Bolehkah Ayesha ikut sama mama?"


" Boleh sayang..."


Mereka berdua pun, bersama mengambil tas mereka dan kemudian melangkah menuju pintu utama rumah mereka, mamah Anisha memanggil sopir pribadi mereka dan beberapa saat kemudian mobil tersebut pun meninggalkan kediaman rumah keluarga Wibawa dan menuju ke arah rumah sakit, di dalam mobil mereka berdua tidak berbicara, Ayesha larut dalam lamunannya dan pikirannya pun menjurus pada Tante Dwi, sedangkan mamah Anisha pikirannya menuju ke arah suaminya.


Beberapa saat kemudian mobil itu pun memasuki halaman parkir rumah sakit Wibawa, setelah sopir pribadinya itu memarkirkan mobilnya, mereka berdua pun turun dari mobil dan melangkah tergesa-gesa menuju ke arah ruang UGD, terlihat Abiyasa dan Clarissa sedang berdiri di depan pintu ruang UGD tersebut, dengan sedikit tergesa-gesa sembari memegangi tangan menantunya yang sedang hamil, Mamah Anisha pun langkah menuju ke arah mereka, Abiyasa terkejut melihat Mamah Anisha dan istrinya yang sedang mendekati mereka berdua, Abiyasa mendekati Mama Anisha.


" Ada apa sebenarnya di rumah sakit ini nak, Kenapa kalian semua ada disini ?" tanya Mama Anisha.


" Mama jangan terkejut ya."


" Memang ada apa?"


" Lebih baik Mama masuk aja ke dalam dan mama bisa melihat semuanya." ucap Abiyasa sembari memegang tangan mama Anisha, mereka bertiga pun kemudian melangkah memasuki ruang UGD, setelah mama Anisha berada di dalam ruangan UGD dia melihat Papa Bobby, Papa Andre, dan Amelia terbaring di atas tempat tidur ruang UGD tersebut.


" Innalillahi... Ada apa ini?" kemudian mama Nisa mendekati sang suami yang yang sedang menyandarkan tubuhnya di ranjang UGD itu.


" Ada apa sebenarnya yang terjadi Pah? Kenapa kalian terbaring di sini semua?" Tanya mamah Anisha.


" Sayang, papa dan yang lainnya tidak apa-apa, tadi mengalami kecelakaan kecil saat mau pulang menuju ke rumah kita, Alhamdulillah kita di sini tidak apa-apa." Ucap papah Andre.


" Kenapa papah tidak menghubungi Mama." ucapnya terlihat matanya mulai berkaca-kaca.


Papa Andre pun langsung mendekap sang istri sesaat dan kemudian menangkupkan kedua tangannya di pipi kiri kanan istrinya itu dan menghapus air mata sang istri.


" Sayang.....kamu Jangan sedih Alhamdulillah semuanya baik-baik saja, Maafkan papa kenapa Papa tidak bisa mengatakannya pada Mama, karena Papa tidak ingin Mamah merasa sedih melihat keadaan kami, Sebelum kami dinyatakan tidak apa-apa oleh dokter." ucap papa Andre.


Mamah Anisha kemudian mendekati Amelia.


" Nak, kamu tidak apa-apa,?"


" Amelia tidak apa-apa tante, Maafkan Amelia ya Tante, Mungkin ini semua gara-gara Amelia, makanya kak Nico, Om Bobby dan Om Andre mengalami kecelakaan."


" Tapi kak Niko baru saja melewati masa kritis."


" Apa? Nico mengalami masa kritis? "


" Iya mah, tapi Alhamdulillah dia sudah dapat melewatinya." Sambung Anindita.


" Alhamdulillah ya Allah." ucap mamah Anisha sembari menadahkan tangannya ke atas dan mengusapnya ke wajahnya, merekapun kemudian menunggu waktu untuk membawa Nico ke ruang rawat inap agar bisa dijenguk.


" Gimana Pah? Papah mau rawat inap di rumah sakit?" Tanya Anindita.


