
Mereka menunggu tanggapan dari Amelia, papah Andre pun langsung mencairkan suasana.
" Ehm... kalau kamu masih ragu untuk kembali keluar negeri tiadak apa-apa Amelia, kalau kamu ingin sementara waktu berada di tanah air untuk menenangkan dirimu juga tidak ada yang melarang semua keputusan ada di tangan mu nak, kamu bisa memikirkan semua itu dengan matang dan jangan sampai kamu mengambil keputusan dengan cara yang mendadak, karena ini mencakup kehidupan dan masa depan perusahaan papah kamu yang sudah dirintisnya sejak dari nol." ucap papah Andre sembari tersenyum.
" Bener apa kata om Andre, kamu jangan sampai salah dalam mengambil keputusan karena ini mencakup hidup banyak orang yang ada didalam perusahaan itu yang menggantungkan hidup mereka dengan mu." lanjut papah Boby.
Amelia langsung menundukkan kepalanya terlihat jelas dia merasa bingung dengan keputusan yang akan diambilnya.
Hening! kembali diruangan tersebut hanya terdengar helaan nafas mereka yang terdengar.
" Ya Allah mantapkan hati ini dengsn keputusan yang akan hamba ambil ya Allah dan ridhoilah keputusan ini ya Allah...Bismillah..." ucap batinnya dan kemudian mengangkat wajahnya dan menatap kembali satu persatu wajah mereka yang ada diruangan tersebut.
" Smith..." panggilnya
" Ya mbak..." jawab Smith seraya menatap Amelia.
" Apakah kamu masih ingin bekerja diperusahaan papah?" tanya Amelia.
Smith menghela nafas panjangnya dan menundukkan kepalanya.
" Maaf mbak saya sebenarnya ingin mengundurkan diri dan ingin menetap di tanah air mbak, sebenarnya berat bagi saya untuk meninggalkan perusahaan almarhum pak Rendy tapi karena saya ingin berdikari di tanah air dengan bermodalkan tabungan saya selama ini bekerja di perusahaan pak Rendy dan niat saya sekarang ingin membuka usaha sendiri." ucapnya
Amelia tersenyum dan menghela nafasnya dengan pelan.
" Ya Allah, apakah aku harus berjauhan dengan Amelia? ya Allah jangan pisahkan aku ya Allah, aku mohon ya Allah." batin dr Rony seraya mengusap wajahnya dengan pelan dan menundukkan kepalanya, mamah Raisa menatap sang anak yang terlihat kacau dalam pikirannya itu.
Semoga saja Amelia gadis yang diharapkan anak ku ini menjadi istrinya tidak meninggalkannya.
" Bagaimana nak?" tanya papah Boby.
" Apa keputusanmu Mel?" tanya Ayah Candra.
" Katakan nak, biar semua bisa mendengar keputusan yang kamu ambil. " ucap papah Andre.
" Iya nak, agar tidak ada yang merasa tersakiti dengan keputusan mu itu nak, kami disini ingin mendengarnya." Lanjut Abi Yosep.
Lagi-lagi Amelia menghela nafasnya dengan pelan.
" Keputusan Amelia, Amel tetap di tanah air Om." ucapnya tersenyum seraya menatap kearah dr Rony.
Mendengar ucapan Amelia semua tersenyum dan dr Rony tersenyum bahagia, dia merasa dirinya disirami dengan air yang sangat menyegarkan, karena sedari tadi dia berasa berada di padang pasir dengan panas yang membakar tubuhnya dan membuat dirinya melemah, tapi sekarang tubuhnya pun merasa sangat segar dan memiliki tenaga yang tiada tandingannya.
" Alhamdulillah, terimakasih ya Allah karena engkau mengabulkan doa ku dengan cepat." ucapnya sembari menatap sang pujaan hati yang berada pas didepannya duduk yang hanya terhalang meja kaca pembatas antara mereka berdua.
Mamah Raisa tersenyum senang mendengar ucapan Amelia, walaupun sebenarnya dia tidak terlalu banyak tahu cerita tentang calon menantunya itu, dia hanya tahu dari cerita sang anak kalau Amelia tersakiti oleh orang lain dia sudah menganggap Amelia calon menantunya karena saat pertama kali melihat Amelia dia sudah suka dengannya berbeda dengan calon istri anaknya yang terdahulu, yang kurang sekali menghormati dirinya sebagai orang tua tunggal dari dr Rony.
