THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP

THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP
BAB 06



Tepat pukul Dua pagi Abiyasa bangun dan melaksanakan sholat malam, dan begitu juga anggota keluarga lainnya masing masing melaksanakan sholat malam tersebut di kamarnya masing masing.


Abiyasa selalu berdoa akan keselamatan kedua orang tuanya didunia dan akhiratnya, Abiyasa tak lupa juga berdoa dipertemukan dengan baby kecil yang selalu membuat getar di jantungnya tersebut.


Selesai sholat Abiyasa selalu menyempatkan membaca ayat suci Alquran yang sejak dulu selalu di ajarkan oleh orang tuanya sehabis sholat dan di waktu senggang selalu membaca ayat suci Alquran, sampai sekarang kebiasaan itu tidak pernah di tinggalkannya.


Selesai membaca ayat suci Alquran, Abiyasa langsung berjalan menuju kasurnya kembali niat nya ingin rebahan aja di kasurnya tersebut eh....malah ketiduran.


Karena Abiyasa tidak menggunakan alrm ponselnya hampir saja dia kesiangan untuk sholat subuh berjamaah, untung saja saudara kembarnya tersebut membangunkannya.


Abiyasa dengan segera bangun dan menuju kearah kamar mandi dan mengguyur tubuhnya dengan air dingin dan membersihkan seluruh badannya, selesai mandi dia bergegas menemui mereka di ruang sholat yang ada di rumah mereka, dan langsung melaksanakan sholat subuh berjamaah.


Setelah sholat dan mengaji, seperti biasa mamah Anisha pergi ke dapur untuk melaksanakan rutinitasnya menyiapkan sarapan pagi, tapi kali ini di bantu anak gadisnya Anindita, sedangkan Almira dan Alena hanya duduk manis di kursi meja makan seraya memandangi kedua wanita yang disayangi mereka sedang melaksanakan aktifitas memasaknya.


Abiyasa dan Arvin duduk di ruang tamu bersama papah Andre sambil menunggu sarapan selesai di buat.


Papah Andre memperhatikan Biyas yang terlihat galau.


" Kamu kenapa nak?" Tanya papah Andre.


" Nggak kenapa napa pah" jawabnya.


" Bohong om," ucap Arvin.


Biyas menoleh pada Arvin, dan memberi kode padanya agar tidak bilang pada papah Andre tentang kegalauannya.


Tapi Arvin memang anaknya open selali terbuka dengan keluarganya.


" Biyas lagi jatuh cinta om Andre" ucap Arvin tanpa dosa.


" Arvin...!" Teriak pelan Biyas seraya menutup mulut Arvin dengan tangannya.


" Jatuh cinta? Alhamdulillah akhirnya anak papah yang satu ini dapat pacar juga" ucap papah Andre.


" Tapi jatuh cinta nya sama baby yang ada di fhoto om, yang pernah di cium Biyas saat kecil" kekeh Arvin seraya menjauh dari Biyas setelah lepas dari cengkraman Biyas yang menutup mulutnya.


" Hah?! Hahahah... Berarti itu namanya jodoh bro" ucap Papah Andre tertawa lepas.


Biyas hanya tersenyum mendengar godaan papah dan sahabatnya itu.


" Sebenarnya iya pah, saat Biyas melihat fhoto itu, barulah Biyas merasakan degup jantung Biyas, dulu dulu nya tidak pernah walaupun wanita yang cantik sampai yang seksi pun datang pada Biyas tidak pernah sedikitpun Biyas merasakan getaran itu pah" ucapnya.


Papah Andre tersenyum.


" Itu namanya kamu menjaga cinta kamu hanya untuk anaknya om Yosep" ucap Papah Andre.


" Tapi Biyas mencarinya kemana pah? Biyas nggak pernah sekalipun bertemu dengan nya, bagaimana rupanya, seperti apa dia, Biyas nggak pernah tau pah" ucapnya.


" Berdoalah, insyaAllah kalian bisa bertemu, papah juga rindu dengan keluarga Om Yosep dan Tante Vita mu" ucapnya.


Papah Andre, Biyas Arvin hanya bisa menarik nafasnya dengan berat dan melepaskannya dengan pelan.


Mamah Anisha datang dari arah ruang makan dan mengajak semuanya untuk sarapan pagi bersama, mereka bertiga mengikuti langkah mamah Anisha menuju ruang makan.


" Masak apa sayang?" Tanya Andre pada sang istri.


