
Mobil terus melaju dijalan beraspal dengan kecepatan sedang,mereka menuju kearah sebuah Villa milik keluarga Wibawa yang ada di kota tersebut,sesampainya di halaman Villa,mobil langsung mereka parkirkan ditempat parkir yang sudah disediakan, mereka keluar dari mobil dan Clarissa dibantu dua orang perempuan pelayan Villa membawa Maya keruang tengah Villa, Ariel pun dibawa Morgan dan Arvin menuju ruang tengah juga,diikuti mereka semua.
Tubuh Maya di letakkan di sofa dan berdampingan dengan Ariel.
Papah Andre,Papah Boby dan Ayah Candra serta Abi Yosep,dan Abiyasa,mereka masing-masing langsung menghubungi istri mereka yang ada di rumah, karena mereka semua tidak bisa pulang ke rumah mereka menginap di villa untuk menyelesaikan masalah Arvin karena target mereka sudah mereka bawa ke Vila untuk meminta keterangan mereka.
Setelah menghubungi semua istrinya, Mereka kemudian menghentakkan tubuhnya disofa seraya menatap kearah Maya dan Ariel.
" Kapan kedua kecebong ini sadarnya?!" Ucap Papah Boby.
" Mereka berdua pasti membutuhkan waktu lama untuk menguasai kesadarannya, karena Ariel memang sudah banyak meminum minuman itu, mungkin membutuhkan waktu yang cukup sangat lama, setidaknya besok pagi kita bisa meminta keteranganmefeka berdua." Ucap Papa Andre.
" Benar katamu Ndre,tidak mungkin kita meminta keterangan dia di saat dia seperti ini." Lanjut Ayah Chandra.
" Aku sudah tidak sabar nih!" Ucap Papah Boby.
" Sabarlah Bob, besok season kamu mengintrogasinya" Ucap Abi Yosep terkekeh seraya menepuk pundak papah Boby.
" Tapi bagaimana dengan Maya? dia kan cuma beberapa botol aja setidaknya kalau tidak subuh nanti dia akan sadarkan diri, pasti dia merasa heran kenapa dia ada bersama Ariel disini." Tanya Clarissa.
" Tenang Clarissa,dia akan aku letakkan di dalam kamar diatas kasur yang ada didalam kamar itu,saat dia sadar pasti akan mencari aku, aku yang akan menjaganya didepan pintu kamar tersebut,dia tidak merasa curiga kalau dia sebenarnya sudah berada di villa ini, tanpa teman-temannya, kalau Ariel benar kata Papah Andre dia pasti akan sadarnya besok pagi jadi dia biar saja berada di ruang tengah ini." Ucap Morgan.
" Baiklah kalau seperti itu." Ucap Clarissa, kemudian berdiri hendak meninggalkan mereka.
" Kamu mau kemana?" Tanya Morgan.
" Aku mau tidur ngantuk banget." Jawab Clarissa.
" Ya sudah kamu tidur sana." Sambung Abiyasa lagi.
Kemudian dia pun langsung menuju kearah kamar dan memasuki kamar tersebut,dia langsung merebahkan tubuhnya dan beberapa saat kemudian dia pun langsung terlelap tidur, sedangkan Papa Bobby dan yang lainnya tidur di sofa yang ada di ruang tengah villa, karena mereka tidak ingin memberi kesempatan kepada Ariel untuk pergi melarikan diri jika seandainya dia mendapatkan kesadarannya.
Di klub malam tersebut...
Dua orang temannya Maya dan Ariel mendatangi klub tersebut dia bertanya kepada security yang sudah dibayar Abiyasa agar tidak mengatakan pada mereka soal keadaan Maya dan Ariel.
" Maaf Pak saya mau bertanya teman saya yang berdua duduk di meja 11 itu ke mana ya?" Tanya salah satu dari temannya Maya dan Ariel
" Maksud mas berdua,nona Maya dan mas Ariel.?"
" Iya " Jawab kedua temannya tersebut.
" Mereka berdua tadi menggunakan taksi pergi begitu saja."
" Terus temannya yang bersama Maya yang baru memasuki club Ini tadi kemana perginya.?"
" Sebelum mereka berdua meninggalkan klub ini temannya non Maya itu sudah pergi lebih dulu." Ucap security itu.
" Terima kasih Pak atas penjelasannya." Ucap salah satu teman dari Maya dan Ariel.
Kemudian mereka memasuki mobilnya dan melaju meninggalkan klub tersebut mereka juga tidak merasa curiga,Mereka mengira pasti Maya dan Ariel seperti biasa setelah keluar dari klub ini mereka berdua pasti akan mencari tempat, itulah yang ada di dalam pikiran mereka kemudian, mereka pun tidak mempedulikan lagi Maya dan Ariel ada di mana, mereka melajukan mobilnya menuju ke tempat tujuan mereka selanjutnya.
