THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP

THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP
BAB 294



Mereka semua menatap kearah bu Ema dengan tatapan penuh tanda tanya besar.


" Maaf pak, kata Amir kalian tinggallah dirumah ini terlebih dahulu dari pada kalian menginap dipenginapan, karena dari sini penginapan cukup jauh." Ucapnya mengalihkan pembicaraan.


" Iya ibu, kami sudah tahu, tapi tolong Bu, ibu jangan mengalihkan pembicaraan dan tolong jawab pertanyaan saya tadi " ucap kak Niko sembari menatap kearah Ibu Ema, ibu Ema pun menarik napasnya dengan pelan dan melepaskannya dengan berat.


" Katakanlah Bu, ini demi seseorang yang sedang mencari tahu keberadaan saudara kandungnya."


Ibu Ema pun langsung menatap kearah kak Nico, dia merasa terkejut lagi, setelah kak Nico mengucapkan kata itu.


" Maksud bapak apaan ya? saya jadi tidak mengerti, saya disini hanyalah seorang wanita biasa dan saya tidak tahu masalah yang telah kalian tanyakan dengan saya, saya memang sudah lama berada disini, tapi saya tidak tahu tentang masalah yang terjadi di rumah sakit Setia." ucapnya berdalih agar tidak ditanya lagi.


" Maaf ibu, sepertinya Ibu mengetahui banyak, tolonglah Ibu ceritakan, karena ini menyangkut kehidupan keponakan saya ini." ucap papah Boby.


" Iya Ibu, kalau Ibu tidak mengatakannya, saya akan mengatakan kalau Ibu adalah ibu kandungnya dari Amir." ucap kak Nico seraya mengancam Ibu Ema, agar Ibu Ema berkata jujur.


Ibu Ema pun langsung menatap lagi ke arah kak Nico dan lagi-lagi ibu Ema terkejut.


Kemudian kak Nico mengambil gawainya yang ada di atas meja dan Dia kemudian menghubungi nomor gawainya Amir, sambungan pun tersambung.


" Hallo.... Assalamualaikum, Ada apa Nico." Ucap Amir.


" Waalaikumsalam...Mir.." belum sempat Kak Nico berbicara lebih lanjut, Ibu Ema pun langsung berbicara.


" Baiklah saya akan mengatakan semuanya." Ucapnya


Kemudian sambungan gawai pun diputus secara sepihak oleh kak Nico.


" Ada apa dengan Nico menghubungiku, tapi aku dengar suara Ibu Ema berbicara dia akan mengatakan sesuatu, mengatakan soal apa?ada apa dengan mereka? apa yang terjadi?" gumam Amir berbicara sendiri seraya menatap layar gawainya.


Kemudian seorang dokter pun menemuinya dan menjelaskan padanya tentang sakit yang diderita oleh sang mama.


Pak dr itu meminta Amir memasuki ruangannya.


" Maaf Pak Amir, Apakah selama ini Bu Nellyana tidak mengatakan penyakit yang selama ini dideritanya dengan bapak?"


" Tidak Pak Dokter, selama ini mamah tidak pernah mengatakan atau pun mengeluhkan penyakitnya pada saya."


Dokter pun menganggukkan kepalanya, kemudian dokter pun menjelaskan semua penyakit yang diderita oleh Bu Nellyana Amir pun mendengarkan penjelasan dari Pak Dokter tersebut.


Dia kemudian terdiam dan menundukkan kepalanya.


" Ya Allah kenapa mamah tidak pernah mengatakan sakitnya selama ini padaku, aku adalah anak durhaka! Anak yang tidak pernah mengetahui rasa sakit yang Mama rasakan selama ini, Maafkan Amir mah, karena Amir tidak bisa menjaga Mama secara maksimal, Maafkan Amir!" ucapnya Seraya menundukkan kepalanya di meja dokter tersebut .


Amir kemudian mengangkat wajahnya dan dia hanya menganggukkan kepalanya.


" Terima kasih dok!" ucapnya dianggukka oleh dokter tersebut. Amir pun kemudian berdiri dan melangkah lemah seperti tidak ada semangat lagi setelah mendengar penjelasan dokter tentang penyakit sang Mama, dia pun kemudian melangkah menuju ke ruangan ICU di mana sama Mama dirawat sementara waktu, sebelum memasuki ruang rawat inap.


Di rumah Amir...