" Alhamdulillah kalau kamu memutuskan untuk menetap ditanah air, tapi nak, bagaimana dengan perusahaan papah kamu?" tanya Mamah Lala.
" Karena tidak ada yang mengelolanya di luar Negeri, Amelia memutuskan akan menjual perusahaan itu dan perusahaan anak cabang tersebut yang sudah diamanatkan untuk pak kris itu, Amelia tidak akan mengganggu gugatnya dan itu terserah dari pak krisnya mau dia apakan yang Amelia jual hanya milik Amelia dan Nika, hasil penjualan perusahaan itu sebagian milik Nika akan Amelia simpan untuk Nika dewasa nanti dan sebagian milik Amelia mutlak Amelia sedekahkan untuk panti asuhan, dan pahalanya untuk papah mama yang sudah tiada, Amel yakin dengan Amelia berada ditanah air, Amelia dan Nika akan bahagia dan akan hidup tenang, walaupun hanya Om Boby dan Tante Lala saja yang ada disamping kami berdua, Amelia sudah merasa sangat bersyukur, biarlah keluarga mamah dan papah tidak mengenal dan tidak mencari Amel dan Nika itu tidak apa-apa, semoga saja Amelia bisa bertemu dengan keluarga Almarhum papah yang sesungguhnya." ucapnya panjang lebar.
" Amiin " ucap mereka semua.
" Sekarang kak Roni bahagia kan karena kak Amel tidak jadi meninggalkan kakak hehehehe..." Ucap Morgan.
" Iya Mor, tadinya ada yang kacau dan galau hatinya menanti keputusan sang bidadarinya hahahaha.." ucap Arvin sembari tertawa.
Dr Rony hanya terkekeh dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal tersebut karena merasa malu digoda Morgan dan Arvin.
Abiyasa yang baru terbangun dari tidurnya langsung keluar setelah membersihkan wajahnya, dia melangkah dengan Ayesha menuju kearah mereka yang sedang duduk bersama diruang tengah tersebut.
Abiyasa pun mengambil duduk disebelah Morgan yang masih terlihat kosong bersama sang istri, dia melihat mamah Raisha berada diantara mereka, dia pun tersenyum dengan mamah Raisa.
" Rupanya ada acara lamaran nih, kok nggak bilang-bilang sih? wah calon kejar tayang nih acara nikahannya." ucapnya tersenyum.
Mereka pun baru sadar dengan kedatangan mamah Raisa dengan dr Rony.
Dr Rony tersenyum saja dengan ucapan Abiyasa tersebut, kemudian Clarissa dan Marco juga bergabung dengan mereka semua diruang tengah, mereka yang terlambat berkumpul tersebut karena sedang beristirahat.
" Ada apa nih rame banget nggak ngajak-ngajak, lamaran ya? Gimana diterima nggak?" Ucap Clarissa terkekeh.
" Belum tau nih diterima apa nggaknya, karena hati laki-lakinya hampir aja lepas hahahaha." Celetuk Morgan.
" Apa ? Hampir lepas? Wah...! Jangan-jangan ntar salah lagi mendiaknosa pasiennya hahahaha..." Sambung Clarissa menggoda dr Roni.
" Cantik sekali kamu gadis ku." Gumamnya dalam hati.
Amelia menundukkan kepalanya, Nika yang duduk disebelahnya pun tersenyum.
" Langsung pada intinya saja ya, hehehe kedatangan tante kesini sebenarnya ada keinginana, benar sekali apa yang dikatakan Abiyasa tentang lamaran, karena tante mau meminta Amelia untuk dijadikan anak mantu tante." Ucapnya.
" Wah tante saya terima dengan senang hati." Ucap Clarissa.
" Benar tante dengan senang hati dan sangat bahagia sekali." Sambung Abiyasa.
" Besok boleh tante segera menikah,hehehe karena sudah tidak tahan tuh mempelai laki-lakinya ingin segera dihalalkan." Ucap Morgan tertawa.
Dengan reflek dr Roni langsung meraih kepala Morgan dan menjepitnya diketeknya.
" Nih, cium kuat-kuat ketek kakak.." ucap dr Roni terkekeh.