" Enggak usah nak, Papa rawat di rumah aja kan ada kamu yang mengawasi Papa."


Anindita tersenyum dan mengangguk.


" Iya nih Ndre, aku juga mau pulang." Sahut papah Boby.


" Amelia juga mau pulang Om."


" Iya nak, kita pulang nanti ya, terus bagaimana Anindita kami ini." Tanya papah Boby pada Anindita.


" Kalau kalian tidak mau dirawat di rumah sakit lebih baik kalian beristirahat di rumah aja."


" Tapi sekarang boleh pulang kan kami ?"


" Boleh Om, kalau mau menjenguk ka Nico besok aja ya, istirahat aja dulu dirumah, kalau memang ada keluhan kembali hubungi aja Anindita." ucapnya menjelaskan pada Papah Bobby dan Amelia, Kemudian mereka pun bersiap-siap untuk pulang.


Papa Bobby pun berpamitan setelah mendapatkan izin dari Anindita untuk beristirahat di rumah karena kondisi papa Boby dan Amelia tidak terlalu mengkhawatirkan, begitu juga dengan papa Andre dan yang lainnya, mereka bersama-sama berpamitan untuk beristirahat di rumah, sedangkan Mama Melisa dan papa David tetap berada di rumah sakit.


Sebelum pulang, papa Andre mendekati Mamah Melisa,


" Dek, kakak pulang dulu ya, in sya Allah nanti setelah sholat magrib kakak akan ke sini lagi ya." Ucap papah Andre dianggukkan mamah Melisha.


" Iya Kak, tapi lebih baik Kakak istirahat aja, nanti Melisa dan Mas David yang akan menjaga Nico."


" Nggak usah Tante, nanti yang jaga kak Nico Abiyasa aja ditemeni Morgan." Ucap Abiyasa.


" Iya Tante, lebih baik Tante dan Om pulang aja besok pagi aja ke sininya, biar malam ini Morgan dan Abiyasa yang menjaganya, pasti kak Nico cepat sembuhnya karena calon istrinya ada selalu di sampingnya." ucap Morgan sembari tersenyum.


" Terima kasih nak, tapi izinkan om dan tante berada di sini dulu sementara waktu, nanti kalau memang kami berdua merasa capek kami akan pulang." Ucap papah David.


" Baiklah, kalau itu maunya tante dan om." ucap Abiyasa sembari tersenyum.


Setelah kepergian papa dan mamanya serta keluarga Papa Boby,beberapa saat kemudian kak Nico dikeluarkan dari ruang UGD dan dibawa ke ruang rawat inap, Mereka pun mengiringi langkah suster yang membawa Kak Niko menuju ke arah ruangannya tersebut.


Abiyasa dan Morgan serta keluarga mamah Melisa pun duduk di sofa yang ada di ruangan Vvip itu, terdengar helaan napas mereka dengan pelan, Mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing sambil mengutak atik gawai mereka, sedangkan Lia selalu berada di samping sang calon suaminya, Dia memegang tangan calon suaminya itu dan menatap wajah calon suaminya yang matanya masih tertutup rapat, kak Nico seperti orang yang sedang tertidur dengan lelap melepaskan lelahnya, Sedangkan mama Melisha pun merebahkan tubuhnya di sofa dengan berbantalkan pangkuan Papa David, beberapa jam kemudian seorang dr memasuki ruangan dan memeriksa kembali keadaan kak Nico, Abiyasa berdiri dan menanyakan tentang keadaan kak Nico dengan dokter yang menanganinya.


Setelah dokter itu menjelaskan semuanya kepada Abiyasa, dia pun pamit ke luar, Abiyasa kembali duduk di sofanya, beberapa saat kemudian dokter Roni pun memasuki ruangan dan mendekati mereka yang sedang duduk berdampingan itu, dokter Roni menghentakkan tubuhnya di sofa sembari menghela napasnya dengan pelan.


