
Setelah bicara dengan Arvin Clarissa langsung memasuki kembali rumah Lia dimana mereka menunggu Lia bersiap-siap karena mereka ingin langsung membawa Lia ke kampung sebelah,tepatnya kerumah Clarissa.
Setelah semuanya sudah siap Kemudian mereka pun keluar tidak lupa Lia mengunci rumahnya dan mereka melangkah menuju ke arah mobil yang terparkir di depan rumah Lia tersebut.
Lia memasuki mobil yang dikendarai oleh dokter Roni dan Morgan sedangkan Pak Sahrul memasuki mobil yang dikendarai oleh Abiyasa dan Clarissa, kedua buah mobil tersebut pun melaju meninggalkan rumah kediaman Lia dan menuju ke arah rumah Clarissa, Karena Clarissa sudah mengatakan kepada keluarganya melalui Arvin kalau mereka akan membawa Lia menuju ke arah rumahnya, karena esok harinya mereka akan membawa Lia dan keluarga Pak Sahrul kerumah Abiyasa, Biar mereka bisa kumpul di sana dan mendengarkan penjelasan dari Lia dan mempertemukan kembali Lia dengan Tante Raisa serta saudara kandungnya sendiri Nadine,sedangkan Dokter Roni menghubungi Tante Raisa melalui chat pribadinya. sesudah menghubungi Tante Raisa,Dokter Roni merasa bahagia karena akan mempertemukan Mamah dan Adiknya dengan Lia.
Mereka yang berada di rumah Abiyasa pun mulai membuat rencana untuk esok harinya.
Mobil terus melaju dijalan beraspal karena hari sudah sangat malam jalan Terlihat agak sepi dan memudahkan mereka melajukan kecepatan mobil mereka,agar mereka cepat sampai ke tempat tujuan, tidak ada yang bersuara di dalam mobil baik yang dikendarai oleh Dokter Roni ataupun yang dikendarai oleh Abiyasa, mereka larut dengan pikiran mereka masing-masing.
Beberapa saat kemudian mobil pun berhenti di sebuah rumah yang baru pertama kali dilihat oleh Pak Sahrul dan begitu juga dengan Lia tidak lain dan tidak bukan itu adalah rumah Clarissa, Mereka kemudian memarkirkan mobil mereka dan mempersilahkan Pak Sahrul dan istrinya beserta Lia,Sarah dan Kevin turun dari mobil Mereka pun menggiring mereka masuk ke dalam rumah tersebut.
Morgan dan Dokter Roni merasa heran karena mereka berada dirumah Clarissa,memang ide Clarissa untuk membawa meraka semua kerumahnya belum sempat diberitahukan Clarissa pada Morgan dan Dokter Roni, tapi mereka mengikuti saja apa yang direncanakan Clarissa.
Seorang Art membukakan pintu dan mempersilahkan mereka masuk dan lalu Clarissa mempersilahkan mereka untuk beristirahat di kamar tamu, karena mereka ingin tidak dipisahkan satu sama lainnya, akhirnya satu kamar tamu yang lumayan besar itu menampung keluarga Pak Sahrul, Kemudian mereka pun dipersilahkan untuk membersihkan diri atau pun langsung beristirahat.
Di dalam kamar ruang tamu mereka tidak langsung tidur tapi mereka berbicara dengan nada sedikit pelan.
" Rumahnya bagus sekali ya mah " ucap Kevin seraya menatap kearah Mamanya,Lia hanya menganggukkan kepalanya mendengar pertanyaan dari sang anak.
" Ini rumah siapa ya Pak, Bu,?" tanya Sarah.
" Bapak juga tidak tahu Nak,ini rumah siapa, yang jelas rumahnya sangat bagus sekali hehehe." jawab Pak Sahrul.
Ibu Sari menatap kearah Lia yang masih duduk di bibir ranjang yang ada di dalam kamar itu dengan terlihat termenung.
" Kamu Kenapa Nak? Kenapa kamu melamun seperti itu?" tanya Bu Sari kepada Lia.
Lia kemudian menoleh kearah Bu Sari sembari tersenyum.
" Tidak ada apa-apa Bibi." jawabnya singkat.
"Tapi kenapa kamu terlihat sedih,kalau kamu tidak apa-apa " ucapnya.
