THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP

THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP
BAB 196



Mereka masih belum menjawab pertanyaan dari tatapan dokter Roni tersebut,mereka malah membiarkan Tante Raisa menangis sesunggukan sambil memeluk Dokter Roni.


Dokter Roni pun memberikan ketenangan pada Mamahnya dan Akhirnya Mamahnya pun berhenti untuk menangis dan Dokter Roni menghapus air mata yang masih tersisa di wajah tua Tante Raisa.


" Adikmu, Adikmu Nak "


" Kenapa dengan Adik Roni mah? Adik yang mana Lia apa Nadine?"


" Lia "


" Memang ada apa dengan Lia Mah?"


" Lia mau dilamar "


" Lia mau dilamar sama siapa Mah?"


" Roni " Panggil Papa Andre.


Dokter Roni pun menatap ke arah Papa Andre.


" Ya Om, ada apa?"


" Kami datang ke sini ingin melamar Lia."


" Melamar Lia?"


" Ya Ron, saat Om mengatakan kepada Tante Raisa keinginan Om beserta keluarga datang ke sini menginginkan Lia, Tante Raisa langsung pingsan."


" Maksudnya Om melamar Lia untuk siapa? bukankah Anak Om Andre sudah menikah.?" Tanya Dokter Roni.


" Bukan untuk Anak Om,tapi untuk Niko keponakan Om, Niko ini adalah anaknya Melisa Adiknya Om."


" Iya Ron,Niko adalah Anak Tante, Tante dan suami Tante datang kesini untuk melamar Lia, karena Tante sudah jatuh hati dengan Lia dan tante merasa Niko akan bahagia dengan Lia, ternyata Dia sudah pernah melihat Lia pertama kali semenjak Dia berada di tanah Air, karena selama ini Dia berada di luar Negeri, tapi sebelumnya Niko memang sudah pernah menikah dari pernikahan pertamanya itu Dia gagal dan diakhiri dengan perceraian, nah keinginan Tante saat itu ingin menjodohkan Lia dengan Niko, karena Tante takut kalau Niko mencari istri salah kembali jadi Tante ingin menjadikan Lia sebagai calon istrinya Niko pilihan Tante, awal pertama Tante bertemu dengan Lia di saat pernikahan Clarissa kemarin,disitulah Tante saat pertama kali melihat Lia menatap wajahnya Tante sudah jatuh hati dan Tante menginginkan Dia sebagai menantu Tante, ternyata saat Tante bertanya dengan Niko,ternyata Dia juga menyukai Lia,dan Tante berharap keluarga kamu mau menerima lamaran ini terutama Tante Raisa." ucap Mama Melisa panjang lebar.


Dokter Roni hanya tersenyum saja...


" Oh,ini yang mengakibatkan Mama shock, jadi pingsan, memang ada apa Mama? kenapa Mama langsung shock dan pingsan seharusnya Mama itu senang karena Lia mau dilamar."


" Sebenarnya Mama senang saat Om Andre mu, mengutarakan kedatangan mereka kesini, tapi Mama merasa sedih."


" Sedihnya kenapa Mah?kenapa bisa sedih?" tanya Dokter Roni sebelum Tante Raisa menjawab semuanya,papah Andre langsung bersuara.


" Tante Raisa tidak perlu khawatir,Niko sudah mengetahui semuanya, peristiwa yang sudah dialami oleh Lia, Dia ikhlas menerima peristiwa itu bahkan Dia ingin membahagiakan Lia dan Anaknya dan in sya Allah Niko akan menjadi imam yang terbaik untuk Lia dan menjadi Ayah yang terbaik untuk Kevin." terang Papa Andre.


Lia mendengar perkataan Papa Andre merasa tidak percaya, Karena Dia tidak mendengar langsung dari mulut Niko, Dia kemudian menundukkan kepalanya.


" Apakah benar itu perkataan dari Niko? apakah karena Dia merasa kasihan dengan ku, sehingga Dia mau menerimaku apa adanya, kalau dipikir tidak ada laki-laki yang mau menerima keadaanku ini dengan peristiwa yang pernah Aku alami beberapa tahun yang lalu." batin Lia.


Niko menatap kearah Lia, Dia mengetahui apa yang dipikiran Lia, Dia pun kemudian langsung bersuara menyakinkan keluarga Lia kalau Dia memang sangat mencintai Lia apa adanya.