" Aduh! Ampun kak, ampun Morgan insaf kak..." Ucapnya tertawa dalam himpitan dr Roni.
" Eh ...kak Roni... Lepasin ayang sayangnya Dita, ntar nggak bisa ehem....ehem..." Ucapnya tertawa lepas.
Dr Roni hanya tertawa...
" Nah benar tuh kak! Ntar Morgan pingsan lagi kebanyakan gas ketek." Ucapnya terkekeh.
" Lanjut kak, jangan lepaskan biar dia menghirup gas ketek, sabar Mor, ntar kalau kamu pingsan kak Roni akan kita masukkan dalam karung..." Ucap Arvin tertawa lepas.
Dr Roni pun langsung menjepit kepala Arvin dihimpitan keteknya, sekarang giliran Arvin yang teriak sambil tertawa seraya memanggil nama Nadine.
" Rasakan loh,makanya jangan suka ngedoga kakak, kena kan sekarang has ketek hehehehe...untung saja Clarissa dan Abiyasa jauh dari kakak kalau dekat sudah kakak kasih kentut semar kakak biar pada pingsan semua." Ucap dr Roni terkekeh, Abiyasa dan Clarissa tertawa lepas, dan para orang tuanya hanya bisa tertawa melihat ulah mereka itu yang selalu mengundang tawa diruangan tersebut.
Setelah puas menghimpit Arvin dan Morga, kemudian dr Roni melepaskan tangannya.
" Ayo tante kita tinggal aja mereka." Celetuk Papah Boby membuat mamah Raisa tertawa.
" Nggak jadi lamarannya." Sambung Ayah Candra tersenyum.
" Wah! Jangan Om, kalau nggak jadi lamaran Ntar Roni gantung diri deh dipohon tage.." ucapnya tertawa.
" Hahahahaha... gantung diri dipohon toge, bukan orangnya yang mati tapi togenya yang kabur karena takut dengan yang mau gantung diri." Ucap Morgan tertawa lepas namun dia langsung berdiri dan menjauh dari dr Roni dan berpindah duduk didekat sang istri karena takut diberi lagi sama dr Roni gas ketek.
Mereka semua pun tertawa lepas mendengar ucapan Morgan, setelah reda tawa mereka, mamah Raisa langsung melanjutkan bicaranya.
" Kalau diterima pinangan tante ini, tante sangat bersyukur sekali. " Ucapnya lagi.
" Kalau masalah menerima atau tidaknya itu keputusan dari Amelia sendiri tante, kami disini sudah sangat setuju sekali kalau Roni meminang Amelia untuk dijadikan Istrinya, ya kan Mbeb." Ucap papah Boby seraya menoleh sesaat kearah mamah Lala, dan dianggukkan mamah Lala dengan senyuman bahagia.
" Iya tante, saya terutama yang sangat bersyukur dan senang kalau Amelia bisa menjadi seorang istri dan menantu dikeluarga tante." Ucap mamah Lala.
" Bagaimana dengan mu Mel?" Tanya Papah Andre.
Amelia tersenyum...
" Amelia menerima lamaran mas Roni om, tante." Ucapnya sembari tersenyum dengan malu-malu...
" Yes!! Akhirnya diterima juga." Ucapnya kegirangan seperti anak kecil yang telah menemukan mainan baru yang sudah lama di inginkan.
Mereka pun mengucap syukur karena mereka sama-sama menerima satu sama lainnya.
" Secepatnya kan mah menikahnya?" Tanyanya pada sang mamah.
" Tahun depan kak!" Celetuk Morgan terkekeh.
" Wah! Jangan dong, ntar karatan nih " ucapnya menimbulkan tawa diantara mereka semua.
" Kalau masalah pernikahan sepertinya belum ditentukan Ron, karena kita semua pastinya masih fokus dengan pernikahan kedua adikmu." Ucap mamah Raisa.
" Hahahaha...dia yang lebih tua dia juga yang lebih akhir.". Ucap Arvin langsung berdiri menjauh dari dr Roni.
Dokter Roni hanya bisa menghela nafasnya dengan pelan.
" Nasib...nasib...oke deh mah." Ucapnya pasrah sembari tersenyum dan menyenderkan tubuhnya disandaran sofa seiring dengan tawa mereka mengembang bersamaan...