
Abiasa, Morgan dan Arvin kemudian turun dari mobil, Arvin mendekati Abiyasa dan Morgan yang berdiri didepannya.
" Gila Clarissa, Dia menyuruh kita ke komplek pemakaman buat apa?terus ada apa dengan angkot itu?" tanya Morgan.
" Iya aku juga bingung dengan ulah si srikandi Abu gosok ini, hehehe pas lagi waktunya mulai gelap kaya gini lagi, hantu mulai keluar nih hehehe." Ucap Arvin terkekeh.
" Hantunya nggak berani Vin mendekat dengan kita, karena pawang hantu ada bersama kita." Kekeh Morgan dan Abiyasa hanya tersenyum begitu juga Arvin terkekeh pelan.
" Lebih baik kita dekati aja dulu Clarissa kan ada di dalam angkot itu." Ucap Abiyasa mengajak kedua sahabatnya itu mendekati angkot tersebut.
Kemudian mereka bertiga melangkah dengan tenangnya walaupun sebenarnya banyak pertanyaan yang berkecamuk dikepala mereka bertiga.
" Ada-ada aja Bola papa ini, masa Papanya disuruh menuju ke kompleks pemakaman begini sih." ucap Papa Boby sembari turun dari mobilnya dan mendekati ke arah angkot itu diikuti menantunya Marco.
Sopir angkot itu pun bertambah rasa takutnya karena melihat kedatangan 5 orang laki-laki yang sudah berada disamping pintu angkotnya.
" Turun!" Perintah papah Boby pada sopir tersebut.
Sopir itu pun dengan rasa gugup dan takutnya langsung turun dari angkotnya, dia langsung berdiri di samping angkotnya itu seraya menatap kelima lelaki yang ada dihadapannya itu.
Clarissa kemudian turun dari angkot tersebut Dia kemudian mendekati sopir angkot yang sudah berdiri disamping angkotnya, sopir angkot itu terdiam seribu bahasa karena dia merasa tidak mengenali mereka semua.
" Siapa nama bapak!"
Dia tetap diam, kemudian Papa Bobby pun langsung memukul angkotnya itu dengan keras sambil menggertak sopir angkot itu.
" Katakan! siapa nama bapak!"
Dia tersentak dan spontan langsung menjawab.
" Yudi pak! Ya Yudi pak, nama saya Yudi, iya Yudi pak nama asli saya pak." Ucapnya dengan cepat dia mengatakan namanya karena wajahnya terlihat ketakutan, dan mengatakan namanya berulang-ulang.
" Menghapal nama atau sebut nama kamu itu hah!" Ucap Morgan.
Pak Yudi terdiam dan hanya bisa menundukkan kepalanya.
" Kenapa Pak? takut? Eits... jangan takut Pak!kaya gini aja bapak takut, tapi saat bapak bawa seorang gadis remaja itu bapak tidak merasa takut?!" Ucap Clarissa.
Pak Yudi terkejut dan menatap kearah Clarissa.
" Kenapa? kaget!! bapak ingat tidak! beberapa hari yang lalu seorang anak remaja masuk ke mobil angkot bapak dan bapak pun membiarkan gadis remaja itu dibius dan diperlakukan tidak senonoh oleh orang lain?!! diberi upah berapa Bapak sama orang yang menyuruh bapak itu hah!! untuk membawa gadis itu ke orang yang jahat!! Bilang pak!!" Ucap Clarissa dengan nada tinggi dan amarahnya.
Sopir angkot itu pun terdiam! Papa Bobby pun kemudian mendekati sopir angkot itu.
" Bapak itu sudah tua pak! Kita sama-sama tua pak! seharusnya Bapak sadar dengan perbuatan bapak yang salah itu! Apakah Bapak tidak punya anak ? Pasti sudah punya anak,kalau bapak tidak punya anak yang sebaya dengan anak remaja itu, bapak wajar perlakukan anak gadis orang seperti itu tanpa belas kasihan dan membantu orang jahat, tapi kalau bapak punya anak sebaya dengan gadis itu karma di dunia berlaku pak!" Ucapnya panjang lebar.
Sopir angkot itu pun langsung merasakan tubuhnya gemetar dia pun langsung bersimpuh di jalanan beraspal di samping angkotnya itu dan menangis kesesunggukkan.
Clarissa berjongkok di hadapan sopir angkot itu.
