THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP

THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP
BAB 210



" pak Yovi mari kita keruangan yang lain, biar kita bisa bicara dengan tenang tanpa ada pengganggunya." Ajak Lidya tersenyum pada Abi Yosep.


Mendengar Lidya mengajak Abi Yosep keruangan lain dan mau meninggalkan dirinya diruangannya itu,dia pun langsung berdiri dan melangkah menuju kearah Lidya dan meraih tangan Lidya,dan secepat kilat Lidya menepiskan tangan Aditama tersebut.


" Apa-apaan kamu sayang! aku ini suami kamu, derektur utama perusahaan ini." Ucap Aditama seraya menatap kearah Lidya.


" Kalau kamu mau tetap sebagai suamiku, Kamu duduk diam saja, aku yang akan bicara dengan pak Yovi dan Aku yang akan menentukan kerja sama ini paham!!" Ucap Lidya.


Aditama pun mengusap wajahnya dengan kasar dan hanya bisa mendengus dengan kesal karena Lidya sepertinya sudah tidak menghargainya lagi.


" Mari pak Yovi, kita bicaranya di ruang rapat aja Pak, lebih enak." Ajak Lidya.


" Oke!" Ucap Abi Yosep.


Kemudian mereka berdua berlalu dari hadapan Aditama, mereka berdua keluar dari ruangan Aditama dan menuju ke ruangan rapat.


" Gila benar nih cewek!! sekali kedip aja sudah mengajak ke ruangan yang lebih sepi hahaha, akhirnya dia sudah masuk dalam perangkap ku." Batin Abi Yosep dengan senyum kemenangan yang mengembang diwajahnya.


Sesampainya di ruangan rapat, mereka berdua masuk dan duduk disalah satu kursi yang saling berhadap-hadapan dan dibatasi dengan sebuah meja panjang.


" Bagaimana pak? Apakah Bapak masih mau menjalankan kerjasama antara perusahaan saya dan perusahaan Bapak, mungkin dari awal saya tidak tahu pembicaranya dan saya langsung ke intinya aja."


" Oh iya, saya memang masih mau menjalankan kerjasama dengan perusahaan ibu."


" Nggak usah panggil Ibu pak, panggil nama aja." Ucap Lidya tersenyum menggoda.


" Oh maaf saya tidak tahu nama ibu? kalau boleh tahu siapa nama ibu?"


" Nama saya Lidya,panggil aja Lidya kan lebih enak." ucap Lidya.


" Kampret mak lampir ini, minta dipanggil nama segala,pakai senyum menggoda juga,eh lampir peyot! Nggak ngaruh kali kamu menggoda aku!! Karena kamu salah sasaran nyot!!" Batin Abi Yosep seraya menatap Lidya dengan tatapan tajamnya,mereka berdua saling tatap,dan Lidya mulai salah tingkah dia mengartikan tatapan Abi Yosep dengan perasaan yang lain,sedangkan Abi Yosep menantap Lidya penuh dengan makian didalam batinnya.


Lidya kemudian berdiri seraya mendekati Abi Yosep dan duduk di samping Abi Yosep.


"Sekarang tidak ada lagi jarak diantara kita,kita bisa bicara empat mata dari hati kehati." Ucap Lidya manja.


" Wadawww! Mak lampir udah kelejotan nih!!" Batinnya Abi Yosep.


" Kalau masalah kerjasama itu bisa kita urus besok, tapi sekarang lebih baik kita mengenal satu sama lainnya saja dulu, aku merasa cocok saat bertemu dengan kamu, karena saat melihat pertama kali aku sangat menyukai kamu, Kamu sangat tampan sekali,sesuai dengan namanya." Ucap Lidya dengan mesra disamping Abi Yosep.


" Tampan-tampan!! gak tahu ya siapa aku!! Dasar penyet!!Kalau kamu tahu siapa aku sebenarnya, kamu pasti akan merasa malu!! ucap Abi Yosep di dalam batinnya.


Abi Yosep kemudian berdiri.


