THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP

THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP
BAB 317



Setelah makan malam dikediaman keluarga Wibawa, keluarga itupun kemudian aktif kembali dengan aktifitas mereka masing-masing, ada yang berada dikamarnya, ada yang duduk santai diruang TV dan ada yang sedang berada diruang kerjanya, siapa lagi kalau bukan Abiyasa dan Morgan.


" Biy...aku kok malah gugup ya, sebentar lagi jam delapan teng, apa alasan ku untuk keluar rumah pada istriku." Ucap Morgan .


Abiyasa hanya tersenyum menanggapi bicaranya Morgan.


" Santai Broo..kamu kan biasanya banyak ide tuh, kenapa langsung hilang idenya dari kepalamu..." Ucap Abiyasa terkekeh sembari tetap menatap layar laptopnya tanpa sedikitpun menatap Morgan yang sedang merebahkan tubuhnya disofa panjang yang ada diruang kerja Abiyasa sambil memainkan gawainya diatas dadanya sembari menatap lepas langit-langit ruangan tersebut. Sesaat Abiyasa melirik Morgan dan diapun tersenyum tersembunyi diatas penderitaan sahabatnya tersebut karena ulah mereka yang ingin membuat kejutan buat dirinya.


Kemudian Morgan bangun dari rebahannya dan menatap Abiyasa dengan lekat.


" Ada apa kamu menatap ku, kagum ya dengan ketampanan kakak ipar kamu ini, hehehe.." ucap Abiyasa terkekeh dan langsung menoleh sang sahabat.


" Preeet!! ganteng darimana, gantengan aku kalau disandingkan denganmu, kalau dilihat emang iya sih kamu itu seorang lelaki yang mempunyai kulit putih, wajah ya tidak terlalu tampan sih dibandingkan sama aku hehehe... dan tinggi semampai dambaan semua wanita, tapi kalau diteliti dan diperhatikan lagi sebenarnya akulah yang paling ganteng diantara kita bertiga,hehehehe...lihat nih poster tubuhku gagah,tampan banget punya dada bidang, wajah imut-imut, dan mempunyai otot yang kuat" ucapnya tersenyum sembari berdiri dan menampakkan otot-otot tangannya dan memperagakannya dengan senyuman lebarnya.


" Hahahaha...Memang iya kamu itu punya otot,tapi sayangnya otot kamu itu tidak ada pungsinya sama dengan ide kamu yang sering muncul secepat kilat tapi saat ini ide kamu hilang sembunyi entah kemana saat dibutuhkan haahaha...Gara-gara ingin bertemu dengan wanita si peneror ide kamu langsung menghilang tanpa jejak hahahaha..." ucap Abiyasa sedikit keras tertawa dan langsung saja Morgan mengisaratkan pada Abiyasa untuk berdiam karena takut kedengaran dari luar pembicaraan mereka, karena kegelisahannya itulah yang tidak menyadari kalau setiap ruangan dirumah mertuanya itu kedap suara.


"Hahahahaha...Anindita, Morgan mau ketemuan nih dengan wanita misterius." teriak Abiyasa tertawa lepas.


Morgan langsung melempar bantalan sofa yang ada di ruangan itu kearah Abiyasa dan mengundang tawa Abiyasa semakin lebar, Morgan hanya manyun dengan merebahkan tubuhnya kembali disofa.


" Abiyasa aku pasrah sekarang, kalau istriku sampai tahu tentang si kuntilanak itu." ucapnya sembari menutupi wajahnya dengan bantalan sofa yang lain.


" Wah...jangan gitu dong, kamu nggak sadar ya kalau ruangan ini kedap suara,tidak akan Anindita tahu kamu akan bertemu dengan wanita misterius itu."


" Oh... iya ya aku lupa, hehehe...Aman...Aman" ucapnya terkekeh sembari mengusap dadanya dan kembali bangun dari rebahannya.


" Sekarang gunakan ide kamu itu, kamu kan banyak ide." lanjut Abiyasa, diapun berdiri dan langsung menghampiri Morgan yang duduk disofa. Mereka duduk berdampingan.