" Tante Raisa apa yang dikatakan oleh Om Andre itu memang benar, awalnya Niko tidak tahu cerita apa yang menimpa dengan Lia saat penggerebekan waktu itu dengan orang yang sudah menyakiti Lia, awal Niko melihat Lia Niko sudah merasa sangat yakin kalau Lia adalah pilihan Niko yang akan menemani hari-hari Niko sampai tua nanti, dan Niko pun berjanji dengan diri Niko sendiri akan membahagiakan Lia,Niko tidak tahu kalau Lia mempunyai anak setelah dijelaskan oleh Arvin dan Om Andre serta semuanya tentang cerita peristiwa yang pernah dialami oleh Lia Niko ingin berusaha menghilangkan kenangan tersebut, walaupun sebenarnya kenangan itu pasti membekas di hatinya Lia, setidaknya Niko bisa memudarkan bekas itu, Jadi Niko memang menginginkan Lia sebagai pendamping hidup Niko bagi Niko cinta bukanlah mencari pasangan yang sempurna, tapi harus menerima lahir batin, luar dalam pasangan kita dengan sempurna itu prinsip Niko dan Niko merasa kalau Niko bersama dengan Lia akan bahagia, karena saat melihat Lia perasaan Niko sangat tenang dan perasaan Niko bahagia sekali." ucapnya panjang lebar sesekali Dia melirik kearah Lia.


Lia terkejut dengan ucapan Niko Dia pun langsung menatap kearah Niko, Niko memberi kode kepada Lia dengan menganggukkan kepalanya serta memejamkan matanya sesaat, kemudian Lia kembali menundukkan kepalanya.


Lia pun meneteskan air matanya.


" Ya Allah apakah ini jawaban dari doaku, begitu hebatnya balasan darimu Ya Allah, engkau telah memberikan Aku cobaan yang sangat berat selama bertahun-tahun,Tapi engkau memberikan Aku kebahagiaan dan mengabulkan doaku dalam sehari semalam, betapa indahnya rencanamu Ya Allah." gumamnya dalam batinnya.


Lia pun meneteskan air matanya, Air mata kebahagiaan.


Nadine kemudian merangkul pundak sang Kakak, Dia langsung menyentuh dagu sang Kakak dan mengangkat wajahnya, Dia kemudian menghapus air mata Kakaknya tersebut dan memberikan isyarat kepada Kakaknya dengan menggelengkan kepalanya agar Lia tidak mengeluarkan air matanya.


" Tidak apa-apa Nak, biarkan aja Dia menangis karena itu adalah tangis bahagianya." ucap Mama Melisa kepada Nadine.


Nadine tersenyum dan Lia pun ikut tersenyum, Lia pun menghapus sisa-sisa air matanya yang masih ada di pipi cantiknya tersebut.


" Bagaimana Tante Raisa? Apakah tante menerima lamaran kami?" tanya papa Andre.


Tante Raisa hanya menganggukkan kepalanya.


" Tante tidak bisa bicara apa-apa lagi, karena Tante merasa senang sekali, ada yang mau menerima dan menjadikan menantu Anak tante ini, dengan segala macam kekurangan dan kelebihan, serta keburukan dan kebaikannya, semoga saja kebahagiaan selalu menyertai langkah kaki Lia dan Niko, walaupun sebenarnya mereka berdua baru saja berkenalan dan bertatap muka hari ini, mereka memang saling memandang tapi tidak mengetahui satu sama lain saat itu, semoga saja dengan perjodohan ini mereka bisa mengenal luar dalamnya dan kepribadian mereka berdua masing-masing, Tante sebagai orang tua tunggal hanya bisa mendoakan kebaikan dan kebahagiaan untuk mereka." ucap tante Raisa di anggukan oleh Dokter Roni dan yang lainnya.


" Sayang, kamu nggak bilang ya sama Mamamu Kalau kami mau datang hari ini kesini."


" Enggak Mas."


" Memangnya kenapa? kan Mas udah bilang agar kamu mengatakan kepada Tante Raisa,Kalau kami datang ke sini untuk melamar Lia, katanya tadi kamu akan mengatakannya."


" Iya rencananya memang Nadine mau mengatakannya kepada Mama, tapi Nadine pikir lebih baik ini menjadi surprise untuk Mama, tapi ternyata surprisenya malah bikin Mama tak sadarkan diri, maafin Nadine ya Mah, ini salah Nadine."