" Kenapa kamu berdiri? Aku belum selesai ngomong,kamu duduk aja, biar kita lebih akrab berbicaranya, apalagi di ruangan ini kita hanya berdua saja."


" Maaf Lidya,saya terlalu banyak duduk,jadi maaf saya berdiri dulu, dan lagi kamu tidak pantas bicara seperti itu pada seorang lelaki yang sudah beristri." ucap Abi Yosep,Seraya berjalan ke arah jendela.


" Istri kamu bisa kamu ceraikan dan menikah dengan ku,aku akan mengurus perpisahan dengan Aditama,aku yakin kamu juga suka kan dengan ku, karena kamu sedari tadi menatap ku dengan penuh gairah " ucapnya seraya mendekati Abi Yosep yang berdiri dekat jendela sambil kedua tangannya berada didalam saku celananya.


" Kamu belum tahu istriku kaya apa nyet!! Kalau tendangan halilintarnya keluar habis lah kamu nyet!! Enak aja nyuruh-nyuruh seperti itu,emang nya aku sebelas dua belas apa dengan Aditamak itu!!" Ucapnya didalam hatinya.


Saat Lidya ingin merangkul tangan Abi Yosep pintu ruangan itu terbuka, Aditama masuk kedalam ruangan dengan tatapan matanya yang sangat marah dan emosi.


Mereka berdua menatap kearah Aditama, Abi Yosep pun tersenyum dengan Aditama ,tapi tidak dengan Lidya,dia terlihat marah karena Aditama masuk keruangan itu disaat Dia ingin mengikat hati Abi Yosep dengan rayuan mautnya.


" Kenapa kamu tidak mengetuk pintu dulu di saat mau masuk ruangan ini!!"


" Aku ini bos sayang! kamu ini apa-apaan diruangan ini hanya berdua saja dengan lelaki lain, kamu itu istriku aku yang memimpin di sini dan aku yang bisa menentukan siapa sebenarnya yang bisa kerjasama dengan kita." Ucap Aditama.


" Kalau kamu masih menginginkan pak Yovi itu menjalankan kerjasama dengan kita lebih baik aku yang ngurusnya."


" Tidak usah! aku saja yang mengurusnya!" ucap Lidya.


" Sayang! kamu itu Istriku, kamu harus mengurus aku, layanin Aku, bukan untuk mengurus kantor dan lagi Dia baru saja kita kenal, kita juga tidak tahu perusahaannya kaya gimana, masa ada perusahaan namanya maju mundur, kamu harus berpikir jernih sayang, dan kita harus mencari kebenarannya dulu." Terang Aditama.


" Maksud anda Apakah anda meragukan perusahaan saya? kalau anda ragu dengan keberadaan perusahaan saya, silahkan anda cari sendiri perusahaan saya di kota sebelah yang atas nama maju mundur grup."


" Maaf ya pak Yovi, dia ini memang sangat keterlaluan!! dia menjadi pemimpin juga tidak becus di kantor ini !!sebentar lagi juga aku dan dia mau berpisah!!"


" Sayang apa-apaan kamu ini!aku ini suami kamu! Aku rela meninggalkan semuanya hanya untuk kamu, tapi nyatanya hanya demi orang ini kamu mengatakan seperti itu!"


" Jaga mulutmu Aditama!! kamu juga sudah keterlaluan dengan ku!!karena kamu sudah menyakiti aku, kamu juga tergoda kan dengan istri pertama kamu tadi pagi! Kamu sudah menyakiti perasaan ku!!" Ucap keras Lidya.


" Lidya sayang, itu adalah urusan rumah tangga kita, kenapa kamu berbicara di depan orang yang baru kita kenal itu,Jaga bicaramu sayang, di tambah dia adalah klient kita yang akan menjalankan kerjasama dengan kita,kamu harus sopan."


