THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP

THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP
BAB 169



Setelah kepergian dari keluarga Tante Raisa dan keluarga Pak Sahrul pun berlalu dari rumah keluarga Wibawa, Mereka pun langsung masuk kembali ke dalam rumah dan masih menikmati acara bersenda-guraunya di ruang tengah.


" Alhamdulillah,Aku merasa lega sekali karena mereka sudah mau saling memaafkan dan mau menerima satu sama lain dan lagi mereka juga tidak merasa canggung padahal kan selama bertahun-tahun mereka terpisah " ucap Papa Boby tersenyum.


" Aku juga seperti itu Bob, merasa hatiku tenang walaupun sebenarnya mereka bukan keluarga dariku tapi Aku merasa bahagia banget karena sudah bisa melihat kebahagiaan di saat usia senja Tante Raisa Anaknya yang selama bertahun-tahun dinantikannya Akhirnya sekarang bisa dia peluk dan bisa membelai Anaknya yang selama ini berada dengan mantan suaminya." ucap Papa Andre.


" Selebihnya aku yang bahagia banget merasakan kebahagian calon besanku." ucap Ayah Candra tersenyum.


" Iya benar,Aku juga bahagia dan senang sekali." sambung Abi Yosep tersenyum,dianggukkan oleh semuanya.


" Oh ya Abiyasa ada yang ingin Papa bicarakan denganmu."


" Ada apa Pah?"


" Perusahaan yang di luar Negeri mau Papa jual."


" Maksud Papa? yang di Kanada ?"


" Bukan! yang di Singapura anak cabang kita yang disana"


" Kenapa Papah mau menjualnya?"


" Papa jarang mengecek kesana,lagi pula teman Papah mau menginginkan perusahaan itu, Papah sih mau saja, karena Papa mau memfokuskan anak cabang yang di Kanada saja, kalau yang di Singapura Papa jarang ke sana."


" Terus bang Niko gimana?"


" Papa akan mendirikan perusahaan baru anak cabang di sini lagi biar Niko yang memimpinnya."


" Enggak usah bikin perusahaan baru Ndre,Niko aja yang menggantikan Aku di perusahaan anak cabang di sini." ucap Papah Boby.


" Memangnya kenapa dengan om Bobby?" tanya Abiyasa.


" Om sudah capek Biy, Om ingin menghabiskan masa tua Om bersama dengan Tante Lala mu,apalagi kan Charlo juga sudah kuliah katanya Dia ingin kuliah sambil bekerja, tapi Om tidak tahu di mana Dia mau bekerjanya, Dia ingin mengikuti jejaknya si Alena, Dia ingin mandiri katanya."


" Kalau seperti itu Dia ngambil kuliah malam aja, biar paginya Dia bekerja di tempat Bang Niko nantinya." ucap Abiyasa.


" Iya benar itu, biar Charlo jadi tangan kanan Niko kaya kita berdua dulu heheh." ucap Papah Andre.


" Hahahah....benar juga ya apa kata kamu Ndre,tapi terserah Anaknya aja sih maunya dimana." ucap Papah Boby.


" Tapi apakah kamu yakin Bob, mau berhenti dari anak cabang perusahaan kita ini ?" tanya Papah Andre.


" Iya Ndre, Aku ingin berhenti, ya Aku ingin merayakan kebahagiaan bersama Anak dan istriku di rumah, dan menghabiskan waktuku bersama dengan kalian, masa kalian bersantai Aku masih kerja, itukan nggak adil" protesnya.


" Hahahaha...." ketawa Abi Yosep dan Ayah Candra lepas,begitu juga dengan Papah Andre terkekeh mendengar protes dari Papah Boby.


" Senangkan kalian kalau aku sibuk?" deliknya kearah kedua sahabatnya yang sedang tertawa lepas.


" Yoi...senang banget, ya kan Ndra hahahaha." ucap Abi Yosep masih tertawa.


" Iya benar,benar banget hahaha." sambung Ayah Candra.


Papah Boby hanya menggaruk-garuk kepalanya yang nggak gatal.


Para istri dan Anak serta menantu mereka hanya ikut tertawa mendengar protesan Papah Boby.


" Okelah kalau begitu, kalau mau kamu seperti itu, tapi kalau kamu ingin membutuhkan sesuatu bilang aja, Jangan sungkan-sungkan." ucap Papah Andre seraya menepuk pundak Papa Boby yang duduk di sebelahnya dengan pelan.


