
Pak Kris menghela nafasnya dengan berat dan melepaskannya dengan pelan.
" Iya....saya lah yang sudah merencanakan semuanya, mungkin bapak semua sudah mengetahuinya dari adik saya, saya memang tergiur akan usaha yang dijalankan Rendy, saya memang tamak dan memang sudah dibutakan oleh kekayaan dan harta yang berlimpah."
" Baguslah kalau bapak sudah mengakui semuanya dan mempermudah kami dalam memproses semuanya." Ucap Morgan.
" Saya akan kembalikan semuanya pada yang memang berhak yaitu Amelia dan Adiknya."
" Oke! Setelah urusannya selesai, bapak bisa menyerahkan semuanya pada mereka." Ucap Morgan.
" Sebenarnya kenapa bapak langsung berbuat seperti ini?" Tanya Papah Andre.
Pak Kris menoleh kearah papah Andre sesaat, tapi wajahnya tidak seperti tadi yang penuh dengan amarah melainkan wajahnya terlihat sekali penyesalan yang paling dalam.
" Sebenarnya saat itu saya tidak berniat ingin membuat Rendy dipenjara, tapi karena saat itu Rendy mengatakan pada saya akan mewariskan semuanya pada kedua anaknya tersebut,dan disitulah saya merasa kalau saya tidak dihargai sama sekali karena saya lah yang menjalankan perusahaan anak cabangnya sehingga sangat menguntungkan banyak baginya, saya kecewa saat itu, setelah mendapatkan kata-kata dari mulut Rendy sendiri kalau semua akan diberikan pada kedua anaknya tersebut, jadi membuat niat jahat saya muncul dan menghalalkan segala cara, tapi sayang usaha saya jadi sia-sia dan berakhir sampai disini saja " terangnya.
Saat Morgan mau bertanya lagi, tiba-tiba datang lagi anak buahnya dan mengatakan sesuatu pada Morgan dan Morgan pun terkejut sesaat,dan menganggukkan kepalanya, anak buahnya pun langsung keluar lagi dan membawa seorang lelaki yang tidak dikenal oleh mereka semua yang ada didalam tersebut tapi dikenali oleh Johanes dan Pak Kris.
" Smith Pedro??..." ucapnya terkejut karena orang yang bernama Smith Pedro itu bisa berada dikantor polisi.
" Selamat pagi pak, maaf saya mengganggu bapak" ucapnya seraya menyalami Morgan.
" Oh, tidak apa-apa pak, silahkan duduk." Ucap Morgan seraya menjabat tangan Smith Pedro.
" Begini pak, perkenalkan saya bernama Smith Pedro,orang kepercayaan Almarhum Pak Rendy, saya dipercayakan Almarhum untuk memegang surat amanah yang pernah diberikan Almarhum pak Rendy saat beliau didera sakit pertamakali sebelum Almarhum masuk penjara." Ucapnya
Pak Kris dan Johanes terkejut mendengar perkataan dari pak Smith.
" Maaf sebelumnya kalau memang bapak adalah orang yang memegang amanat dari pak Rendy kenapa baru sekarang bapak muncul?" Tanya Morgan.
" Iya benar, kenapa bapak baru hadir setelah Nika dan Amel mengalami penderitaan yang cukup panjang." Ucap papah Boby lagi.
Pak Smith tersenyum...
" Saya saat itu tidak mampu pak menghadapi pak Kris, karena pak Kris ini sangat kejam,saya tidak kuasa mengatakan kebenarannya, saya tidak berdaya pak, saya hanya orang biasa yang dipercayakan Almarhum pak Rendy memegang amanat ini, bagaimana saya mau berterus terang pada mbak Amelia dan adiknya tersebut, karena mbak Amel selalu diawasi oleh mereka dan anak buahnya saat diluar Negeri, dan saya mendengar kalau mereka sudah berada ditanah Air, dan saya terus mengikuti gerak gerik pak Kris, sampai akhirnya saya mengetahui pak Kris ketanah Air dan menuju kekantor polisi ini dan saya pun mengikutinya." Terangnya.
Pak Kris terkejut dan menatap Smith Pedro dengan tatapan yang tidak percaya, karena Smith Pedro adalah salah satu karyawan Rendy yang sangat jujur, dia tidak menyangka kalau Smith mempunyai amanat dari Rendy.
" Hmmm...apa amanat dari Almarhum Rendy?" Tanya papah Andre.
Smith kemudian mengeluarkan kertas dari dalam tasnya tersebut dan memberikannya pada Morgan dan Morgan langsung memberikannya pada Mertuanya untuk dibaca dan ditelitinya.
Papah Andre dan yang lainnya membaca amanat yang tertulis didalam kertas tersebut, dan mereka pun terkejut dengan tulisan itu yang sudah ditandatangani dengan sah oleh Rendy jauh sebelum dia mendapatkan Fitnah dari pak Kris tersebut, papah Andre hanya bisa menarik nafasnya dengan pelan begitu juga dengan yang lainnya mereka terdiam semua, dan kemudian Smith mengeluarkan beberapa berkas dan diberikan pada Morgan, Morgan pun langsung membuka dan memeriksanya.
" Pak Kris! " Panggil papah Boby.