" Hmmm... Lia cuma dari rumah tadi sampai sekarang kesini Lia masih kepikiran, apa memang benar Lia memenangkan undian itu,di Minimarket dalam suatu acara yang dikelola oleh mereka, perasaan Lia tidak pernah mengikuti undian yang mereka bilang itu Bibi." ucap Lia seraya mengusap wajahnya dan langsung membelai kepala anaknya yang sedang rebahan di sampingnya.
" Awalnya Bibi dan paman juga tidak menyangka, saat itu mereka datang ke rumah kita bersama dengan pak Rt, dan mereka mengatakan kalau kamu memenangkan undian tersebut,kalau memang kamu benar-benar memenangkan undian itu di syukurin aja dan kamu bisa menjadikan hadiah itu jadi bermanfaat untuk kehidupan kamu, terutama untuk kehidupan Kevin, Biar bagaimanapun kamu itu sebagai single parent untuk menghidupi anak semata wayang kamu." ucap Bu Sari.
Lia pun kemudian menatap kearah Anaknya yang sudah mulai menutup matanya karena tertidur, Lia menatap wajah polos Anaknya itu, sembari tangannya mengusap kepala.
" Kasihan Anakku,sampai sekarang dia menanyakan dimana Papahnya,dan selalu ingin bertemu,maafkan Mamah Nak, Mamah juga tidak tahu dimana sekarang Papahmu berada, jika yang kuasa mengijinkan kamu pasti akan bertemu dengannya." Batin Lia sembari mengusap Air matanya yang begitu saja lolos dikedua bola matanya itu.
" Lia !" Panggil Pamannya.
Lia pun menoleh kearah pamannya.
" Ya Paman,ada apa?"
" Sekali lagi maafkan Paman ya Nak, karena Paman sudah menceritakan semua masalah kamu beberapa tahun yang lalu sampai kamu tinggal di desa sebelah dengan kehidupan yang sangat sederhana."
" Enggak apa-apa Paman,dari dulu juga Lia, sudah menjalani hidup sederhana." ucapnya dengan senyuman manisnya tersebut.
" Jadi Lia tidak merasa terbebankan dengan hidup Lia sekarang ini, Lia harus tetap dengan tekad Lia bertahan hidup demi Kevin, Biar bagaimanapun Kevin adalah kehidupan Lia sekarang, walaupun Kevin hasil dari kejahatan seseorang yang sudah menghancurkan hidup Lia, tapi Kevin tidak salah, Lia sayang dengan Kevin, biar bagaimanapun Kevin adalah Anak Lia yang harus Lia jaga dan mendidiknya menjadi seorang anak yang sholeh, serta menjadi kebanggaan Lia suatu saat nanti." ucapnya sembari masih mengusap kepala sang anak.
" Ya sudah sekarang kamu istirahat aja, besokkan kamu harus bertemu dengan Bos mereka dan penyerahan hadiah tersebut, siapa tahukan kamu bisa merubah hidupmu." ucap Pak Sahrul.
" Tapi,Lia takut Paman, kalau seandainya nanti Paman Bowo mengetahui Lia berada di sini, nanti Dia akan marah dan pasti Paman yang jadi sasarannya,seperti waktu itu,Lia tidak ingin Paman selalu menderita karena Lia." ucapnya dengan nada sedih
Pak Sahrul memang yang ada disaat Lia menderita suka dan senang,dan Pak Sahrul lah yang selalu pasang badan disaat Lia dalam keadaan didzalimi Pak Bowo.
" Kamu tidak usah memikirkan masalah itu,karena itu adalah urusan Paman dengannya, lagipula apalagi yang dia kehendaki dari kamu sekarang, kamu sudah menderita olehnya, seharusnya Dia membimbing kamu, Karena itu adalah kesalahan lelaki itu, bukan kesalahan yang kamu perbuat, Dia juga yang sudah mendesak Almarhum Papa kamu untuk menjodohkan kamu dengan laki-laki Anak dari temannya itu, karena apa? Karena Dia menginginkan hidup mewah, tapi melewati dirimu, Paman awalnya sudah menolak Dari awal kamu dijodohkan dengan Ariel Anak temannya itu, Paman Bowo mu tidak mau mengerti,kamu sudah Jangan memikirkan itu lagi, Kamu harus fokus dengan penerimaan hadiah yang telah dikatakan oleh mereka, apalagi Sarah sudah mengetahui kalau mereka itu tidak berbohong, karena Pak Abiyasa itu pengusaha yang terkenal dan sangat baik." ucapan Pak Sahrul menjelaskan kepada keponakannya tersebut.