" Apa maksud anda pak Aditama, saya datang kesini bukan untuk menyaksikan pertengkaran kalian berdua, saya datang kesini hanya ingin kerja sama antara perusahaan saya dengan perusahaan anda pak Aditama, tapi sayang ternyata perkataan para pemilik perusahaan yang lain itu semuanya tidak benar,tentang kejujuran dan kebaikan pimpinan perusahaan ini,ternyata berbanding terbalik,dan satu lagi pak Aditama, tolong jaga istri anda jangan pernah menyuruh laki-laki lain untuk meninggal kan istrinya dan menawarkan dirinya untuk menikahinya." Ucap Abi Yosep kemudian melangkah kearah meja dan mengambil tas dan kemudian meninggalkan mereka berdua yang ada didalam ruangan rapat tersebut.


Aditama terkejut, dengan ucapan Abi Yosep dan dia langsung menatap kearah Lidya, Lidya hanya terdiam.


" Apakah benar yang diucapkannya itu?"


" Kalau iya kenapa?"


" Sayang,dia itu baru kita kenal, apalagi aku juga tidak kenal dengan dia, dia begitu saja datang ke perusahaan ini, setelah dia melihat kamu tatapan dia berubah seakan-akan ingin menginginkan kamu, Apakah kamu ingin meninggalkanku Lidya?"


" Aku tidak ingin meninggalkan kamu!! tapi karena ulahmu sendiri yang membuat aku ingin pergi darimu!!


" Maksud kamu perbuatan apa yang telah membuat aku sangat menyakitkan kamu."


" Kamu ingat, Bagaimana sikap kamu dengan Nayra tadi pagi hah!! Aku tidak suka!!" Ucap Lidya yang masih terdengar oleh Abi Yosep yang belum begitu jauh beranjak dari ruangan itu, Abi Yosep tersenyum penuh kemenangan dan kemudian melangkah keluar ruangan dia melihat tatapan dari karyawan kantor tersebut yang menatap ke arahnya dengan tatapan heran, tapi dia tetap melangkah menuju ke arah luar,tapi dia tidak menghiraukan tatapan tersebut sampai akhirnya dia sudah berada diluar dan dia pun menemukan taksi yang kebetulan lewat di depan kantor Aditama, dia pun memberhentikan taksi itu langsung memasuki taksi tersebut,dia menuju ke arah penginapan,tapi sebelum dia menuju ke arah penginapan dia langsung menghubungi Papa Andre.


" Assalamualaikum Ndre."


" Waalaikumsalam Yos."


" Di mana kamu Ndre sekarang?"


" Aku masih di penginapan."


" Ya udah,tunggu aku ya,kita sama-sama ke tempat Nayra."


" Kamu sudah selesai?"


" Sudah, nanti aku akan ceritakan semuanya." ucap Abi Yosep tersenyum, kemudian dia mengatakan kepada sopir taksi alamat yang akan ditujunya, yaitu menuju ke arah penginapan.


Di kantor Aditama...


" Mulai sekarang aku ingin sendiri silakan kamu urus kehidupan kamu sendiri lebih baik aku pulang ke rumah!" ucap Lidya kemudian meninggalkan Aditama yang hanya bisa mengusap wajahnya sambil menghempaskan tubuhnya di kursi yang ada di ruangan tersebut.


" Ini semua gara-gara laki-laki itu, kenapa dia datang ke sini sih!!Aku curiga dengannya jangan-jangan dia dan Lidya mempunyai hubungan khusus di belakangku, tidak mungkin Lidya langsung menyukai dia dan sangat menginginkan dia,dan dia sengaja lagi untuk menawarkan kerjasama dengan perusahaan ini sungguh keterlaluan." ucapnya dengan kesal seraya meremas rambutnya dengan kasar.


Di rumah kediaman keluarga Aditama, sebuah mobil taksi yang berhenti di depan rumah tersebut mengundang tanya bagi keluarga Aditama yang kebetulan bersantai diteras depan rumahnya mata mereka semua menatap kearah taksi tersebut.


Setelah mereka berdua membayar saksi yang mereka tumpangi itu,mereka berdua turun dan melangkah masuk kehalaman rumah tersebut, kebetulan waktu pernikahan Nayra bersama dengan Aditama Papa Bobby dan Ayah Chandra tidak berada dilokasi acara, melainkan mereka berdua berada dikantor masing-masing karena ada urusan yang tidak bisa ditinggalkan mereka, sehingga mereka tidak bertemu dengan keluarganya Aditama.