" Iya sayang, nggak apa-apa." ucap Tante Raisa tersenyum.


Mereka semua tersenyum bahagia...


" Alhamdulillah, akhirnya diterima juga lamaran kami, terima kasih ya Tante Raisa, sekarang kita menjadi besan." ucap Mama Melisa seraya mengambil kotak cincin yang ada di dalam tasnya,tante Raisa dan keluarganya pun menatap kearah Mama Melisa, Mama Melisa meletakkan cincin itu di atas meja, Mama Melisa tersenyum kearah Lia, Niko dan yang lainnya.


Niko dan keluarganya memang sudah tahu ingin menyematkan cincin di jari manisnya Lia, tapi Lia dan keluarganya belum mengetahui kalau hari ini adalah lamaran dan sekaligus pertunangan kilat mereka berdua.


" Gimana Tante Raisa?boleh kan hari ini langsung bertunangan mereka berdua? sebenarnya saya sudah nggak sabar ingin melihat mereka bersama." Kekeh Mama Melisa.


" Saya setuju saja, gimana dengan Lianya." ucap Tante Raisa sembari tersenyum seraya menatap ke arah Lia.


" Gimana? Apakah kamu mau menerima pertunangan kamu dengan Niko hari ini Lia?" tanya Tante Raisa.


Lia mengangkat wajahnya dan menatap kearah sang Mama, Dia pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya, Nico pun langsung mengucapkan


" Alhamdulillah,Yes!" ucapnya dengan mengusapkan tangannya kewajahnya, mereka semua menatap ke arah Niko, Niko pun langsung tersenyum, karena ketahuan sangat bahagianya,dengan mengekpresikan seperti itu.


" Udah nggak sabar ya Bro? sabar!tunggu 3 minggu lagi." ucap Abiyasa sembari tersenyum.


Niko pun langsung mengambil cincin yang ada di atas meja tersebut.


" Eh..! tunggu dulu, jangan terburu-buru." cegah Mama Melisa.


" Kenapa dicegah sih Mah?kapan lagi nih, udah nggak sabar ingin menyematkan cincin itu kejari pujaan hati Niko." ucapnya terkekeh, sedangkan Lia hanya menundukkan kepalanya dan mengusap hidungnya yang tidak gatal, karena perlakuan Niko seperti itu dirinya merasa tersanjung dan merasa bahagia dengan malu-malu dan wajahnya bersemu merah.


Mamah melisa tersenyum dan langsung mengangguk


" Ayo Dek ulurkan tanganmu." ucap Dokter Roni.


Kemudian dengan malu-malu dan masih menundukkan wajahnya Lia pun mengeluarkan tangan kirinya,Niko pun langsung menyentuh tangan Lia dan menyematkan cincin di jari manisnya Lia, setelah tersematkan begitu pula dengan Lia, Dia pun langsung meraih tangan kiri Niko dan menyematkan cincin yang lain kejari Niko.


Walaupun hatinya dagdigdug dan wajahnya terasa panas karena menahan rasa bahagia dan malunya itu menjadi satu.


Bahagianya karena Dia saat ini langsung bertunangan dengan Niko dan merasa malu karena Niko begitu mesra menatap wajahnya, saat Lia mau melepaskan tangannya, Niko terus menggenggam tangan Lia tanpa malu-malu Niko pun langsung mencium tangan Lia tanpa pikir panjang lagi Arvin langsung menarik tubuhnya Niko untuk kembali duduk.


" Eh Bang Niko! sabar dulu dong! belum halal " ucapnya sembari tertawa lepas, mereka yang ada di situpun langsung tertawa,Niko hanya garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal sembari tersenyum. Lia pun hanya bisa senyum dan masih menundukkan kepalanya karena melihat ulah mereka berdua, Niko pun langsung duduk di samping Arvin lagi.


" Apa-apaan sih Vin, nggak bisa ya lihat Abangnya bahagia, Abang nih sangat bahagia banget Vin terlalu bahagia." ucapnya terkekeh.


" Iya sih terlalu bahagia tapi jangan gitu juga kali,masih masih ada tuh orang tua kita nanti mereka juga pengen hehehe." sambung Arvin.


