THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP

THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP
BAB 199



BAB 199


Saat Beni masuk Dia tetap menyaksikan Aditama dan Lidya bermesraan.


" Aduh nih bos! nggak bosan-bosan apa setiap pagi selalu mesra-mesraan seperti itu,apa tidak ada tempat selain di ruangan ini, istrinya juga kalau ingin menjadi seorang bos itu lebih baik Dia sendiri yang memimpin perusahaan bukan suaminya, seharusnya Dia berada di rumah bukan di ruangan ini, jadi gemes Aku melihatnya, jadi geregetan pengen mengacak-ngacak mukanya mereka berdua." ucap Beni seraya duduk di kursinya sembari mendengus dengan dongkol.


Aditama memang tidak menggunakan wanita sebagai sekretarisnya, karena Lidya memintanya untuk tidak menggunakan seorang wanita sebagai sekretaris pribadinya di kantor.


Kalau dilihat kantor itu terlihat seperti kumpulan para lelaki,karena mayoritas di ruangan tersebut semua lelaki,sedangkan wanitanya hanya sedikit dan berada diruangan yang lain, karena tenaga pekerja dikantor tersebut dipergunakan lebih banyak lelaki dari pada wanita.


Lidya melarang Aditama untuk menerima para wanita yang melamar pekerjaan di kantornya itu, apalagi kalau wanita itu lebih cantik dari dirinya, Dia merasa cemburu. Sedangkan Aditama pun tidak bisa menolak permintaan sang istri, Dia selalu mengiyakan apa kata istrinya tersebut.


Aditama tidak menyadari Nayra istri yang selama ini dia nikahi selama beberapa tahun begitu saja Dia lupakan,bahkan kadang-kadang Nayra hanya berada di rumah seorang diri, kalau Aditama meninggalkan rumah dan berada di rumah Lidya,Nayra dikunci di dalam kamar tanpa teman sama sekali, sedangkan gawainya pun selalu di dibawa oleh Aditama, akses media sosial pun Dia tidak boleh untuk menggunakannya,kalaupun Dia mau menghubungi keluarganya yang berada jauh darinya itupun jika Aditama ada dirumah dan disaat Aditama tertidur barulah Nayra menggunakan gawai pribadinya yang sudah disita Aditama,Nayra menggunakan gawai tersebut tanpa sepengetahuan Aditama.


Begitu juga dengan barang-barang elektronik tidak bisa Dia gunakan sesuka hatinya walaupun Dia berada dirumahnya sendiri.


Nayra bertahan dari siksaan batin dari Aditama karena ingin membahagiakan Anak-Anaknya agar Anak-Anaknya tidak kekurangan kasih sayang kedua orang tuanya.


Tapi sebenarnya kasih sayang kedua orang tuanya pun sudah hilang karena Aditama tidak pernah sama sekali menghubungi Anaknya yang berada di Mamah Mertuanya tersebut.


Aditama tidak menyadari perbuatannya terhadap Nayra sudah tercium oleh keluarga Nayra, terutama Papa Andre dan keluarganya.


Aditama akan membayar semuanya, karena kesalahannya yang sangat fatal tersebut.


Beni menatap kearah mereka berdua, Beni merasa jijik melihat perbuatan mereka berdua yang tidak sepantasnya dilakukan di dalam kantor tersebut, apalagi kaca tanpa penutup gorden tersebut terlihat jelas kalau mereka bermesra-mesraan.


Beni sendiri merasa malu menyaksikan itu, Dia pun langsung memalingkan kursi yang Dia duduki tersebut membelakangi Bos dan istrinya itu.


