
Setelah resepsi berakhir mereka pun langsung membenahi tempat dan satu persatu semua sudah meninggalkan tempat resepsi hanya event organizer yang masih berada di tempat lokasi pernikahan Clarissa dan Marco.
Keluarga yang masih berada di gedung pernikahan tersebut hanyalah keluarga mereka saja, setelah berganti pakaian Clarissa dan Marco langsung duduk di tempat di mana keluarganya berada dengan meja yang terpisah, mereka bergabung dengan Abiyasa geng Abu gosoknya.
Arvin kemudian mendekati Nadine yang berada di kamar belakang sedang membenahi beberapa gaun yang telah di pakai oleh Clarissa, gaun tersebut memang sudah dibeli oleh keluarga Clarissa jadi Nadine yang merapikannya dibantu oleh sang kakak kembarannya.
Arvin mengetuk pintu kamar tersebut.
" tok tok tok " mata mereka berdua pun menatap kearah pintu, Nadine dan Lia tersenyum.
" Boleh Aku masuk?" tanya Arvin di anggukan oleh keduanya sembari tangan mereka masih membenahi pakaian yang sudah dikenakan oleh Clarissa tadi.
wajah Arvin pun terlihat sedih karena dia melihat Lia yang memang sudah disukai oleh Niko tapi sayang Mamahnya Niko sudah ada calon yang terbaik untuk Dia.
Nadine menatap kearah Arvin,karena melihat kesedihan diwajah calon suaminya tersebut.
" Ada apa Mas? Kenapa wajahmu terlihat sedih?"
" Tidak ada apa-apa?" ucapnya sembari tersenyum.
" Pasti ada yang kamu sembunyikan." ucap Nadine.
" Tidak sayang? tidak ada yang Aku sembunyikan, mungkin Aku terlihat capek aja." ucapnya.
" Nadine! Kakak bawa ini dulu ya ke mobil." ucap Lia karena Dia tahu pasti ada yang ingin dibicarakan oleh Arvin dengan Nadine, Dia tidak berhak untuk mendengarkan pembicaraan mereka berdua, karena tidak ingin dikatakan sebagai pengganggu hubungan mereka, walaupun dulunya Arvin menyukainya.
" Oh iya kak."
" Kalau sudah Aku tunggu di mobil ya." ucapnya lagi.
Nadine hanya menganggukan kepalanya.
" Ya kak."
" Aku permisi dulu ya Vin." ucap Lia di anggukan oleh Arvin. mereka berdua menatap langkah Lia yang meninggalkan mereka di dalam ruangan tersebut Nadine kemudian duduk di samping Arvin seraya menatap wajah Arvin.
" Ada apa Mas sebenarnya? katakan dengan Nadine ada masalah apa sehingga Mas terlihat sedih,jujurlah dengan Nadine Mas?"
" Tidak ada masalah sayang " ucap Arvin seraya menatap kearah Nadine penuh mesra.
" Kalau tidak ada masalah kenapa wajahmu terlihat sedih?" kalau memang tidak ada masalah nggak mungkin sikap kamu seperti ini Mas?!" ucap Nadine.
" Kalau diriku sendiri tidak ada masalah sayang, tapi ini masalah Bang Niko."
" Memang kenapa dengan Kak Niko?"
" Kamu tidak menyadari kalau Bang Niko itu menyukai Lia?"
Nadine tersenyum Dia tidak nampak terkejut dan Arvin menatap kearah Nadine dengan heran.
" Kenapa kamu tidak terkejut?"
" Hehehe, ngapain Nadine terkejut Mas,Nadine sudah menerka kalau kak Niko itu suka dengan kak Lia, saat di kantor polisi Dia menatap Kak Lia sedemikian rupa." ucap Nadine sembari tersenyum.
" Tapi sayang Mamahnya Bang Niko sudah ada calon untuknya, katanya sih yang terbaik, itulah yang membuat Aku sedih,Bang Niko dan Lia cintanya tidak kesampaian."
