THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP

THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP
BAB 321



Morgan langsung saja berdiri dengan cepat dan dengan sigap dia menahan Antis yang hendak mendekatinya sangat dekat.


" Stop!!jangan teruskan gerakan Anda!! Karena aku tidak mau kamu terlalu dekat dengan ku!!" Ucap Morgan seraya berdiri dari duduknya.


" Morgan...apa-apaan kamu Mor?! Begitu sok sucinya kamu dengan ku?! Aku ini sudah lama bersama denganmu, aku juga yang selalu menemanimu, tapi semudah itu kamu melupakan aku." Ucap Antis seraya menatap Morgan lembut.


" Cukup!! Sudah cukup omongan kamu yang sudah tidak masuk akal dan ngelantur!!!" Ucap Morgan dengan emosi dan memukul meja dengan kuat mengagetkan semua orang yang ada disitu, termasuk Antis.


" Astagfirullahalajim...ngeri juga nih Morgan kalau marah." Gumam Antis. Sedangkan mereka yang menyaksikanpun hanya tersenyum.


" Mantap...skenario istriku bisa membuat teman masa kecilnya emosi." Ucap dr Dion tersenyum.


Mereka yang ada disitu pun tersenyum dan mengangguk.


" Sekarang aku pinta kamu pergi dari hadapanku sekarang juga!! jangan sampai kesabaranku habis mengerti nggak!!" teriak Morgan seraya memukul meja dengan keras lagi, Antis terkejut dan langsung mundur selangkah dari hadapan Morgan dan melihat emosi Morgan sudah mulai tidak terkontrol Abiyasa dan Marco melangkah keluar dari persembunyian dan melangkah menuju kearah Morgan.


" Morgan sabar dek,kendalikan emosimu dek, nggak baik diliat orang, masa seorang lelaki tampan marah-marah tanpa sebab kaya gitu sih..." ucap Marco sembari tersenyum.


" Kak...marah tanpa sebab kakak bilang? kakak nggak tahu apa yang diucapkan wanita gaje ini." ucap Morgan sembari mengusap wajahnya dengan kedua tangannya seraya mendengus dengan kesal dan langsung duduk dikursi yang lain.


" Gaje? apaan sih Mor artinya?" ucap Abiyasa mengekspresikan berpikir.


" Nggak jelas." ucap Morgan tidak menatap Abiyasa sama sekali.


" Oh artinya nggak jelas, emang benar mbak kamu nggak jelas? perasaan jelas Mor si mbaknya, masa segede ini dibilang nggak jelas sih Mor." ucap Abiyasa tertawa lepas, dan Morgan langsung menatap Abiyasa dengan kilatan tajamnya. Melihat tatapan Morgan seperti itu Abiyasa malah tertawanya tidak dia hentikan.


" Biy...udah deh...!" ucap Morgan sembari mengusap wajahnya dengan kasar.


" Oke...gimana mbak, mbak harus bertanggung jawab dengan semua ini, saya tidak ingin teman saya ini jadi tersiksa dengan kehadiran mbak gaje ini, lebih baik mbak perjelas aja deh siapa mbak sebenarnya, saya takut sahabat saya ini ntar gantung diri lho di pohon mangga menggunakan benang jahit kain." ucap Abiyasa terkekeh disambut Marco tertawa lepas, mendengar tawa Abiyasa itu, Morgan naik lagi emosinya dan langsung berdiri dia bersuaa dengan lantang kearah Antis.


" Ini semua karena kamu wanita nggak jelas!! sedari tadi juga kamu tidak menyebutkan siapa kamu, nama dan sebagainya, aku muak dengan kamu!!" ucap Morgan langsung saja mendekati Antis ingin meraih tangan Antis dan ingin membawanya keluar dari cafe tersebut dengan bertepatan langkahnya itu beberapa orang yang berada didalam cafe langsung mengeluarkan sesuatu dan membunyikannya terdengarlah suara letusan kecil berbarengan dengan serpihan kertas manik-manik yang berterbangan menerpa Morgan yang sedang berdiri dengan kebingungan dan keheranan dengan situasi saat ini yang dialaminya.


" Selamat ulang tahun..." Ucap mereka diikuti senyum mereka dan suara tawa beberapa orang tersebut. Morgan masih dengan posisi terkejutnya dan tidak bisa mengucap kata-kata lagi.


" Morgan ayo duduk dulu " Ajak Abiyasa dan Morgan hanya mengangguk saja dia masih dengan ketidak pahamannya itu, mereka kemudian duduk di sebuah tempat yang sudah disetting untuk acaranya.


" Sebelumnya selamat ulang tahun ya broo.. maaf karena acara ulang tahun kamu ini kami tidak cerita sama kamu,semua kejadian yag sudah kamu alami itu hanya setingan belaka, silahkan Antis kamu ceritakan semuanya pada Morgan." ucap Abiyasa tersenyum.