" Jika Aku ini bisa berkuasa ataupun bisa melawan, lebih baik Aku berhenti bekerja dari sini, tapi sayangnya Aku tidak bisa, karena mendapatkan pekerjaan di kota ini sangatlah sulit, syukur-syukur Aku diterima disini dengan perjuangan yang sangat berat, semenjak pergantian Bos, karyawan di sini sudah sangat tertekan, dulu sewaktu Pak Yoga menjabat sebagai direktur utama di sini kehidupan karyawan sangatlah tentram, tapi setelah si Aditama yang menjabat sebagai direktur utama sekaligus menantu pemilik perusahaan ini, karyawan seakan-akan berada ada di jalan yang kiri kanannya memiliki api yang sangat besar,yang sewaktu-waktu bisa saja memakan dan membakar diri karyawan-karyawan yang ada di sini termasuk diriku." ucapnya pelan sembari menatap ke layar komputernya tersebut.


" Oh ya Sayang, kapan kamu menceraikan sah Nayra? karena Aku tidak mau kalau cintamu terus berbagi untuk wanita yang tidak berguna itu " ucap Lidya seraya masih duduk di pangkuan Aditama.


Aditama pun mencium lembut pipi kiri dan kanannya Lidya,dia pun tersenyum seraya membelai rambut hitamnya Lidya.


" Kamu yang sabar, Aku akan segera menyelesaikan semuanya, Aku akan menceraikannya dan Aku akan tetap tinggal bersama denganmu." ucapnya tersenyum.


" Tapi kalau kamu bersama denganku selama-lamanya dan tidak terbagi lagi cintamu untuknya, Aku tidak ingin merawat Anakmu!" ucap Lidya menatap Aditama dengan tatapan tajam.


" Tenang saja, Aku tidak akan pernah mengambil hak asuh Anak ku dengan Nayra, biarkan saja Dia yang merawatnya, keluarga Dia kaya jadi Dia bisa merawat Anakku."


" Kalau orang tuanya Nayra kaya Kenapa kamu tidak mendapatkan kekayaan tersebut dan kenapa juga kamu mau menikah denganku, padahal kan kalau dipikir Aku janda sudah beberapa kali."


" Tapi kamu janda berbeda sayang, kamu sangat menggoda kalau Nayra walaupun awalnya dia perawan tidak janda tapi sekarang aku sudah tidak ada hati lagi dengannya, Aku memang sengaja untuk memberi Dia pelajaran karena keluarganya sangat sombong."


" Apa? keluarganya sangat sombong.?"


" Iya sayang, seharusnya kan mereka tahu Aku ini kan bekerja sebagai karyawan mereka kan banyak mempunyai perusahaan setidaknya perusahaan satu lah dipercayakan denganku agar Aku bisa membahagiakan si Nayra,tapi apa yang Aku dapat sedikitpun Tidak ada! bahkan keluarganya pun mempermalukan kakakku di saat itu." ucap Aditama dengan nada penuh rasa dendam yang dalam.


Mendengar perkataan Aditama Lidya berdiri dari pangkuan Aditama Dia kemudian melangkah menuju kearah sofa, Aditama pun berdiri Dia mengikuti langkah Lidya duduk berdampingan di sofa tersebut.


" Maksud kamu mempermalukan Bagaimana.?"


" Ceritanya panjang, awalnya Aku tidak tahu masalah yang terjadi setelah kakakku bicara kalau keluarganya Nayra mempermalukan kakakku di tengah orang banyak, ya di tengah orang banyak itu di tengah-tengah keluarganya di saat ada acara,Kamu kan tahu Aku sayang banget dengan kakakku awalnya Aku menikah dengan Nayra sebenarnya tidak disukai dengan keluargaku, tapi karena Aku memang saat itu mencintai Nayra makanya Aku rela menikahinya dengan apa adanya diriku, memang keluarganya setuju Aku menikah dengannya tapi sudah tahu keadaan ku miskin saat itu, yah! miskinlah tidak memiliki perusahaan, pekerjaan hanyalah sebagai karyawan biasa tapi mereka tidak peduli itu dan lagi Nayra juga tidak mau meminta mau di mana suaminya bekerja,memang sih salah satu keluarganya Nayra menawarkan salah satu pekerjaan untuk ku,tapi Nayra malah tidak menyetujuinya, sekarang Aku bertemu kamu Aku sangat beruntung sekali Kamu adalah bidadari yang terindah yang pernah Aku temui, kamu memberikan segalanya yang Aku tidak pernah miliki,Hanya kamulah yang ada di hatiku." ucapnya seraya memeluk Lidya.


