
" Gimana kita membawa 3 karung barang ini bang.?" Tanya salah seorang berbicara pada orang yang dipanggil Abang tersebut.
" Aku juga tidak tahu, mobil kita jauh berada dari sini jika seandainya mobil kita berada di ujung jalan sana mungkin tidak sulit untuk kita membawa barang yang ada ini."
" Kenapa sih bang,Bos masih saja mau bersaing dengan perusahaan lain dengan cara seperti ini."
" Aku juga tidak tahu, yang jelas kita sebagai anak buah harus menurut aja dengan perintahnya."
" Aku sebenarnya sudah bosan bang aku ingin keluar dari pekerjaan seperti ini, apalagi dia sudah mencelakai Bos pimpinan dari perusahaan saingan dia." Ucap salah satu dari orang yang ada di dalam tersebut.
Mereka semua yang ada di luar saling pandang.
" Siapa yang mereka maksud.?" tanya Clarissa kepada Arvin saling berbisik.
Arvin hanya menggelengkan kepalanya.
" Aku juga tidak tahu tapi kita dengarkan aja dulu." ucapnya.
Sedangkan mereka yang ada diluar memasang telinga semua dengan apa yang mereka bicarakan.
" Perusahaan bos kita memproduksi barang yang ada di dalam karung ini, karena barang yang ada di dalam karung ini sudah dikemas sedemikian rupa oleh perusahaan bos kita, dan kita tinggal mengedarkannya saja dengan catatan kemasan yang didalamnya itu atas nama perusahaan saingan bos kita, perusahaan yang dipimpin oleh Pak Marco itu, dan isi nya adalah kemasan dari kita." Ucap salah satu dari mereka.
" Jadi itu berarti menjatuhkan perusahaan pak Marco ya bang."
" Ya begitulah, namanya juga orang berkuasa,kita hanya sebagai pesuruh ini hanya bisa melakukan tugas kita."
" Tapi resikonya besar bang, kalau ketahuan sama polisi kita akan mendekam di penjara."
" Ya itu namanya juga risiko." Ucap salah satu dari mereka.
Kemudian mereka menurunkan barang-barang yang ada di dalam gubuk tersebut saat mereka berbicara tentang Marco Clarissa kemudian merasa sangat marah sekali.
" Ini pasti ada hubungannya dengan mereka." Ucapnya pada Arvin.
Arvin menganggukkan kepalanya.
Papa Bobby yang sedari tadi berdiri di belakang Papa Andre merasa kesakitan kakinya, karena dia digigit oleh semut rangrang karena saking sakitnya dia tidak bisa menahan lagi dan keluarlah dari persembunyiannya sambil berteriak.
" Semut! semut! sarang semut! Sakit tau semut!" ucapnya sambil berlari ke arah pintu gubuk tersebut.
" Astaga papah..!!" Ucap Clarissa seraya menelungkupkan wajahnya kererumputan itu,karena mendengar teriakan sang papah.
Dan orang yang ada di dalam gubuk tersebut,saling pandang karena mendengar teriakan dari luar,keempat orang yang ada di dalam rumah tersebut langsung mengambil beberapa kayu yang ada di dalam gubuk itu, dan langsung keluar membuka pintu gubuk tersebut.
" Siapa... siapa kamu!!" Bentak salah satu dari orang yang ada di dalam gubuk tersebut.
" Aku raja semut.. eh..salah..aku bos semut.. eh salah, eh salah aku hantunya semut, aku di gigit semut, aduh! yang jelas aku manusia bukan semut." Ucapnya lantang menjelaskan.
Mereka melongo mendengar papah Boby berbicara.
" Maksud aku, aku semut bukan manusia.. eh terbalik...aku manusia bukan semut." Ucapnya lagi.
" Eh Pak tua kalau pikun jangan di sini." Ucap salah satu dari mereka.
" Enak aja kamu dibilang pikun, Kamu nggak lihat apa, aku ini orangnya ganteng." Ucapnya seraya bergaya memegang kerah bajunya sendiri
" Kalau ganteng ngapain di sini?!."
" Aku nyasar,tapi ngapain kalian disini?" tanya papah Boby balik bertanya pada mereka.
Mereka terdiam dan saling pandang.
" Aku yang nanya kalian di sini ngapain." Tatap papah Boby.
" Hei Pak tua ditanya malah nanya balik kulibas penyok tuh tulang." ucap salah satu dari mereka terkekeh.
