THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP

THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP
BAB 131



Saat mereka haus akan kemolekan dan kecantikan wajah Arvin, kemudian terdengar tendangan di pintu rumah tersebut, Feri yang ada di depan mereka langsung mengacungkan senjata ke arah mereka.


" Angkat tangan, kalian sudah dikepung."


Mereka pun mengangkat tangan dan semua berjongkok Di bawah dengan sikap beberapa anak buah Fery yang dihunginya sebelum penggerebekkan itu langsung menangkap mereka berlima.


Mereka pun mendudukkannya di lantai ubin keramik yang ada di rumah tersebut.


" Lega juga akhirnya bebas juga aku dari setan-setan yang ada." ucap Arvin melepas rambut palsunya, dan melepas bantuan payudara palsu nya juga, mereka berlima terkejut melihat Arvin ternyata adalah seorang laki-laki.


Clarissa tersenyum, kemudian Dia mendekati abang penjahat itu dan langsung menarik rambutnya tersebut dan tidak di hindarkan lagi kepalanya mendongak ke atas dan dengan emosinya yang memuncak, Clarissa memberikan bogem mentah kepada abang yang ditugaskan oleh Danis menjaga Marko.


" Aduh sakit.!" Teriaknya.


Darah mengucur dari hidung dan dari mulutnya abang penjahat tersebut.


Papah Bobby tersentak melihat anaknya yang langsung memberikan bogem mentah kepada tersangka, kemudian Clarissa menanyakan pada mereka.


" Mana kunci kamarnya." Tanya Clarissa kepada mereka.


" Di atas meja dekat telepon." ucapnya.


Kemudian Clarisa bersama Morgan langsung mengambil kunci kamar itu ia membuka kamar tersebut dan di saat dibuka kuncinya dia melihat Marco yang terikat tangannya berdiri dengan tanpa pakaian hanya telanjang dada saja, tidak terasa air mata Clarissa menetes.


" Kak Marco.." Teriak Morgan.


" Papah.!" Teriaknya memanggil Papa Boby, Papa Bobby, Papa Andre, dan Ayah Candra serta Abi Yosep langsung berlari kearah kamar tersebut.


" Astaghfirullahaladzim Ya Allah menantuku, kenapa seperti ini." ucap papah Bobby.


Kemudian Morgan langsung menarik meja yang ada tidak jauh dari ranjang tidur yang ada di samping Marco, dia berdiri langsung melepaskan tali yang mengikat tangan Marco saat tali dilepas Marco langsung ke bawah langsung saja Papa Bobby menangkap tubuh Marco yang tidak berdaya sama sekali.


" Marco! Marco bangun," ucap papah Boby.


" Marco ini aku Clarissa, Marco bangun." Ucap Clarissa.


" Sepertinya Marco perlu kita bawa ke rumah sakit segera" ucap papah Andre,di anggukan oleh Clarissa dan yang lainnya.


kemudian Marco dibawa oleh Morgan dan Abiyasa ke dalam mobil dan dibawa ke rumah sakit terdekat yang ada di kota tersebut.


Kemudian kelima orang itu dibawa ke mobil patroli. Mereka dibawa ke kantor polisi, kemudian rumah tersebut diberi garis polisi,Danis yang tidak mengetahui kalau kesembilan anak buahnya sudah tertangkap polisi dia bermaksud ingin mengunjungi rumah tersebut dan ingin melihat keadaan Marco saat dia mau keluar dari rumahnya ternyata beberapa orang polisi sudah mengintai rumahnya tersebut. Dengan sigap mereka Langsung mengacungkan senjata ke arah Danis yang saat itu mau keluar dari rumahnya, dan ingin memasuki mobilnya Danis tidak bisa berbuat apa-apa lagi dia langsung mengangkat kedua tangannya dan dia hanya pasrah saat beberapa orang polisi memborgol tangannya dan membawanya ke kantor polisi, sedangkan istri dan anaknya hanya bisa menangis melihat suami dan papa mereka dibawa oleh pihak yang berwajib.


Sesampainya di rumah sakit Marco dibawa ke ruang UGD sesuai prosedur yang berlaku di rumah sakit mereka hanya bisa menunggu di luar, beberapa menit kemudian Marco diperiksa oleh dokter ditangani dengan ahlinya mereka menunggu hampir satu jam di luar.


