
Nadin hanya menarik napasnya dengan pelan dan menatap kearah kekasihnya dengan penuh kerinduan, dengan tatapan yang sama Arvin juga menatap Nadine ingin rasanya dia memeluk Nadine dan memberikan kesabaran dan mengatakan kalau dia memang sangat mencintai Nadine apapun pilihannya nanti dia tetap mencintai Nadine sampai kapanpun dia tetap mencintai Nadine.
" Disini pilihannya sangat berat ya kak." Ucap Nadine sembari menghela nafasnya.
" Memang sangat berat Nad,tapi ini seandainya suatu saat dia datang dan mencari Arvin dan kemungkinan itu bisa saja terjadi, sebelum itu terjadi kamu sudah ada jawaban yang pasti." Lanjut Abiyasa.
" Benar kata Abiyasa nak, memang bagi kamu sangat berat,ya memang begitu nak sangat berat tapi mudah-mudahan aja bukan Arvin yang melakukan itu semua setelah kita mendapatkan keterangan dari Maya dan kita akan mengetahui siapa sebenarnya yang melakukannya pada Lia sebenarnya terungkap, karena saat Arvin sadar dari keterangannyakan Lia memang sudah tidak menggunakan pakaian sehelai kain pun.Jadi itu semua harus jelas dan kita semua harus tahu siapa dalang semuanya ini,om mengira Maya itu dibantu lebih dari dua orang selain kedua temannya itu." Ucap papah Andre panjang lebar.
" Terus apa tanggapanmu kalau seandainya itu terjadi nak Nadine?" Tanya Mama Anisha.
" Nadine akan memaafkan mas Arvin tante,kalau untuk bersama dengan mas Arvin Nadine masih bisa masih mau menerima mas Arvin apa adanya."
" Kalau seandainya istri Arvin lebih dari satu,misalkan Arvin di tuntut menikah dengan Lia dan Arvin juga menikah dengan mu? bagaimana Nad?" Tanya Morgan.
" Aduh Morgan pertanyaannya dalem baget sih?" Ucap Arvin.
" Bukan gitu Vin, aku kan bertanya seandainya,tapi itu kan belum tentu terjadi." Ucap Morgan tersenyum.
" Benar juga tuh apa kata Morgan,karena kita tidak tahu kedepannya." Sambung dokter Roni lagi.
" Tapi kalau seandainya Mas Arvin bertanggung jawab dengan Lia, Nadine ikhlas, kalau harus berbagi kasih sayang dan cintanya mas Arvin dengan Lia, karena disini mas Arvin harus bertanggung jawab sepenuhnya dengan Lia, apalagi Lia kan sudah mengandung anaknya Mas Arvin, kalau memang Mas Arvin yang menjadi Ayah biologis anaknya itu."
" Kalau masalah mempunyai istri lebih dari satu,Nadine menerimanya dengan iklas kalau memang ditakdirkan hidup Nadine berpoligami Nadine akan mengikutinya." Ucap Nadine dengan penuh kepastian dalam berbicaranya.
" Subhanallah! sungguh indah perkataanmu itu Nak." Ucap Mamah Anisha.
Mereka semua menatap kearah Nadine, mereka semua tidak percaya kalau Nadine berbicara seperti itu dari seorang Nadine yang mau berbagi cintanya Arvin.
" Sungguh mulia sekali hatimu Nak." Ucap Bunda Adel.
Nadine hanya tersenyum,dia tidak merasa berat dan kecewa dengan perkataannya dan dengan penjelasan Arvin, dan dia merasa tidak berat dalam berkata seperti itu,karena dia sadar dia datang disaat masa lalu Arvin belum tuntas.
" Kalau memang suatu saat nanti Lia datang dan minta dinikahi dengan mas Arvin mas Arvin harus menikahinya dan seandainya Lia inginkan Nadine menjauh dari Mas Arvin Nadine akan menjauh Tante,asalkan Mas Arvin bahagia Nadine Iklas seiklas-iklasnya." Ucapnya, terdengar tulus dari ucapannya tersebut.
Mereka semua terkejut mendengarkan ucapan Nadine selebihnya Arvin yang tidak menyangka kalau kekasihnya itu mempunyai hati melebihi segalanya.
" Aku tidak mau kamu meninggalkan aku sayang " Ucap Arvin.
" Arvin,itu seandainya,ya sallam!nih laki ngegas aja sih" Ucap Morgan seraya menepuk jidadnya.
Mereka semua terkekeh.
Arvin hanya garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal dan mukanya cengegesan sembari menatap kearah Nadine.
" Mudah-mudahan aja ini semua tidak terbukti dan Lia mempunyai anak bukan dengan Arvin." Ucap Mamah Anisha.
