
" Selamat-selamat " ucap Ayah Candra seraya mengurut dadanya.
" Makanya jangan asal keluar aja, kamarnya David disano noh hahaha!nomer 06 bukan 09 pak Candra." Ucap Papah Boby seraya merangkul Ayah Candra dan melangkah menuju kearah kamar Mamah Melisa dan papah David.
Kemudian Papah Andre mengetuk kamar tersebut, tidak berapa lama kemudian Mamah Melisa membuka pintu kamar itu.
" Kak Andre?"
" Boleh kakak masuk?"
" Boleh kak..."
Mereka berempat pun langsung memasuki kamar penginapan Mamah Melisa dan Papah David.
" Ada apa kak?"
" Mel, coba kamu hubungi suaminya Nayra."
" Buat apa kak,Mel sudah malas Kak dengannya."
" Mel,kami ingin melihat Reaksinya bagaimana saat kamu menghubunginya."
" Iya Mel,karena kami sudah ada rencana buat membikin dia telur dadar.ucap Papah Boby lagi.
" Huss!! Telur dadar enak dimaem, kalau dia enaknya di bikin seblak!" Sambung Abi Yosep terkekeh.
" Udah ntar ada yang protes lagi, terlalu banyak bercandanya,kitakan mau menyelesaikan masalah Nayra." Ujar Ayah Candra terkekeh.
" Yang protes libas aja!!,nggak tahu ya kalau sabun colek menyelesaikan masalah itu banyak bercandanya hahahah." Ucap papah Boby lagi seraya tertawa lepas.
Mereka hanya terkekeh.
" Baiklah kak,Mel akan menghubunginya."
" Tapi ingat Mel, jangan bilang kalau kita ada disini." Lanjut Abi Yosep.
" Iya kak." Ucap Mamah Melisa tersenyum sambil mengambil gawainya dan mencari nomer menantunya itu.
Panggilannya tersambung, tapi sayang belum dijawab juga dengan menantunya itu.
Dikantor Aditama...
Suara gawainya berdering yang berada diatas meja kerjanya, namun dia hanya menatap kearah meja tersebut dan tidak menghiraukan panggilan itu.
" Sayang kenapa nggak dijawab panggilan itu." Ucap Lidya.
" Nggak usah sayang, palingan aja itu orang iseng." Ucapnya.
Di penginapan...
" Nggak dijawabnya kak..."
" Memang benar-benar itu anak,belagu banget !!" Ucap papah Boby.
" Mel coba lagi ya..."
Mereka mengangguk.
Mamah Melisa mengulang panggilannya lagi.
Akhirnya dengan sangat terpaksa Aditama berdiri dan melangkah menuju kearah meja kerjanya dan dia terkejut melihat beberapa panggilan dari mertuanya mamah Nayra.
" Ada apa orang tua ini menghubungiku." Batinnya seraya menatap kelayar gawainya.
Lidya yang merasa heran melihat suaminya itu langsung berdiri dan mendekati kearah Aditama.
" Ada apa sayang? Kenapa kamu sepertinya kaget baget, memangnya siapa yang menghubungimu?"
" Mamahnya Nayra."
" Kenapa nggak dijawab?"
" Biarkan saja! Malas Aku menjawabnya ujung-ujungnya menanyain keadaan Nayra, Anaknya itu tidak kenapa-napa, dia masih bisa makan dan bisa beraktifitas seperti ibu yang lainnya walaupun hanya di dalam rumah." Ucapnya enteng seraya membawa gawainya dan menarik pelan tangan Lidya kembali lagi duduk disofa ruangannya.
Gawai Aditama pun berbunyi kembali.
" Udah sayang jawab aja,kalau kamu tidak menjawabnya sama aja membuat keluarga Nayra itu penasaran dan tiba-tiba ada di sini gimana coba? Jadinya kamu nantinya yang gelabakan sendiri." Ucap Lidya seraya menatap Aditama lekat
Mendengar perkataan dari Lidya Aditama langsung menjawab panggilan dari mertuanya tersebut.