Terdengar Gawai Morgan berbunyi, kemudian Morgan mengambil gawainya tersebut yang berada di saku celananya, Dia melihat layar gawainya terpampang tulisan Mamah memanggil, Dia pun langsung menjawab panggilan dari sang Mama tersebut, tampak terlihat jelas di wajah Morgan Setelah Dia berbicara dengan Mamanya itu, Dia pun langsung memutus sambungan bicaranya, kemudian dia pun langsung memasukkan lagi gawainya ke dalam saku celananya, lalu dia berdiri.


" Maaf semuanya,Morgan pamit dulu mau ke rumah sakit, karena Kak Marco sudah diperbolehkan pulang hari ini." ucapnya seraya menangkupkan kedua tangannya.


" Marco sudah keluar dari rumah sakit " ucap Clarissa terlihat senang.


" Iya Ris."


" Aku ikut ya."


" Ya udah ayo." ajak Morgan.


Papah Mamah Bola ikut dulu ya sama Morgan, udah lama nggak ketemu Marco." ucapnya.


" Iya Nak hari-hati." ucap Mamah Lala.


" Hati-hati ya Bola Papah."


ucap Papah Bobby.


" Tenang Om Bola Om akan Morgan jaga Baik-baik dan mungkin tidak akan Morgan pulangkan." kekeh Morgan.


" Dasar Adik ipar kurang Asem, kalau nggak pulang Om anter Anindita keluar Negeri." ucap Papah Boby.


" Tinggal susul gampang kan hehehe kan jet pribadi ada tuh nangkring dibandara." ucap Morgan tertawa lepas.


" Om portal."


" Tinggal loncat aja bereskan."


" Om..." Omongan Papah Boby terputus karena mulutnya ditutup Abi Yosep.


" Udah cepatan berangkat kalian, kalau lama berdebat nggak ada akhirnya." ucap Abi Yosep.


" Hahahaha...." tertawa lepas mereka pun terdengar.


Kemudian merekapun menyalami orang tua yang ada di situ mencium punggung tangan Mereka semua termasuk Papah Boby yang masih tertutup mulutnya dengan tangan kiri Aby Yosep.


Saat mau melepas tangannya Morgan langsung dijepit Papah Boby kepalanya diketeknya.


" Iya Om, ampun! Morgan akan antarkan pulang Clarissa dengan bentuknya semula yang rapi dan tidak kurang sedikit apapun." ucapnya.


Setelah lepas dari jepitan Papah Boby dengan sok gantengnya Morgan pun menaikkan kerah bajunya dan membenarkan tatanan rambutnya seraya berkata.


" Hampir saja kegantenganku hilang ditelan keteknya Om Boby." ucapnya.


Mendengar ucapan Morgan seperri itu Papah Boby langsung berdiri dan dekapan mulutnyapun dilepaskan Abi Yosep dan Dia langsung mengambil bantalan sofa dan melemparnya kearah Morgan.


Morgan langsung berlari keluar dan memberikan senyuman manisnya serta menggerakkan jarinya di dekat kepalanya seolah-olah menghormat dan mengacungkan tangannya membentuk senjata api dan mengarahkannya kearah Papah Boby dan berbunyi " Dusss." dan Morgan pun membuat gerakan seakan-akan sudah menembak dan meniup diujung jarinya sembari tertawa lepas kearah Papa Bobby.


" Eh...Eh..!jangan Gawaiku dong Bob." cegah Papah Andre seraya tertawa.


" Nggak apa-apakan, kalau gawaimu rusak beli lagi,bereskan." ucapnya terkekeh.


" Memang sih enak beli lagi, nggak masalah mau beli 10 pun boleh, tapi mubazir gawai bagus-bagus dirusak." ucapnya terkekeh seraya mengamankan gawainya tersebut.


" Oh ya Bos maaf,. lagian kenapa sih Yosep menutup mulutku, lalu saja Aku dikalahkan oleh Bule itu." ucapnya terkekeh.


" Kalau Aku tidak menutup mulut mu kamu selalu ngoceh terus seperti Emak-Emak yang ngoceh melulu." ucap Abi Yosep.


" Iyalah memang dia Emak-Emakkan." ucap Ayah Chandra lagi menyambung ucapan dari Abi Yosep.