" Biasa, masak kesukaan suami tercinta dan anak anak tersayang, di tambah lagi kesukaan dua keponakan yang terimut" ucap mamah Anisha tersenyum seraya mengambilkan sarapan buat suaminya.


" Terimakasih mamah Anisha," ucap semuanya.


" Sama sama sayang, ya udah ayo makan ntar pada terlambat lagi kerja dan berangkat sekolahnya" ucap mamah Anisha.


"Kalo Alena mah emang imut, tapi kalo Arvin, bukan imut tapi kormut" ucap Arvin.


"Apa tuh kormut," tanya Dita.


" Korea imut,aku kan mirip orang korea gitu" ucapnya pede.


" Korea di liat pake sedotan dari atas Monas," ceketuk Almira tertawa.


Arvin hanya tersenyum aja...


Mereka tertawa mendengar celoteh Almira menggoda Arvin.


Mamah Anisha sangat bahagia dengan kebersamaan mereka bisa kumpul bareng makan bersama.


Terbersit doa di hatinya, agar semua sahabat dan adik beserta iparnya bisa kumpul lagi seperti dulu.


Mereka menikmati makanan yang disediakan oleh Mamah Anisha suapan demi suapan mereka nikmati dengan begitu nikmatnya.


Setelah selesai menikmati sarapan pagi mereka, mereka kembali dengan aktivitas mereka semua seperti biasa.


Mamah Anisha mengantarkan suaminya sampai pintu utama, untuk berangkat ke kantor. kali ini suaminya berangkat ke kantor tidak sendirian, tapi dia berangkat bersama dengan anak lelakinya.


karena hari ini adalah hari terakhir suaminya berangkat ke kantor, karena kantor akan diserahkan kepemimpinannya pada anak lelaki satu-satunya tersebut.


papah Andre mencium kening dan pucuk kepala Mamah Anisha seperti yang dilakukannya setiap hari pada saat dan pulang bekerja. Mamah Anisha mencium punggung tangan suaminya.


Abiyasa tak lupa mencium punggung tangan mamah Anisha.


" Assalamualaikum" ucap keduanya di akhiri dengan senyuman manis kedua lelakinya.


" Waalaikumussalam, hati hati di jalan" ucap mamah Anisha.


Mobil yang dikendarai oleh suami dan anaknya meninggalkan depan rumahnya menuju ke arah kantor.


Arvin juga kemudian berangkat ke kantor, dia berpamitan kepada tantenya dan sekalian mengantarkan sang adik berangkat kuliah.


Sedangkan anaknya Almira sudah berangkat lebih dulu ke sekolah, diantar oleh Pak Gito sopir pribadinya yang khusus mengantar jemput Almira pulang pergi ke sekolah.


Sedangkan Anindita belum masuk kerja karena papanya belum mengatakan dia bekerja di Rumah Sakit mana, Anindita belum mengetahui kalau dia sudah dihadiahi orang tuanya sebuah rumah sakit yang kepemilikannya atas nama dirinya.


Anindita sabar menunggu perintah dari sang papah, Anindita yang berada di kamarnya kemudian di hampiri oleh mamah Anisha.


" Lagi apa sayang?" Tanya nya pada anak perempuannya tersebut.


" Lagi nyantai aja mah, papah udah berangkat" ucapnya.


" Udah sayang" ucap mamah Anisha.


Anindita mengangguk...


Kemudian mereka keluar kamar,dan nyantai di depan tv menikmati acara Tv yang berlangsung.


*****


Mobil yang dikendarai oleh Andre dan Biyas, memasuki halaman kantor seperti biasa mobil yang dikendarai papah Andre langsung beralih tangan dengan security nya yang tahu akan tugasnya untuk memarkirkan mobil pak Bosnya tersebut.


Security itu menundukkan kepalanya sesaat memberi hormat kepada pak Bos dan seseorang yang dibawa pak bosnya itu


Papah dan anak itu berjalan masuk kadalam lobby, semua mata tertuju kepada Biyas dan mereka bertanya-tanya, siapakah yang dibawa oleh pimpinannya tersebut? seorang laki-laki dengan paras yang sangat tampan dan postur tubuh yang menggoda para kaum hawa.


Siapa saja yang melihatnya pasti akan tergoda, dengan melihat postur tubuh seperti yang dimiliki oleh Abiyasa itu, Karena postur tubuh Biyas sangat menggoda para kaum hawa yang ingin memilikinya sebagai pendamping hidup, kalau dikatakan sosok Abiyasa sangat sempurna bagi para kaum hawa, walaupun sebenarnya sempurna itu hanya kepunyaan Allah.