Dengan nada malasnya Dia pun langsung menjawab panggilan itu.
" Ya hallo ada apa Mah?" Ucapnya.
" Assalamualaikum nak.." ucap Mamah Melisa.
" Ya Mah,langsung aja ada apa Mah, Adit lagi sibuk Mah, makanya mamah ada perlu apa?" Jawabnya tanpa membalas salam dari sang Mertua.
" Oh, sibuk ya?"
" Iya! Ada apa sih mah,sudah tahu anak menantunya lagi sibuk Mamah mengganggu aja."
" Oh iya maaf nak! Mama mengganggu kamu, Mama cuma mau bertanya, Bagaimana keadaan Nayra?"
" Mama sudah tahu mengganggu Adit masih aja bilang mengganggu, Ya jelas-jelas memang Mamah mengganggu Adit yang sedang bekerja, semua ini Adit lakukan hanya untuk membahagiakan Nayra, Mama tahukan Nayra baik-baik aja."
" Tapi kalau dia baik-baik aja Kenapa kamu tidak pernah menghubungi anak kamu yang bersama dengan Mama"
" Tidak ada kesempatan Mah, kalau Mama cuma ingin menanyakan soal Nayra,lebih baik nanti aja Mah, karena ini Adit mau bertemu dengan client lagi, tolong pahami Adit Mah, karena Aditama banyak kerjaan akhir-akhir ini semua ini Adit lakukan untuk keluarga Adit."
* Ya sudah kalau seperti itu apa boleh Mama berkunjung ke rumah kamu ?"
Aditama langsung terkejut mendengar ucapan dari Mamah mertuanya tersebut.
"Oh gini mah, karena akhir-akhir ini kebanyakan kerjaan jadi lebih baik Mama nggak usah aja ke sini nanti kalau ada waktu luang atau waktu libur kami akan pulang ke sana bersama dengan Nayra dan menjenguk anak kami, Ya udah ya Mah kalau seperti itu Adit mau menemui Client nih udah lama mereka menunggu karena Mamah menghubungi Adit jadi tertunda."
Sebelum dijawab oleh Mama Melisa pembicaraan mereka pun langsung diputus secara sepihak.
" Menantu kurang ajar ini, mertuanya belum selesai bicara dia main mati aja gawainya." ucap papah David merasa jengkel.
Mamah Melisa hanya mengangkat kedua bahunya dan mengekspresikan wajahnya seakan-akan dia memang sudah tidak ingin sebenarnya menghubungi Aditama tersebut.
" Memang keterlaluan anak ini perlu dikasih pelajaran dia!" ucap papa Boby lagi.
" Ya sudah enggak apa-apa yang penting kita sudah mengetahui kalau dia mengatakan seperti itu, terdengar dia merasa terkejut mendengar mertuanya mau berkunjung ke rumahnya." Lanjut papah Andre.
" Seharusnya kamu tidak boleh berbicara seperti itu dengan mertua mu, biar bagaimanapun dia tetap masih mertuamu yang sah, karena kamu belum menceraikan anaknya, apalagi kamu berbicara seperti itu dengan melarangnya untuk bertemu dengan anaknya sendiri, Bisa saja dia merasa curiga, Ada apa dan bagaimana keadaan anaknya di sini, kamu jangan memancing di air yang keruh sayang." ucap Lidya sembari mengusap pundak suaminya itu.
" Biarkan saja aku memang sudah nggak mau berurusan dengan mereka,ujung-ujungnya mereka nanti pasti akan menyalahkan aku juga, sampai aku berbuat seperti ini dan menikahi kamu, kalau mereka mengetahui ini semua Kamu akan dipisahkan dari ku, aku tidak mau itu terjadi, lebih baik aku berpisah dengan Nayra daripada berpisah denganmu." ucap Aditama seraya tersenyum manis sembari meraba pipi Lidya dengan kedua tangannya tersebut, Lidya yang mendengar ucapan dari Aditama pun merasa tersanjung dan merasa bahagia hatinya penuh berbunga-bunga, padahal dia tidak tahu akan rencana Aditama yang akan meninggalkannya suatu saat nanti.
