
Smith masih dengan rasa herannya pada mereka yang langsung saja tertawa lepas, tawa mereka itupun sampai terdengar keruang dapur dimana mereka bertiga sedang melakukan eksperimen masakan yang mereka buat.
" Ada apa mereka sampai tertawa segitunya ya, emang apa yang mereka tertawakan." ucap Bunda Adel sembari tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
" Entahlah, ada apa sebenarnya, ada-ada saja mereka itu hehehe." Ucap Umi Vita terkekeh kecil.
" Mungkin ulah Morgan bersama dengan yang lainnya tante." Sahut Anindita.
Tiba-tiba terdengar suara tawa Clarissa yang memasuki ruang dapur sembari melangkah menuju kearah lemari pendingin untuk mengambil air putih, karena dia merasakan haus ditenggorokkannya dan minuman yang ada diruang tengah tidak membuatnya meras lega dan tidak bisa menyegarkan tenggorokkannya itu.
" Clarissa ada apa sih diluar? kenapa kalian tertawa sangat keras sekali sampai terdengar sampai disini.?" tanya Umi Vita.
" Gimana tidak tertawa keras tante, ada yang lagi curhat dengan calon mertua." Ucap Clarissa sembari menuangkan air kedalam gelas yang ada ditangannya tersebut.
" Curhat dengan calon mertua? yang benar saja Ris." ucap Umi Vita.
" Iya tante, hehehe..."
" Memangnya siapa yang curhat?" tanya Bunda Adel.
" Bentar tante ya, Risa minum dulu." ucapnya sembari memberi tanda dengan tangannya dan kemudian dia pun meneguk air putih dingin yang ada ditangannya tersebut.
" Lega..." ucapnya seiring dia meneguk air tersebut yang dirasanya sangat mendinginkan tenggorokkannya itu.
" Begini tante yang curhat itu calon menantu tante Adel." ucap Clarissa tersenyum.
" Apa? calon menantu tante? siapa? Nadine?" tanyanya penuh dengan keheranan.
" Hehehe...bukan tante, tapi Smith." Ucap Clarisa tertawa pelan.
" Smith? Smith tamu kita tadi ?" Tanya Bunda Adel.
" Iya tante." ucap Clarissa tersenyum sambil menganggukkan kepalanya seraya meletakkan tempat air minum kembali kedalam lemari pendingin tersebut.
Bunda Adel tersenyum, dia pun mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Clarissa.
" Jadi Smith pacaran dengan Alena?" ucapnya tersenyum
Dianggukkan Clarissa, Bunda Adel dan Clarissa pun kemudian melangkah keluar dari ruang dapur dan menuju kearah mereka yang masih berada diruang tengah tersebut.
Umi Vita dan Anindita hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya seraya menatap kepergian kedua wanita tersebut dari hadapan mereka.
" Ada-ada saja ya tante, Smith yang tidak kita kenal pun tanpa malu-malu bercurhat didepan Om Candra dan yang lainnya tanpa dia sadari dia bercerita didepan orang tua kekasihnya sendiri." Ucap Anindita tertawa kecil.
" Iya, pantas aja selama ini Alena tidak pernah memperkenalkan kekasih hatinya, ternyata dia sudah punya tambatan hati jarak jauh hehehe." Sambung Umi Vita tertawa kecil juga.
" Pantas aja tante, Alena dirumah sakit ditaksir sama salah satu teman kerjanya dan sampai terang-terangan mengatakan cinta sama Alena, dia pun menolak dengan halus laki-laki itu dengan alasan belum siap dalam menempuh masa pacaran, ternyata dia sudah ada yang memilikinya." Terang Anindita tersenyum, Umi Vita pun tersenyum juga dan kembali mereka melanjutkan eksperimennya.
" Sayang, kenapa kamu berdiri disitu?" tanya Bunda Adel melihat anak perempuannya yang sedang berdiri di samping sang Ayah.