Lidya pun seperti melayang-layang mendapatkan kata-kata pujangga dari suaminya itu, padahal Dia tidak tahu kalau suaminya pun sudah bermain cinta dengan wanita lain dibelakangnya.


" Aku akan terus mengikatmu Lidya, Aku akan terus menjadi suamimu yang selalu kamu banggakan, sebenarnya Aku juga tidak mau menjadi suami kamu, tapi karena kamu memiliki perusahaan dan kekayaan yang tiada batasnya sehingga kamu percaya kepadaku dan kamu akan memberikan kepercayaan lebih untukku, apalagi 2 bulan nanti kamu sudah mendapatkan warisan perusahaan ini dan Aku akan bersabar menunggu 2 bulan itu." batinnya berbicara sembari tersenyum sinis sambil memeluk Lidya.


Lidya yang dipeluk pun senyum-senyum merasa bahagia karena suaminya memang benar-benar yang diharapkannya seorang Aditama yang Memang benar-benar mencintai dan menyayanginya sepenuh hatinya dan rela meninggalkan istrinya hanya untuk memilih dirinya.


Merekapun kemudian dikejutkan dengan suara ketukan pintu ruangannya tersebut.


" tok tok tok " mereka berdua saling bertatapan dan melepaskan pelukannya.


" Masuk " ucap Aditama, Lidya pun merapikan duduknya Beni memasuki ruangan tersebut.


" Maaf pak saya mengganggu, ini ada beberapa berkas yang harus Bapak tanda tangani " ucapnya mendekati kedua orang yang sedang duduk di sofa ruangan itu.


" Oh ya silakan kamu taruh aja di atas meja Aku,nanti kalau sudah selesai Aku tandatangani Aku akan memanggilmu lagi silakan kamu keluar dari ruangan ku." ucapnya seperti tidak menghargai karyawannya, padahal Beni dan Aditama berteman sama-sama karyawan waktu itu sebelum Aditama menjabat sebagai derektur utama dan suaminya Lidya.


" Oh iya Pak siap." ucapnya singkat kemudian Beni pun berbalik arah menuju ke pintu sebelum Dia mengapai pegangan pintu Dia pun dipanggil kembali oleh Aditama.


" Oh ya Beni sebentar."


Beny pun kemudian berbalik arah lagi Dia mendekati Aditama yang memanggilnya.


" Ya Pak Ada apa?"


" Tolong bila ada tamu nanti, bilang saya tidak ada di kantor! karena saya hari ini tidak ingin menerima tamu siapa pun, baik itu client ataupun siapa saja yang mau bertemu saya" ucapnya.


" Iya Pak."


" Ya sudah silakan kamu pergi jangan lupa nanti siang pesankan Aku makan siang karena Aku ingin bersama istriku di ruangan ini tanpa ada yang mengganggu."


lagi-lagi Beny mengangguk padahal di dalam hatinya sangat dongkol.


" Bisanya hanyalah bisa nyuruh nyuruh saja,Kenapa Dia sendiri nggak langsung pesan makanan siap saji dan langsung diantar ke ruangannya ini." batinnya Seraya melangkah menuju ke arah pintu.


Sesampainya di luar ruangan Beni pun mengusap wajahnya dengan kasar dan meremas rambutnya dan Dia berjongkok di depan pintu ruangan Aditama.


Toto yang melintas di depan ruangan tersebut langsung mendekati Beni.


" Kamu kenapa Ben?kena marah lagi ya sama bos?"


" Si Aditama ini makin hari makin melonjak jadi kesel Aku dibuatnya."


" Memang ada apalagi yang dibuatnya.?"