Papah Boby hanya terkekeh saja,Dia kemudian mengusap wajahnya,para istri Mereka pun hanya dibuat tertawa menikmati guyonan-guyonan yang mereka berikan oleh para suami mereka itu.


Mereka yang ada di situ pun langsung tertawa melihat ulah Papa Boby dengan Morgan,keakraban pun tercipta diantara mereka, candaan-candaan kecil pun selalu tercipta bila mereka sedang berkumpul.


Morgan dan Clarisa pun meninggalkan rumah keluarga Wibawa menuju ke rumah sakit untuk menjemput Marco pulang karena Marco sudah dinyatakan sehat.


" Oh ya Ndre, seminggu setelah Marco berada di rumah,Aku dalam waktu seminggu itu juga kayaknya tidak bisa berkumpul deh dengan kalian." ucap Papah Boby setelah agak tenangan karena habis bercanda dengan Morgan.


" Memangnya kenapa Om.?" tanya Abiyasa.


" Karena pernikahan Clarissa dilaksanakan setelah seminggu Marco keluar dari rumah sakit." jawab Papah Boby.


" Ya udah Om gak usah repot, biar Biyas, Arvin dan Morgan yang akan mengurusnya." ucap Abiyasa.


" Iya benar kata Abiyasa, lebih baik mereka yang mengurusnya, Kamu kan udah tua daripada kamu kesana kemari nanti kamu sesak napas." ucap Abi Yosep sembari terkekeh.


" Semprul !kamu Yos! jangan remehkan tenaga Aku ya hehehe, biar tua kayak gini, Aku masih kuat kok." ucapnya dengan bangga.


" Idih... sadar Ayang Mbeb, kuat apaan, belum aja beberapa menit udah ngos-ngosan, hahaha." ucap Mamah Lala tertawa lepas dan begitu juga dengan mereka Langsung tertawa lepas memecah keheningan di dalam ruangan yang ada di rumah keluarga Wibawa itu.


Papa Bobby hanya tersenyum saja. tidak berapa lama gawainya papa Andre berbunyi, Dia pun langsung mengambil gawainya yang berada di atas meja di depannya tersebut.


Dia melihat layar gawainya ternyata temannya yang berada di luar Negeri yang menghubunginya, kemudian Dia pun berbicara tidak sembunyi-sembunyi dengan mereka dan pembicaraan antara Dia dan temannya itu pun pakai loudspeaker dan ternyata temannya itu memang menginginkan perusahaan yang ada di luar Negeri itu,Akhirnya Papah Andre pun mengiyakan dan melepaskan perusahaan tersebut,setelah selesai pembicaraannya gawai papah Andre ditaruh kembali di atas meja.


" Apakah kamu sudah bicara dengan Niko?" tanya Papah Boby.


" Aku belum berbicara dengan Niko." jawab Papah Andre.


" Sebaiknya kamu bicara aja dulu dengan Niko, biar Niko mengetahui semuanya,siapa tahukan Dia nanti terkejut karena Dia tidak memimpin perusahaan itu lagi." ucap Papa Boby.


" Aku mau memanggil Melisa dan David dulu ke sini,biar bagaimanapun mereka harus tahu." ucapnya.


Mereka semua mengangguk, kemudian Dia mengambil gawainya lagi dan menghubungi Adik semata wayangnya tersebut, setengah jam lamanya dia menunggu akhirnya Melissa dan David pun datang ke rumah keluarga Wibawa.


" Assalamualaikum." sapa Melisa sembari melangkah menuju ke arah mereka.


" Waalaikumsalam " jawab mereka semua yang berada di dalam.


" Ada apa kak, Kakak memanggil kami berdua kesini.?"


" Ada yang ingin Kakak bicarakan dengan kalian berdua." ucap Papah Andre.


Kemudian Melissa dan David duduk bergabung dengan mereka.


" Begini David, Melissa, Niko kan memimpin perusahaan yang ada di Singapura, Karena perusahaan Singapura itu tidak terlalu Kakak perhatikan, makanya perusahaan itu mau Kakak jual dan sudah ada peminatnya, rencananya Kakak mau membuka perusahaan yang baru di sini untuk Niko menjadi pimpinannya,tapi karena Kak Boby mu sudah ingin pensiun dari perusahaan Anak cabang Wibawa group disini,Kakak akan mempercayakannya kepada Nico untuk memimpin perusahaan yang dulu dipimpin oleh Kak Boby mu,Bagaimana menurut kamu? uang pembayaran dari perusahaan yang ada di Singapura itu akan masuk ke rekening kamu ucap Papah Andre menjelaskan pada sang Adik.