Kemudian gawai Aditama pun berdering kembali,karena dia merasa jengkel dengan deringan nada dari gawainya itu, Dia mengira kalau panggilan itu adalah panggilan kembali dari mertuanya, Dia pun langsung mengambil gawai tersebut dan menjawab panggilan itu, tanpa melihat siapa pemanggilnya.
" Sudah saya katakan! Saya lagi sibuk! Mama tidak perlu menghubungi saya lagi! nanti saya yang akan menghubungi Mama! harusnya mama mengerti bahwa saya sibuk! Semua ini ingin membahagiakan anakmu! bukan untuk bersenang-senang! seharusnya mama yang paham dong jangan menghubungi terus Mah!!" Ucapnya setengah berteriak.
" Hallo!!Aditama Ada apa ini! ini Papah yang menghubungimu, Kenapa kamu marah-marah seperti itu ?"
Sontak saja Aditama terkejut!
" Ya ampun! Papa?! maafkan Aditama pah, Adit tidak sengaja pah berbicara seperti itu sama papah, maafkan Adit ya pah." Ucap Aditama seraya mengusap wajahnya.
" Siapa yang baru saja menghubungi kamu? sehingga kamu begitu marahnya? siapa yang kamu bilang mama itu?"
" Oh.... itu.... anu....pah, ini pah ...."
" Ada apa Aditama ?Kenapa kamu begitu gugup menjawab pertanyaanku " ucap mertuanya Aditama orang tua laki-laki Lidya.
" Enggak apa-apa pah,cuma tadi ada yang menghubungi adit, mantan mertua, katanya dia mau bertemu dengan mantan istri Adit yang dulu,Tapi sayangnya setelah bercerai dengan Adit, mantan istri adit itu tidak pernah menghubungi orang tuanya pah, orang tuanya tidak tahu kalau anaknya bercerai dengan Adit pah, makanya Adit bicara seperti itu biar mereka mengira anaknya masih bersama Adit, kalau adit bicara jujur,pastinya akan membunuh secara langsung mamahnya mantan istri Adit pah, karena mantan ibu mertua Adit itu sakit jantung pah." Ucap Aditama menyakinkan mertuanya tersebut.
" Oh begitu,tapi seharusnya kamu bicara aja sama mereka kalau kamu sudah menceraikan anaknya gak usah kamu tutup-tutupi lagi dengan mengatakan Kamu bekerja dengan keras hanya untuk membahagiakan anaknya,Apa kamu sudah gila! kalau seandainya kedua orang tuanya mantan istrimu itu datang kerumah kamu sekarang ini menemui kamu, kamu bisa celaka, Aku tidak ingin anakku nantinya yang disalahkan, asal kamu tahu itu, sekali kamu menyalahkan anakku sepeser harta pun tidak akan ada pernah untuk kamu!" ucapnya.
" Iya pah Adit tidak akan pernah menyakiti Lidya, Adit menyayanginya,Adit rela melepas istri Adit yang tidak pernah bisa membahagiakan Adit,dan sukanya berfoya-foya itu,Adit bertemu dengan Lidya bukan karena Lidya ini mempunyai kekayaan yang banyak ataupun mempunyai harta warisan yang berlimpah, tapi karena dia adalah wanita yang memang benar-benar menyayangi dan mencintai Adit, serta mengurus Adit dengan penuh kasih sayangnya, Adit jatuh hati dengannya disaat Dia memang memberikan perhatian penuh untuk Adit " ucapkan seraya menatap wajah Lidya yang ada duduk di sampingnya itu.