Keluarga Aditama tidak mengenali papah Boby dan Ayah Candra, tapi berbeda dengan Aditama yang memang sudah mengenali papah Boby dan Ayah Chandra, Mereka pun kemudian berjalan menuju pintu utama rumah tersebut, terlihat di terasnya beberapa orang sedang duduk bersantai.


Mereka pun terkejut melihat dua orang lelaki yang berpakaian perlente berjalan menuju ke arah mereka, mereka semua pun berdiri.


" Iya..selamat pagi,maaf bapak-bapak ini dari mana ya?"


" Boleh kami duduk dulu bu?"


" Oh, boleh."


Setelah dipersilahkan duduk dilantai ubin keramik yang ada diteras tersebut kemudian papah Boby pun langsung mengutarakan kedatangan mereka.


" Begini ibu, perkenalkan dulu ya ibu, saya pak Bola dan ini teman saya bernama pak Adra,kami dari perusahaan Maju Mundur Group."


" Perusahaan Maju Mundur Group? dari mana ya itu?"


" Kami dari kota sebelah, Kami mau mencari, seorang anak kecil yang ingin kami beri bantuan ibu."


" Oh gitu ya dari kota sebelah?"


" Apakah di keluarga ibu sekalian ada yang mempunyai anak, cucu ataupun adik, yang masih kecil.?" Tanya Ayah Candra.


" Maksudnya kecil ini gimana?"


" Yah kecil itu misalkan nggak ada orang tua atau tidak diurus gitu bu."


" Terus buat apa kalau ada?"


" Kami akan memberikan bantuan uang bu, karena perusahaan kami mengeluarkan dana bantuan buat yang membutuhkan terutama anak-anak kecil." Ucap Papah Boby


" Bantuan? Sebesar apa?"


" Sebesar lima ratus juta bu."


" Apa? Lima ratus juta? Uang semua ya itu?"


" Bukan bu, tapi daun bu, maaf ya bu, bercanda,iya bu uang semua."


" Ah bapak bisa aja."


" Kalau soal uang lancar nih orang bicanya!!" Batin Papah Boby tersenyum.


" kami ada kok pak, seorang bayi laki-laki bernama Alvaro."


" Anak siapa bu? Cucu atau adik ibu?" Tanya papah Boby


" Dia keponakan saya pak Bola."


" Bisa dibawa kesini bu anaknya,biar kami lihat dulu beserta datanya kalau ada bisa kami catat datanya sekalian."


" Oh, bisa pak Bola,sebentar ya pak Bola,saya ambil dulu anaknya."


Papah Boby dan Ayah Candra saling pandang,dan kemudian mereka tersenyum dengan anggota keluarga yang lain kebetulan berada diteras itu.


Beberapa saat kemudian salah satu keluarga tersebut membawa seorang anak kecil yang berkisar kita-kira berumur beberapa bulan tapi sudah bisa duduk.


" Apakah ini anaknya Nayra?" Batin Papah Boby seraya menatap Ayah Candra.


Rupanya Ayah Candra punya pikiran yang sama dengan papah Boby.


" Ini pak Anaknya."


" Apakah ibunya masih ada bu? Atau Ayahnya juga masih ada?"


" Ibunya sudah lama meninggal dan Ayahnya sudah kawin lagi, rencananya kami mau titipkan kepanti asuhan pak Bola, karena tidak sanggup kami mengurusnya karena kebutuhan dia ini sangatlah banyak."


" Kurang ajar nih tante,mau nitipkan ponakan kami dipanti asuhan,dan lagi bilang kalau Nayra sudah meninggal,kampret juga kecebong sawah!! Awas ya nanti!! Tunggu pembalasan ku !!" Ucap Papah Boby sembari tersenyum karena didalam hatinya menahan amarah yang tinggi.


" Baik ibu saya catat dulu ya datanya, nama ibu,bapaknya siapa ya bu?"