" Abiyasa, Kakak mau tanya nih dengan kamu, foto yang kamu kirimkan dengan kami itu sebenarnya siapa?" Tanya dr Roni.


" Maaf kak, karena Abiyasa tidak memberikan keterangan tentang chat pribadi pada kalian semua, sebenarnya itu adalah foto masa kecilnya Kakak kandungnya kak Amelia dan di sampingnya itu adalah orang tua Kak Amir temannya Kak Nico.


" Apa? Itu adalah saudara kandungnya Amelia?"


" Iya Kak, Kenapa Kak? Kak Roni mengenalinya?"


Dr Roni terdiam, lagi-lagi dia menghela napasnya dengan dalam dan melepaskannya dengan pelan.


" Kakak merasa tidak asing dengan wajah itu, kita tunggu saja Anindita, karena Anindita tadi mengatakan bahwa dia mengetahui kalau foto itu adalah masa kecilnya seseorang,tapi sebelum Anindita mengatakannya kami keburu didatangi sama suster yang mengabari keadaan Om Andre dan yang lainnya yang mengalami kecelakaan." Terang dr Roni.


Seperti kontak batin dengan mereka baru saja Anindita di bicarakan oleh mereka, dia pun datang dan masuk ke ruangan itu, diapun kemudian tersenyum sembari mendekati mereka yang duduk di sofa.


" Tante merasa cape?" tanya Anindita pada tante Melisha.


" Nggak sayang, tante cuma sedikit pusing saja."


" Lebih baik tante pulang aja, Tante istirahat di rumah."


Tante Melisa mengangguk, dia pun bangkit dari tidurnya dan menatap kearah suaminya, dan suaminya mengangguk.


" Kalau seperti itu, kami pulang dulu." Ucap mamah melisa.


" Iya Tante, lebih baik juga seperti itu, tante istirahat di rumah, besok tante bisa kesini lagi, tenang aja nggak usah dipikirkan yang tidak-tidak tentang kak Nico, disini kak Nico aman kok." ucap Anindita sembari tersenyum dengan tantenya tersebut.


Mamah Melisa pun kemudian mendekati anaknya, dia pun mencium kening sang anak sembari mengucapkan kata-kata pada anaknya itu, karena dia merasa kalau Nico mendengarkan ucapannya


" Nico, Mama pulang dulu ya nak, besok Papa Mama kembali lagi ke sini, kamu cepatlah sadar agar kamu dapat mencapai kebahagiaanmu bersama calon istrimu ya, kamu pasti mengetahui kalau calon istrimu selalu ada di sampingmu dan dia tidak akan pernah meninggalkanmu." ucap Mama Melisa sembari tersenyum dan mengusap lembut pipi Lia.


Lia tersenyum dan diapun kembali menatap wajah calon suaminya itu setelah berpamitan dengan mereka yang ada di ruangan itu Mama Melisa dan papah David pun meninggalkan ruangan tersebut.


Anindita kemudian menghentakkan tubuhnya di sofa sembari menatap ketiga orang yang ada di depannya itu.


" Kenapa kalian menatap aku seperti itu? memang ada apa denganku?"


" Tidak ada apa-apa, cuman tadi kan ucapanmu terputus yang saat kita membicarakan masalah anak yang ada di foto yang dikirim oleh Abiyasa ke gawai kita masing-masing, Kamu sepertinya mengetahui siapa dia itu." Ucap dr Roni.


" Iya sih kalau tidak salah, Dulu dia pernah memperlihatkan foto yang sama,saat kecil dan dia juga bercerita kepadaku katanya yang berfoto di sampingnya itu adalah yang pertama kali menyelamatkan dia saat kecelakaan." Terang Anindita.


Mereka pun saling pandang...


" Siapa dek? " Tanya Abiyasa.


Anindita tersenyum, dia masih menatap ketiga orang lelaki yang ada dihadapannya itu.


" Penasaran ya..." ucap Anindita.


Mereka bertiga hanya bisa mengangguk.