" Pak Yudi! lebih baik Bapak jujur saja, Bapak dapat bayaran berapa dari penjahat yang telah menyuruh Bapak membawa seorang anak gadis tersebut?! cepat katakan! karena kami tidak punya waktu yang banyak disini, bapak tahu siapa yang ada berdiri di belakang saya ini, mereka adalah dua orang anggota kepolisian." Ucap Clarissa seraya menunjuk Arvin dan Morgan.
Sopir angkot itu pun terperangah dan menatap kearah Carissa.
" Bapak tahu siapa gadis remaja yang Bapak bawa di dalam angkot itu?"
Pak Yudi menggeleng lemah..
" Dia adalah keluarga kami, ini adalah Om nya dan saya,dia dan dia adalah kakak dari gadis itu." Ucap Clarissa seraya menunjuk papah Boby Abiyasa Arvin dan Marco.
Pak Yudi menatap sesaat kearah mereka semua.
" Sekarang Bapak jujur saja, Berapa bayaran yang diberikan oleh penjahat itu? kalau bapak mau jujur, saya akan memberikan uang lebih dari yang penjahat itu berikan! cepat katakan.!!" ucap Clarissa dengan nada penuh penekanan dengan Pak Yudi, Pak Yudi hanya menundukkan kepalanya dia tidak sanggup untuk berkata-kata lidahnya kelu bibirnya tertutup rapat seolah-olah tidak bisa dibuka, bahkan dia tetap menundukkan kepalanya.
" Angkat kepala bapak?" bentak Morgan.
Pak Yudi tersentak, Dia kemudian mengangkat kepalanya seraya berkata.
" 10 juta " ucapnya.
" Apa? Sepuluh juta?! Bapak cuma dibayar 10 juta cuma hanya membantu orang jahat itu? Dengan membawa gadis remaja tersebut? Bapak memang keterlaluan!! seharusnya Bapak sadar kalau seandainya gadis remaja itu adalah anaknya Bapak bagaimana perasaan bapak! Apa Bapak mau menjual anak bapak seharga 10 juta? Bapak memang tidak punya perasaan!!" Ucap Clarissa geram.
" Ma...ma... maafkan saya bu, maafkan saya Pak, Saya memang terhimpit ekonomi." Ucapnya tersendat-sendat.
" Terhimpit ekonomi sih, terhimpit ekonomi pak! tapi tidak dengan cara seperti ini juga kali! coba bapak bayangkan kalau seandainya gadis remaja itu trauma mendalam dan tidak mau lagi bertemu dengan orang lain, bagaimana nasibnya dan masa depannya?! hancur pak! Hancur!! karena ulah penjahat-penjahat yang Bapak bantu itu!!" ucap Morgan dengan kerasnya.
Pak Yudi menundukkan kepalanya menyesali perbuatannya.
" Bapak ini sebagai orang tua tidak baik, anak bapak di sana mendoakan rezeki yang halal untuk bapak, Tapi bapak malah mencari jalan rezeki yang tidak halal." sambung Abiyasa.
" Jangan! jangan! jangan pak! Jangan bawa saya ke kantor polisi, Saya ingin mencari nafkah untuk anak istri saya, kalau saya dipenjara saya tidak bisa lagi mencari uang untuk keluarga saya." Ucapnya
" Bapak sekarang bicara seperti itu mengatasnamakan keluarga bapak, untuk mencari uang buat keluarga Bapak, tapi Bapak saat melakukan dan menyetujui untuk membantu penjahat-penjahat itu manusia yang durjana itu apakah bapak tidak berpikir ke arah sini hah! seharusnya Bapak menolak bujukan mereka bukan mendukung mereka, Bapak cuma diiming-imingi uang 10jt padahal di luar sana rezeki Bapak lebih dari 10 juta kalau bapak mengerjakannya dengan ikhlas rezeki itu pasti akan datang lebih dari yang Bapak dapatkan, seharusnya Bapak berpikir uang 10jt itu memang bagi Bapak banyak, tapi apa yang terjadi dengan gadis remaja tersebut, Bapak tidak tahu kan sekarang gadis remaja itu seperti apa?!!" Ucap Arvin.
" Ya udah Vin, kalau seperti itu bawa aja dia ke kantor polisi, biar mudah dimintai keterangan, karena kalau di sini lama-lama Om jadi main hakim sendiri, lupa nantinya kalau kalian ada disini." ucap papah Bobby.