" Amin " Ucap semuanya.
" Coba sekarang Morgan hubungi nomornya Nadine, kamu tidak menyimpan nomor ku kan di gawaimu Nad." Tanya Morgan.
Nadine menggeleng.
Morgan kemudian mengeluarkan gawainya dan menghubungi nomor gawai Nadine, awalnya sambungan itu tersambung tapi tidak ada yang menjawabnya dua kali Morgan menghubungi gawainya Nadine yang entah dengan siapa pemegang gawai tersebut tidak juga di jawab,kemudian Morgan mengirim chat pribadi ke gawainya Nadine dengan isinya.
" Halo Nadine kamu berada di mana sekarang? bisa kita bertemu aku belum pernah nih melihat wajah kamu, tapi aku cuma bisa menghubungi kamu melalui chat saja, kapan kita bisa bertemu.?" Tanyanya,
Tidak berapa lama chat pribadi Morgan kegawainya Nadine pun dibalas.
" Kamu siapa?" Balas gawai Nadine.
" Aku adalah teman chatting kamu." Ucap Morgan.
Beberapa saat kemudian pemegang gawai Nadine pun menghubungi gawainya Morgan,Morgan langsung menerimanya dengan louspekerpun menyala.
" Halo Nadine? kamu di mana?"
" Aku ada di rumah."
" Boleh kita ketemu?"
" Boleh "
" dimana?"
" Diklub malam yang sering aku nongkrong sama teman-teman tiap malam."
" Kamu suka juga ya Nadine diklub malam."
" Iya aku suka banget, malah tiap malam aku berada disana."
" Mantap jiwa!aku suka dengan gadis sepertimu,aku juga anak klub malam." Ucap Morgan seraya mencibir kearah gawainya sendiri, yang lain hanya berdiam dan tersenyum melihat ulah Morgan seperti itu.
" Bagus dong,berarti kita sejodoh sama-sama suka dengan klub malam dan pergaulan tidak terbatas." Ucapnya senang.
" Mantap sekali,share lokasi ya." Ucapnya.
" Oke."
" Rasakan Arvin gadis yang kamu cintai itu namanya akan rusak karena sebentar lagi kencan dengan seorang lelaki teman chatingnya." Ucap Maya tersenyum sinis seraya menatap kearah gawai Nadine yang ada di tangannya dengan memandangi fhotonya Nadine di layar gawai tersebut.
" Kamu kenal suara itu?" Tanya Morgan.
" Iya kak, itu suara Maya."
" Nah berarti gawai kamu itu Maya yang ngambil." Ucap Morgan.
" Hilangnya di mana?" Tanya papah Andre.
" Saat itu Nadine mau mengambil mobil terus diberikan Maya lokasi di mana dia berada dengan alasan dia sakit saat itu jadi nggak bisa nganterkan mobil, saat Nadine mau mengambilnya ternyata ada dua orang laki-laki berada di rumah itu dan menyeret Nadine masuk kedalam, Nadine pasrah saat itu karena Nadine tidak mengenali kedua orang lelaki tersebut, tapi untung ada tukang kebun yang bekerja di situ,sempat saat Nadine diseret-seret Nadine sempat menoleh kebelakang dimana tas Nadine terjatuh,tapi tas itu nggak ada begitu cepatnya Nadine nggak tahu siapa yang ngambil, saat tas itu jatuh pasti ada yang mengambilnya, nah di dalam tas itu semuanya ada gawai Nadine dan peralatan pribadi Nadine yang lainnya." Ucap Nadine.
Mereka semua menganggukkan kepalanya kemudian Morgan menghubungi anak buahnya yang ada di kantor dia mengatakan kepada uzi untuk mencari tahu di mana lokasi sekarang pemilik nomor yang dikirimkan kepadanya.
Mereka semua terdiam larut dalam lamunannya masing-masing, tidak dengan Arvin yang selalu menatap ke arah Nadine, saat Nadine mendongakkan kepalanya dan menatap kearah Arvin, Arvin memberikan senyuman manisnya kepada kekasihnya itu.
" Tapi kamu tidak Apa-apakan sayang?tidak disentuh yang lain-lainnya kan?" Tanya Arvin khawatir.
" Tidak Mas Alhamdulillah." Ucapnya tersenyum.
" Maafkan aku ya sayang, karena masalahku membuat kamu hampir saja celaka." Tatap Arvin.
Nadine hanya tersenyum seraya menganggukkan kepalanya, kesedihan yang ada di wajahnya sudah mulai sirna karena penjelasan dari Arvin dan semua keluarganya sudah memberikan semangat kepada Nadine.
