
Morgan dan Arvin pun sampai di kantor mereka berdua, Arvin langsung menuju bagian yang mengurusi tentang sidang BP4R.
" Kalau kamu sudah selesai langsung keruangan aku aja ya Vin, ntar pulangnya sama aku lagi." Ucapnya.
Dianggukkan Arvin.
Morgan pun melangkah menuju ruangannya, saat dia sampai di ruangannya itu dia pun menatap kearah gawainya ada panggilan sesaat dan dia melihat nomor yang tidak tersimpan di dalam gawainya itu.
" Nomer siapa sih ini?" gumamnya tapi dia tidak menghiraukan gawainya itu yang kemudian berbunyi lagi dan dia tidak menjawab panggilan dari penelepon yang tidak tertera namanya itu, dia pun langsung masuk kedalam ruangannya dan menuju kearah kursi kerjanya dan melanjutkan lagi pekerjaannya yang tertunda beberapa saat tadi, setelah penandatanganan berkasnya selesai, Arvin pun keluar dan melangkah menuju ke arah ruangan Morgan, dia memperhatikan Morgan dari arah pintu tanpa sepengetahuan sahabatnya itu, dia hanya tersenyum saja melihat tingkah Morgan yang sedari tadi menatap berkas yang ada di atas mejanya itu.
" Assalamualaikum.… sapa Arvin kemudian langsung melangkah masuk dan duduk di hadapan Morgan.
" Waalaikumsalam..." ucap Morgan seraya menatap sesaat ke arah Arvin dan lanjut kembali melakukan pekerjaannya itu.
" Udah selesai menandatanganinya?"
" Udah!" ucap Arvin seraya menghela nafasnya dengan lega.
" Rencananya kapan sidang BP4R nya?"
" Hari ini diajukan, mungkin antara besok atau lusa." ucapnya sembari mengambil gawainya yang ada di saku celananya dan memainkan sebuah game yang ada di gawainya tersebut dan Morgan terus mengerjakan pekerjaannya.
" Sebentar ya kalau mau pulang." ucap Morgan tanpa sedikitpun menatap kearah Arvin yang duduk dihadapannya.
" Oke! nggak apa-apa, lanjutkan aja kerjaanmu." sahut Arvin sembari tersenyum.
Kemudian gawai Morgan berbunyi lagi, dia pun melirik ke arah gawainya dan dia melihat nomor yang sama memanggilnya itu, yang tidak tertera namanya di gawainya.
Arvin menoleh sesaat ke arah Morgan dan kembali menatap ke layar gawai pribadinya.
" Kenapa Mor, kok nggak di jawab sih? siapa tahu itu panggilan darurat, dan orang membutuhkan bantuan mu " ucap Arvin.
" Malas Vin, aku menjawabnya, karena nomor itu nggak tertera di dalam gawai ku." Jawabnya santai.
" Ya siapa tahu aja kan nomor baru dari teman kamu, atau yang lainnya."
" Biarin aja, kalau dia perlu dia pasti akan mengirim chat pribadinya kepada ku." ucap Morgan sembari masih fokus dengan pekerjaannya dan Arvin pun hanya tersenyum dan melanjutkan permainan gamenya lagi.
Beberapa saat kemudian Arvin berdiri dari tempat duduknya menuju ke arah sofa dan merebahkan tubuhnya di sofa yang ada di ruangan Morgan sambil masih bermain game digawai pribadi itu,lalu gawai Morgan pun terdengar berbunyi sekali menandakan satu chat pribadi masuk di dalam gawainya tersebut, Morgan pun tidak memperdulikan gawainya itu dia ingin secepatnya menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda, kemudian dia melihat jarum jam di tangan kanannya yang melingkar sudah menunjukkan jam istirahat makan siang, Dia pun kemudian membenahi peralatan serta kertas-kertas yang ada di atas mejanya tersebut, Dia lalu mengambil gawainya dan memasukkannya ke dalam saku celananya, dia langsung mengambil jaket dan kunci kontak mobilnya seraya berjalan kearah pintu keluar ruangannya.
" Ayo Vin, kita pulang, udah waktunya istirahat makan siang." Ajaknya
" Oke!" Arvin pun kemudian bergegas duduk dari rebahannya dan menghentikan permainan di gawainya itu.
" Ayo kita pulang..." ucapnya sembari berdiri dan mengikuti langkah Morgan yang keluar dari ruangannya tersebut, Morgan pun merangkul pundak Arvin dan mereka berdua melangkah menuju ke arah mobilnya yang terparkir di halaman kantornya itu, mereka berdua kemudian memasuki mobilnya dan meninggalkan kantor tersebut, lagi-lagi gawainya Morgan pun berbunyi kembali.
" Kenapa sih Mor, kamu nggak menjawab panggilan itu?" Tanya Arvin heran pada Morgan yang sedari tadi tidak mau menjawab panggilan digawai pribadinya tersebut.