" Siap Om, tapi sebentar Om, Arvin menghubungi anak Buah Arvin dulu biar bisa membawa mobil angkot ini ke kantor polisi sebagai barang bukti yang dipergunakan oleh mereka." Ucap Arvin seraya mengambil gawainya dan menghubungi anak buahnya.
" Jangan Pak! tolong jangan, jangan bawa saya ke kantor polisi, Saya akan mengatakan semuanya, Tapi tolong jangan dipenjarakan saya, saya minta maaf Pak, saya siap untuk meminta maaf kepada gadis remaja itu." Ucapnya memohon pada mereka semua.
" Tapi sayang pak! itu tidak bisa Pak, hukum di negeri ini harus ditegakkan, Bapak sama aja berkomplot dengan para penjahat itu, makanya pak, kalau bapak ingin melakukan sesuatu seharusnya dipikir dulu kedepannya seperti apa, Jangan senang dulu diiming-imingi sejumlah uang tapi ujung-ujungnya Bapak tidak bisa menikmati uang itu, jika seandainya uang itu bisa memberikan keluarga Bapak seumur hidup kenyamanan kesejahteraan dan kebahagiaan, bisa saja Bapak melakukan kejahatan ini Bapak menanggungnya, Tapi anak-anak bapak bahagia karena tersejahtera kan dengan uang yang Bapak dapat dengan cara singkat seperti ini itu juga tidak akan jadi berkah pak, jadi sekarang Bapak harus mempertanggungjawabkan semuanya di kantor polisi, bapak bisa memberikan keterangan pada polisi nantinya siapa nama orang yang telah memberi Bapak uang tersebut dan membawa bapak ke dalam strateginya ini " Terang Morgan.
Pak Yudi pun menangis Lagi, kesesugukkan, dia menutup wajahnya tidak henti-hentinya dia mengeluarkan air mata dengan mengucapkan beribu-ribu kata maaf yang dalam keluar dari mulutnya agar mendapat belas kasihan dari mereka semua agar bisa membebaskan dia dari penjara yang sudah menantinya.
" Sebenarnya Saya kasihan dengan bapak, bapak sudah mulai tua ini harus hidup di dalam penjara nantinya, karena perbuatan bapak sendiri yang tidak dipikirkan bagaimana jadinya." ucap Abiyasa.
" Buat apa lagi kamu menangis pak! perbuatan kamu sudah sangat bengis, kamu begitu mudahnya membantu orang jahat untuk menghancurkan gadis remaja, seharusnya kamu pikir pak, kenapa kamu begitu tega banget bantu orang jahat itu." Sambung Clarissa.
Pak Yudi hanya terisak dia menyesali perbuatannya tersebut.
" Saya terpaksa Pak, Bu, Saya terpaksa..." berulang kali dia mengatakan itu dan berulang kali jua dia mengatakan kata maaf tapi semua itu tidak didengarkan oleh mereka setelah Arvin menghubungi beberapa anak buahnya, Mereka pun menunggu beberapa saat di depan pemakaman umum tersebut.
Pak Yudi masih bersimpuh dengan bergelut tangisnya Clarissa pun mendekati ketiga sahabatnya tersebut, setengah berbisik mereka berbicara.
" Morgan, Kenapa kamu ada di sini padahal aku tadi kan tidak memberi kabar kepadamu." Ucap Clarissa.
" Ya iyalah Ris, kamu tidak memberi kabar denganku, kamu beri kabarnya dengan Abiyasa, tapi sayangnya aku berada di dalam mobil Abiyasa."
" Emang kamu dari mana?"
"Aku dari kantor polisi "
" Ngapain kamu masuk kantor? padahal kan ini hari pernikahan kamu. "
" pernikahannya kan sudah selesai, jadi aku tadi ke kantor polisi ingin melihat kayak apa sih muka orang yang mengikuti dan mengawasi Abiyasa dan keluarganya."
" Apaa?! Abiyasa dikuti?yang bener Biy?"
" Iya! Aku curiga dengan kedua penguntit yang ada di kantor polisi itu, jangan-jangan mereka ada hubungannya dengan penyusup yang masuk ke rumahku itu atau jangan-jangan mereka ada hubungannya dengan Amel dan Nika."
" Tapi sayangnya tidak ada hubungannya Ris dengan Amel dan Nika, sepertinya mereka tidak mengetahui masalah ini,berarti ini ada dua masalah." sambung Arvin.