Nadine terlihat sedih mendengar perkataan dari Arvin itu.
" Kalau mungkin mereka tidak berjodoh ya tidak apa-apa lah Mas, masih ada mungkin laki-laki yang terbaik di luar sana yang memang mau menerima Kak Lia apa adanya dengan keadaannya sekarang ini dengan satu Anak." ucap Nadine.
" Tapi katanya Om Andre mau bicara dengan Tante Melisa, Om Andre kayaknya mau menceritakan semuanya kalau sebenarnya Bang Niko itu menyukai Lia."
" Kalau memang tidak berjodoh jangan dipaksakan Mas, Nadine tidak ingin melihat Kak Lia bersedih lagi." ucap pelan Nadine.
" Apakah Lia tahu kalau Bang Niko menyukainya.?"
Arvin menarik nafasnya dengan pelan dan melepaskannya dengan berat terdengar juga helaan nafas dari Nadine.
" Tapi syukurlah Mas, kalau Kak Niko tidak mengutarakan cintanya kepada Kak Lia, lebih baik Kak Lia tidak tahu sama sekali daripada nantinya setelah mereka sama-sama menyukai ternyata dipisahkan oleh wanita lain, pasti akan menambah luka di hatinya, sedangkan hatinya masih baru sembuh dari sakitnya bahkan sakit hatinya ini masih akan membekas sampai Dia tua." ucap Nadine lagi.
Arvin hanya menganggukkan kepalanya.
" Ya sudah ya Mas Nadine mau pulang dulu, Nadine mau istirahat,habisnya capek banget." ucapnya lagi.
" Ya udah Aku antar sampai mobil ya, Aku tidak bisa mengantar mu pulang, karena di sini masih ada sedikit kerjaan." ucap Arvin.
" Ya udah nggak apa-apa Nadine kan sama Kak Lia, juga pulangnya,jika Nadine nggak ada temannya baru Nadine minta antar sama kamu Mas hehehe." kekeh Nadine.
" Hehehe...iya sayang, apa sih yang nggak buat kamu.." ucap Arvin sembari tersenyum.
Kemudian mereka berdua pun meninggalkan ruangan tersebut menuju ke arah mobilnya Nadine, dimana Lia menunggunya yang sedang duduk di samping mobil tersebut, karena disamping mobil ada sebuah kursi panjang di situlah Dia menunggu Nadine.
" Maaf ya Kak lama nunggunya, tadi ada yang dibicarakan sebentar sama Mas Arvin."
" Oh iya nggak apa-apa Kakak paham aja kok, ya udah kami pamit dulu ya Vin." ucap Lia.
" Iya hati-hati di jalan."
Mereka berdua mengangguk dan tersenyum, Kemudian mereka berdua memasuki mobil dan beberapa saat kemudian mobil tersebut pun meninggalkan tempat resepsi menuju ke arah rumah pribadi mereka.
Arvin hanya bisa menatapnya dari kejauhan sampai mobil itu hilang di tikungan,Arvin menghela napasnya kembali dengan berat dan mengusap wajahnya dengan kasar, Dia kemudian menyandarkan tubuhnya di tiang salah satu gedung tersebut.
" Kasihan Lia, jika seandainya Bang Niko sudah mengungkapkan isi hatinya Aku rasa mereka akan bahagia, tapi Tante Melisa sudah mempunyai pilihan yang terbaik untuk Bang Niko, mudah-mudahan saja Bang Niko bahagia dengan pilihan yang terbaik dari Tante Melisa itu dan Bang Niko bisa menerima wanita pilihan yang dijodohkan Tante Melisa dan tidak akan gagal lagi dalam membina rumah tangganya." batinnya seraya menghela nafasnya, kemudian Dia pun berbalik arah dan langsung menuju kembali di mana keluarganya sedang duduk berbincang-bincang,setelah acara selesai keluarganya memang tidak langsung pulang ke rumah mereka masing-masing, karena mereka merasa lelah menghadapi semua tamu yang datang lumayan banyak sekali dari relasi kerja, rekan-rekan kerja sejawat serta teman,sahabat semuanya datang sebelum mereka pulang mereka pun berkumpul dengan santainya.