Lia hanya menganggukkan kepalanya dan dia pun langsung merebahkan tubuhnya di samping sang Anak, Karena Dia sudah merasa begitu ngantuk juga, Dia melirik kearah Sarah dan Kevin yang memang sudah tertidur sedari tadi, Dia juga melihat Paman dan Bibinya merebahkan tubuhnya di sofa kecil yang memang bisa menjadi sebuah tempat tidur yang nyaman, akhirnya merekapun menikmati malam yang sebentar lagi pun menjelang pagi, tapi mereka tidak menyia-nyiakan waktunya itu mereka Langsung menutup mata dan larut dalam alam mimpi mereka masing-masing.
*****
Setelah sholat subuh berjamaah,Morgan, Dokter Roni,dan Clarissa beserta Abiyasa bercerita diruang tengah rumah Clarissa.
" Setelah sarapan pagi kita langsung menuju kerumah Abiyasa dan langsung menjalankan rencana selanjutnya." ucap Clarissa.
" Rencana Apa?" tanya Morgan.
" Rencana yang akan diatur Arvin dan papahku." ucap Clarissa
" Rencananya apa Ris?" tanya Abiyasa.
" Aku juga tidak tahu Biy,apa rencana yang akan dibuat Arvin dan papaku,karena Aku serahkan urusan dirumah kamu dengan papahku dan Arvin."
Mereka hanya bisa menganggukkan kepalanya.
" Kenapa kita tadi malam langsung ke rumah kamu Ris, dan kamu juga tidak mengatakannya kepada kami, makanya kami dan Kak Roni bingung karena kami kan mengikuti laju kendaraan kamu." ucap Morgan.
" Sebenarnya Aku ingin membawa mereka itu langsung ke rumah Abiyasa, tapi kayaknya tidak mungkin, karena takutnya nanti Dia bisa ketemu dengan Arvin dan ini akan membuat dia merasa curiga." lanjut Clarissa.
" Tapi nanti kan kita bawa juga mereka kesana, ya sama aja kan ketemu sama Arvin." ucap Morgan lagi.
" Arvin pasti membuat rencana yang lain, Dia tidak akan memperlihatkan dirinya terlebih dahulu, kita akan sedikit demi sedikit menjelaskan semuanya kepada Lia dan Pak Sahrul, agar mereka tidak merasa dibohongi oleh kita." ucap Clarissa.
" Tapi sebenarnya ini kan kita juga membohongi mereka Ris." ucap Dokter Roni lagi.
" Kalau tidak seperti ini Kak, mana mungkin kita bisa membawa Dia ke sini, apalagi kan Dia sudah mengatakan takut dengan pak Bowo, Aku ingin lihat sih Pak Bowo itu seperti apa? sehingga Lia takut banget dengannya, kalau sudah Lia berada di dengan kita otomatis Pak Bowo akan berurusan dengan kita,yang nggak Biy,Morgan." ucap Clarissa menatap kearah mereka berdua.
Morgan dan Abiyasa hanya menganggukkan kepalanya dengan mantap,sedangkan Dokter Roni hanya menganggukkan kepalanya saja, karena Dia tidak mengerti apa maksud Clarissa,Dia baru saja mengenal teman-temannya Nadine itu, dan Dokter Roni juga tidak mengetahui apa rencana yang akan selanjutnya dilakukan oleh mereka empat sahabat tersebut.
" Ya sudah jangan dipikirkan lagi,yang terpenting sekarang mereka ada bersama kita, dan kita akan menjalankan rencana yang sudah kita rencanakan sekarang, kita ajak mereka untuk sarapan pagi setelah sarapan pagi,baru kita berangkat." ucap Clarissa kemudian berdiri mengajak ke tiga orang laki-laki itu menuju ke arah ruang makan,setelah mereka sampai di ruang makan Clarissa kemudian memanggil salah satu dari Artnya tersebut untuk memanggilkan para tamunya yang berada di kamar tamu untuk sarapan bersama dengan mereka.
Didalam kamar ruang tamu, pagi-pagi mereka semua di dalam sudah mandi, tapi mereka tidak langsung keluar dari kamarnya.
Ketukkan di pintu kamar itupun mengagetkan mereka semua yang berada di dalam kamar tersebut, karena mereka memang tidak mau keluar sebelum ada yang memanggil mereka, karena mereka tidak tahu harus apa yang akan mereka lakukan sebelum yang punya rumah memanggil mereka semua.