Kemudian papah Boby membacakan kertas yang berisikan amanat Rendy dimasa hidupnya bahwa perusahaan utama tersebut diwariskan pada kedua anaknya Amelia dan Nika sedangkan perusahaan anak cabangnya itu mutlak diberikan pada pak Kris, dan selama Nika belum dewasa Nika akan diurus Kakaknya Amelia dan Amelia akan melanjutkan usaha sang papah jika suatu saat papah dan mamahnya sudah tiada.
Pak Kris langsung tertunduk dan lemah dia pun langsung menjatuhkan dirinya kelantai ubin keramik tersebut terdengar tangisannya yang keras, dia tidak malu pada siapapun yang mendengar suara tangisnya itu.
" Maafkan aku Ren, maafkan aku!!" Ucapnya sembari memukul-mukul lantai ubin keramik tersebut.
Mereka membiarkan pak Kris meluahkan emosi penyesalannya dengan cara menangis tersebut.
" Bukankah kata Johanes kalau perusahaan anak cabang itu diwariskan pada Nika?" Tanya Abi Yosep.
" Itu hanya ucapan pak Rendy saja pak, karena biar tidak ada yang mengganggunya, saya juga tidak menyangka pak Rendy dan bu Sinta berakhir seperti ini hidupnya." Ucapnya terlihat sedih.
" Berkas-berkas ini menyatakan kepemilikan Amelia dan Pak Kris." Ucap Morgan.
Papah Boby langsung mendekati pak Kris dan berjongkok didepan pak Kris.
" Bangun Bro! Kamu menyesalkan sekarang?! Sahabat kamu sendiri sudah menepati janjinya untuk memberikan sebagian usahanya untuk kamu secara cuma-cuma, tapi sayangnya kamu tidak menyadari itu, kamu seharusnya memahami apa arti sahabat yang sesungguhnya, karena hanya sahabat yang benar-benar bisa dikatakan sahabat itu ada dikala kita kesakitan dan hanya sahabat yang bisa membantu kita dikala kesusahan dan hanya sabat juga yang bisa membagi miliknya pada sahabat tersebut sesuai dengan jerih payah yang didapat bersama, kamu bisa punya kawan banyak, kamu bisa punya teman banyak, kamu juga bisa punya sahabat banyak, karena kawan dan teman berbeda arti dengan sahabat, teman dan kawan bisa datang silih berganti disaat mereka perlu dengan kita dan bisa dengan mudah meninggalkan kita begitu saja tanpa menoleh lagi kearah kita, sedangkan sahabat dia datang tanpa kita panggil saat kita dalam keadaan kesakitan dan kesusahan karena dia juga merasakan apa yang sahabatnya rasakan, dan dia juga tidak akan pernah meninggalkan kita begitu saja, dia akan selalu ada disamping kita, belakang kita,dan dihati kita, kamu sudah menyia-nyiakan sahabat kamu sendiri dan dengan mudahnya kamu buat masalah sehingga sahabatmu itu menderita sampai akhir hidupnya, minta maaf pun kamu percuma sekarang, karena orangnya sudah tiada, yang hanya bisa kamu lakukan hanyalah mendoakan kedua Almarhum dan Almarhumah, dan yang terpenting lagi kamu bertaubat dan bersungguh-sungguh minta ampun dengan yang maha kuasa, dan ingat tobat kamu itu harus benar-benar bukan sekedar tobat sambel, saat kita makan sambel terasa pedas langsung bilang tobat dan setelah hilang pedasnya makan lagi sambel,istilahnya begitu, penyesalan kamu ini harus nyata bukan hanya isapan jempol belaka." Ucap papah Boby panjang lebar.
Para sahabatnya lagi-lagi melongo karena mendengar papah Boby yang memberi nasehat pada pak Kris.
" Boby memang tidak bisa ditebak!" Ucap Abi Yosep.
" Boby memang yang terbaik." Sambung Ayah Candra.
" Itulah istimewanya Boby.." ucap papah Andre tersenyum.
" Om Boby...Biyas padamu." Ucap Biyas tersenyum.
Mereka berempatpun tersenyum, sedangkan Morgan tertegun dengan papah Boby, dibalik emosi papah Boby yang tingkat dewa itu,ada sisi relijiusnya.
" Saya menyesal sekarang pak, barulah saya merasakan penyesalan yang sangat dalam datang tiba-tiba seperti ini menghampiri saya, saya bergetar setelah pak Boby mengatakan semuanya tadi dengan saya." Ucapnya.
Papah Boby tersenyum dan menepuk pundak pak Kris dengan pelan dan melangkah menuju kearah para sahabatnya itu.
" Silahkan pak, proses saya, saya akan mempertanggungjawabkan semuanya." Ucap pak Kris pasrah.
Morgan pun kemudian memerintahkan anak buahnya untuk segera memproses semuanya.
Setelah semuanya beres dikantor polisi mereka berlima langsung pulang, kerumah keluarga Wibawa.
Morgan yang diberi pesan sang mertua pun bersiap-siap untuk pulang kerumahnya dan melanjutkan istirahat yang tertunda, setelah dia memproses pak Kris dan Johanes beserta anak buah mereka tersebut dan ditangani beberapa orang anggota yang khusus dibidangnya, kemudian diapun langsung menuju kemobilnya dan langsung saja melajukan mobilnya tersebut dengan kecepatan sedang menuju kediaman mertuanya bersama denga Smith Pedro karena dia ingin bertemu dengan Amelia dan Nika untuk menyerahkan berkas dan surat-surat berharga lainnya milik kedua orang tuanya.