" Dia mengatakan tidak mau bertemu dengan client ataupun bertemu dengan siapa saja, dia malah ingin menghabiskan waktu bersama dengan Bu Lidya di ruangannya, bahkan dia juga menyuruh Aku untuk memesankan makan siangnya, kamu pikir aja ini jam berapa? malah Dia mau menyuruh Aku memesankan makan siang untuknya, dikiranya Aku kerja hanya untuk melayani Dia apa." ucap kesal Beni.


Toto pun langsung menutup mulut Beni dan menariknya langsung ke depan ruangan Beni.


" Kamu jangan seperti itu ngomongnya, Nanti kalau ada yang dengar habislah kamu, Dia kan tidak pandang bulu apapun pasti akan dijadikannya masalah dan pemecatan secara tidak diinginkan tanpa pesangon, kamu mau seperti itu?"


Beni terdiam, Dia kemudian lemes dan menundukkan kepalanya.


" Kamu kan tinggal pesan, bereskan, apa yang diinginkan mereka untuk makan siang."


" Iya memang beres, tapi uangnya itu uang Aku."


" Kamu kan bisa minta bagian keuangan."


" pernah Aku sekali minta tapi kata mereka tidak berani mengeluarkan tanpa ada tanda tangan dari bos."


" Astaghfirullahaladzim! rupanya seperti itu perlakuan bos kita selama ini."


" Ya begitulah, makanya Aku mau cari-cari kerja yang memang layak untuk diriku, dan gajiku memang harus kunikmati bukan untuk Dia kembali, coba kamu pikir aja sendiri kita dibayar oleh Dia tapi kita memberikan lagi uang kita kepadanya, sedikitpun Dia tidak peduli dengan karyawannya, Dia ingin karyawannya itu memberikan yang terbaik untuknya, tapi Dia tidak memberikan yang terbaik untuk kita, Aku lama kelamaan jadi ingin melenyapkan nya saja." ucap Beni berbicara di depan ruangannya tersebut.


" Sstttt! sudah kamu jangan emosi kaya gitu, kamu masuk aja ke dalam, kalau memang kamu tidak ada uang Aku ada sedikit uang untuk membelikan makanan bos kita daripada kamu dipecat tanpa ada alasan." ucap Toto sembari menepuk pundak Beni dengan pelan kemudian Dia melangkah menuju ke kursi kerjanya.


Beni hanya menatap kepergian toto dari hadapannya, Dia pun langsung mendengus dengan kesal dan langsung masuk ke dalam ruangannya itu, Dia menatap kearah ruangan bosnya tersebut dimana terlihat Aditama dan Lidya sedang tertawa begitu senangnya.


" Bos edan!lihat saja tunggu aja pembalasan dari Tuhan kamu pasti akan mendapatkannya dan kamu pasti akan menyesal seumur hidupmu!!" ucapnya seraya langsung duduk di kursi kerjanya dan langsung menatap ke arah layar komputernya yang masih menyala.


" Dengan pikiran kacau seperti ini Aku tidak bisa untuk menyelesaikan pekerjaanku." gumamnya langsung menelungkupkan kepalanya di meja kerjanya tersebut.


*****


Jet pribadi yang ditumpangi oleh papah Andre dan kawan-kawan pun sampai di bandara yang ada di kota itu, mereka kemudian turun semua, Papa Andre langsung menemui pihak bandara dan berbicara sebentar, setelah Dia berbicara dengan pihak bandara, Papa Andre langsung menemui ketiga sahabatnya dan mamah Melisa dan papah David,saat mereka melangkah ingin mencari taksi seseorang memanggilnya.


" Assalamualaikum Pak Andre"


Mereka pun langsung menoleh kearah suara.


" Waalaikumsalam Pak Maman" jawab papah Andre sembari tersenyum.


" Di sini pak mobilnya sudah saya sediakan kita berangkat ke penginapan sekarang, karena sudah saya booking untuk bapak beberapa hari berada di sini."