" Nama ibunya Nayra putri meda wibawa,ayahnya bernama Aditama putra."


" Apa bu? Aditamak putra?" Tanya papah Boby


" Bukan pak, bukan pakai K tapi nggak ada akhiran K nya, adik saya bukan Aditamak pak, tapi Aditama aja." Ucapnya tersenyum.


" Maaf ibu, saya tadi kurang jelas ibu menyebutkannya."


" Emang tamak, dibilangnya nggak tamak,sudah tamak jahat lagi si cacing kermi itu!!" Batin Papah Boby seraya mencatat data si anak, biar terlihat menyakinkan sekali.


" Kalau sudah cair bagaimana kami mengetahuinya pak?"


" Kalau soal uang hidup tuh mata!!" Batin papah Boby mulai emosi yang tidak bisa diluahkannya,karena mereka harus menjebak keluarga Aditama dengan siasat mereka, karena Ayah Candra sudah melihat gelagat Papah Boby yang mulai emosi yang tertahan, Ayah Candra hanya bisa menenangkan papah Boby dengan sentuhan tangannya kepundak Papah Boby dan papah boby pun mengerti,untung saja keluarga Aditama tidak mengetahui gelagat dari kedua orang lelaki yang ada dihadapannya itu,karena mata mereka dan pikiran mereka sudah dihantui oleh bantuan uang sebesar lima ratus juta tersebut.


Papah Boby tersenyum,pada keluarga Aditama.


" Kalau ibu dan keluarga mewakili pemberian bantuan dari perusahaan kami ini,bisa saja, karena si Alvaro tidak bisa menerimanya, Karena dia masih kecil, syaratnya karena baby Alvaro masoh kecil dan tidak mengetahui soal uang jadi penerimaan bantuan ini harus di depan rumah asal kelahiran Alvaro." Terang Papah Boby.


" Tapi Alvaro lahir di rumah sakit pak Bola."


" Iya Ibu dia lahir memang di rumah sakit, tapi kita tidak mungkin memberikan bantuan di depan rumah sakit, otomatis Alvaro keluar dari rumah sakit pasti dibawa ke rumah pribadinya, jadi penerimaan bantuan harus di depan rumah pribadinya Alvaro, saat bersama dengan kedua orangtuanya."


" Tetapi tidak mungkin kami membawanya ke rumah tersebut."


" Kenapa tidak mungkin?"


" Karena orang tuanya sudah tidak ada berada di sana."


" Tidak papa Ibu, kita bisa di depan rumah tersebut, dan kami hanya ingin minta pembuktian Kalau kami sudah menyerahkan uang tersebut, kepada keluarga ibu dan harus di depan rumah pribadi kedua orang tuanya."


Keluarga Aditama pun saling pandang, kemudian mereka tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


" Baiklah Bapak kami setuju, Kapan pemberian uang tersebut?"


" Jam tiga sore hari ini Bu, kami akan berangkat ke sana kalau ibu sudah memberikan Alamatnya."


" Baiklah pak, kami akan memberikan alamat rumah itu."


Kemudian tantenya Alvaro menuliskan alamat tersebut dan memberikannya pada papah Boby.


" Terimakasih ya bu,kalau begitu kami permisi dulu, jam tiga sore ibu bisa datang langsung kesana kami akan berangkat juga kesana." Ucap papah Boby.


" Oh iya pak terima kasih." ucapnya kemudian papah Boby dan ayah Chandra pun berpamitan pada mereka, papah Boby dan Ayah Candra melangkah meninggalkan mereka semua yang ada di teras tersebut.


" Dasar keluarga gila duit dan harta, tidak berpikir panjang,apakah kita ini memang benar mau memberikan uang secara cuma-cuma dalam jumlah besar lagi,dasar bodoh!"


" Benar katamu Bob, padahal kita akan kumpulkan mereka disana dan kita akan mengadili mereka hahaha."


Mereka berdua tertawa dan memberhentikan taksi dan mereka pun masuk kedalam taksi tersebut dan langsung menuju kearah penginapan.