" Baguslah kalau seperti itu,Kamu memang menantu idaman yang didambakan oleh semua mertua di luar sana, papah merasa bersyukur mendapatkan menantu seperti kamu,Lidya pasti akan bahagia bila bersama dengan orang yang benar-benar terbaik untuknya."
" Oh ya pah, Ada apa sih Papah menelpon Aditama? Apakah ada keperluan tentang perusahaan?"
" Tidak ada Aditama, papa cuma ingin menanyakankeadaan kantor saja, kamu tidak membatalkan bertemu dengan client ataupun kamu tidak membatalkan untuk kerjasama dengan perusahaan yang lain, seperti yang pernah kamu lakukan beberapa hari yang lalu."
Aditama menatap kearah Lidya, dia memang telah menunda tapi tidak membatalkan dan tidak ingin bertemu dengan siapa saja, karena dia ingin bersama dengan Lidya di ruangannya itu.
" Tidak pah! semua urusannya sudah selesai tentang kerjasama kita sudah ditandatangani semua oleh perusahaan yang lain dan Adit juga sudah bertemu dengan beberapa Client yang sudah memang ingin bertemu dengan perusahaan kita,Papa Tenang saja perusahaan kita pasti akan maju di tangan Aditama."
" Baguslah kalau seperti itu, kalau memang kamu bisa menangani perusahaan yang kamu tempati sekarang ini mungkin kamu nanti akan saya jadikan derektur utama di perusahaan utamanya." Ucap mertua Aditama.
Aditama merasa bahagia mendengar ucapan dari mertuanya itu.
" Ternyata mertuaku ini bisa masuk dalam perangkap aku juga." batinnya sembari tersenyum yang hanya dia sendiri yang tahu artinya.
Setelah mereka berdua menyudahi pembicaranya melalui gawai pribadi, pembicaraan itu pun terputus,oleh kedua belah pihak.
Aditama meletakkan gawainya di atas meja yang ada di ruangannya tersebut, Dia kemudian langsung merangkul Lidya, begitu pula dengan Lidya dengan manjanya bergelayut mesra di pinggang Aditama yang sama-sama duduk di sofa.
" Aku sangat bahagia bisa bertemu denganmu, karena aku merasakan sempurna sebagai seorang suami dan seorang menantu." ucap Aditama seraya mencium sekilas pucuk kepala Lidya.
Lidya mengeratkan pelukannya dengan senyuman manisnya.
" Akhirnya apa yang akan kuimpikan menjadi kenyataan, sebentar lagi aku akan memimpin perusahaan yang terbesar setelah ini aku akan memulihkan kepercayaan mertuaku kepadaku" ucap batinnya.
Orang tua Lidya tidak mengetahui kalau Aditama masih menjadi suami sahnya Nayra dan orang tua Lidya juga tidak mengetahui kalau Nayra itu adalah keponakannya pemilik perusahaan terbesar di dalam dan di luar negeri.
Orang tua Lidya hanya mengetahui Aditama sudah bercerai dengan istrinya terdahulu, dengan cerita dari Aditama kalau istri pertamanya itu tidak bisa dikatakan sebagai seorang istri, hanya bisanya berfoya-foya semua uang yang diberikan kepada istrinya dihabiskannya begitu saja, sedangkan Aditama bekerja keras hanya untuk memenuhi kehidupan agar istrinya merasa nyaman bersama dengannya.
Tapi sayangnya begitu saja percaya kedua orang tua Lidya kepada Aditama, karena orangtua Lidya sangat menyayangi Lidya, karena Lidya adalah anak semata wayang mereka dan yang sangat disayangi oleh mereka dia pun tidak mau mencari tahu kebenaran apa yang dikatakan oleh Aditama,yang hanya dia tahu Aditama adalah orang yang jujur orang yang baik hati dan seorang pria yang sangat penyayang dan sangat menghargai seorang wanita, itulah menjadikan mertuanya sangat menyayangi Aditama dan memberikan kepercayaan untuk menjalankan perusahaan anak cabang dari perusahaan utama yang dipimpin oleh orangtua Lydia tersebut.