" Saya tidak akan menghubungi Amir kalau ibu berterus terang kepada kami, tolonglah kami Bu Kami mencari seseorang saudara kandungnya dari Amelia." ucap kak Nico sembari menatap kearah Ibu Ema, Ibu Ema pun kemudian membenarkan posisi duduknya serta menghela nafasnya dengan dalam, dia menunduk beberapa detik, mereka semua terdiam menunggu kisah dari ibu Ema.


" Kalau ibu mengetahui semuanya tolong katakan pada kami, biar kami bisa mencari siapa sebenarnya kakak kandungnya dari Amelia ini." Ucap kak Nico.


" Beberapa tahun yang lalu teman kami melahirkan di rumah sakit Setia seminggu teman kami dirawat di rumah sakit bertepatan dengan itu sahabat dari teman kami ini mengalami kecelakaan dan meninggal dunia sebelum dia meninggal Dia melahirkan seorang bayi perempuan, bayi perempuan itu adalah Amelia keponakan saya, suami dari teman saya itu adalah keluarga istri saya." terang Papa Bobby kemudian dia menghela nafasnya dengan dalam dia menatap kearah Ibu Ema berharap Ibu Ema dengan secepatnya mengatakan semuanya.


" Benar ibu, sebelum orang tua Amelia tepatnya sang Mama menitipkan kepada teman kami itu, salah satu dari saudara Amelia masih selamat dari kecelakaan itu yang kami cari adalah saudaranya itu, Apakah ibu mengetahuinya? kalau Ibu memang sedari gadis tinggal bersama dengan ibu Nellyana, Ibu pasti mengetahui cerita tersebut, berilah kami titik terangnya Bu, Apakah itu Ibu Nellyana yang dimaksud oleh almarhum orang tua angkat dari Amelia, adalah ibu Nellyana mamah Amir?" tanya papa Andre pada ibu Ema.


Ibu Ema masih menundukkan kepalanya


" Sebenarnya saya sangat berat untuk menceritakan semuanya ini." ucap Ibu Ema.


" Memang kenapa Bu, beratnya di mana sama ibu? bukankah ini tidak ada hubungannya dengan ibu? hubungannya ini ada dengan ibu Nellyana, Apa benar Ibu Nellyana itu bekerja di rumah sakit setia dan ibu pasti mengetahui semuanya." sambung kak Niko.


Terlihat Ibu Ema menganggukkan kepalanya.


" Sebelum saya menceritakan semuanya lebih baik kita bercerita di dalam saja, saya tidak enak bercerita di depan sini, lagi pula tidak logis kalau saya menerima tamu di depan teras ini." ucapnya sembari membenahi gelas minuman dan piring yang berisi kue dia kemudian membawanya masuk ke dalam, Mereka pun kemudian mengikuti langkah Bu Ema, lalu mereka kembali duduk di ruang tamu rumah tersebut.


Lagi-lagi Ibu Ema, menarik napasnya dengan berat.


" Begini Pak, Mbak, saya sebenarnya tidak menutupi semua cerita ini, saya ingin sekali mengatakannya, tapi saya masih berpikir kalau seandainya saya menceritakan semuanya kepada kalian, Saya takut Nellyana akan marah dengan saya dan saya tidak boleh lagi bertemu dengan Amir." Ucap Ibu Ema sedih.


" Apakah ibu pernah mengalaminya? Kalau ibu Nellyana tidak akan pernah membolehkan Ibu bertemu dengan Amir?" tanya kak Nico.


" Selama ini tidak."


" Tapi kenapa ibu takut untuk menceritakan semuanya." Sambung papah Boby.


" Kalau ibu menceritakannya kepada kami tentang ibu Nellyana tersebut kami akan membantu ibu agar Amir bisa kembali kepada ibu dan ibu Nellyana tidak akan pernah memarahi Ibu." ucap kak Nico dengan pasti, kak Nico sengaja berbicara seperti itu agar ibu Ema mau menceritakan semua yang dia ketahui tentang peristiwa beberapa tahun yang lalu.


" Tapi sebelumnya Apakah memang benar ibu Nellyana itu pernah menerima atau mengasuh seorang anak laki-laki korban dari kecelakaan dan keluarganya meninggal dunia?" tanya papa Andre lagi.


Ibu Ema pun menganggukkan kepalanya, mereka terkejut dan mereka saling pandang satu sama lain.