Kemudian Lia membukakan pintu kamar tersebut,terlihat wajah Art yang tadi malam membukakan pintu rumah untuk mereka, setelah sampai di rumah Clarissa.
Art itupun tersenyum kepadanya.
" Selamat pagi Nona"
" Oh iya Mbak ada apa."
" Nona dan yang lainnya sudah ditunggu di ruang makan sama Nona Clarissa." ucap Art tersebut.
" Oh iya sebentar,Kami akan menuju ke sana." ucap Lia kemudian memanggil yang lainnya.
Lia lalu memanggil Paman Bibi Kevin dan Sarah, Mereka pun menuju ke arah ruang makan yang ditunjukkan oleh Art tersebut.
Dimeja makan sudah ada Morgan Clarissa Abiyasa dan dokter Roni,Clarissa tersenyum dan mempersilahkan mereka duduk dan menikmati sarapan pagi mereka, dimeja makan tidak ada suara sama sekali dan hanya terdengar dentingan sendok dan garpu saling beradu.
" Begini Pak Sahrul, Mbak Lia dari sini kita akan berangkat langsung ke rumah Bos Saya, karena mereka sudah menunggu kedatangan Mbak Lia."
" Kenapa mesti ke tempat bosnya Mbak?kenapa kita nggak langsung ke Minimarket nya Mbak?" tanya Lia merasa heran.
Clarissa langsung menangkap wajah Lia yang terlihat heran itu dengan perkataan Clarissa,Diapun tersenyum bijak,dan menyakinkan lagi pada Lia.
" Karena difokuskan penerimaan hadiahnya di rumah Bos Saya Mbak, Minimarketnya saat ini memang sedang beroperasi, agar tidak mau mengganggu para pelanggan jadi difokuskan di tempatnya Bos Saya." ucap Clarissa tersenyum.
Lia hanya menganggukkan kepalanya begitu pula dengan Pak Sahrul dia hanya mengikuti apa kata Clarissa yang sangat meyakinkan nya itu.
" Sebentar ya Mbak mobil masih dipersiapkan, selagi menunggu,kita duduk sambil cerita-cerita dulu disini ya Mbak, kamu nggak apa-apa kan?" ucap Clarissa sengaja berbicara seperti itu karena dia ingin mengorek keterangan sedikit dari Lia, sebenarnya mobil mereka tidak dipersiapkan tidak ada yang mempersiapkan mobil mereka karena mobil mereka sudah siap sedari tadi.
Lia dan yang lainnya hanya menganggukkan kepalanya saja.
" Maaf mbak Lia,begini Mbak saya mau bertanya dengan Mbak Lia, mungkin ini pertanyaan pribadi untuk Mbak Lia." ucap Clarissa.
" Mau bertanya apa Mbak?"
" Sebenarnya kenapa Mbak Lia tidak mau menuntut laki-laki itu?" tanya Clarissa pelan,takut Kevin mendengarnya,tapi karena Kevin sedang berada duduk diteras depan bersama Sarah,jadi Kevin tidak mendengar perkataan orang dewasa itu.
Lia hanya terdiam,dan terdengar helaan napas darinya.
" Saya tidak ingin memperpanjang masalah, biarkan saja dia hidup bebas di luar sana, suatu saat nanti Allah akan membalasnya." ucap Lia.
" Tapi kasihan dengan anak Mbak, Dia pasti ingin mencari bapaknya."
" Suatu saat Kevin pasti akan bertemu dengan papahnya, kalau Papa Dia menyadari dan mencari tahu akan diri saya dan menyadari perbuatannya dulu pada saya."
Clarissa hanya menganggukkan kepalanya saja.
Padahal mereka sudah mengetahui tentang semua masalah yang terjadi dengan Lia dan tersangkanya pun sudah mendekam dipenjara tinggal menunggu prosesnya lagi,berapa tahun hukuman untuk mereka.
" Tapi saya masih terpikir dengan seorang lelaki yang saat itu bersama saya,waktu terjadi peristiwa itu." ucap Lia menerawang jauh kemasa kuliah nya dulu dimana terjadi suatu peristiwa yang sangat membekas dihidupnya itu dan tak akan pernah Dia lupakan.
" Lelaki? siapa Dia?" ucap Clarissa berlagak terkejut.
" Pintar juga aktingnya Risa didepan Lia,rasa terkejutnya itu lho meyakinkan banget." batin Morgan seraya tersenyum tipis menatap kearah Clarissa, sedangkan Abiyasa menatap Clarissa dengan lekat.
