THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP

THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP
BAB 218



Saat Clarissa dan Abiyasa melangkah masuk ke ruangan kantor itu, Abiyasa melihat pak Tomi yang masih duduk seorang diri diruang tunggu Lobby kantor, terlihat sekali di wajahnya dirundung kesedihan dan kegelisahan, Abiyasa mengurungkan niatnya masuk ke ruangannya dan dia pun langsung mendekati Pak Tomi yang berada di ruang tunggu lobby tersebut.


Abiyasa Kemudian duduk di samping pak Tomi, pak Tomi terkejut karena sedari tadi Dia hanya bisa melamun.


" Ada apa pak Tomi? Kenapa Pak Tomi gelisah dan sedih seperti itu? apa karena masalah Lidya.?" tanya Abiyasa.


Pak Tomi tersenyum dan dia membenarkan posisi duduknya


" Iya pak Abiyasa masalah Lidya..dan ada satu lagi masalah yang saya hadapi ini pak "


" Masalah apa pak?"


" Masalah istri saya "


" Ada apa pak dengan istri Bapak?"


" Karena saya belum bisa mengatakan kepada istri saya tentang perbuatan Lidya selama ini kepada kakaknya pak Abiyasa."


" Kenapa Bapak tidak menceritakan saja semuanya kepada istri bapak, biar istri bapak tahu bagaimana perlakuan Lidya terhadap kakak saya." ucap Abiyasa seraya menatap kearah pak Tomi.


" Itulah masalahnya Pak, saya tidak mampu untuk mengatakannya kepada istri saya."


" Memang kenapa pak?"


" Karena istri saya mempunyai penyakit jantung pak."


Abiyasa menarik napasnya dengan pelan dan melepaskannya dengan berat.


" Kalau masalah sakit jantung memang sangat berat Pak, saya juga pasti akan bingung kalau berada diposisi bapak sekarang ini,karena sangat berat sekali resikonya." ucap Abiyasa sembari menoleh kearah Pak Tomi.


Terdengar helaan napas Pak Tomi yang sangat berat seperti beratnya beban yang dia rasakan sekarang ini.


" Tapi menurut saya apapun resikonya kita harus mengatakannya secara perlahan pak,kalau ditutupi dari istri bapak, saya khawatir suatu saat istri bapak pasti akan mengetahui masalah yang dihadapi oleh Lydia sekarang ini "


Lagi-lagi terdengar helaan nafas dari Pak Tomi, Dia kemudian menatap ke arah Abiyasa.


" Memang benar apa kata bapak, lebih baik saya mengatakannya kepada istri saya daripada dia nantinya tahu dengan orang lain, itu akan lebih celaka lagi." ucapnya sembari mengusap wajahnya dengan kasar.


Kemudian terdengar suara gawainya Pak Tomi, pak Tomi pun langsung mengambil gawainya yang berada di saku celananya itu, dia melihat layar gawainya si pemanggil ternyata nomer yang tidak dikenal, pak Tomi kemudian menjawab panggilan tersebut,ternyata dari pihak yang berwajib, setelah beberapa saat dia berbicara dengan si pemanggil itu, dia pun langsung berpamitan dengan Abiyasa, Abiyasa menganggukkan kepalanya, kemudian mereka berdua saling memberi dan membalas salam, Pak Tomi melangkah meninggalkan Abiyasa yang berada di ruang tunggu lobby sembari menatap kepergian Pak Tomi yang keluar dari kantor nya itu, mobil yang ditumpangi oleh Pak Tomi perlahan-lahan meninggalkan halaman kantor Abiyasa menuju ke arah kantor polisi, Abiyasa menghela napasnya dengan pelan, kemudian dia melangkah menuju kearah ruangannya di mana Clarissa sudah berada di sana.


Beberapa jam kemudian Jet pribadi yang ditumpangi oleh Papa Andre pun mendarat dengan mulus di bandara yang ada di kotanya itu, mereka kemudian turun, lalu Papa Andre seperti biasa berbicara dengan pihak bandara, merekapun kemudian menghubungi sopir pribadinya yang berada di rumah, sembari menunggu sopir pribadinya tersebut Mereka pun menunggu di ruang tunggu bandara yang sudah disediakan.


Saat papah Andre memasukkan gawainya ke dalam saku celana sembari berdiri dipintu ruang tunggu tersebut, tidak sengaja seorang perempuan menabrak papa Andre yang terlihat sedang tergesa-gesa,perempuan itu pun terkejut,dia menatap sesaat wajah papah Andre kemudian dia langsung menundukkan kepalanya,sembari berbicara.


" Maaf Om, saya tidak sengaja!" Papah Andre terkejut melihat wajah perempuan yang menabraknya itu.


" Oh iya tidak apa-apa." Hanya itu yang keluar dari mulut papah Andre.


Papa Bobby,Abi Yosep dan ayah Candra pun kemudian mendekati Papa Andre dan menatapnya penuh keheranan.


" Ada apa Ndre ? tanya Ayah Candra.


" Tidak ada apa-apa, dia tidak sengaja menabrak ku, lagian aku juga yang salah berada di pintu ruang tunggu ini." ucap papa Andre tersenyum sembari menatap langkah perempuan yang tidak sengaja menabraknya tersebut.