" Oh ya pak terima kasih ya Pak sudah menunggu kami dari tadi." ucap ramah papah Andre.


" Nggak Pak, baru aja saya disini." ucapnya berbohong karena Dia tidak ingin mengecewakan bosnya tersebut, karena Dia merasa Papa Andre adalah Bos yang terbaik selama Dia bekerja dan mengabdikan dirinya sebagai anak buah dari Papa Andre.


Pak Maman membukakan pintu untuk bosnya tersebut dan membukakan pintu yang lainnya juga.


Kemudian pak maman sendiri yang menyetir mobil itu menuju ke penginapan yang sudah di sewa oleh Pak Maman untuk tempat tinggal papa Andre dan para sahabatnya.


Beberapa saat kemudian mereka memasuki sebuah losmen kecil yang sederhana tapi terlihat bersih dan asri.


Mereka pun langsung memarkirkan mobilnya dan mereka turun dari mobil menuju ke arah lobby.


Setelah Pak Maman berbicara kemudian pihak resepsionis tersebut memberikan dua buah kunci kamarnya dan mereka pun mengikuti langkah Pak Maman menuju ke arah kamar yang sudah dipesan oleh Pak Maman untuk mereka.


sesampainya di lantai dua losmen tersebut Mereka pun langsung masuk ke dalam kamar yang sudah dipesan itu.


Papa Bobby dan yang lainnya langsung menghempaskan tubuhnya di sofa yang ada di ruangan itu.


" Akhirnya kita sampai juga di sini." ucap papa Boby tersenyum.


" Aku sudah tidak sabar ingin meremas mukanya Aditama suaminya Nayra itu." ucapnya lagi.


Papa Andre dan yang lainnya hanya tersenyum saja dan papah Andre Langsung menatap ke arah Pak Maman.


" Pak Maman Kenapa berdiri saja duduk aja di sini sama kita-kita." ajak papah Andre.


" Tidak pak! biar saya duduk di sini aja." ucapnya Seraya duduk di lantai ubin keramik ruangan itu.


" Eh! jangan Pak Maman duduklah di kursi ini kita sama aja pak Maman,tidak ada yang berbeda, kita kan di mata yang maha kuasa tetap sama, duduk sama rendah berdiri sama tinggi." ucap papah Andre lagi.


Pak Maman pun kemudian berdiri kembali dan langsung duduk di sofa yang ada di ruangan itu.


" Nah baru benar nih." ucap papah Andre tersenyum,kemudian Dia melanjutkan lagi bicaranya.


" Begini Pak Maman Bagaimana tentang keadaan Nayra sekarang?"


" Kalau keadaan bu Nayra saya tidak pernah mengetahui keadaannya sekarang bagaimana, Tapi kalau masalah suaminya dengan istrinya itu saya sudah mengetahuinya dari keterangan Adik saya, kalau suaminya dan istrinya itu sering selalu berdua kemana-mana,sampai suaminya pergi ke kantor pun istrinya selalu ikut, mereka berdua tidak pernah terpisahkan." ucapnya.


Mereka berempat pun saling bertatapan dan terlihat kemerahan di wajah Papa Bobby.


" Ini tidak bisa dibiarkan Ndre, kita harus menyelesaikannya,karena ini sudah keterlaluan!!, bertahun-tahun Nayra diperlakukan seperti ini." ucapnya.


" Benar katamu Bob, kali ini kita tidak akan memberikan konsekuensi lagi dengannya, kita harus memberikan pelajaran untuk Aditama itu.!" ucap papa Andre di anggukan oleh mereka semua.


*****


Makasih yang sudah memberikan support nya buat saya,tapi maaf ya pembaca setia Abiyasa karena beberapa hari ini nggak bisa update karena saya dalam keadaan sakit, Alhamdulillah diselaΒ² pemulihan bisa setor BAB walaupun hanya bisa satu BAB aja,maafkan saya karena udah bikin kecewa pembaca semua.πŸ™πŸ™