Clarissa pun menganggukkan kepalanya, beberapa saat kemudian sebuah motor mendekati Mereka ternyata sebuah motor itu adalah anak buahnya Arvin.
" Kok cepat sekali Vin anak buahmu datang, padahalkan daerah sini belum terlalu kita kenal?" tanya Clarissa.
" Ya aku sudah share lokasinya Jadi mereka mudah mencarinya apalagi kan mereka menggunakan roda dua,jadi akan lebih cepat dari roda empat." ucapnya tersenyum.
" Kalau roda dua bisa nyelip nyari jalan pintas, tapi kalau roda empat stop dulu." sambung Morgan lagi.
Kemudian kedua anak buah Arvin pun mendekatinya, setelah Arvin berbicara dengan kedua anak buahnya akhirnya pak Yudi pun dibawa ke mobil Abiyasa dan salah satu anak buah Arvin membawa mobil angkotnya Pak Yudi, Mereka pun kemudian memasuki mobil mereka masing-masing, Clarissa memasuki mobil papa Boby dan beberapa saat mobil itu pun meninggalkan area pemakaman tersebut, Abiyasa dan Morgan mengantarkan Pak Yudi ke kantor Polisi untuk dimintai keterangan lebih lanjut sedangkan Arvin menggiring anak buahnya membawa mobil angkot menuju ke kantor polisi juga.
*****
" Sial !! Kenapa sih mereka berdua mesti tertangkap!! seharusnya mereka berdua itu harus hati-hati, kalau begini kan jadinya repot, kalau mereka berdua jujur aku harus bagaimana." ucap salah seorang yang berada di sebuah rumah sederhana sepertinya tempat persembunyian untuk dirinya dan anggotanya yang lain.
" Kita harus menyusun strategi lagi bang, agar mereka berdua tidak mengatakan yang sebenarnya, mudah-mudahan saja mereka berdua itu tidak tertangkap oleh srigala dan singa nya kantor polisi itu yang terkenal dengan mudah menyelesaikan masalah dan mendapatkan pelakunya dengan cepat." Ucap salah satu dari mereka.
" Srigala dan singa? Siapa mereka?" Tanyanya lagi.
" Yang aku tahu bernama Arvin dan Morgan, mereka berdua memang posisinya tidak sama satu di bagian Reskrim dan satu di bagian lantas, Tapi aku tidak tahu apakah yang Morgan itu atau yang Arvin antara mereka berdua itu Aku tidak tahu bidang mereka apa, Apakah Morgan yang lantas atau Arvin yang Reskrim, atau malah sebaliknya, Tapi setahu aku kalau mereka yang menangani semua masalah bahkan tersangkanya pun mudah didapatkan oleh mereka dengan mulus." Ucapnya lagi.
" Mudah-mudahan saja mereka tidak ditangkap oleh mereka berdua, kalau mereka berdua sampai ditangkap sama srigala dan singa itu, celakalah bang!orang yang sehebat apapun dan sepintar apapun berkelit pasti akan ketahuan juga siapa dalangnya." Ucapnya.
" Ini bisa celaka kalau seandainya mereka tertangkap oleh mereka berdua, matilah aku!! Sial!!" Ucapnya lagi yang dipanggilnya abang.
Terdengar helaan nafas di antara mereka yang ada di situ, hening!! tidak ada suara sama sekali, mereka larut dalam pikiran mereka masing-masing.
" Kalau memang benar apa yang dikatakan Jodi tentang kedua orang tersebut, bahaya akan mengintaiku, semuanya akan hilang begitu saja semua yang sudah aku rencanakan dan aku susun rapi." Ucapnya sembari menyenderkan kapalanya disandaran kursi yang didudukinya tersebut.
*****
Di sebuah hotel berbintang terlihat seseorang yang sedang berbicara melalui gawai pribadinya.
" Mereka sudah tidak tinggal lagi dikontrakan itu, karena mereka sudah ditolong oleh keluarga yang sangat kaya raya dan mempunyai banyak perusahaan anak cabang didalam dan diluar negeri,tapi kami belum mengetahui ada hubungan apa mereka dengan kedua kaka beradik itu, nanti aku akan hibungi lagi setelah aku mengetahui semuanya." Ucapnya seraya memutuskan sambungan bicaranya tersebut, kemudian dia memasukkan gawainya kesaku celananya dan menatap jauh keluar jendela kamar hotel tersebut.
" Ada hubungan apa mereka dengan keluarga Wibawa itu?!" Ucapnya.