Begitu pula dengan Arvin dia sudah menceritakan semua masa lalunya yang telah mengganggunya dan keluar ke permukaan hidupnya lagi.
Gara-gara seorang Maya, Arvin jadi melibatkan semua keluarga besarnya beserta sahabat-sahabatnya tersebut.
Untung saja keluarganyapun memahami dengan itu semua dan memberikan jalan untuk mereka,tiba-tiba mereka pun dikejutkan oleh suara Bi Inah.
" Maaf tuan,nyonya makanan sudah siap."
" Oh ya terima kasih ya Bi." Ucap Mamah Anisha.
Kemudian Bi Inah kembali ke dapur.
" Gimana kalau kita makan dulu pasti kalian sudah laparkan karena dari pulang tadi kalian belum makan." Ucap Mama Anisha mereka semua mengangguk, kemudian mereka berdiri dan melangkah menuju ke arah dapur.
Abiyasa pun meraih tangan istrinya,tapi Ayesha Malah menggeleng.
" Ayesha enggak mau makan mas."
" Sayang... kamu harus makan karena kamukan sedang enggak enak badan." Ucap Abiyasa.
Ayesha hanya tersenyum manja dan tetap menggelangkan kepalanya.
" Manja banget sih gemes deh jadinya,kamu harus makan nasi sayang." Bujuk Abimanyu.
Mendengar kata nasi Ayesha pun merasa mual dan dia langsung berdiri berlalu dari hadapan suaminya kekamar kecil yang ada di dapur,terdengar dia muntah, Abiyasa kaget!dia pun langsung setengah berlari mengejar istrinya semua mata menatap kearah Abiyasa dan Ayesha.
Mamah Lala Bunda Adel dan mama Anisa hanya tersenyum saja.
Sedangkan di kamar bawah dimana Mbak Dwi sedang berbicara dengan kedua anaknya dan menantu serta kedua cucunya, Mereka pun sangat bahagia karena sudah berkumpul kembali, Mama Anisha melangkah ke kamar tersebut dan memanggil mereka untuk makan siang bersama,mereka mengangguk dan kemudian mendorong kursi roda Tante Dwi menuju ke arah ruang makan Dan mereka pun akhirnya makan siang bersama, tapi tidak dengan Abiyasa dia merasa heran dengan istrinya.
Setelah selesai muntah karena mual saat Abiyasa mengatakan kata nasi kepada Ayesha dia langsung membawa Ayesha masuk kedalam kamar diapun mengatakan kepada mereka agar mereka makan siang lebih dulu nanti dia menyusul.
Setelah dia mengantarkan Ayesha ke dalam kamar beberapa saat kemudian dia menyuruh sang istri untuk istirahat, Ayesha mengangguk, Abiyasa pun keluar dari kamarnya dan dia menuju ke ruang makan dia pun ikut makan bersama tapi pikirannya masih saja memikirkan sang istri yang muntah-muntah.
Mamah Anisha melihat wajah anaknya yang dirundung gelisah karena melihat sang istri yang sedang sakit, tapi mama Anisha malah hanya bisa tersenyum saja, Papa Andre pun melihat wajah istrinya.
" Kamu kenapa sayang tersenyum senang, menantumu kan lagi sakit lho?" Tanya Papah Andre.
Semua menatap kearah Mama Anisha.
Mamah Anisha hanya bisa menatap kearah Bunda Adel Mamah Lala serta Umi Vita yang juga tersenyum.
" Ini ada apa sih sebenarnya? Kenapa kalian senyum-senyum.?" Tanya papa Boby.
" Ya iyalah kami senyum-senyum,karena kami sangat senang." Ucap Mamah Lala.
" Senang kenapa? kalian ini sungguh keterlaluan, menantu kalian itu lagi sakit, kenapa kalian yang senyum-senyum." Ucap Papah Boby menatap kearah mamah Lala.
" Karena sakit menantu kita itu sangat menyenangkan." Ucap Mamah Lala terkekeh.
" Maksud kamu?"
" Sebentar lagi kita mau jadi seorang nenek dan kakek,kita akan diberikan cucu oleh menantu kita." Sambung Mamah Anisha tersenyum.
" Apa?" Ucap para suami mereka terutama Abiyasa mendengar penjelasan kalau istrinya hamil dia langsung berdiri dan meninggalkan makan siangnya,dia langsung menuju kearah kamar istrinya, mereka menatap Abiyasa yang meninggalkan meja makan karena saking senangnya mendengar sang istri hamil.
" Apa daya yang belum punya istri nih " Ucap Morgan seraya menyenderkan kepalanya kekepala Arvin.
" Hooh..!" Ucap Arvin singkat.
Mereka hanya terkekeh melihat dua orang lelaki yang meratapi hidupnya karena belum menikah.