Di rumah sakit, di mana Marco sedang dirawat, Marco mengambil gawainya yang berada di atas meja, Dia kemudian menghubungi nomor Clarissa.
Karena Clarissa lupa untuk memberi kabar kepada Marco tapi sayangnya gawai Clarissa lowbett jadi tidak bisa dihubungi.
" Kenapa nomor Clarissa nggak aktif." Pikir Marco.
Marco kemudian menghubungi gawai Morgan.
" Halo ada apa Kak? Kenapa jam segini Kakak belum tidur?"
" Mata kaka tidak bisa ditidurkan, Mor kakak mau tanya denganmu."
" Tanya apa ?"
" Apakah Clarissa ada memberi kabar denganmu?"
" Clarissa ada bersama kami kak."
" Kalian di mana.?"
" Kami di Villa keluarga Wibawa."
" Sedang apa kalian disana.?"
" Ada urusan penting kak yang harus diselesaikan."
" Sama siapa aja kalian di sana.?"
" Ada Om Andre, juga ada Om Bobby, Om Chandra dan Om Yosep."
" Sebenarnya ada apa.?"
" Ceritanya panjang kak, kami sudah menemukan tersangkanya dan ini kami lagi ingin mengorek keterangan dengannya, tapi karena dia terlalu banyak minum jadi dia tidak sadarkan diri."
" Terus Clarissanya mana?"
" Carissanya tidur kak,karena kayaknya dia sudah kecapekan."
" Pantas saja gawainya tidak aktif."
" Oh ya Kak gawainya itu masih di charger kak." Ucapnya.
" Oh ya sudah kalau seperti itu Kakak lega mendengarnya karena dia tidak menghubungi Kak ataupun mengasih tahu dia berada dimana,makanya kaka menghubungi kamu."
" Aman Kak, kalau dia bersama dengan kami."
" Ya sudah kalau seperti itu, istirahatlah kamu." Ucap Marco diakhir bicaranya.
" Siap Kak, Kakak juga istirahat biar cepat sembuh bisa bergabung kembali dengan kami." ucap Morgan diujung bicaranya.
Kemudian sambungan terputus Marco merasa lega karena Clarissa berada bersama dengan Morgan beserta orang tua mereka masing-masing.
papahnya kemudian mendekati Marco.
" Kamu kenapa?" Tanya Papanya.
" Marco nggak apa-apa pah."
Kemudian mamanya pun mendekatinya dan tersenyum.
" Kalian berdua kenapa? tidak istirahat.?"
" Kami tadi sudah mulai istirahat tapi kami mendengar kamu berbicara mencari Clarissa, memang ada apa.?" Tanya mamahnya.
" Tidak ada apa-apa mah,cuma bertanya aja di mana Clarissa berada, ternyata Clarissa berada di Villa yang ada di kota sini milik keluarga Wibawa. Karena ada sesuatu dan lain hal yang harus diselesaikan mereka."
Mereka kemudian mengangguk.
" Ada pah, sepertinya ada yang ingin kalian katakan dengan Marco?"
" Begini Marco Papa dan Mama mau berbicara sebentar dengan mu kamu bisakan mendengarkannya.
" Lebih baik besok aja bicaranya, Marcokan harus istirahat.
" Ada apa Pah?" Tanya Marco.
" Kamu adalah anak pertama yang sudah kami anggap di sini Mama dan Papa ingin mengutarakan niat kami untuk rujuk kembali."
" Apa pah? Alhamdulillah Marco merasa senang pah." Ucapnya dan dia berusaha untuk duduk dibantu oleh mamahnya.
" Apakah benar Papa dan Mama mau rujuk kembali.?"
Mereka berdua saling bertatapan dan menganggukkan kepalanya bersaamaan.
" Kalau memang kalian ingin rujuk kembali aku merasa senang." Ucapnya
" Mungkin kemarin itu adalah kesalahan kami,sehingga kami tidak memikirkan kalian, setelah kami membicarakannya berdua tadi akhirnya kami menemukan kesepakatan agar kami bisa rujuk kembali dan saling menjaga satu sama lain." Ucapnya papahnya seraya menatap kearah Mama Marco.
" Benar nak, mungkin ini adalah jalan Allah untuk mempersatukan Mama dan Papa lagi, dan memanjangkan jodoh kami berdua lagi." Ucap Mamanya.
" Marco sangat senang mah mendengarnya, sekarang mama tidak sendirian lagi, lupakanlah masa lalu kalian, Kenapa kalian sampai sempat berpisah itu anggaplah itu sebagai pelajaran untuk kalian berdua, karena kita sebagai manusia tidak pernah luput dari dosa dan kehilafan." Ucap Marco tersenyum.
" Setelah Marco sembuh nantinya Marco yang akan mengurus semuanya."