Mereka berdua menyusuri lobby menuju ke arah lift khusus pimpinan,


Saat memasuki lift, terdengar suara teriakan dari belakang.


" Pak Andre, tunggu saya"ucapnya Seraya setengah berlari mendekati mereka berdua.


Papah dan anak itu menoleh kearah suara ternyata Clarissa yang memanggilnya.


Kemudian kedua orang lelaki tersebut tersenyum dan menunggu sampai Clarissa sampai dihadapan mereka.


"Kok, baru nyampe" tegur Biyas.


" aku tadi diantar sama papah Biy, kan aku nggak tahu kantor kamu di mana, makanya aku minta tolong sama papah untuk mengantarkan ku" ucap Risa.


"dasar anak durhaka! Masa orang tua disuruh nganter, kan bisa naik taksi,atau bawa mobil sendiri" ucap Biyas lagi.


Clarisa hanya terkekeh.


Sesampainya di lantai atas tempat ruangan papah Andre,mereka bertiga keluar lift dan langsung memasuki ruangan tersebut.


Clarisa dan Abiyasa langsung duduk di sofa dan papah Andre duduk di depan mereka berdua.


" Irfan, siapkan rapat jam delapan pagi ini, kumpul kan semua karyawan di ruang rapat." perintahnya.


" Siap pak " ucap Irfan.


" Oke, terimakasih" ucap Andre.


" Sama sama pak" jawab Irfan.


Papah Andre meletakkan ponselnya di atas meja.


" Apa om yang Risa akan kerjakan?" Tanyanya.


"Om minta tolong pada mu, sebagai sekretaris Biyas sementara, selama Biyas masih mencari sekretaris yang di inginkannya" ucap papah Andre.


" Gimana mau di inginkan om, dianya aja nggak bisa cari cewek, gimana mau cari sekretaris" ujar Risa seraya mendelik Abiyasa.


" Hey Rusa!" Ucap Biyas tersenyum.


" Risa Biy..bukan Rusa" sergah Risa karena namanya diplesetkan oleh Biyas.


Biyas terkekeh melihat sahabatnya manyun...


" Iya Rusa, eh salah Risa, aku bukannya tidak laku tapi aku belum kepikiran mau kearah situ" ucap Biyas.


" Kalau masalah sekretaris, aku serahkan padamu Ris, kamu pasti bisa mencarikan yang baik,dan cekatan dalam bekerja dan tidak malas malasan, dan satu lagi aku tidak suka gadis yang terlalu seksi" ucapnya lagi.


" Banyak amat permintaannya". Ucap Risa.


" Eh Rinso, kalau kamu nggak mau jadi sekretarisku tetap, jangan banyak protes" ucap Biyas terkekeh.


" Rinso lagi, lama lama aku cuci juga nih mulut, biar bersih" ucapnya terkekeh juga.


Papah Andre tersenyum melihat kedua orang yang ada di hadapannya, persis banget saat dia dan Boby yang selalu bercanda di sela sela kerjaan menumpuk.


" Tok...tok.." pintu ruangan Papah Andre diketuk dari luar.


" Ya masuk.." ucap papah Andre.


" Pagi pak Andre, semua sudah ada di ruang Rapat." Ucap Irfan.


" Oh iya sebentar lagi saya kesana" ucapnya.


" Baik pak, saya permisi" ucapnya berlalu dari ruangan pak Bosnya itu.


" Ayo nak, kita keruang rapat, untuk memperkenalkan kamu pada yang lainnya.


Abiyasa dan Risa mengikuti langkah papah Andre menuju kearah ruangan Rapat.


papah Andre masuk di ikuti oleh Biyas dan Risa.


Semua mata tertuju pada Biyas dan Risa, yang masuk dan mengambil duduk di depan para karyawan.


" Selamat pagi, " sapa papah Andre.


" Pagi" ucap semuanya.


" Kalian pasti bertanya tanya kenapa hari ini saya mengumpulkan kalian semua di ruangan ini, saya akan mengenalkan Bos baru kalian yaitu anak saya sendiri yang bernama Abiyasa Putra Wibawa, dan sekretaris sementaranya Clarisa Putria Bola, putri dari pak Boby setiawan." Ucap Papah Andre menjelaskan.


Mereka semua menganggukan kepalanya dan beberapa orang ada yang tidak setuju sebenarnya pak Andre turun dari kepemimpinan nya karena mereka takut pak Biyas tidak bisa bijak pada mereka, di karenakan usia Biyas yang sangat Muda tersebut.