" Enak aja aku di bilang penyok, aku ini otot kawat tulang besi makin tua makin jadi." Sergahnya
" Ya emang belum tahu kali, bapak aja muncul tiba-tiba seperti ini, ngomongin semut lagi mana ada semut pak, lagian Bapak dari atas pakaian perlente amat tapi lihat ke bawah sendal hotel di bawa, gimana mau di gigit semut." Ucap salah satu dari keempat orang yang berada di depan papah Boby, mereka terdengar tertawa mereka berempat mengejek Papah Boby.
Papah Boby baru sadar Dia kemudian menengok ke bawah
" Buju buset! padahal aku tadi ngambil sepatu kenapa aku ambil sandal hotel sungguh terlalu ini." Gumamnya.
" Hahahah...itulah anak jaman sekarang tidak tahu dengan fashion,emang ini menyerupai sendal hotel tapi sebenarnya ini punya fungsinya banyak dan ini bisa berubah jadi apa saja sendalnya sakti." Ucapnya terkekeh.
" Sakti apanya pak ngidul aja Bapak." Ucap salah satu dari mereka.
Papah Boby melepas salah satu dari sendalnya dan langsung memukulkannya pada salah satu wajah ke empat pemuda tersebut dengan keras.
" Nih rasakan sakit kan!!" Ucap Papah Boby, mereka berempat langsung kesakitan sambil berteriak Aduh.
Saat mereka mau menyerang balik papah Boby, Clarissa tidak tahan melihat papanya diejek Dia kemudian muncul dan semuanya pun ikut satu persatu muncul ke empat orang itu kemudian terkejut karena mereka kedatangan tamu sangat banyak.
Mereka berempat tidak bisa berucap kembali karena mereka sudah dikepung oleh mereka semua, mereka mendekati salah satu dari kedua 4 orang itu.
" Siapa kalian!" Ucap salah satu dari mereka.
" Kalian disuruh siapa ?!!" Tanya Clarissa.
Mereka hanya bungkam karena mereka tidak bisa lagi mau lari kemana.
" Katakan, Kamu disuruh siapa hah!!" Bentak Morgan.
Mereka tidak berani menjawab dan hanya terdiam.
Sedangkan Arvin dan Abiyasa masuk ke dalam gubuk tersebut dan mengamankan beberapa barang bukti olahan dari perusahaan selain perusahaan kakaknya.
Morgan langsung mengikat tangan mereka berempat menggunakan tali yang ada di dalam gubuk tersebut.
Mereka di suruh berjongkok di tanah, dan ayah Candra, Abi Yosep bertanya secara bergantian dengan mereka.
Clarissa mendekati salah satu dari 4 orang yang berada di dalam gubuk tersebut.
" Barang bukti yang ada di dalam karung tersebut punya perusahaan mana?"
" Punya perusahaan pak Danis."
" Mau kalian apakan.?" tanya Clarissa.
" Mau kami edarkan dengan label perusahaan pak Marco dari perusahan teh terkenal di kota ini. Biar perusahaan Pak Marco cacat dimata supplier nya, sekalian pak Marco ditangkap polisi, karena itu pantas buat pak Marco."
Kemudian Clarissa mendekati laki-laki yang berbicara tersebut dan meninju wajahnya dengan kuat.
" Aww..." Ucapnya pelan.
" Eh tuyul, rasakan bogem mentah titisanku, tadi kan kamu bilang aku bangkotan sekarang bangkotan ini mau tanya dengan kamu kalau kamu tidak mau menjawab dengan sejujur-jujurnya kamu akan ku patahkan seperti ini." Ucap Papah Boby seraya mematahkan sendal yang di pegangnya itu.
Orang yang dipanggil Abang tersebut langsung menundukkan kepalanya.
" Sekarang Marco ada di mana hah!! masih hidup atau sudah kalian lenyapkan, jawab!!" Bentak papah Boby.
Mereka berempat tersentak,salah satu dari mereka pun akhirnya menjawab.
" Pak Marco masih hidup."
" Berada di mana.?" Tanya Ayah Candra.
" Ada bersama bos kami,di sekap di sebuah rumah dengan penjagaan yang ketat."
" Bos kami pak Danis sama Perusahaannya seperti Pak Marco, tapi karena Bos kami kalah bersaing dengan Pak Marco jadi bos kami membikin perhitungan kepada Pak Marco ingin menjatuhkan Pak Marco di mata kalayak ramai dan hendak mengirim Pak Marco ke penjara." Terangnya.