
Setelah acara berakhir satu persatu tamu undangan sudah pada pulang,semua yang ada di gedung tersebut hanyalah beberapa keluarga saja dan beberapa pengurus gedung dan pihak catering nya.
Abiyasa dan Ayesha sudah berganti pakaian dan para perias juga sudah mulai berkemas,untuk mempersiapkan acara nanti malam.
Saat Ayesha mau keluar kamar ganti,Abiyasa langsung aja menarik sang istri kedalam pelukannya.
"Mas..." Ucap Ayesha singkat.
Abiyasa memandang sang istri yang terlihat malu malu.
Abiyasa memegang dagu istrinya dan mengangkat nya pelan dan ingin menciumnya,Ayesha memejamkan matanya dengan degupan jantung yang tak beraturan.
Saat mau melancarkan aksinya utuk mencium istrinya tersebut,tiba tiba ada suara yang mengagetkan mereka berdua.
"Hey...hey...hey...kalian terciduk hehehehe...jangan ngegas, nunggu nanti malam aja,ntar ada cicak cicak yang liat" ucap papah Boby tertawa.
Abiyasa dan Ayesha menoleh kearah suara,mereka terkejut dan Ayesha tersenyum malu dan langsung memeluk suaminya dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya.
" Hahahahah" ucap keempat orang yang memergoki kedua mempelai itu.
" Ntar cicak nya iri lho..." Ucap papah Candra.
" Jadi pengen ikutan deh jadinya" sambung papah Andre.
" Sabar atuh bro,banyak orang,gas nya yang full ntar malam aja" sambung Abi Yosep terkekeh.
" Iih, ganggu aja sih kalian berempat ini, nggak ada cicak, atau kecoa atau apalah itu, yang ada kalian lah cicak nya,ketua serangga nya" ucap Abiyasa tersenyum,dan langsung menarik pelan istrinya meninggalkan kamar ganti dan berkumpul dengan keluarga nya.
" Hahaha..." Mereka berempat tertawa lepas dan mengikuti langkah Abiyasa berkumpul bersama.
Mereka ingin membicarakan acara selanjutnya yang akan di laksanaka,karena berganti acara dan tema dekornya juga berubah,serta catering nya ikut juga berubah.
Abiyasa menggenggam tangan istrinya dan berkumpul dengan keluarganya namun mereka tidak melihat dengan para sahabatnya.
" Kemana yang lain mah?" Tanya nya pada mamah Anisha.
" Yang lain lagi ke butik nya tante Raysa untuk memilih gaun buat acara nanti malam" ucap Mamah Anisha.
" Sekalian Clarissa kan mah di acara itu" Ucapnya.
Mamah Anisha tersenyum dan mengangguk kan kepalanya.
" Iya nak, udah di bicarakan jauh jauh hari" ucap Mamah Anisha.
" Alhamdulillah...." Ucapnya singkat.
Saat dia mau duduk,dia teringat akan Arvin.
" Arvin mana om ?" Tanya nya pada ayah Candra.
" Tuh Arvin" ucap Ayah Candra seraya menunjuk kearah meja satunya.
Abiyasa menoleh dan langsung saja dia menemui Arvin yang lagi melamun seorang diri.
" Hai bro,apa yang di lamunkan?" Ucap Abiyasa langsung duduk di samping Arvin.
" Ya Allah ya Robbi,untung saja jantung ini sudah di ikat, kalau nggak mungkin sudah kebelinger aku, dengan suara mesin tutttttttttttt..." Ucapnya.terkekeh.
"Bukan tutttt tapi titttt" kata Abiyasa terkekeh juga.
"Oh iya bener juga ya" ucapnya tersenyum.
" Memang kenapa kamu? Kenapa kamu seperti itu? ada masalah? seharusnya kamu senang dong tadi ketemu dengan Nadine" ucap Abiyasa lagi sambil menepuk pundak Arvin.
" Hmmm" Arvin menarik Nafas dengan pelan dan melepaskannya seiring dengan hembusan nafasnya dia mengusap wajahnya dengan kasar.