Gelak tawa pun tercipta diantara mereka, candaan-candaan pun menjurus ke arah Carissa dan Marco.
" Oh ya Ris, Kamu mau hadiah apa nih dariku." ucap Abiyasa.
" Apa aja deh."
" Gimana kalau kamu bulan madunya ke luar Negeri bersama dengan Marco, pilih aja mau kemana biar nanti aku yang ngurus." ucap Abiyasa.
" Kalau masalah bulan madu sih Aku sepertinya tidak mau deh, Aku ingin menghabiskan waktu di rumah aja ya kan sayang." ucap Clarissa seraya melirik Marco, Marco hanya menganggukan kepalanya.
" Ya nggak bisa gitu dong! Kamu harus bulan madu menikmati indahnya bulan madu berdua, Nanti kalau kamu sudah punya momongan kamu nggak bisa lagi lho pergi ke luar Negeri." ucap Morgan.
" Tapi kalau dipikir iya juga sih,tapi masa iya Aku bulan madu, dan kamu Biy nggak, gimana tuh ceritanya." ucap Clarisa terkekeh.
" Maunya Aku juga bulan madu,tapi sayang istriku sudah terlanjut meledung duluan,jadi ntar aja bulan madunya hehehe, oh ya kapan rencananya kamu mau pergi berbulan madu?" tanya Abiyasa.
" Setelah Morgan dan Arvin menikah biar sama-sama perginya bulan madu, walaupun beda Negeri yang dikunjungi." ucapan Clarissa terus terkekeh.
" Nah ini baru sahabat sejati! Aku suka gaya lohhh, benarkan Vin." ucap Morgan seraya menyenggol Arvin, dan Arvin hanya tersenyum saja kebahagiaan terpancar di mereka semua tapi tidak dengan Niko, karena meja mereka memang terpisah dari meja kedua orang tua mereka masing-masing, akhirnya mereka pun menegur Niko karena sedikit pun Niko tidak tersenyum dengan candaan-candaan mereka itu.
" Ada apa Bang Niko? Kenapa kamu terlihat sedih?" tanya Clarissa.
" Oh iyaDek,tidak ada Kok, Abang bahagia kok melihat Kalian berdua sudah menikah, dilanjut nanti Morgan dan Anindita kemudian dilanjut lagi dengan Arvin dan Nadine, Abang bahagia banget." ucapnya.
" Abang tidak bisa bohong dengan kami, Abang itu pasti masih sedihkan dengan apa yang dikatakan oleh Tante Melisa." ucap Abiyasa.
Niko menundukkan kepalanya sembari tersenyum simpul.
" Abang gak usah bersedih, nanti akan kita bicarakan dengan mereka,Abang harus mengatakan kalau memang Abang menyukai dengan Lia bukan wanita pilihan dari Tante Melisa, Abang kan belum kenal dengan perempuan yang akan dikenalkan oleh Tante Melisa nantinya, Tante Melisa berbicara seperti itu mungkin karena Tante Melisa merasa nantinya pernikahan Abang untuk yang kedua kalinya ini tidak gagal lagi,dan Abang akan bahagia bersama pilihan Tante Melisa mungkin seperti itu pikiran Tante Melisa, Abang nggak usah bersedih, nanti papa pasti akan bicara kok dengan Tante Melisa." ucap Abiyasa Niko pun hanya menganggukkan kepalanya saja.
______________________
*** Maaf ya author bisanya satu BAB karena pekerjaan author menumpuk,nanti kalau sudah tidak sibuk lagi in sya Allah double up.🙏🙏
Terimakasih...