Namun mereka tidak tahu kalau Biyas sudah mewarisi kebijaksanaan dari papahnya, bahkan mereka juga tidak tahu kalau Biyas sangat pandai dalam mengelola perusahaan, satu tahun aja berada di Kanada untuk memimpin perusahaan anak cabang dari Wibawa group tersebut sudah menelurkan banyak peningkatan dari yang lalu lalu.


" Ah...anaknya masih muda, berarti bisa aja tuh di bodoh bodohi" gumam salah satu karyawan seraya tersenyum sinis.


" Udah lama aku mengharap pak Andre pensiun" ujarnya lagi.


Setelah perkenalan tersebut mereka kembali lagi dalam aktifitasnya.


" Nak, papah pulang dulu, silahkan kalian beraktifitas, selamat bekerja" ucap papah Andre pada anaknya tersebut.


" Iya pah, hati hati pulangnya pah, " ucap Biyas.


" Kalau ada semut minggir ya Om" sahut Risa tersenyum.


" Beres, kalau ada semut om akan berhenti dan memanggil kamu muntuk menyebrangkan nya, kamu mau kan Rusa.... heheh" kekeh papah Andre.


" Om Andre.!" Teriak Risa pelan.


" Bapak sama anak nya nggak jauh beda, sukanya plesetin nama orang," gerutunya.


" Namanya juga keturunannya, masa iya sama kaya om candra" ucap Biyas.


" Apa! Nyebut ayahku" ucap Arvin tiba tiba masuk keruangan rapat tersebut.


" Arvin? Darimana kamu tahu kalau aku ada di ruangan ini" ucap Biyas.


" Tadi ketemu om Andre dan aku tanya di mana kalian, di bilang om di sini." Ucapnya langsung duduk di sebelah Risa.


" Ya udah ayo kita keruanganku aja" ajak Biyas.


" Kemana lagi, aku baru datang, cape tau jalan dari bawah keatas!" Ucap Arvin mengikuti langkah kedua sahabatnya.


" Makanya kamu kalau mau kesini tuh bilang biar aku tunggu di ruangan" ucap Biyas.


" Aku tadi lagi nyelesaiin lakalantas di depan kantormu, makanya aku mampir sebentar" ucapnya seraya mensejajari langkah Biyas dan Risa.


Risa kemudian duduk di sofa dekat Arvin.


Dia membuka labtobnya kembali, dia mengamati layar laptopnya dan dia bersuara pelan.


" Akhirnya ada juga yang melamar jadi sekretaris mu Biy" ucapnya.


Kedua lelaki tersebut langsung mendekat dan menatap layar labtop Risa yang ada di atas meja.


" Sejak kapan kamu pasang pengumuman tersebut" tanya Biyas.


" Tadi diruang rapat, kan lumayan tuh buat lowongan.". Ucapnya.


" Pintar juga ya kamu, baru satu hari kerja " ucap Arvin.


" Ya iyalah pintar Risa gitu loh" ucapnya bangga.


" Rusa emang pintar loh.." Sambung Biyas seraya berlalu dari samping Risa.


Risa hanya mendelik kearah Biyas.


" Dasar nggak laku" ucap Risa.


" Sama, kamu juga nggak laku" balas Biyas terkekeh.


" Udah yang sama sama nggak laku diam aja, aku yang belum laku juga santai aja" ucap Arvin terkekeh.


" Eh...liat sini, ada yang masuk cantik banget, " ucap Risa.


Biyas ikutan melihat kearah layar labtobnya Risa.


" Deg..." Jantung Biyas berdegub kencang melihat fhoto pelamar yang ingin jadi sekretarisnya tersebut.


Biyas memegang dadanya debaran jantungnya menjadi semakin kuat berdegub.


" Kenapa jantungku berdegub kencang ya" ucapnya.


Kedua sahabatnya langsung menoleh kearahnya.


" Ada apa Biy?" Tanya Kedua.


" Saat aku melihat fhoto gadis itu jantungku langsung berdegub kencang, seperti saat aku melihat gadis kecil di fhoto yang ada di rumah ku.


Kedua sahabatnya saling pandang dan kemudian mereka berdua tersenyum, Risa dan Arvin langsung kembali kelayar laptobnya dan menghubungi lewat email kalau gadis yang bernama Ayesha Fahira putri Yovi di terima dan di harapkan hadir untuk tes wawancara besok jam delapan pagi.


" Yes..!" Ucap kedua seraya bertos ria.


Biyas hanya memandang aneh kepada kedua sahabatnya tersebut.