" Aku harus mengubur impianku untuk bersama dengan nya karena dia sudah ada yang memiliki,aku tahu dia sudah punya kekasih saat itu aku melihat dia memeluk cowoknya di depan mata ku" ucapnya.
" Apa?" Sudah punya lekasih? Aku tudak percaya kalau lelaki itu adalah kelasihnya atau calonnya" ucap Abiyasa pada Arvin.
" Kamu sudah nanya nggak?pada dia?" Tanyanya.
Arvin menggelengkan kepalanya.
" Inilah kesalahan kamu Vin,coba kamu tanyakan,siapa tahu itu adalah saudara,sahabat atau pun sepupu dia yang datang dari jauh dan bertemunya saat di sini" ucap Abiyasa.
" Bagaimana aku mau bertanya padanya,saat itu aku sudah terlanjur melihat dan peristiwa itu membuat aku kecewa dan hancur rasanya hati ini' ucapnya.
Abiyasa tersenyum pada sahabat sekaligus sepupunya tersebut.
" Aku akan cari tahu nantinya tenang aja,udah jangan sedih,kalau jodoh kamu Nadine insya Allah pasti bersama, walaupun sejuta rintangan yang menghadang tak akan jadi penghalang" ucap Abiyasa tersenyum seraya menepuk bahu sahabatnya tersebut.
Arvin tersenyum dan mengangguk kan kepalanya,kemudian mereka berjalan bersama menuju kearah keluarga mereka yang lagi asyik bercengkrama dan menikmati hidangan yang masih tersedia dan saling bercerita membahas acara nanti malam yang akan di selenggarakan pertunangan anak anak mereka.
*****
Di butik Nadine mereka sudah memilih pakaian mereka masing masing dan sesuai dengan warna yang di sepakati,untuk di kenakan di malam pertunangan mereka.
Nadine tidak banyak bicara pada Morgan,dia juga baru tahu kalau Morgan adalah calon suaminya Anindita.
Setelah pulang dari Butik mereka langsung kegedung tempat resepsi pernikahan Abiyasa dan Ayesha.
Di dalam mobil Morgan hanya diam.
" Kamu kenapa? Setelah dari butik nya Nadine kok kelihatannya sangat galau?" Tanya Anindita pada calon suaminya tersebut.
" Aku merasa sedih aja,bila melihat Arvin" ucapnya.
" Kenapa?kita kan kebutik nya Nadine bukan ke butiknya Arvin" Tanya Dita.
" Arvin punya kantor bersama sayang bukan Butik." Ucap Morgan.
" Lagian kita nemui Nadine bukan nemuin Arvin" ucap Dita tersenyum.
" Iya kalau aku lihat Nadine aku teringat akan Arvin karena Arvin kan suka sama Nadine,dan saat itu dia ingin mengatakan cintanya kepada Nadine, tapi tadi Nadine memeluk seorang lelaki di depan mata Arvin, dia langsung kecewa dan patah hati,ternyata Nadine sudah punya kekasih,sedangkan Arvin nggak tahu sama sekali cewek incerannya ternyata sudah punya kekasih." terang Morgan.
" Maksud kamu yang di peluk Nadine di samping gedung itu?" Ucap Anindita.
" Iya sayang" jawabnya sengkat.
"Oh yang laki-laki itu" ucap Anindita tersenyum.
" Ya iyalah sayang laki laki,kalau perempuan yang di peluk Nadine Arvin tidak akan kecewa" ucap nya terkekeh.
" Hehehe" Anindita terkekeh.
" kamu kenal lelaki itu?" Tanya Morgan lagi.
" Hahaha..." Anindita tertawa lepas setelah mendengar keterangan dari Morgan, bahwa Arvin kecewa dan sakit hati setelah melihat Nadine memeluk seorang lelaki.
" Kamu kenapa Sayang? kok tertawa, emang kamu kenal dengan lelaki yang dipeluk Nadine itu" ucap Morgan.
" Ya iyalah Sayang aku kenal dia,dia itu adalah kakak kandungnya Nadine,namanya dokter Roni yang bertugas di rumah sakit kita, spesialis dokter bedah." Ucap Arvin.
