THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP

THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP
BAB 243



Di dalam perjalanan menuju ke rumah Papah Bobby mereka semua yang ada di mobil papah Bobby ataupun di mobilnya Clarissa hanya bisa diam, tidak ada suara sama sekali, mereka hanya larut dalam lamunan mereka masing-masing.


Berhubung hari sudah mulai gelap, Mereka pun melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang, Nika yang merebahkan kepalanya di pangkuan sang Kakak pun hanya bisa menghela nafasnya dengan begitu dalam.


Saat mobil berhenti di lampu lalu lintas karena sedang lampu merah menyala, Nika menoleh ke arah kiri, dia melihat angkot yang dia tumpangi serta sopirnya itu,dia pun langsung mencengkram kuat tangan sang kakak.


Amelia terkejut, dia menoleh ke arah adiknya.


” Kenapa Dek? kamu kenapa?”


” Itu Kak, itu.. Kak Itu ...”


”Siapa?"


” Itu Dia kak..”


” Iya dek,Itu siapa?" tanya Amelia tidak mengerti karena Nika menatap kearah luar kaca jendela mobil, sembari menunjuk ke arah angkot yang ada pas bertepatan di samping mobil Clarissa.


” Ada apa Nika?” tanya Clarissa.


” Itu Kak, Itu.. itu angkot yang membawa Nika kemaren.." ucapnya sembari meneteskan air matanya, Amelia pun langsung memeluk sang adik, karena posisi Clarissa berada di samping suaminya yang sedang menyetir, dia pun langsung keluar dari dalam mobil, Marco pun terkejut dan membuka kaca jendela mobilnya.


” Sayang, kamu mau kemana?”


” Kamu ikutin aja nanti angkot ini.” ucapnya sembari memasukkan kepalanya ke dalam pintu jendela mobilnya.


Saat dia mau mengeluarkan kepalanya diapun terjeduk.


” Aduh!" Ucapnya seraya mengusap belakang kepalanya.


” Aduh sayang! Hati-hati ” ucap Marco.


” Iya-iya sayang jangan khawatir.” ucapnya tersenyum.


Marco pun menganggukkan kepalanya, Clarisa langsung masuk di samping sopir angkot tersebut, sopir angkot itupun terkejut.


”Selamat sore Pak.” sapanya langsung duduk disamping sopir angkot itu.


” Sore Bu.”


” Bisa antarkan saya.”


” Oh siap bu, ke mana ya Bu?” tanyanya.


” Ke jalan Mutiara 14."


” Oh iya Bu siap.” ucap Sopir angkot itu.


” Jalan mutiara 14 di mana ya? Heheh Aku asal sebut aja sih.” gumamnya di dalam batinnya sembari tersenyum.


Kemudian dia pun duduk dengan tenang, tapi dia tidak menatap kearah sopir angkot itu, sopir angkot itupun sesekali menoleh ke arah Clarissa, setelah lampu hijau menyala, angkot itu pun perlahan-lahan mendahului mobil Clarissa, mobil Clarissa pun berbelok ke arah kanan mengikuti mobil angkot tersebut, kemudian Marco menghubungi sang mertua yang memang berada pas di depan mobil angkot itu.


Mobil Papa Bobby pun berhenti kemudian Dia turun dan mendekati mobil Clarissa yang dikendarai oleh Marco.


” Ada apa Marco?”


” Angkot yang di belakang mobil Papah itu adalah angkot yang telah membawa Nika waktu itu, Clarissa ada di dalamnya, lebih baik Mamah Lala dan Carlos masuk ke mobil Marco aja, biar kita berdua mengikuti mereka menggunakan mobil papah.” ucap Marco pada papah Boby.


Papah Bobby pun mengangguk...


Papah Boby kemudian berbicara dengan Mamah Lala.


” Mbeb, kamu bawa pulang mereka duluan ke rumah, karena di depan adalah mobil angkot yang membawa Nika saat kejadian, sedangkan Clarissa ada di dalamnya.”


” Apa?! Clarissa ada di dalamnya?!”


” Tenang Mbeb, aku dan Marco akan mengikutinya kalian cepatlah pulang.”