Kemudian dokter keluar dari ruangan dan menjelaskan kepada mereka tentang keadaan Marco Marco masih di observasi di dalam ruang UGD Clarissa diperbolehkan masuk untuk menjenguk, untuk melihat Marco sedangkan yang lain hanya menunggu di luar.


Clarissa tidak kuasa melihat keadaan calon suaminya yang penuh dengan luka luka di wajah dan tubuhnya. Sedangkan Marco masih tidak sadarkan diri dalam keadaan lemah setelah kedua infus dipasang kiri dan kanan karena Marco kekurangan nutrisi, perutnya tidak terisi dengan makanan.


" Ayo Bi,antara aku mau ganti pakaian dan menghapus make up ini." Rengeknya pada Abiyasa.


Abiyasa malah terkekeh melihat Arvin.


" Ternyata Vin, kamu cantik juga ya, Morgan Ada gak kamu abadikan fhoto Arvin, saat berpakaian seperti itu." Ucap Abiyasa pada Morgan.


" Memang mau kamu apa kan.?" Tanya Arvin.


" Mau aku kirim ke Nadine." Ucap Abiyasa terkekeh.


" Wah jahat kalian, jadi sahabat masa mau mengirim temannya dengan gaya seperti ini pada kekasih ku, tapi aku kesel banget jadi seorang wanita." Ucapnya tersenyum.


" Memangnya kenapa?"


" Semua laki-laki penjahat itu jelalatan, melihat diriku." Ucap Arvin tertawa pelan.


Mereka pun akhirnya tertawa pelan karena mereka tidak berani untuk tertawa lepas karena mereka berada di ruang UGD orang tuanya hanya bisa tersenyum.


" Kamu gimana sih Ndra, waktu buatnya,sampai di dandani cewek gini malah mirip banget aslinya dari pada yang asli." Ucap papah Andre terkeleh


" Maunya laki-laki apa perempuan." Sambung Papah Boby.


" Aku sih maunya laki-laki emaknya kali yang mau perempuan,dalam pikiran kami saat itu." ucap Ayah Chandra terkekeh.


" Wah jahat Ayah, nggak bantuin anaknya malah nolongin mereka, Ayah berpihak dengan siapa sih, sama Arvin atau sama mereka." Ucap Arvin tersenyum pada sang Ayah.


" Ya sama semuanya." ucapnya tersenyum.


" Sudahlah, kasihan Arvin, Morgan tolong bawa Arvin untuk ganti pakaian dan membersihkan wajahnya, lama-lama kalau lihat wajah Arvin seperti itu lama-lama Aku naksir juga." ucap om Boby terkekeh.


" Ih, amit-amit!" ucap Arvin Seraya berdiri,mereka berdua kemudian berjalan menuju ke arah mobil mereka dan sesaat kemudian mereka meninggalkan halaman rumah sakit menuju ke tempat salon kecantikan yang mempermak wajah Arvin.


" Aku tidak menyangka Marco sampai seperti itu, disiksa sama mereka." Ucap Abi Yosep.


" Iya, aku juga tidak menyangka calon menantu ku dijadikan seperti itu."


" Itulah orang jujur,orang jujur selalu saja dimusuhi dengan orang yang tidak benar." sambung Papa Andre.


" Mudah-mudahan dia cepat sadar dan pulih kembali " ucap papah Andre lagi, mereka pun sama-sama mengucapkan kata Amin.


" Kita lihat dari dokternya nanti kita tanyakan apakah dia bisa dibawa pulang setelah dia sadar nanti, kalau dia memang bisa dibawa pulang kita bawa pulang aja langsung ke rumah, kita rawat di rumah." Ucap papah Boby.


" Tapi jangan bilang dulu sama kedua orang tuanya, takutnya kalau mereka terkejut dengan keadaan mereka seperti ini." sambung Papah Andre lagi.


" Nanti kita tanyakan dengan Morgan gimana solusinya apakah kedua orang tuanya harus kita beri tahu atau tidak, karena bagaimanapun mereka harus mengetahui Ini semua karena Marco adalah anak tertua dari mereka." Sambung Ayah Candra. Dianggukkan mereka semua.