" Ada apa Ndre? Kalau dia tidak senga kenapa kamu terus menatap kearah perempuan itu? nanti kalau ketahuan sama Anisha baru tahu rasa kamu." goda Abi Yosep sembari terkekeh.


" Kamu ini Yos,ada-ada saja, aku merasa tidak asing dengan perempuan tadi."


" Eh bro... ingat umur... kamu tuh udah tua, senang ya dengan daun muda?" Ujar papah Boby lagi sembari menepuk pundak Papa Andre.


" Bukan masalah daun mudanya Bob, mau daun muda atau daun tua itu tidak pengaruh denganku, karena yang di rumah lebih dari segala-galanya." ucap papa Andre.


" Aku tuh merasa tidak asing dengan perempuan itu, seperti mirip dengan seseorang, tapi ini versi mudanya." ucapnya.


" Mirip seseorang? siapa Ndre? Mana sih,aku mau juga lihat." Ucap papah Boby menengok kiri dan kanan,tapi dia tidak melihat siapa pun.


" Entah kemana dia tadi." Ucap papah Andre.


" Emang mirip siapa sih?" Tanya papah Boby mengulang pertanyaannya lagi.


Papah Andre terdiam.


" Ah sudahlah mungkin cuma mirip aja." Jawab papah Andre.


" Aku jadi penasaran mirip siapa sih? tumben besanku ini bisa mengatakan ada seorang wanita yang mirip dengan wanita lain dan sekarang mulai tidak mau jujur dengan kita-kita." ucap Abi Yosep terkekeh.


" Kamu ini Yosep-Yosep.... ada-ada saja, jangan memancing di air yang keruh lah hehehe..." Ucap papah Andre.


" Iya nih Yosep, daripada di pancing mending terjun aja biar banyak dapat ikannya hahaha." ucap papa Boby.


Papah Andre pun tertawa lepas dikuti ketiga sahabatnya.


Kemudian mereka melangkah menuju ke arah kursi yang sudah tersedia di ruangan tunggu itu, tapi papah Andre masih larut dalam pikirannya sendiri tentang perempuan tadi.


Kemudian sopir pribadinya pun datang menemuinya dan langsung membawa mereka pulang ke rumah.


Di dalam mobil Papa Andre tidak sedikit pun berbicara, begitu juga dengan yang lainnya, mereka larut dalam lamunan mereka masing-masing, sampai akhirnya mereka tiba di rumah kediaman keluarga Wibawa, mobil pun berhenti di tempat parkir yang tersedia di rumah besar tersebut.


Mereka turun semua dan di depan teras rumah itu sudah menunggu para istri mereka, seperti biasa mereka menyambut suami-suami mereka yang baru datang dari kota sebelah.


Ayesha yang kebetulan berada di situ pun hanya bisa terdiam, karena suaminya tidak datang bersama dengan Abi dan papa mertuanya.


Abi Yosep kemudian mendekati anaknya tersebut.


" Kamu jangan sedih ya nak, suamimu masih ada urusan di kota sebelah." ucap Abi Yosep.


" Iya Ayesha dia tidak sendirian, dia bersama dengan anak Om, bersama dengan Clarissa." ucap papah Boby, Ayesha mengangguk, karena mama Anisa pernah berbicara dengan Ayesha kalau Abiyasa pulang bersama dengan papa Andre dan yang lainnya, tapi karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan di sana Abiyasa terpaksa tinggal sementara waktu di kota sebelah,ditambah lagi Abiyasa memang sengaja tidak menghubungi sang istri.


Merekapun kemudian masuk ke dalam bersama Mama Anisha dan yang lainnya, Mamah Anisha merasa heran melihat seorang anak laki-laki yang berada di gedongan Nayra.


" Kenapa sayang? kamu kaget ya melihat anak laki-laki itu?" tanya papa Andre.


Mama Anisha hanya menganggukkan kepalanya.


" Itu adalah cucu kita, ternyata Clara mempunyai adik." Ucap papah Andre.


Mamah Anisha terlihat senang dan tersenyum.


" Oh ya Tante Clara mana?" tanya Nayra.


Mama Anisha tersenyum dia pun kemudian mendekati Nayra dan duduk disampingnya.


" Nayra, Clara tadi jalan-jalan bersama Alena dan Almira kemini market tidak jauh dari rumah." Ucapnya seraya meraih tubuh Alvaro, dan dengan senyuman manis Mamah Anisha, Alvaro tidak menolak dipangku mamah Anisha.


Mereka lemudian berbicara dan melepaskan lelahnya mereka diruang tengah rumah keluarga Wibawa,tapi tidak dengan papah Andre dia masih teringat dengan perempuan tadi,karena gerak gerik perempuan tadi seperti sangat ketakutan dan kecemasan diwajahnya.


" Siapa dia ya? Kenapa mirip benar dengannya?" Gumam papah Andre dalam batinnya.


Papah Boby dan dua sahabatnya juga memperhatikan papah Andre yang terlihat jelas diwajahnya ada sedikit rasa penasarannya.


Mereka saling pandang...