" Kamu nggak usah mengurusnya nanti biar Papa yang akan mengurus semuanya."
" Marco maafkan mama dan papa ya karena kesalahan mama dan papa kamu dan adikmu juga berpisah seperti ini."
" Kami tidak berpisah Mah,pah, cuman keadaanlah yang membuat kami harus terpisah satu sama lain yang dipikirkan itu adalah Mama dan Papa yang terpisah."
" Kamu istirahat lah ini sudah larut malam." Ucap Mamahnya.
Marco mengangguk kemudian dia merebahkan tubuhnya setelah mamanya merapikan selimutnya, Marco merasa senang karena kedua orang tuanya akan berkumpul kembali.
Kedua orang tuanya pun kemudian menuju ke tempat sofa yang tersedia di ruangan tersebut, mereka berdua merebahkan tubuhnya untuk melelapkan matanya yang sudah terlihat kelelahan, walaupun Marco sudah merebahkan tubuhnya dan memejamkan matanya dia tidak bisa tidur, karena dia merasa sangat bahagia kedua orang tuanya akan bersatu kembali.
Perpisahan kedua orang tuanya dikarenakan papahnya itu tidak mau mengikuti Mamahnya ke tanah air, Papahnya tetap ingin menetap di luar negeri, sedangkan Mamahnya ingin menetap di tanah air, itulah yang membuat ego mereka berdua menjadikan keretakan rumah tangga mereka, tapi akhirnya mereka berdua pun menyadari kesalahan mereka, karena dampak dari mereka berpisah walaupun anaknya sudah dewasa tapi mereka ingin mengharapkan kedua orangtuanya itu tetap memberikan perhatian penuh kepada Marco dan adiknya Morgan,akhirnya Marco pun terlelap dalam tidurnya.
*****
Maya mengeliatkan tubuhnya dan memegang kepalanya seraya meringis karena masih terasa pusing.
" Dimana aku? kenapa kepalaku sakit banget." Ucapnya.
Dia kemudian memejamkan matanya sesaat lalu membuka matanya kembali menatap ke kiri dan ke kanan.
" Diruangan mana aku ini berada, aku tidak mengenali ruangan ini." Ucapnya.
Dia kemudian menatap pintu kamar yang terbuka dan terlihat Morgan yang duduk sambil tertidur dikursi didepan kamar dimana Maya sedang merebahkan tubuhnya tersebut. Dia berusaha bangun seraya memegang kepalanya.
" sayang " Panggilnya berusaha berdiri dengan sedikit kekuatannya, dia pun mendekati Morgan yang sedang lelap tertidur dia menyentuh pundak Morgan.
" Sayang " Panggilnya lagi.
Morgan kemudian mengusap matanya dan menatap ke arah Maya.
" Sayang dimana aku berada ini Sayang."
Morgan berdiri dia kaget, karena dia mengatakan kata sayang dengannya.
Sebenarnya Morgan sangat resah Maya memanggilnya sayang.
" Kamu sudah bangun." Ucapnya seraya membawa Maya memasuki kamar dan menyuruhnya duduk di tempat tidur yang ada di kamarnya tersebut.
Maya belum menyadari kalau ia berada di sebuah Villa.
" Aku ada dimana.?" Tanya Maya sekali lagi.
" Kamu ada diVila ku."
" Apa? ini Vila kamu?"
" Iya, kamu kebanyakan minum karena kamu membantu teman mu untuk melawan pria itu ."
" Terus sekarang di mana Ariel?"
" Dia dijemput sama temannya, dan kamu aku bawa ke sini."
" Tapi kenapa kamu tidurnya di luar? Kenapa kamu tidak tidur di samping aku."
" Aku lagi ngerokok jadi aku tidak bisa masuk ke dalam kamar dan tidur bersama kamu, tapi karena aku ngantuk banget habis merokok makanya aku ketiduran sambil duduk." Ucap Morgan berbohong kepada Maya.
" Aku rasanya pusing banget kepalaku." Keluhnya manja.
" Lebih baik kamu mandi dan kamu bersihkan tubuhmu itu."
" Malam-malam gini Kamu suruh aku mandi,kamu sudah gila apa"
" Ini bukan malam,tapi ini jam 4 subuh, biar kamu seger." Ucap Morgan kesel.
Sebenarnya dia merasa tidak enak berhadapan dengan Maya karena Maya berbicara sangat dekat dengannya tercium bau minuman yang sangat menyengat sekali.
Morgan berdiri dan menariknya ke dalam kamar mandi dia langsung menyuruh Maya mandi.
" Dedy kenapa kamu perlakukan aku seperti ini.?!"
" Aku tidak memperlakukan kamu seperti itu,aku cuma ingin menyuruh kamu membersihkan diri kamu,karena kamu minum minuman yang mengandung alkohol sangat banyak, cepatlah bersihkan dirimu.!" Perintah Morgan.