Mamah Lala pun langsung bertukar posisi mobil, karena melihat kedua mobil yang berhenti di pinggir jalan kedua anak buahnya Arvin pun ikut berhenti juga dan menanyakan Ada apa sebenarnya yang terjadi, setelah dijelaskan oleh Papa Bobby mereka berdua dipinta untuk mengiringi mobil yang dikendarai oleh Mama Lala mereka berdua pun mengangguk dan mendahului mobil pribadi papah Boby, Marco dan papa Bobby pun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang mengikuti angkot yang ada di depan mereka, memang mereka berdua sudah tertinggal jauh tapi dengan kecepatan dan kelihaian dari Marko Mereka pun bisa menemukan angkot yang di dalamnya ada istri dan anak mereka berada.


Clarissa kemudian mengirim chat pribadi pada Abiyasa dan Arvin dia tidak mengirim chat pribadi kepada Morgan, karena dia tahu kalau Morgan baru saja melangsungkan pernikahannya dia tidak ingin mengganggunya, tapi sayang Clarissa tidak tahu kalau Morgan berada dalam satu mobil dengan Abiyasa.


Clarissa sudah mengirimkan alamat yang disebutkannya tersebut. Pada kedua sahabatnya itu dan dia pun sesekali melihat dari kaca spion samping kirinya itu ternyata mobil papahnya berada tidak jauh di belakang angkot itu, Clarissa melirik sesaat kearah sopir angkot, sopir angkotnya pun kadang-kadang menoleh ke arah Clarissa curi-curi pandang Clarissa pun mengetahuinya.


” Oh ya Pak, saya boleh bertanya sama Bapak?”


" Boleh Bu, tanya apa saja boleh bu.”


” Kapan bapak menjadi sopir angkot ini?”


” Udah lama Bu, sekitar 7 tahunan.”


” Lama juga ya Pak."


” Iya Bu.”


” Sudah berkeluarga pak?”


” Sudah Bu ”


” Sekarang keluarga Bapak di mana?”


” Keluarga saya jauh dari saya, saya di sini cuma mencari nafkah aja bu.”


” Punya anak pak?”


” Punya bu.”


” Berapa pak?”


” Tiga, cewek semua Bu.”


” Oh cewek semua.”


” Kenapa Bu? Ibu sudah berkeluarga?”


” Sudah punya anak?”


” Belum, kami pengantin baru pak.”


” Kenapa Ibu tiba-tiba naik angkot saya?padahal kan Ibu ikut di mobil ibu sendiri kan tadi.”


” Mobil saya mogok tadi jadi suami saya menyuruh saya ikut angkot Bapak, biar cepat sampai.”


” Oh begitu.”


” Kok lewat jalan sepi Pak?” tanya Clarissa.


” Sebentar lagi sampai Bu, di jalan Mutiara 14 yang Ibu sebutkan itu, jadi saya tidak melewati lampu merah karena terlalu sering berhenti di lampu merah, jadi saya merasa bosan berhenti melulu." Ucapnya terkekeh.


” Oh begitu.”


Kemudian sopir angkot itu pun menatap kaca spion yang ada di dalam mobil angkotnya tersebut.


” Ibu bisa lihat ke belakang nggak.”


” Kenapa Pak?”


” Perasaan mobil itu selalu mengikuti angkot saya Bu.”


Clarissa pura-pura menatap ke arah belakang.


” Oh, mungkin memang satu jalur di sini pak.”


” Nggak ada yang lewat di sini selain saya.”


” Maksud Bapak?”


” Oh tidak Bu, karena ini adalah jalan pintas bagi saya untuk mengantarkan para penumpang saya untuk cepat sampai ke tempat tujuan.”


” Oh begitu, tapi kan tidak hanya Bapak yang melewati jalan ini,bukan Bapak kan yang membangun jalan ini, jadi wajar dong kalau orang ingin mencari jalan pintas ”


” Mungkin saja Bu.” ucapnya.


” Oh ya pak, bapak pernah dengar tidak ada seorang gadis yang ikut angkot tapi kemudian dibius dan dibuat tidak senonoh.” ucap Clarissa


Sopir angkot tersebut pun langsung terkejut tapi langsung menutupi rasa terkejutnya itu.


” Sepertinya wajahnya mulai berubah kaya orang ketakutan begitu.”batin Clarissa seraya menatap kearah sopir angkot itu dan kemudian sopir angkot itu pun menoleh ke arah Clarissa.


” Ada apa? Kenapa menatap saya seperti itu? Saya tidak mendengar tentang itu bu.”


” Oh gitu,tidak apa-apa pak, saya cuma kasihan aja sama bapak.”


” Kenapa Bu, karena Bapak berjuang mencari uang demi keluarga.”