" Karena nomor yang tidak tersimpan di gawaiku itu yang memanggil tidak aku kenal Vin, lagi pula nomer gawaiku ini hanya ada beberapa orang yang tahu diluar kantor, selebihnya orang kantor, kerabat, saudara dan sahabat aja yang ada didalam gawai ku ini yang tersimpan." Terangnya
" Ya siapa tahu aja penting kan Mor... kalau orang tidak penting tidak mungkin dia menghubungi kamu berkali-kali, lebih baik kamu menjawab panggilannya gih! kalau tidak dijawab ya kamu tidak tahu siapa yang hubungin kamu itu " ucap Arvin seraya menatap kearah Morgan.
Tapi Morgan tidak mengindahkan ucapan Arvin tapi dibalasnya dengan senyuman untuk sahabatnya tersebut, dan dia terus mengemudikan kuda besinya itu menuju ke rumah Arvin.
" Ya, terserah kamu aja lah Mor, kan bukan aku juga yang dihubungi hehehe..." Kekehnya dan Morgan pun terkekeh juga.
Beberapa saat kemudian mobil itu pun berhenti di depan rumah pribadi orang tua Arvin, Arvin keluar dari Mobil Morgan.
" Kamu nggak mampir dulu nih, sekalian makan siang bareng.. "
" Sepertinya tidak Vin, aku mau makan siang di rumah aja bersama istriku dan mertuaku, karena tadi mama mertuaku sudah mengatakan padaku sebelum berangkat pagi tadi, harus makan siang bersama di rumah."
" Ya udah kalau seperti itu salam ya untuk orang rumah.."
" Iya .."
" Terimakasih ya Mor...."
" Assalamualaikum..."
" Waalaikumsalam.."
" Hati-hati ya Mor..."
" Oke!" Ucapnya tersenyum, kemudian Morgan pun melajukan mobilnya meninggalkan rumah Arvin dengan diiringi tatapan mata Arvin, Arvin menggelengkan kepalanya sembari tersenyum, dia melangkah memasuki halaman rumahnya menuju ke arah pintu utama rumahnya tersebut.
Mobil Morgan terus melaju menuju ke rumah mertuanya di mana sang istri sudah lebih dulu berada di rumahnya itu, kemudian Morgan mengambil gawinnya yang ada di saku celananya, dia lalu menepikan mobilnya tersebut ke samping jalan dia menghubungi sang istri, dia mengira sang istri masih berada di rumah sakit, padahal Anindita sudah sedari tadi berada dirumahnya itu diantar dengan dr Roni yang kebetulan pulang dengan cepat.
Dia menatap Chat pribadi yang dikirimkan oleh pemilik nomer baru tersebut, tapi tidak di memperdulikan Morgan chat pribadi dari nomor orang yang tidak dikenalnya itu.
" Assalamualaikum Sayang..."
" Waalaikumsalam.."
" Sayang kamu sekarang di mana? masih di rumah sakit? kalau masih di rumah sakit sekalian aku jemput ya, kebetulan aku dijalan nih, dan aku udah pulang dari kantor juga." ucap Morgan.
" Aku sudah ada di rumah Sayang... aku menunggumu kita makan siang bersama di rumah mereka sudah menunggu kok." ucapnya.
" Oke! Ya udah, sekarang aku segera menuju ke rumah."
" Hati-hati ya..."
" Oke Sayang Assalamualaikum....x
" Waalaikumsalam....."
Pembicaraan melalui gawai pribadi itu pun terputus, Morgan terus melajukan mobilnya menuju ke arah rumah pribadi keluarga Wibawa.
Gawai Morgan kembali berbunyi dia pun kemudian mengambil gawainya kebetulan mobilnya berhenti di persimpangan dan lampu lalu lintas menyala merah.
" Siapa sih ini menghubungi aku terus beberapa kali bahkan mengirim chat pribadi." Ucapnya.
Kemudian dia pun menjawab panggilan tersebut.
" Halo.. selamat siang." ucap Morgan.
" Siang pak polisi..." terdengar suara perempuan di seberang sana.
Morgan menatap gawainya sesaat dan kemudian dia berbicara lagi.
" Maaf ini siapa ya?"
" Morgan! kamu lupa ya dengan aku?" Ucap suara diseberang sana.
" Siapa sih?!"
" Astaga Morgan! Masa sih kamu lupa denganku."
" Kamu tahu nomor aku dari siapa?"
" Ada deh,...hehehe..." Ucapnya terkekeh menja.
" Siapa sih? cepat katakan! karena aku tidak punya banyak waktu untuk melayani orang yang ingin bermain-main seperti ini!" Ucapnya sedikit emosi karena si penelpon tidak memberi tahu siapa dirinya.
" Jangan marah Morgan ... nanti aja aku kasih tahu siapa aku ya...setelah kita bertemu nanti.... karena udah lama kita tidak bertemu, aku merindukan kamu!" ucapnya kemudian begitu saja,dan sambungan dari gawai itu pun terputus secara sepihak.
" Siapa sih dia ini." Ucapnya.
Morgan membuka chat pribadi yang dikirimkan padanya.
" Morgan angkat dong! Aku ingin bicara denganmu." isi chat pribadi tersebut.
" Ah sudahlah,ganggu aja, siapa juga dia! orang ini nggak penting banget!" ucapnya, sembari melajukan kembali mobilnya setelah lampu lalu lintas menyala berwarna hijau.