Kemudian dia mendorong pelan Maya kedalam kamar mandi dan menutup pintu kamar mandi tersebut.
" Wanita edan! kok masih ada wanita seperti dia!" Ucapnya seraya menepuk kedua tangannya secara bergantian.
Kemudian dia berjalan keluar dan keluar dari kamar tersebut,Mereka semua sudah bangun dan sudah setelah melaksanakan salat Subuh,Morgan kemudian menutup pintu kamar tersebut dan menguncinya dari luar.
" Kenapa kamu kunci Mor?"
" Maya sadar dan aku suruh mandi untuk membersihkan badannya,ini Biyas pegang kuncinya aku mau melaksanakan salat subuh dulu." Ucapnya kemudian dia berlalu dari hadapan Abiyasa dan menuju ke arah kamar yang kosong dan dia pun kemudian membersihkan tubuhnya dan melaksanakan salat Subuh, karena hanya dia yang belum melaksanakan salat subuh tersebut.
Setelah beberapa saat kemudian dia langsung keluar dari kamarnya itu dan menuju kearah sofa dimana mereka semua berada.
Didalam kamar tersebut,Maya berteriak untuk minta dibuka pintunya.
" Sayang!kenapa kamu kunci aku di dalam sini! buka Dedy!!" Teriak Maya seraya menggedor-gedor pintunya. mereka tidak membukakan pintu tersebut.
Ariel terlihat menggerakkan tubuhnya,kemudian bangun sembari memegangi kepalanya yang masih terasa pusing,dia mengusap-usap matanya dan membuka pelan-pelan matanya tersebut, dia melihat beberapa orang sedang duduk di hadapannya dan menatap ke arahnya dengan tajam.
Dia terkejut dan langsung duduk.
" Aku ada di mana?"
" Kamu ada di neraka!!" Ucap Papah Boby sembari menatap kearah Ariel dengan tatapan tajam setajam elang.!
Ariel menatap kearah Papa Bobby.
" Bukankah kamu Om itu yang aku tantang untuk meminum minuman itu."
" Iya !"
" Kenapa kamu membawa aku ke sini ?!"
" Karena aku adalah malaikat pencabut nyawa mu!!" Ucap papa Boby mulai geram.
" Apa?rupanya kalian sekongkol untuk menangkap ku!!" Ucapnyanya.
" Kalau kamu sudah tahu! kenapa kamu bertanya hah!!"
" Dasar gila kalian! kalian salah tangkap orang!!" Ucapnya keras.
" Kamu yang gila!!" Sahut Clarissa.Ariel menatap kearah Clarissa dan menatap tajam Clarissa.
" halo Ariel !" Sapa Arvin.
Ariel menoleh kearah Arvin.
" Kamu masih mengenali aku?!" Tanya Arvin.
Ariel kemudian memegang kepalanya dia menatap ke arah Arvin.
" Oh!! pasti kamu tidak mengingat aku karena itu sudah beberapa tahun yang lalu!dimana kamu bersekongkol dengan Maya untuk menjerumuskan aku dengan Lia di saat aku masih kuliah dulu! kamu ingat dengan Lia!kalau kamu ingat dengan Lia berarti kamu juga ingat dengan aku.!! " Lia ?" Ucapnya pelan.
" Dedy!! buka pintunya!! ngapain kamu mengurung aku di dalam sini!!
Mereka kemudian menoleh kearah sebuah kamar.
" Maya ?!" Ucapnya.
" Maya? siapa Maya? Tanya Abiyasa.
" Itu Maya wanita yang bersama dengan dia" Ucap Ariel seraya menunjuk Morgan.
" Itu bukankah Nadine ?" Ucap Abiyasa tersenyum sinis dengan Ariel.
Ariel terdiam dia kemudian menundukkan ke kepalanya.
Morgan kemudian berlalu dari hadapan mereka dan membuka pintu di mana Maya sudah berteriak dan menggedor-gedor pintu kamar tersebut, setelah pintu terbuka..
" Sayang kamu kenapa mengunci aku didalam kamar Sayang?" Tanya dengan Morgan seraya menyentuh tangan Morgan, dan Morgan pun menepiskan tangan Maya.
" Sayang-sayang!! sayang kepala Mu peyang!!"
" Dedi !apa-apaan kamu ini? bukankah kamu mau menerima aku sebagai kekasihmu.? kenapa kamu berubah?"
Kemudian Morgan menangkap tangan Maya dan langsung menariknya dengan kasar dan langsung mendorongnya dengan kasar kearah sofa di samping Ariel, Maya menatap kearah mereka semua.
"Arvin.?" Ucapnya karena Arvin pas duduk di depannya.
" Apa kabar Maya?!"
Maya terkejut akan kehadiran Arvin yang ada dihadapannya tersebut.