" Semprul nih Anak!benar banget katanya hehehe." tawa Papa Bobby sembari melempar bantalan kursi ke arah Arvin dan Niko, mereka berdua pun terkekeh.


Mereka yang ada di situ langsung tertawa lepas dan Tante Raisa hanya mengusap wajahnya tak henti-hentinya Dia bersyukur melihat sang Anak sudah memiliki pendamping hidup yang memang benar-benar mencintai dan menyayanginya dan tidak memandang kejadian yang telah menimpa Anaknya beberapa tahun yang lalu.


" Mama.. bisa nggak Niko bicara dengan Lia berdua saja di teras belakang itu." ucap Niko.


" Kok nanyanya sama Mama, kan Lia Anaknya tante Raisa."


" Iya Niko kan nanyanya sama Tante Raisa bukan sama Mama Melisa." kekehnya.


" Loh kok panggil Mama sih Bang, Kan belum jadi menantunya.?" tanya Arvin.


" Ya...sebelum jadi menantunya yang sah belajar dulu manggil Tante Raisa Mama hehehe." ucapnya sembari terkekeh lagi.


Tante Raisa pun hanya tertawa saja melihat tingkah polah Niko.


" Boleh! di teras belakang aja biar dari sini masih terlihat kalian berdua." ucap Tante Raisa.


" Ya udah ayo sayang,ku ingin bicara denganmu."


" Cie-cie panggil sayang segala klepek-klepek dah ceweknya." ucap Arvin sembari menepuk jidatnya sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa.


" Biasa Vin sudah karatan,jadi sudah enggak sabar." sambung Papa Bobby.


" Udah Mbeb, ngikuti gaya Anak muda aja, situ kali yang nggak sabar udah karatan,karena beberapa hari berada di rumahnya Anisha." sambung Mamah Lala tersenyum manis pada sang suami.


" Hehehe... kamu tahu aja deh Mbeb, kalau Aku sudah karatan, habisnya Andre itu yang nyuruh kita nginep di rumahnya lama-lama jadi kan gak bebas." ucapnya seraya menyentuh dagu sang istri, mereka yang ada situ pun tertawa lepas.


" Enak aja! seharusnya kamu tuh kalau Aku suruh nginep di rumah, kamu bilang nggak usah Ndre, lebih baik Aku pulang aja ke rumah besok aja Aku ke rumah kamu lagi, gitu,tapi kamunya tidak protes ya Aku sih suka-suka aja kalian berada dirumah lama-lama lagian kan kamar kedap suara cuy! nggak bakalan orang bisa denger." ucap Papah Andre tertawa lepas.


" Ya Iya emang nggak bisa denger, tapi entar selimut, bantal, guling, lari kemana-mana,Ya ketahuan aja kan perangnya kaya apa, hahahahaha." ucap Papah Boby.


" Mana pernah sih Aku periksa kamar kamu." ucap Papa Andre lagi.


" Udah-udah! ini rumah orang, masa sih bertengkar masalah rumah tangga." ucap Ayah Candra terkekeh.


" Ah! kamu bisa aja Ndra, padahal kamu juga protes kan sebenarnya, tapi tidak mau mengungkapkan rasa protesmu itu hehehe." sambung Abi Yosep tertawa.


Ayah Candra hanya menatap kearah Bunda Adel yang sedang mendelik ke arahnya, Ayah Candra pun hanya tersenyum manis seraya menyentuh dagu sang istri.


" Kamu juga sama sayang, yang bisanya menyembul di sela-sela protesan teman-teman, padahalkan kamu juga mau cepat pulang hehehe." ucap Umi Vita.


Abi Yosep garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal seraya merangkul sang istri dan memeluknya,mereka semua yang ada di situ pun tertawa lepas melihat ulah mereka semua yang selalu membuat gelak tawa tercipta di antara mereka.


" Ya sudah silakan diminum dan dinikmati kuenya yang ala kadarnya ini." ucap Tante Raisa.


Mereka semua mengangguk dan satu persatu mengambil air minum dan kue yang sudah disediakan oleh Asisten rumah tangga yang ada di rumah Tante Raisa, terlihat mereka berbincang-bincang dengan penuh keseruan dan penuh canda tawa, kebahagiaan terpancar di wajah mereka semua dan di hati mereka.


Semuanyapun tidak henti-hentinya bersyukur akan kebahagiaan yang selalu diberikan oleh yang mahakuasa di keluarga mereka.