THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP

THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP
BAB 193



" Ada apa kak? masalah Lia kan cuma sebagai seorang janda, itu tidak masalah kan? janda juga manusiakan,untuk apa dipermasalahkan?" tanya Mama Melisa.


" Kamu menerima Lia apa adanya itu yang bagaimana?"


" Karena Lia itu terlihat baik orangnya dari keluarga yang baik-baik dan Dia tidak terikat lagi dengan suami pertamanya."


" Kamu harus dengar dengan penjelasan Kakak,Kakak harap kamu tidak membatalkan keinginan kamu untuk menjadikan Lia sebagai calon menantu kamu dan calon istri dari Niko." ucap papah Andre seraya menatap sang Adik.


" Oh jelas Kak! Mel akan menerimanya dengan masa sekarangnya tidak masa lalunya, dan Mel melihat masa sekarangnya bukan masa lalunya juga"


" Nah ini berhubungan dengan masa lalunya Lia,yang harus kamu tahu,dan masa lalunya itu sangat membekas dihatinya sampai kapan pun tak akan pernah bisa terlupakan walaupun sudah dikubur sangat dalam sekalipun." ucap Papah Andre masih dengan tatapannya yang penuh arti.


Mamah Melisa menatap kearah papah Andre dengan penuh tanda tanya besar.


" Ada apa kak? " tanyanya menatapa satu persatu Kakak-Kakaknya, Papah Boby, Abi Yosep,dan Ayah Candra menundukkan kepalanya mereka tidak ingin bersuara, mereka hanya ingin Papah Andre saja yang menjelaskan pada Mamah Melisa,biar Mamah Melisa paham dengan kisah Lia sebelum Dia membenci Lia setelah menjadi menantunya nanti.


" Ayolah Kak Ada apa? ceritakan dengan Mel biar Mel paham semuanya." pintanya.


Papah Andre menarik Nafasnya dengan pelan.


" Kamu sudah siap?"


" Iya Kak, Mel sudah siap mendengarnya." ucapnya seraya menganggukkan kepalanya.


" Anak Laki-laki Lia itu adalah Anak hasil perbuatan seorang Laki-laki yang tidak bertanggung jawab!" ucap Papah Andre.


" Apa?" Mamah Melisa dan Papah David terkejut,bagaikan disambar petir Mamah Melisa mendengar kata-kata papa Andre sang Kakak,Dia menutup mulutnya dengan kedua tangannya dan Dia merasa tidak percaya dengan cerita Papah Andre.


" Bagaimana Melisa? apakah kamu mau masih mendengar ceritanya?"


Mamah Melisa menganggukkan kepalanya.


" Teruskan Kak, biar Mel tahu semuanya." ucapnya pelan dan dianggukkan oleh suaminya.


Papah Andre pun menceritakan semuanya,dari awal sampai Akhir dan mereka semua disitupun menambahkan ceritanya dengan narasumbernya Arvin, Mamah Melisa dan Papah David mendengarkan dengan seksama tidak ada satupun dari cerita tersebut terabaikan di pendengaran Mama Melisa,sampai Akhirnya mata Mama Melisa berkaca-kaca dan Air mata Mamah Melisa tak bisa lagi ditahan,Air mata itu lolos begitu saja setelah papah Andre dan yang lainnya menyudahi kisahnya tentang Lia.


Mamah Melisa pun menangis kesesugukkan mereka membiarkan Mamah Melisa menyelesaikan tangisnya mereka semua hanya terdiam.


Clara cucu semata wayangnya itu pun datang dari arah ruang tamu mendekati sang Nenek,karena Clara asyik bermain dengan Charlo,Alena,Alfarizqi,dan Almira diruangan tersebut,setelah bosan bermain dengan Om dan Tantenya Diapun berlari menuju kearah sang Nenek dan sang Kakeknya tersebut.


Clara heran melihat Neneknya menangis, Dia menengok wajah sang Nenek dari arah bawah sambil meletakkan tangannya di kedua kaki Mamah Melisa.


" Oma ? kenapa Oma nagis? Omakan udah gede, orang gede nggak boleh nangis,yang boleh nangis itu hanya Anak kecil seperti Ara." ucapnya seraya menatap kearah Mama Melisa dan masih posisi Dia menengadahkan wajahnya kewajah Mama Melisa,dengan gaya bicara seorang Anak kecil yang menggemaskan.


Karena tidak dihiraukan sama sang Nenek Akhirnya Dia lari pada Papah Andre.


" Opa Dere kenapa Oma Sasa nangis? Oma Sasa kasihan, Opa Dere nggak boleh marah-marah Oma Sasa." ucapnya bergaya marahnya seraya meletakkan kedua tangannya dipinggangnya dengan raut wajahnya yang merengut marah sembari menatap kearah Papah Andre.