" Clarissa pintar sekali membuat rasa terkejut yang sangat fantastis seperti orang baru mendengar sesuatu yang belum pernah didengarnya, Clarissa memang oke banget dia memang hebat bisa berubah apa saja baik terkejutnya, senang, sedih atau pun bisa menjadi seekor singa betina yang mengaum." batin Abiyasa tersenyum sembari menutup wajahnya menutupi senyumannya yang tersembunyi itu.
" Lelaki itu adalah teman kuliah Saya, Dia memang mengatakan cinta kepada Saya waktu itu, tapi karena Saya sudah dijodohkan oleh keluarga Saya, makanya Saya menolaknya, sebenarnya saya menolak untuk dijodohkan tapi karena Paman Bowolah yang selalu memaksa Almarhum Ayah saya sampai akhirnya beliau pun menyetujui perjodohan dengan Ariel."
" Ariel itu siapa.?" Tanya Clarissa.
" Ariel itu adalah Anaknya teman dari Paman Bowo, karena Dialah yang ingin menjadikan saya istri dari Ariel itu."
" Terus gimana kabar lelaki tersebut yang mencintai Mbak Lia,dan siapa namanya?"tanya Clarissa.
" Namanya Arvin,Saya tidak tahu sekarang dia berada di mana, karena sejak kejadian itu saya meninggalkannya, memang Dia mau bertanggung jawab atas peristiwa itu, tapi karena Dia tidak melakukannya Saya tidak ingin mengambil kesempatan agar saya bisa dinikahinya, karena Dia tidak salah, walaupun dia menyukai saya, saya pun juga menyukainya waktu itu, tapi karena saya tidak ingin merusak hidupnya makanya saya meninggalkannya." ucap Lia.
" Kalau seandainya Mbak Lia bertemu dengan lelaki itu bagaimana Mbak?"
Lia hanya terdiam saja mendengar pertanyaan Clarissa.
" Bagaimana Mbak?" tanyanya lagi.
" Saya tidak tahu Mbak, yang pastinya Saya malu berhadapan dengannya lagi,mungkin saja saat ini dia sudah menjadi seorang pengusaha ataupun menjadi seorang yang sangat terkenal, Saya tidak ingin lagi mengganggunya."
" Kalau seandainya Dia masih menyukai kamu Mbak? Apakah kamu mau menerimanya?"
" Sepertinya tidak, saya tidak ingin memberikan cinta saya yang sudah ternoda padanya, apalagi saya sudah mempunyai seorang Anak."
" Kalau seandainya Dia menerima kamu apa adanya, misalkan Dia menerima kamu dan menerima Anakmu dan Dia menganggap Anak mu itu sebagai Anaknya sendiri,gimana reaksi kamu Mbak?"
" Itu sebenarnya suatu mukjizat bagi diri saya, tapi tetap saya tidak mau, Dia pantas bahagia dengan wanita lain,saya sadar diri karena saya ini tidak pantas lagi untuknya, Dia pantas mendapatkan wanita yang lebih baik dari saya, dan Dia pantas juga untuk bahagia, saya mendoakan selalu Dia mendapatkan wanita yang memang benar-benar tulus mencintai dan menyayanginya."
" Sebenarnya Mbak masih ada nggak rasa dengan Dia.?"
" Kalau masalah rasa setiap wanita pasti ada, tapi bagi saya pribadi sudah tidak ada lagi, dan saya juga tidak akan mengganggunya lagi, suatu saat kami pasti akan bertemu, kalau seandainya kami bertemu pun itu saya anggap sebagai pertemuan seorang teman di waktu lalu."
" Apakah Mbak akan menerima kalau seandainya Dia mau menikah dengan wanita lain?"
" Saya akan terima, karena Biar bagaimanapun dia adalah teman saya, rasa cinta itu adalah masa lalu disaat Kami memang sama-sama suka, tapi saat ini sudah berubah saya sekarang memiliki Kevin dan dia pasti akan memiliki seorang wanita yang cantik dan rumah tangga mereka pasti bahagia." ucapnya dengan nada tulusnya.
Mereka bertiga mendengarkan Clarissa dan Lia berbicara, begitu pula dengan Pak Sahrul dan Bu Sari, mereka hanya terdiam dan sesekali menganggukkan kepala mereka mendengarkan pembicaraan mereka berdua.