" Ayah...kenapa anaknya dibiarkan berdiri di situ, Ayah keterlaluan banget sih?" ucap Mama Adel sembari tersenyum, diapun meraih tangan Alena dan membawanya duduk disampingnya.
Smith tertegun, dia pun tidak bisa berucap sepatah katapun dan dia hanya menatap kearah mereka semua terutama Ayah Candra dan Bunda Adel, lidahnya kelu tidak bisa berbicara karena baru saja Bunda Adel mengatakan kalau Alena adalah anak dari Ayah Candra dan Bunda Adel.
Arvin kemudian mendekati Smith, dia duduk di samping kiri Smith dan langsung merangkul Smith.
" Kenapa Smith? kamu kok diam, santai aja Bro, Di sini orangnya santai semua kok, jangan takut hehe.. Kok wajah kamu gagu gitu sih? ini kediaman keluarga Wibawa, bukan kantor polisi bro heheh." ucapnya sembari tertawa.
Smith pun tersenyum simpul, kemudian dia mengusap wajahnya dengan pelan dan menghela nafasnya dengan sedikit pelan, seiring irama jantungnya yang tidak beraturan karena dia sudah terlanjur jujur dihadapan Ayah Candra dan yang lainnya.
" Smith... kamu sudah bercerita semuanya kepada kami, kami tahu kalau kamu tidak mengetahui kalau semua yang ada disini adalah keluarga dari Alena, Alena memang benar mengatakan semuanya kepada kamu kalau dia mempunyai seorang saudara laki-laki, akulah saudara laki-lakinya itu dan itu adalah orang tua kami." Ucap Arvin sembari menunjuk kearah Ayah Candra dan Bunda Adel.
Smith lagi-lagi terkejut, tapi dia berusaha untuk menutupi rasa terkejutnya itu, dan dia pun menatap ke arah Arvin, Arvin menganggukkan kepalanya sembari tersenyum.
" Aku akui kamu lelaki yang sangat gentlemen, karena bercerita dengan kejujuran dari hati kamu dan kamu juga memang benar-benar ingin menjadi seorang lelaki yang bertanggung jawab, aku suka dengan kamu, in sya Allah, Alena berada dengan orang yang tepat, Kamu adalah pilihan Alena yang sangat tepat bagi dirinya. kalau aku pribadi sebagai kakaknya Alena aku merasa setuju tapi kembali lagi semua itu adalah keputusan dari kedua orang tuaku karena Alena adalah anak kesayangan mereka bukan Alena saja sih anak kesayangannya tapi Ayah dan Bunda aku itu tidak pernah pilih kasih dalam memberikan kasih sayangnya kepada aku dan adikku, kalau aku sih menyetujui kalau kamu meminang Alena." ucap Arvin sembari tersenyum seraya menepuk pundak Smith dengan pelan.
" Ayah, Bunda, Maafkan Alena ya..ehm... karena Alena tidak cerita kalau Alena mempunyai kekasih hati, sebenarnya Alena dan Smith sudah menjalin hubungan jarak jauh beberapa tahun yang lalu, Alena juga tidak terlalu berharap dengan Smith waktu itu, tapi karena Alena merasa Smith bersungguh-sungguh dengan Alena, beberapa tahun Alena menjalin hubungan dengan Smith dan Smith juga tidak bisa bertemu dengan Alena karena Smith sangat sibuk dan tidak menyangka kalau sebenarnya Smith benar-benar ingin bertemu dengan Alena dan akhirnya sekarang Alena dan Smith bertemu di rumah Om Andre ini." ucap Alena sembari memegang kedua tangan Bunda Adel, Bunda Adel pun hanya tersenyum dengan putrinya itu.
Bunda Adel menganggukkan kepalanya....
