THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP

THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP
BAB 178



" Tapi ngomong-ngomong ke mana mereka berdua ya Biy?" tanya Morgan seraya menatap ke arah kedai kopi tersebut.


" Iya ya Mor dimana Arvin dan Nadine menghilang ya?tidak terlihat." jawabnya.


" Hooh.. Aku juga tidak tahu dimana tadi, Aku tidak memperhatikan mereka berdua." ucap Morgan.


Kemudian Abiyasa mengambil gawainya dan menghubungi Arvin, Beberapa saat kemudian sambungan itu pun terjawab.


" Halo Vin,kamu di mana?"


" Aku ada di warung gorengan yang cat warna biru Biy." ucap Arvin.


Mata Abiyasa pun langsung melihat ke arah warung gorengan yang berwarna biru, Dia memang tidak melihat ada Arvin dan Nadine,tapi Arvin mengatakan mereka berdua ada di dalam.


" Ya sudah kalau seperti itu kami berdua ke sana." ucap Abiyasa.


Mereka pun langsung memutuskan sambungan bicara mereka.


" Mereka ada di mana Biy.?"


" Itu di warung yang warna biru itu, tempat orang menjual gorengan, sekarang kita menemui mereka di sana tapi sebelum kita menemui mereka kita masuk dulu ke kedai kopi itu, kita memilih duduk tidak jauh dari mereka, agar kita bisa mendengarkan besok mereka mau kemana, atau rencana apa lagi yang akan mereka perbuat, karena kita tidak ada orang kepercayaan yang dekat dengan mereka, Jadi sebelum mereka pergi dari sana kita sendiri yang akan mendengarkan pembicaraan mereka itu." ucap Abiyasa menjelaskan kepada Morgan.


Morgan mengangguk.


" Ayo sekarang kita ke sana,nanti mereka keburu pergi dari kedai kopinya dan kita tidak bisa mendengar lagi pembicaraan mereka." ucap Morgan.


Abiyasa pun mengangguk dan kemudian mereka keluar dari mobil melangkah menuju ke arah kedai kopi itu.


Mereka pun memasuki kedai kopi tersebut dan mereka memilih kursi pas sekali di dekat dengan pak Bowo dan Pak Rizal beserta kedua anak buahnya.


Setelah Abiyasa dan Morgan memesan kopi mereka pura-pura mengutak-ngatik gawainya tersebut, padahal mereka berdua memasang pendengarannya agar bisa mendengar pembicaraan target mereka.


" Sudahlah Bowo Kamu mungkin salah orang saja, kalau memang itu adalah Lia dan si lelaki yang ada di dalam foto itu seharusnya kamu menemukan mereka, karena mereka itu jalan kaki tidak mungkin mereka langsung menghilang begitu saja." ucap pak Rizal.


" Bukan seperti itu Zal, Aku memang jelas-jelas melihat Lia tapi biar bagaimanapun aku akan tetap mencarinya."


" Kamu mau mencari kemana hah? sedangkan kamu aja yang jelas-jelas melihatnya tidak menemukan mereka setelah kamu mengejarnya, apalagi kamu akan mencarinya, kota ini luas Wo tidak bakalan kamu akan menemukan mereka, asal kamu tahu kalau Lia berada di kota ini Dia tidak akan bisa bekerja di mana-mana, karena sudah Aku katakan dengan para sahabat dan teman-teman Aku yang mempunyai kantor ataupun mempunyai perusahaan yang sangat besar dikota ini agar tidak menerima Lia bekerja ditempat mereka." ucap pak Rizal.


" Tapi Aku jelas melihat Dia, Dia begitu terurus, Dia juga begitu cantik berarti dia memang berada di sini dikota ini."


" Memang Lia itu cantik dari dulu, Ariel aja Anakku sangat suka dengannya, Jadi wajar karena selama bertahun-tahun lamanya Dia merubah penampilannya, kalau seandainya itu memang mereka."


" Aku jelas Zal melihatnya,kenapa kamu ini tidak percaya dengan Aku sih."


" Aku percaya aja kalau memang Aku benar-benar melihatnya, tapi Aku tidak melihat mereka sama sekali Lia dan laki-laki yang ada di dalam foto itu,dan apakah kamu tahu nama laki-laki itu siapa.?" Tanya pak Rizal pada pak Bowo.


" Aku tidak tahu Zal." ucapnya seraya menggelengkan kepalanya.


" Itulah bodohnya kamu! kamu ingin mencari orang yang ada di dalam foto itu, tapi kamu tidak tahu namanya, apakah kedua anak buahmu mendapatkan info kalau laki-laki yang ada di dalam foto bersama dengan Lia itu sudah di temukan?"


" Belum Zal.." ucapnya singkat.


" Pikir aja kamu sendiri Bowo sudah bertahun-tahun lamanya kamu tidak tahu keberadaan lelaki itu apakah lelaki itu sudah mati atau lelaki itu masih hidup! sulit mencari orang yang sudah bertahun-tahun tidak ada,pikir pakai otak mu jangan mikir pakai dengkul mu!kamu aja mencari Lia tidak ketemu apalagi mau mencari laki-laki itu." ucap pak Rizal seraya menatap pak Bowo dengan tajam.


Pak Bowo sangat marah dengan kata-kata pak Rizal,tapi karena Dia tidak mau bertengkar dengannya itu akhirnya dia hanya mendengus dengan kesal,untuk menahan amarahnya.