" Begitu mulianya hatimu Dek, kamu bisa melepaskan orang yang memang benar-benar menyayangimu dan begitu juga kamu menyayanginya, semoga saja saat kamu bertemu dengan Arvin nantinya, kamu tidak berubah dan tidak mengingkari kata-katamu itu, karena calon istrinya Arvin adalah saudara kembarmu dek." ucap batin Dokter Roni seraya menatap kearah Lia.
Lia juga menatap kearah Dokter Roni,Dia merasakan perasaan seperti aneh di dalam hatinya.
" Kenapa Aku menatap Bapak yang ini sepertinya ada sesuatu yang lain dihati ini, tapi perasaan bukan karena perasaan suka atau cinta,tapi melainkan perasaan seperti seorang Adik pada Kakaknya.
Kenapa perasaan Aku seperti ini? melihat Bapak ini pertama kali bertemu di rumahku, sepertinya Aku ada ikatan batin yang kuat dengannya, tapi Dia siapa Ya Allah, ada apa dengan perasaan ini." batinnya lagi.
" Maaf mbak,apakah Mbak ada seorang Adik atau ada Kakak yang lain?"
" Saya adalah anak semata wayang Mbak, saya tidak mempunyai adik ataupun Kakak jadi di saat saya mempunyai masalah hanya Paman Sahrul yang selalu ada untuk saya, sedangkan Mama sama Papa selalu menurut dengan paman Bowo, Saya selalu mengeluh dan cerita semua masalah selalu dengan paman Sahrul,paman Sahrul selalu menyayangi dan menerima keluh kesah saya dengan sabarnya." ucapnya seraya menatap kearah Pak Sahrul.
Pak Sahrul hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum seraya mengelus pundak Lia dengan penuh kasih sayang.
" Mama memang sayang dengan saya, sayang banget, sebenarnya Mama juga menolak saya dijodohkan dengan Anak temannya Paman Bowo, tapi apa dayalah Mama, Karena Mama selalu di desak oleh Paman Bowo,saya jadi tidak bisa berbuat apa-apa Mbak."
Clarissa hanya menganggukkan kepalanya saja mendengarkan cerita Lia.
" Tapi kenapa Mbak sangat takut sekali dengan Pak Bowo itu?"
" Dia bisa berbuat nekad Mbak, itu yang saya takutkan, apalagi sekarangkan ada Kevin, saya takut terjadi apa-apa dengan saya, kalau terjadi kasian Kevin,kalau seandainya Paman Bowo mengetahui saya membesarkan Kevin dia pasti akan bertambah marah,Karena setelah Dia tahu saya hamil Paman Bowo menyuruh saya menggugurkan kandungan saya, tapi saya tidak mau dan tetap mempertahankannya, karena saya ingin membesarkan Anak saya saat itu,karena saya berpikir hanya Kevin lah suatu saat nanti menjadi teman di hari tua saya." terang Lia.
" Apakah Mbak tidak ingin menikah?"
" Keinginan menikah itu ada mbak, tapi semua sudah saya serahkan semuanya kepada Allah, karena jodoh, maut, dan rezeki itu adalah dari Allah." ucapnya lagi sembari tersenyum.
Clarissa hanya menganggukkan kepalanya, begitupula dengan Abiyasa, Morgan dan Dokter Roni beserta Pak Sahrul serta istrinya mereka hanya mengangguk dan memahami akan kata-kata dari Lia.
" Gimana sekarang apakah kita langsung berangkat saja?" tanya Abiyasa.
" Ya sudah kalau seperti itu, sepertinya mereka sudah menunggu kita." ucap Clarissa.
Kemudian Clarissa mengajak Lia dan Pak Sahrul menuju ke mobil yang sudah berada di depan rumah Clarissa, setelah Clarissa berpamitan dan mengatakan kepada Asisten rumah tangganya itu, Dia langsung keluar dan mengikuti langkah Abiyasa menuju kearah mobilnya.
Setelah mereka memasuki mobil tersebut mereka langsung meninggalkan rumah Clarissa, menuju ke arah rumah Abiyasa, karena jalanan sudah sangat terlihat ramai dengan aktivitas para pejalan yang selalu hilir mudik di jalanan membuat sedikit macet jalanan tersebut. Tapi karena Abiyasa dan Morgan mengetahui jalan pintas merekapun kemudian melajukan mobil mereka itu menuju jalan pintas, agar segera sampai menuju ke rumah Abiyasa, karena keluarganya sudah menunggu kedatangan mereka.