" Kalau Melisa pribadi sih tidak masalah, lagipula kan daripada Niko disana kepikiran juga dengan mantan istrinya yang tidak bertanggung jawab dengannya itu, lebih baik dia dekat di sini biar Melisa bisa dekat dengannya juga." ucap Melisa, dan David pun hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju apa yang dikatakan Melisa istrinya tersebut.


" Benar kata Melisa, lebih baik Dia berada di sini, karena sudah lama juga Dia berada di sana, Dia juga jarang pulang ke tanah air." ucap David lagi menambahi ucapan dari Melisa.


" Baiklah kalau begitu, nanti Kaka akan hubungi Niko secepatnya, oh ya Bob ini adalah kemauan kamu ya, bukan kemauan dari Aku, aku bersyukur aja kalau kamu mau masih menjalankan perusahaan yang lain, kalau kamu mau." ucap Papah Andre menatap kearah Papah Boby.


" Aku sudah tidak mau lagi Ndre bekerja,Aku udah capek, Aku ingin menghabiskan waktuku bersama kalian dan juga Anak istriku,lebih baik perusahaan kita itu dijalankan oleh Anak-Anak kita yang masih muda-muda." ucap Papah Boby lagi sembari terkekeh.


" Lagi pula kan kalau keluarga kamu Ndre, kamu juga Ndra, dan kamu juga Yos, berada disini Aku kan tidak jauh-jauh untuk mengundang kalian nanti dalam acara pernikahan Anakku."


" Bukan Anakmu saja Bob, Anakku juga." ucap Papah Andre.


" Bukan Anak kalian aja,tapi Anakku juga." ucap Ayah Chandra.


Mereka pun semuanya tertawa.


" Senang dong akhirnya mereka semua pada mau menikah." ucap Melisa tersenyum.


Papa Andre menatap kearah Adiknya terlihat wajah sendu sang Adik, papa Andre jadi penasaran, Ada apa dengan Adik semata wayangnya tersebut.


Memang pribadi Melisa sangat tertutup sudah dari dulu tertutup bila ada masalah Dia jarang untuk mengungkapkannya dengan keluarga, selagi Dia bisa menyelesaikannya Dia akan menyelesaikannya sendiri, kecuali sudah Dia tidak bisa menyelesaikan barulah Dia minta solusi dengan keluarganya, tapi Andre tidak mau bertanya terlebih dahulu Dia ingin Melisa yang berbicara sendiri Ada apa dengan dirinya.


" Oh ya Tante gimana kabar Kak Nayra." tanya Abiyasa.


" Alhamdulillah baik, tapi akhir-akhir ini Tante selalu teringat akan Nayra." ucapnya terdengar sedih.


" Apa kamu tidak ada rencana untuk menjenguk Dia kesana?" tanya Papah Andre.


" Kemarin sudah Melisa hubungi Kak katanya Dia baik-baik aja, saat Mel mengatakan mau kesana, Nayra malah mengatakan tidak usah."


" Kenapa dan ada apa.?" tanya Papah Andre.


" Mel juga tidak tahu Kak,Mel menyuruh Nayla pulang kesini untuk menjenguk anaknya yang bersama dengan kami, Dia mengatakan nanti kalau suaminya ada libur kerja."


" Suaminya masih bekerja di perusahaan itu?" tanya Papah Andre, sedangkan yang lain hanya mendengarkan pembicaraan antara Kakak dan Adik tersebut.


" Iya masih Kak,sekarang suaminya naik jabatan sebagai Derektur utama perusahaan itu."


" Kenapa sih Nayra tidak menerima bantuan dari pamannya sendiri untuk menjalankan salah satu anaknya cabang perusahaan yang ada,daripada dipimpin oleh orang lain lebih baikkan dipimpin oleh keluarga sendiri." ucap Ayah Chandra.


" Suaminya yang tidak mau Kak, dengan alasan tidak ingin berhutang budi dengan keluarga istrinya." terang Melisa.


" Ini pasti ada keanehan dan ketidak beresan." ucap enteng Papa Boby.


Mereka semua menatap ke arah Papa Boby.