
Setelah kepergian kedua anak buahnya Pak Bowo langsung menghentakkan tubuhnya di kursi teras belakang rumahnya,dan menghela napasnya dengan berat.
" Aku tidak akan pernah mengampuni mu Lia, Aku tidak akan pernah memaafkan kamu Lia,Biar bagaimanapun kamu harus musnah, karena semua ini adalah gara-gara kamu!! dasar keponakan tidak tahu diri!! tidak tahu diuntung!!" ucapnya sembari mengumpat-umpat menahan amarahnya.
Kemudian Dia mengusap wajahnya dengan kasar.
" Kalau sampai Ariel tidak ditemukan juga ataupun Ariel ditemukan dengan tidak bernyawa, Aku akan membuat perhitungan dengan mu Lia, Aku tidak akan pernah membiarkan kamu hidup bahagia!! bahkan Aku juga tidak akan pernah membiarkan Kamu hidup di muka bumi ini!!" ucapnya lagi dengan emosinya yang sangat memuncak.
Bu Yetni istrinya menghampirinya karena mendengar suaminya itu marah-marah seorang diri.
" Sudahlah Mas,kamu tidak perlu lagi mengumpat seperti itu, kalau kamu memang menemukan Lia udah kamu culik aja Dia, biar tidak meninggalkan jejak." ucap Bu Yetni memberikan saran kepada suaminya dengan cara yang tidak baik.
Pak Bowo pun langsung menoleh ke arah istrinya.
" Benar juga katamu Dek, Aku harus mendapatkan Lia." ucapnya tersenyum.
" Kalau kamu terang-terangan seperti ini, kamu sendiri nantinya yang akan masuk penjara, Bagaimana dengan Aku kalau kamu ada dipenjara."
" Aku tidak akan pernah masuk penjara Dek,polisi pun tidak akan pernah mendapatkan jejakku hehe! kalau Aku menemukan Lia hidup-hidup Aku akan bikin perhitungan dengannya, karena semua ini adalah gara-gara Lia! aku sudah carikan calon suami untuknya dan kehidupannya pun sudah mapan apapun kehendaknya Lia pasti akan diberikannya yang terbaik, tapi Dia malah berulah seperti itu dengan teman kampusnya,Oh ya Dek kamu masih nggak menyimpan foto waktu itu kejadian beberapa tahun yang lalu?"
" Iya Aku menyimpannya "
" Bisakah Aku melihat foto itu lagi."
" Untuk apa kamu melihatnya? Apakah kamu ingin melihat Lia?untuk apa lagi diLihat Mas" ucap Istrinya sedikit marah.
" Bukan Lianya yang Aku ingin lihat, tapi aku ingin melihat laki-laki yang bersama dengan Lia saat mereka berdua dalam peristiwa itu, mereka yang membuat permasalahan ini terjadi,selain Lia yang ingin aku habisi, laki-laki yang ada di foto itu juga ingin ku habisi " ucapnya berbicara dengan istrinya.
" Sebentar Mas Aku akan mengambil foto tersebut, kemudian Bu Yetni berjalan meninggalkan Pak Bowo yang sedang menahan amarahnya di kursi yang sedang dia duduki saat itu, beberapa saat kemudian istrinya pun datang dari dalam dan memberikan foto itu kepada Pak Bowo, pak Bowo pun kemudian melipat foto tersebut dan menyobeknya, Lalu Dia memberikan foto Lia kepada istrinya dan foto Arvin pun dia ambil.
" Gara-gara kamu lelaki ini!Aku kehilangan segalanya! Aku akan membalas dendam kepadamu! Aku akan mencari kamu dimanapun kamu berada ingat itu!! beberapa tahun yang lalu kamu sudah menghancurkan harapanku untuk menikahkan Lia dengan Ariel " ucapnya seraya menatap foto Arvin.
" Biar bagaimanapun kamu harus menanggung semuanya ini, kalian berdua, Lia dan kamu. Aku memang tidak tahu nama kamu lelaki bejat!! tunggu saja pembalasanku! aku akan mencari kamu biarpun sampai ke lubang semut sekalipun." ucapnya dengan emosinya yang memuncak menguasai kepalanya itu.
Kemudian dia mengambil gawainya yang berada di atas meja Dia kemudian menghubungi anak buahnya yang lain agar menemuinya di rumahnya.
Setelah Dia menghubungi kedua anak buahnya yang lain, Dia pun kemudian menghela napasnya dengan berat seberat kemarahannya yang berada di dalam dirinya, kemudian istrinya pun meninggalkannya membiarkan dia berada seorang diri di teras belakang tersebut.
Beberapa saat kemudian terdengar bunyi sebuah motor memasuki halamannya dan menuju langsung ke teras belakang dimana Dia sedang menunggu mereka,kedua anak buahnya tersebut turun dari motornya.