" Kenapa bisa begitu?" tanya Abiyasa tersenyum.


" Yah! Karena aku masih ada rasa ragu siapa sebenarnya wanita itu, dan aku takutnya kalau itu adalah wanita dimasa lalu aku, aku jadi gugup Biy, sangat gugup!" Ucapnya seraya menutup wajahnya dengan kedua tangannya,dan lagi-lagi Abiyasa hanya tersenyum melihat tingkah Morgan saat ini sambil menepuk pundak sahabatnya itu yang sekaligus adik iparnya.


" Morgan, kamu jangan gugup dan jangan takut karena kamu tidak ada salah sama sekali dengan Anindita, kalau seandainya wanita itu adalah wanita yang pernah ada dimasa lalu mu, kamu tinggal jelaskan saja sama dia, kalau kamu sudah punya istri dan sudah tidak ada hubungan lagi dengannya, asalkan kamu memang serius mengatakan penolakan itu dan penjelasan yang masuk akal, jangan setelah kamu lihat dia, lalu kamu terbawa suasana dan mengingat lagi masa lalu yang pernah kalian rajut saat bersama dulu, disertai mengingat kesenangannya saja saat berdua dengan wanita itu, dan bukan kesusahan dan penghianatan yang terjadi dengan mu,dia sudah meninggalkan kamu tanpa sebab, ujung-ujungnya kamu sudah dapat kabar dia sudah tiada." Ucap Abiyasa panjang lebar berbicara.


" Aku bukan kaya gitu Biy orangnya, kalau sudah aku katakan tidak ya tidak, tidak akan aku bilang iya." Ucapnya sembari tersenyum pada Abiyasa.


" Syukur deh kalau kaya gitu, aku percaya kok padamu Mor, dan kamu juga jangan kawatir, ntar waktunya tiba kamu akan keluar rumah menemui wanita itu, kita akan keluar bersama dan aku yang akan memberikan alasan pada Anindita." Ucap Abiyasa.


" Oke mantap! Aku nggak ada ide karena Istriku tahu kalau aku tidak ada kegiatan dimalam ini, makanya aku bingung mau membuat alasan dengan cara apa." Ucap Morgan seraya menoleh kearah Abiyasa yang masih dengan senyumannya itu.


Terdengar Morgan menarik nafasnya dengan pelan dan membenarkan duduknya.


" Bagaimana dengan papah mamah Biy? Apakah mereka sudah tahu kalau aku diteror dengan wanita yang nggak jelas ini?" Tanya Morgan pada Abiyasa seraya dia menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa yang ada diruangan kerja Abiyasa.


" Hhmmm...kamu tenang aja, dijamin aman say...mamah dan papah tidak tahu sama sekali, tapi kalau sampai tahu, aku juga nggak jamin deh kaya apa reaksi mereka terhadap kamu hehehe..." Goda Abiyasa membuat takut Morgan.


" Yah! Jangan sampai tahu dong mereka, dijamin nggak nih kamu nggak bilang sama mereka tentang rencana ketemuan ini?" Tanya Morgan lagi seraya dia menatap Abiyasa meminta kejujuran Abiyasa agar bisa menyimpan rahasia ini dengan rapat-rapat.


Abiyasa hanya memberikan kode dengan cara tangannya kemulut seolah-olah mulutnya ada resletingnya dan menutup rapat mulutnya serta menguncinya dan membuang kuncinya kearah lain sembari tersenyum.


Morgan tersenyum seraya mengacungkan jempolnya secara spontan kearah Abiyasa dan menganggukkan kepalanya.


Kemudian mereka sama-sama menatap kearah jam dinding yang berada diruangan itu, dan mereka pun saling pandang dan mengangguk, karena jam itu menunjukkan waktu setengah delapan lewat lima menit,mereka kemudian beranjak dari duduknya dan keluar dari ruang kerja Abiyasa secara berbarengan dan menuju kamar pribadinya masing-masing untuk bersiap-siap meluncur ketempat yang sudah disepakati untuk bertemu dengan wanita misterius yang sudah beberapa kali menyita waktu dan pikiran Morgan.