” Terima kasih Bu, memang itu adalah kerja saya untuk menafkahi anak dan istri saya yang jauh dari saya.”


” Tapi kerjanya harus yang halal ya Pak.”


Tiba-tiba saja sopir angkot itu menoleh kearah Clarisa.


” Kenapa Pak? saya kan cuma bilang pekerjaan itu harus halal, kalau jadi sopir angkot sih halal Pak tapi jangan mau kalau disuruh-suruh orang seperti sopir angkot yang membantu orang jahat itu.”


” Maksudnya ibu?”


” Tidak pak, saya cuma mengatakan itu aja kepada bapak biar bapak bisa mencari nafkahnya dengan jalan yang halal dan mendapatkan uang yang halal juga.” ucap Clarissa santai.


Sopir angkot itu pun mulai gelisah dengan ucapan Clarissa kemudian dia membelokkan angkotnya ke arah kanan.


” Kita sudah sampai bu, Ibu tidak salah menuju ke jalan Mutiara 14 ini?”


” Iya, saya tidak salah pak.” ucapnya tersenyum.


” Berhenti disini pak.” ucap Clarissa lagi.


Sopit angkot itu pun berhenti di depan pemakaman umum.


” Maaf Bu, di mana rumah Ibu? bukankah ini alamat pemakaman umum Bu?” sopir angkot itu pun mulai ketakutan.


Namun Clarissa hanya diam saja.


” Yang benar aja Bu, Apakah ini memang alamat yang dituju?”


” Iya, ini Alamat saya.”


” Di mana rumah Ibu?”


” Itu ” jawab Clarrissa menunjuk ke arah pemakaman tersebut,sopir angkot itu pun kemudian gemetaran.


” Nggak usah takut Pak, gak usah gemetaran, santai aja Pak, bapak nggak lihat rumah saya yang sangat bagus itu, masa bapak nggak lihat sama sekali, itu rumah saya yang paling bagus, ada pagarnya, terus catnya berwarna putih, terus ada tangganya pakai Lift juga, rumah saya itu paling mewah di sini Pak, coba bapak lihat di tengah halaman rumahnya juga besar, rumah saya di tengah-tengah itu kok pak di samping kiri kanan saya dan di belakang rumah saya serta di depan rumah saya itu adalah tetangga-tetangga saya, Kenapa wajah Bapak terlihat pucat? santai aja pak, santai...” Clarisa pun kemudian menepuk pundak sopir angkot itu, sopir angkot itu pun melirik ke tangan Clarissa dia melihat tangan Clarissa dilihatnya terlihat pucat, karena terbawa rasa ketakutan yang paling dalam, Clarissa tersenyum menatap kearah sopir angkot tersebut.


” Buset dah! aku asal sebut aja alamat, ternyata jalan Mutiara 14 komplek pemakaman umum.” batin Clarissa.


Sopir angkot itupun gemetaran dia menghidupkan mesin angkotnya, saat dia mau melajukan mobilnya, angkotnya dihadang dengan Mobil Abiyasa dan Arvin, dan Mobil Papah Boby sudah berhenti di belakang mobil angkot itu, dan Mobil angkot itupun tidak bisa lagi bergerak kemana-mana.


Sopir angkot itupun terkejut karena mobil angkotnya tidak bisa lagi berjalan karena sudah dihadang dua buah mobil dan mundur pun dia tidak bisa karena sudah dihalangi dengan mobil papah Boby.


” Wow! Kenapa Clarissa nyuruh kita kepemakaman umum begini sih ”ucap Morgan terkekeh.


” Aku juga tidak tahu Mor, karena dia cuma mengatan alamat Jalan Mutiara 14 aku juga baru ke sini, ini juga menggunakan penunjuk arah, kalau tidak menggunakan penunjuk arah aku juga tidak tahu alamat ini.”ucap Abiyasa terkekeh kecil.


” Ya Ampun! Ada-ada aja sih Clarissa disuruhnya kumpul dipemakaman umum hehehe..” ucap Arvin berbicara sendiri didalam mobilnya.


” Kenapa pak? Takut ya?” tanya Clarissa sembari tersenyum pada pak sopir Angkot tersebut


” Siapa sebenarnya kalian? Aku cuma ingin mencari nafkah, jangan diapa-apain bu, kasian anak saya dan istri saya, tolong jangan rampok saya bu.” ucapnya seraya memelas pada Clarissa.