" Ya sayang, walaupun Bunda tidak tahu cerita dari awalnya, karena Bunda berada di dapur dan saat Clarissa bercerita kenapa Ayah dan yang lainnya tertawa keras sampai terdengar ke ruang dapur, Bunda memahami cerita Clarissa itu, kamu sudah dewasa nak, kamu bisa memilih yang terbaik untuk kamu, Bunda sebagai orang tua kamu hanya bisa mendukung keputusan kamu selama itu kamu merasakan kebahagian bersama pilihan hati kamu, Bunda tidak akan melarangnya Bunda yakin padamu mu dan restu Bunda bersamamu sayang..." ucapnya sembari membelai kepala Alena yang tertutup hijab itu, mereka semua tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
" Nah, Smith..sekarang giliran kamu nih, Bagaimana kamu bercerita dengan lancarnya tadi dihadapan Kami, sekarang kami ingin mendengar kamu berbicara dengan calon mertua mu." ucap Morgan terkekeh sembari menatap Smith.
Arvin menyenggol Smith sembari memberikan senyumannya.
Smith kemudian membenarkan posisi duduknya.
" Ehm...Begini Om Chandra,... Maafkan saya karena saya tidak sengaja bercerita semuanya kepada kalian, terutama dengan Om, Maafkan saya Om, saya yang sudah terlanjur bercerita semuanya tentang anak Om dan tanpa sepengetahuan Om dan Tante saya sudah menjadikan anak kalian kekasih hati saya dan anak Om lah yang memegang kendali perasaan saya sekarang ini dan anak Om juga yang sudah mengisi relung hati saya selama beberapa tahun ini, Maaf kan saya ya Om, karena saya tidak mengetahui kalau Om adalah orang tua dari Alena, Tapi... jujur Om semua yang saya katakan itu adalah benar, kalau saya memang menyukai Alena dan saya ingin lebih dari itu, dihadapan kalian semua dan terutama Om dan Tante saya menginginkan Alena menjadi pendamping hidup saya... tapi Maaf Om saya akan berusaha dengan tekun dan ingin berusaha dari nol, ingin mempunyai usaha mandiri sendiri, Saya tidak ingin tergantung dengan orang lain kecuali saya memang sudah tidak bisa lagi mendirikan usaha keinginan saya tersebut barulah saya meminta tolong pada orang lain kalau pun saya masih bisa bertahan saya akan terus berusaha, selama saya belum sukses dalam usaha saya saya belum berani mempersunting Alena untuk membawanya kepelaminan yang saya inginkan saat ini, saya ingin meminta ijin untuk bertunangan dengan Alena itupun kalau Om dan Tante merestui keinginan saya." ucapnya kemudian menundukkan wajahnya dan memainkan jari jemarinya karena merasa gugup kalau keinginananya itu tidak direstui dan diterima oleh keluarga Alena.
" Ya Allah...niat ini semua hanya karena mu ya Allah semoga saja kedua orang tua Alena merestuinya ..." Ucap Batinnya.
Ayah Chandra tersenyum.
Smith terkejut dan langsung menatap kearah Ayah Candra dengan senyuman kebahagiaannya.
" Alhamdulillah ya Allah..." ucapnya pelan tapi masih terdengar Arvin, dia menoleh kearah Smith sesaat dan diapun tersenyum.
Alena tersenyum bahagia karena Smith diterima ditengah-tengah keluarganya.
" Wah! mantap nih! berarti Smith direstuin dong." ucap Papa Boby.
" Bagaimana Smith, berarti kamu udah melamar Alena nih.." sambung Abi Yosep.
" Iya Om, secara tidak langsung memang saya ingin meminang Alena, dan ingin menikahi Alena, tapi karena saya ingin berusaha terlebih dahulu makanya saya inginkan pertunangan terlebih dahulu, Saya ingin mencukupi semua kebutuhannya." ucapnya sembari tersenyum malu-malu dan lalu menundukkan kepalanya lagi.
" Kenapa tertunduk? Kalau sudah meminang itu jangan menundukkan kepalanya, angkat kepalamu dan katakan.. Saya siap dengan apapun yang akan terjadi kedepannya, Alena adalah tanggung jawab saya semuanya... begitu dong... masa Kamu saya ajarin sih." ucap Morgan lagi sembari terkekeh.