" Ada apa Bos? adakah keperluan yang mendadak sehingga kami dihubungi saat ini ?ada pekerjaan kah yang mesti kami selesaikan?" ucap salah satu dari anak buah Pak Bowo setelah mereka berada dihadapan Pak Bowo, kedua anak buah itu pun langsung duduk di lantai ubin keramik teras rumah Pak Bowo itu.
Pak Bowo kemudian melemparkan fhoto Arvin tersebut kearah mereka berdua.
" Kalian harus mencari laki-laki ini!"
" Siapa Dia Bos?"
" Dari mana kami harus memulainya?"
" Dari kampus di mana keponakanku dulu kuliah!"
" Baiklah kami akan membawa foto ini tapi kami tidak bisa memperlihatkan foto ini kepada orang yang mungkin bisa kenal dengan Dia karena keadaannya sudah telanjang dada seperti ini, lebih baik kita perhatikan saja mukanya ini dan dan kita bikin supaya foto ini terlihat jelas." ucap salah satu dari anak buah Pak Bowo.
" Jadi kami bisa menanyakan dengan orang-orang yang ada disekitar kampus itu."
" Ya terserah kalian! mau bagaimana yang penting kalian bisa menemukannya dan bawa dia hidup atau mati padaku.!"
" Sangat sulit mencari orang di saat sekarang ini,apalagi orang tersebut sudah tidak ada beberapa tahun yang lalu." ucap salah satu dari mereka.
" Memang agak sulit, kita tidak tahu apakah Dia ini sudah mati atau belum." ucap salah satunya lagi.
" Jangan banyak bicara! cepat cari!!" ucap Pak Bowo.
" Iy..iya Bos, kami akan berusaha Bos mencarinya, tunggu aja kabar dari kami." ucapnya.
" Pokoknya kalian harus mendapatkannya segera,beritahu Aku secepatnya, kalau kalian sudah menemukan mereka!!"
" Baik bos!" ucapnya Kemudian mereka pun berlalu dari hadapan pak Bowo setelah kepergian kedua anak buahnya itu Pak Bowo pun memasuki rumahnya dan menemui sang istri yang sedang duduk santai di ruang tamu.
*****
Setelah mereka berbincang-bincang di rumah keluarga Wibawa,Mereka pun akhirnya pamit pulang.
Tante Raisa, Nadine dan dokter Roni pun berpamitan dengan mereka semua dan mengajak Lia pulang ke rumahnya beserta dengan Kevin.
Pak Sahrul pun ingin berpamitan pulang ke rumahnya,saat mereka berdua berdiri langsung dicegah oleh Tante Raisa,agar tetap tinggal sementara waktu di rumahnya.
Pak Sahrul dan istrinya tidak menolak mereka pun menganggukkan kepalanya.
" Iya benar itu Pak, lebih baik Bapak sekarang berada di rumah Tante Raisa sementara waktu, karena saya yakin anak buahnya saudara Bapak yang bernama Pak Bowo itu masih mengawasi rumah bapak, lagipula rumah Bapak kan sudah 1 hari 1 malam ini tidak ada tanda-tanda kalau Bapak dan Ibu berada di rumah tersebut." ucap Clarissa.
" Benar juga Apa kata kamu Mbak Risa,pasti Kak Bowo mencari saya." Ucap pak Sahrul.
" Lebih baik Bapak tinggal aja dulu di tempat tante Raisa sementara waktu biarkan mereka mengawasi rumah Bapak tanpa ada Bapak dan Ibu di situ, karena bagaimanapun pasti mereka merasa curiga, kalau seandainya satu hari satu malam Bapak tidak ada di rumah, kemudian saat ini Bapak berada di rumah itu akan menimbulkan mereka bertanya darimana Bapak dan pasti mereka berpikir kalau Bapak telah menemui Lia, dan mereka pun pasti akan melaporkan kepada Pak Bowo kalau Bapak masih memberikan perhatian kepada Lia, lama-kelamaan suatu saat mereka pasti mengetahui kalau Lia memang selama ini Bapak memberikan tempat tinggal untuk Lia di kampung sebelah." ucap Carissa panjang lebar.
Pak Sahrul pun mencerna kata-kata Clarissa,Dia hanya menganggukkan kepalanya dan memilih tinggal bersama Tante Raisa.
Sekali lagi Mereka pun berpamitan dengan keluarga Wibawa dan melangkah meninggalkan mereka semua.
Keluarga Wibawa mengantarkan mereka kepintu luar dan mereka memasuki mobil Dokter Roni dan Nadine pun memasuki mobil pribadinya,perlahan-lahan kedua buah mobil tersebut meninggalkan rumah keluarga Wibawa dan menuju ke rumah mereka sendiri.