Sewaktu Aditama ditanya Apakah Aditama mempunyai anak dari istrinya terdahulu Aditama menjawab dengan tegasnya tidak mempunyai anak karena istrinya pertama itu tidak mau mempunyai seorang anak.
Orang tua Lidya lagi-lagi percaya dengan perkataan Aditama, ditambah lagi keterangan dari pihak keluarga Aditama bahwa memang Aditama tertekan menikah dengan istri pertamanya itu.
Setelah mengatakan sudah menceraikan istri pertamanya itu, langsung saja Dia menikahi Lidya, padahal Aditama Belum sama sekali menceraikan istrinya, bahkan istrinya pun hanya dikurung di dalam rumah walaupun diberi makan dan minum, dan masih bisa beraktifitas didalam rumah,tapi dia tidak boleh untuk keluar rumah.
Bahkan waktunya bersama dengan Aditama pun bisa dihitung dengan jari hanya pagi dan sore saja Aditama datang menjenguk Nayra untuk memberikan makanan kepada Nayra, jika Aditama ingin tidur bersama istrinya tersebut dia mengatakan kepada mertuanya kalau dia ada perjalanan dinas keluar kota, begitu percayanya mertuanya pada Aditama mertuanya pun mengiyakan perjalanan dinas tersebut, padahal dia hanya menjenguk Nayra dan beberapa hari bersama dengan Nayra,lagi-lagi orang tuanya Lidiya tetap percaya sampai saat ini.
Karena sikap kedua orang tuanya Lidiya tidak ingin mencari tahu siapa sebenarnya menantunya itu, karena kedua orang tua Lidya sudah terlanjur percaya dengan omongan yang diberikan oleh Aditama ditambah lagi keterangan keluarganya itu sudah menjadi fakta kebenaran bagi keluarga Lydia, padahal Lidya mengetahui kalau suaminya itu masih suami sahnya Nayra, karena dia sangat mencintai Aditama makanya dia pun hanya menutup mulut, selagi dia tetap bahagia bersama Aditama dan begitu juga dengan Aditama yang sangat mencintai dan menyayanginya dengan sepenuh hatinya demi harta yang tidak didapatnya dari keluarga Nayra dan rela meninggalkan Nayra.
Sampai saat sekarang ini kedua orang tuanya Lidya pun belum mengetahui kebusukan dan kejahatan dari menantunya tersebut.
Dikota lain...
Setelah menyelesaikan pertemuan dengan pak Tomy,dan mendapatkan kesepakatan diantara mereka berdua dan berkas-berkas sudah ditandatangani.
Abiyasa dan Clarissa pun pulang dari tempat pertemuan itu,dan pak Tomy kembali kepenginapannya.
Karena besok pak Tomy dan Abiyasa berangkat kekota pak Tomy untuk meninjau perusahannya pak Tomy.
Didalam Mobil...
" Sepertinya ada yang tidak beres dengan pak Tomy,kamu liat nggak tadi kegelisahan diwajahnya."
" Iya sih aku lihat,tapi aku merasa ada yang disembunyikannya,tidak mungkinkan alasannya hanya sebatas dilanda kebangkrutan anak cabang dari perusahaannya itu."
" Iya juga sih, ya udah besok aku tetap ikut kamu lagi berangkat ketempat pak Tomy."
" Sip...!" Ucap Abiyasa terkekeh.
Mobil pun terus melaju kearah rumah Clarissa,selang beberapa menit mobil sudah sampai didepan rumah Clarissa dan dia langsung turun dari mobil Abiyasa,setelah mengucapkan terimakasih dan mengucapkan salam mobil Abiyasa pun langsung melaju kembali kerumah kediaman keluarga Wibawa.