" Aku akan buktikan denganmu Zal kalau yang Aku lihat tadi adalah memang benar laki-laki yang ada di dalam foto itu memang benar bersama dengan Lia tadi." batinnya seraya melirik kearah pak Rizal.


" Ternyata Rizal itu adalah orang tuanya Ariel, mukanya tidak jauh beda seperti anaknya yang kurang sekilo perilakunya, katanya suka dengan Lia, tapi malah menghancurkan Dia, Dasar bego tuh Anak sama dengan orangtuanya." ucap Morgan seraya mengirim chat pribadi ke gawainya Abiyasa, Abiyasa tersenyum membaca chat pribadinya yang dikirimkan oleh Morgan, mereka berdua memang menggunakan chat pribadi kalau ingin berbicara karena mereka tidak ingin terlihat mencurigakan.


Morgan hanya menganggukan kepalanya dan kemudian mereka berdua pun memasang kembali pendengarannya agar bisa mendengar mereka berbicara lagi.


" Terus rencana kamu besok mau apa?"


" Aku besok mau mencari Adikku yang bernama Sahrul, Aku ingin menanyakan semuanya kepadanya, karena Aku yakin Dia pasti tahu tentang keberadaan Lia saat ini."


" Dimana kamu mau mencari Adikmu?"


" Aku akan melacak keberadaan Adikku." ucap pak Bowo mantap.


" Hadeh!!dengan cara melacak,gaya Dia mau mengalahkan polisi aja!" ucap Morgan kembali mengirim chat pribadi kepada Abiyasa.


" Makanya kamu sebagai polisi jangan sampai dikalahkan oleh si polosa heheh." balas Abiyasa mengirim emotikon tertawa lepas.


" Benar tuh tidak akan pernah Aku dikalahkannya, lihat aja nanti dia akan berakhir di hotel prodeoku, karena hotel prodeo ku itu sudah menunggu dirinya." isi chatnya membalas emotikon tertawa.


Abiyasa pun tersenyum membaca balasan chat pribadi dari Morgan, walaupun mereka berhadap-hadapan tapi bicara melalui chat pribadi, dan mereka berdua saling pandang kemudian sama-sama tersenyum.


Pesanan mereka pun datang dan mereka langsung meminum kopi tersebut sambil memasang tetap pendengarannya.


" Aku besok akan menunggu Adikku di rumahnya, Aku akan menyuruh Adikku segera pulang agar Aku bisa berbicara dengannya."


" Ya sudah besok Aku akan temani menunggumu di tempat Adikmu, siapa tahu Aku dapat mencari Anakku, besok jam berapa biar Aku jemput sekalian kamu ke rumahmu."


" Jam delapan, biar sampai kapanpun akan tetap kutunggu dia di rumahnya."


" Baiklah Aku akan selalu menemanimu sekalian Aku juga mau mencari-cari di mana keberadaan Ariel, Ya sudah sekarang kita pergi dari sini lebih baik kamu menenangkan diri dulu, terserah kamu mau di mana, mau di rumahku atau di rumahmu." ucapnya menepuk pundak sahabatnya tersebut Kemudian mereka pun berdiri setelah membayar pesanan mereka tersebut.


Mereka berdua pun tertawa lepas setelah kepergian Pak Bowo dan komplotannya tersebut.


" Ternyata orang tua itu mencari Anaknya, makanya Pak tanya dengan saya di mana Anakmu berada! tuh ada di hotel prodeo saya, Ayo Pak saya antar hehehe " ucapnya terkekeh.


" Ayo cepat habiskan minummu kemudian kita menemui Arvin." ajak Abiyasa tersenyum.


" Oke!" kemudian mereka berdua pun meminum seteguk dua teguk walaupun minumannya tidak habis Mereka pun langsung membayarnya dan keluar bergegas meninggalkan kedai kopi tersebut dan menuju ke arah kios tempat orang menjual gorengan dimana di dalamnya ada Arvin dan Nadine.


" Ternyata kalian berdua di sini Aku cari-cari tadi tidak kelihatan." ucap Abiyasa.


" Kami langsung masuk kesini " ucap Arvin sembari tersenyum. Abiyasa dan Morgan langsung duduk disebelah Arvin, karena warung gorengan tersebut memang tempatnya strategis dan bersih serta ada tempat duduknya sedikit tersembunyi berada di dalam warung tersebut,warungnya terlihat sedikit lebar.


Mereka pun akhirnya melahap gorengan dan teh manis sambil berbicara dan merencanakan yang selanjutnya.


" Apakah si Bowo melihat kalian dengan jelas?" tanya Abiyasa pada Arvin.


" Iya Dia melihat kami dengan jelas dan kami pun melihat Dia dengan tatapan kami seakan-akan memang kami berdua mengenali Dia."


" Untung saja kalian cepat ya masuk ke sini " ucap Morgan sembari berbicara pelan.


" Karena saat di dalam mobil Aku sudah mengawasi kiri kanannya dari kedai kopi tersebut, Untung saja kedai kopi itu pernah Aku dan Nadine singgahi, jadi Aku tahu seluk-beluknya dan tempat gorengan ini yang sering kami beli bila saat anak buahku piket malam." ucapnya sembari tersenyum.


" Selanjutnya rencana kita apa hari ini?"


" Biarkan saja dia larut dengan pikiran dia sendiri,besok baru kita lanjutkan lagi,Tapi aku tidak tahu dia besok berada di mana." ucap Arvin.


Abiyasa dan Morgan tersenyum.


Arvin menatap kearah mereka berdua dengan heran.