" Perasaan kamu kemaren melamar Anindita nggak ada bilang begitu deh." ucap Papa Andre.
Morgan pun langsung cengengesan dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
" Mau ngajarin orang, padahal dia sendiri aja kemarin malu-malu kucing." sambung Abiyasa.
" Wah kamu Biy, jangan kayak gitu ahh... masa kakak ipar jahat sekali sih dengan adik iparnya, Aku nih kan adik ipar mu yang paling ganteng, paling ganteng di rumah ini." Ucapnya lagi-lagi tertawa kecil.
" Enak aja! Papah nih yang paling ganteng di sini, Papah yang lebih dulu lahir dan baru Papah menerbitkan Abiyasa dan Istri kamu, hehehe.... berarti Papah dong yang paling ganteng, ya kan sayang..." ucap Papa Andre sembari menoleh kearah Mamah Anisha dan sambil memainkan alisnya naik turun. Mamah Anisha hanya terkekeh pelan melihat kelakuan suami tercintanya tersebut.
" Idih!! Kamu Ndre, ngalah napa dengan yang masih muda, nggak mau kalah banget sih hehehe..." Ucap Ayah Candra tertawa pelan.
" Iya nih si Andre, ketampanan kamu itu sudah di ambil sama Abiyasa, makanya anak ku kepentok dengan anak mu!" Ucap Abi Yosep terkekeh.
" Bukankah Anak kamu sendiri yang nyuruh Abiyasa menunggunya waktu kecil saat dipertemukan hahahah..." Ucap papah Boby seraya membela Papah Andre.
" Yaelah Bob-Bob...kok dijelaskan sih, jadi malukan akunya hahahaha..." Sambung Abi Yosep tertawa lepas.
Ayesha yang duduk disamping suaminya hanya bisa tersenyum dan menyembunyikan wajahnya dibalik lengan suaminya, dan Abiyasa tersenyum manis seraya melirik sang istri yang malu-malu itu.
" Hahahah..." Papah Andre hanya bisa tertawa lepas.
Setelah tertawa mereka mereda, Ayah Candra kembali ketopik pembicaraan.
" Smith...Saya menerima lamaran kamu, bagaimana kamu Alena? kamu pasti setuju kan?" Tanya Ayah Candra.
Alena hanya menganggukkan kepalanya mendengar ucapan dari sang Ayah.
" Alhamdulillah akhirnya kedua anakku sudah mau naik pelaminan." Ucap Ayah Candra bahagia.
" Alhamdulillah" ucap mereka semua terdengar bahagia.
" Ternyata Candra yang menang di antara kita berempat." ucap Papah Bobby.
" Maksud kamu? Menang gimana?" tanya Abi Yosep merasa heran dengan ucapan Papah Boby.
" Gimana dia tidak menang, walaupun dia menikahkan anaknya yang paling akhir, tapi anaknya dua-duanya sudah mau naik kepelaminana hehehe, padahal kita bertiga lebih dulu menikahkan anak kita ya kan..." ucap Papa Andre.
" Nah itu maksudku, benar kata Andre itu." Sambung Papah Boby.
" Iya juga ya, aku masih ada Alfarisqi anak laki-laki ku itu masih perjalanannya panjang." Sahut Abi Yosep.
" Walaupun aku sudah mempunyai dua mantu, tapi tetap aja Candra pemenangnya, karena aku masih ada Almira yang juga perjalanannya panjang." Sambung Papah Andre.