"Ya salam!...ternyata ini hanya kesalah pahaman aja" ucap Morgan senang mendengar cerita dari Anindita.
" Berarti masih ada nih kesempatan buat Arvin untuk mendapatkan si Nadine" ucapnya lagi.
Anindita menganggukkan kepalanya dan tersenyum.
"Dokter Roni sudah tahu kok kalau Arvin itu yang naksir kepada adiknya si Nadine, karena tadi sudah aku ceritakan semuanya kalau Arvin itu tergila-gila kepada Nadine" ucap Anindita.
" Apa sayang? beneran?" Antusias Morgan.
" Iya sayang, malahan dokter Roni senang kok kalau seandainya Nadine bersanding dengan Arvin,karena dokter Roni suka melihat kepribadian Arvin." Ucapnya Lagi.
"Masa sih sayang, dokter Roni suka dengan kepribadian Arvin? padahal kan dokter Roni belum pernah bertemu dengan Arvin " ucapnya lagi.
"Ya itulah indahnya rencana Allah kalau sudah jodoh dimanapun pasti akan dipertemukannya" ucapnya lagi.
"Iya juga sih "ucapnya.
" Arvin pasti senang dengar ini semua" gumam Morgan.
Anindita tersenyum melihat Morgan mengerti dari pembicaraannya,Anindita mengingat pembicaraannya dengan dokter Roni di depan ruang ganti tadi di gedung acara pernikahan kakaknya Abiyasa dan Ayesha.
" flashback on"
"Dokter Dita siapa yang berfoto sama adik saya tadi ?" Tanya dokter Roni.
"Oh itu Arvin,memang kenapa dokter Roni ?" Tanya Anindita lagi.
"Ya enggak aja, aku suka dengan kepribadian dia,sepertinya dia itu seorang polisi, ya terlihat dari postur tubuhnya dan gerak-geriknya, cara berpakaiannya juga," ucap dokter Roni.
"Oh iya, dia memang seorang polisi,yang lebih mengejutkan dokter Roni lagi dia tuh naksir loh sama Nadine," ucap Anindita.
"Apa? beneran nih dia naksir sama Nadine" ujar dokter Roni senang mendengar ucapan Anindita.
" Iya, tapi dia tuh takut kalau seandainya Nadine sudah punya kekasih," ucap Anindita.
"Oh! dijamin Nadine tidak punya kekasih atau pun calon,saya senang sekali, mudah-mudahan aja jodoh dia sama adik saya, saya akan mendukung dia selalu." Ucap dokter Roni.
" Arvin itu adalah sepupu saya dok, mamahnya dia itu saudaranya mamah saya" ucap Anindita.
"Oh begitu," ucap Singkat dokter Roni.
" Nah papahnya dia itu polisi, Tapi beberapa bulan lagi udah pensiun,dan adiknya Arvin juga bertugas di rumah sakit " ucap Anindita.
" Adiknya bertugas di rumah sakit juga?" Tanya dokter Roni.
" Iya dok, perawat yang bernama Alena Ayudia,dia anak yang mandiri,kuliah sambil kerja" ucap Dita lagi seraya tersenyum danerasa bangga dengan adik sepupunya Alena.
"Perawat yang cantik imut mungil itu ya" ucap Dokter Roni.
"Iya itu adiknya," ucap Anindita tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Oh ya.. ya..ya.." ucapnya lagi.
"Memang Nadine nggak punya pacar ?" Tanya Anindita sekali lagi.
"Iya,dia memang nggak mau pacaran belum ada yang cocok katanya,mudah-mudahan aja cocok dengan Arvin "ucap dokter Roni langsung tersenyum
" flashback off."
Mobil yang di kendarai oleh Morgan dan Anindita memasuki halaman gedung.
Disusul oleh mobil Marco dan Calarissa sama sama memasuki halan gedung tersebut.
Mereka semua turun dari mobil dan saling tersenyum dan memasuki gedung tersebut dan bergabung dengan keluarga mereka yang masih duduk di tengah tengah gedung itu.