" Ulang tahun? Antis? " ucapnya seraya menatap kearah wanita yang sudah membuat emosinya memuncak. Antis hanya tersenyum senyum bahagia karena dia sukses membuat Morgan naik pitam emosinya.


" Antis?" ulangnya seraya menoleh kearah sesosok wanita yang sudah beberapa hari belakangn ini selalu mengganggu dirinya.


" Iya Morgan, masa kamu lupa dengan teman masa kecil kamu.." sambung Marco tersenyum seraya menepuk pundak sang adik pelan.


" Memang tugas Antis untuk menggoda kamu disini.." ucap Anindita sambil mendorong kue ultah sang suami sembari terkekeh dibarengin dengan tawa semuanya yang hadir dipesta kejutan untuk Morgan.


" Sayang...??! kamu sudah tahu ya." ucap Morgan beranjak berdiri dan mendekati sang istri seraya meraih tangan istrinya dan memeluknya penuh kasih sayang. Anindita hanya mengangguk dan membalas pelukkan suami tercintanya.


" Selamat ulang tahun ya sayang..." ucap Anindita sembari mendongakkan kepalanya tersenyum pada sang suami. Morgan mengangguk dan tersenyum seraya mencubit hidung sang istri.


" Terimakasih sayang..." ucapnya mencium kening dan pucuk kepala Anindita.


" Gimana Morgan?Apakah kamu masih tidak mengenaliku? " tanya Antis dan Morgan pun menoleh kearah Antis.


" Ya Allah Tis, baru ini aku bisa mengenali kamu, maaf ya tadi aku bentak-bentak kamu, karena aku memang benar-benar tidak tahu kalau selama ini yang meneror aku adalah kamu, beneran deh aku nggak kenal, suara kamu aja aku nggak kenal, biasalah karena aku telalu banyak mendengarkan suara orang jadinya aku tidak bisa mendengarkan dengan fokus.Terimakasih ya semuanya teruntuk istriku aku sangat terharu dengan persiapan kejutan ini, kalian semua sudah sangat mantap mempersiapkan semuanya, aku sangat bersyukur dengan kehadiran kalian semua terutama kamu sayang yang selalu ada dihati ini, semoga dengan bertambahnya usiaku sekarang ini in sya Allah aku akan menjadi pribadi yang lebih baik lagi dari yang sebelum-sebelumnya terutama untuk keluarga baruku yang baru saja aku bina sekarang ini" ucap Morgan tersenyum sembari menggenggam tangan sang istri dengan penuh kehangatan dan cinta kasih yang sangat besar, Anindita memberikan senyum bahagianya dan mengangguk.


" Aamiin ya Allah..." ucapnya dengan rasa bahagia.


" Morgan... Aku yang seharusnya minta maaf padamu karena tidak langsung mengatakan padamu kalau aku itu Antis, maafin aku ya Mor..." ucap Antis dianggukkan Morgan.


" Ya udah ayo kita nikmati acara ultahnya..." ucap Arvin terkekeh.


" Aku kan tidak ultah sekarang Vin, tanggal ultahnya aku kan sudah lewat hehehe..." ucap Morgan.


" Iya memang sudah lewat Mor, tapi kan masih dibulan yang sama..." sanggah Arvin sembari terkekeh membalas kekehan Morgan.


" Sayang...memang awalnya dilaksanakan pada waktu yang ditentukan tapi karena kita semua berduka dengan kepergian tante Dwi, makanya ditunda..." sambung Anindita berhelayut manja dan Morgan mengajak sang istri untuk duduk.


" Oh iya ya, oh ya Vin kenapa Nadine nggak ikut serta, kak Roni juga nggak ikut kenapa?" tanya Morgan.


" Istriku berada dirumah mertua ku karena tadi disuruh kesana makanya aku antar dia kesana kata mamah mertuaku ada yang ingin dibicarakan tentang kak Roni, ntar dari sini aku langsung kesana juga sih, rencananya mau nginap dirumah mertua." jawab Arvin.


" Pasti masalah kak Roni yang diharuskan terlebih dahulu menikah menggantikan kak Nico yang belum bisa melaksanakan pernikahan karena kondisinya yang belum sehat benar." sambung Abiyasa.


" Wah mantap nih!kok aku tak tahu gosipnya sih" sahut Clarissa.


" Mungkin Om Boby belum cerita kekamu aja kali Ris,,,Aku aja nggak tahu juga sih, tahunya sudah disini." ucap Arvin.


" Iya Ris, benar kali apa yang dikatakan Arvin, aku juga nggak tahu.." sahut Morgan.


" Hanya aku saja yang tahu, dikasih tahu sama papah tadi sore, makanya besok kita bertiga nih, Arvin dan kamu Morgan ikut aku untuk mengurus semuanya buat kak Roni dan kak Amelia." sahut Abiyasa.


" Oke siap...!" ucap mereka berdua.


Kemudian mereka pun larut dalam kisah mereka kembali terdengar gelak tawa yang diciptakan mereka di cafe flowers tersebut.