" Apalagi aku... si Carlo sama seperti kalian juga masih panjang perjalanannya, tapi tidak apa-apa yang penting anak-anak kita selalu sehat dan menemukan kebahagiaannya suatu saat nanti, walaupun berbagai macam cobaan in sya Allah cobaan itu akan terlewatkan dengan begitu indahnya selagi mereka bersama dan peduli satu sama lainnya, mereka pasti akan selalu bersama-sama dan disetiap doaku di tengah malamku, aku selalu memohon kepada yang maha kuasa agar anak-anak kita selalu sehat dan selalu akur serta tidak saling membenci satu sama lain di kemudian hari dan semoga juga selalu membantu siapa saja yang memerlukan bantuan mereka, karena usia kita ini kita tidak tahu sampai dimana." Ucap Papah Boby sembari menghela nafasnya dengan pelan.
" Iya Bob, aku juga memohon kepada yang maha kuasa kalau seandainya suatu saat aku dijemput olehnya, aku menginginkan saat aku dijemput nantinya anak-anakku sudah memiliki kebahagiaan masing-masing dan usaha mereka masing-masing, di saat kami berdua sudah tidak ada di dunia ini mereka sudah memiliki kebahagiaan mereka sendiri." ucap Abi Yosep sembari tersenyum.
" Bukan kamu saja Yos, dengan kata-kata yang kalian ucapkan itu sudah mewakili doa-doaku, Aku juga memohon seperti itu kepada yang maha kuasa agar selalu mereka bersama tidak terpisahkan walau pun mereka berjauhan, tapi tetap mereka menghargai satu sama lain, mana yang tua dan mana yang muda dan bagaimana mereka menghargai kebaikan orang lain kepada diri mereka dan kebaikan mereka pada orang lain, aku memohon kepada yang maha kuasa untuk anak-anakku Bukan untuk anakku saja tapi untuk anak kita semua, untuk saling mengingatkan jika seandainya yang muda salah dimata yang tua yang tua bisa menegurnya dengan baik-baik, begitu juga sebaliknya jika seandainya yang tua bersalah di mata yang muda yang muda juga bisa menegur yang tua, Aku ingin menginginkan itu semua ada di diri anak-anak kita." ucap Papa Andre sembari membenarkan posisi duduknya.
" Amin..." ucap Ayah Candra.
Mereka menatap kearah Ayah Candra.
" Amin " ucap mereka semua.
" Aku tidak bisa berbicara apa-apa lagi, karena semua doa-doa aku sudah kalian sebutkan, Alhamdulillah akhirnya doaku untuk anak kedua ku terkabul, mendapatkan jodohnya, Alhamdulillah mereka berdua mendapatkan pasangan yang tepat bagi mereka yang membuat mereka berdua bahagia, aku juga memohon kepada yang maha kuasa agar Arvin bisa membimbing istrinya dan Arvin juga bisa menjadi panutan bagi istri dan anaknya kelak,dan kuharapkan pasangan Alena juga bisa membimbing Alena dengan baik dan begitu juga dengan Alena bisa memberikan yang terbaik untuk calon suaminya, Alhamdulillah doa itu terjawab walaupun aku hanya satu hari bertemu dengan Smith, tapi aku sudah merasa kalau Smith adalah yang terbaik buat Alena, semoga saja jodoh mereka berdua ini panjang sampai menutup mata, bukan untuk anak kita saja tapi untuk anak-anak kita semua, semoga jodohnya sampai kakek dan nenek..." ucap Ayah Candra.
Dianggukkan mereka semua dan mengucapkan Amin bersamaan.
Kemudian Umi Vita dan Anindita keluar dari ruang dapur, mereka mengatakan kalau masakan yang mereka buat sudah selesai dan mereka pun mengajak semuanya untuk menikmati buatan Umi Vita dan Anindita.
Mereka semua pun mengangguk dan tersenyum, Papah Andre mengajak mereka semua untuk makan bersama, mereka pun kemudian berdiri dan melangkah menuju kearah dapur dan menikmati hidangan yang sudah dibuat oleh Umi Vita dan Anindita.
Mereka menikmati makanan tersebut dengan lahapnya, tidak ada suara yang keluar dari mulut mereka, hanya terdengar suara sendok dan garpu saja yang bersentuhan.