Papah Andre tersenyum,Dia langsung meraih tubuh mungil sang cucu, namun tangannya ditepiskan Clara dengan pelan dan wajah marahnya,dengan gayanya seperti itu mengundang tawa dari mereka yang ada diruangan tersebut.


" Sayang? sini sama Opa Oby." panggil Papa Boby seraya merentangkan tangannya kearah Clara,namun Clara hanya diam saja.


" Dia nggak mau sama kamu Bob, sini biar sama Aku,liat ya pasti Dia mau." Ucap Abi Yosep.


" Sayang Opa, sini sayang dengan Opa Osep." ucapnya sama seperti papah Boby yang mengulurkan tangannya pada Clara, lagi-lagi Clara tidak menghiraukan.


" Hahaha...!Opa Osep nggak laku!" ucap Papah Boby dengan suara tertawa lepasnya.


" Kalian emang nggak becus sama Anak kecil,liat nih ya Dia pasti mau sama Opa gantengnya ini." ucap Ayah Candra tersenyum.


" Sini Clara sama Opa dara." ucapnya seraya merentangkan tangannya melihat Ayah Chandra merentangkan tangannya kearah Clara, Clara pun langsung mendekati Ayah Chandra dan memeluk Ayah Chandra, Ayah Chandra menoleh ke kiri dan ke kanan sambil memainkan kedua alisnya tersebut.


" Sejak kapan kamu jadi Opa Dara, bukankah kamu Opa Cacan" tegur Papah Boby.


" Sejak sekarang?!" ucapnya sembari terkekeh seraya mengusap punggung Clara dengan penuh kasih sayang.


" Opa Dara kenapa Oma Sasa bisa menangis?" tanyanya.


" Oma Sasa bukannya menangis sayang, tapi Oma Sasa itu matanya kemasukan debu, jadi membuat mata menjadi merah dan mengeluarkan air mata." terang Ayah Chandra sembari membenahi anak rambut Clara yang ada dijidatnya tersebut.


" Jadi sebenarnya Oma Sasa enggak nangis ?jadi Opa Dere tidak memarahi Oma Sasa?" ucapnya.


" Iya sayang Opa Dere tidak memarahi Oma Sasa, karena Oma Sasa tidak salah, jadi Opa Dere tidak marah sama sekali sama Oma Sasa,dan Opa Dere tidak memarahi siapapun termasuk Oma Sasanya Clara." ucap Ayah Chandra menjelaskan kepada Clara yang berada di pangkuannya tersebut.


Kemudian Dia pun menganggukkan kepalanya dan turun dari pangkuan Ayah Candra.


" Clara mau kemana?" tanya Ayah Candra.


" Ara mau nemuin tante Tena,(Alena)."


" Oh ya udah hati-hati, nanti jatuh kalau berlari." ucap Ayah Chandra.


Clara pun setengah berlari menuju kembali ke ruang tamu di mana para Om dan Tantenya masih berada berbincang-bincang di ruang tamu tersebut, Dia pun langsung bergabung kembali bersama dengan mereka dan kembali bermain dengan mainan yang sudah berserakan di ruang tamu tersebut.


Papa Bobby dan Abi Yosep yang sudah membujuk Clara tapi tidak berhasil mereka hanya mengusap wajahnya dengan kasar,semua yang ada di ruangan itu pun hanya terkekeh saja.


Mamah Melissa pun menghapus air matanya yang sejak tadi keluar karena merasa terharu mendengar cerita dari Papa Andre tentang peristiwa yang dialami oleh Lia.


" Bagaimana Melissa Apakah kamu menerima Lia setelah kamu mengetahui peristiwa yang pernah dialami oleh Lia, bukan keinginan dirinya untuk memiliki peristiwa seperti itu tapi karena takdirlah yang sudah membuat Dia seperti itu." ucap Papa Andre.


Mama Melisa menarik napasnya dengan pelan dan melepaskannya dengan berat mereka yang ada di situ semua menanti jawaban dari Mama Melissa, Begitu juga dengan Niko Dia harap-harap cemas Apakah Mamahnya mau menerima keadaan Lia sekarang ini, kalau dirinya pribadi, Dia menerimanya dengan ikhlas karena semua itu bukan kehendak dari Lia, itu adalah musibah yang telah menimpa Lia.


" Ya Allah semoga saja Mama tidak mengingkari janjinya kalau dia menerima Lia apa adanya." batin Niko


Mama Melisa kemudian menatap kearah mereka satu persatu tapi dia masih tetap berdiam.


" Bagaimana Melisa Apa pendapat kamu?kamu bisa berpikir sendiri yang menjalani ini adalah Anakmu bukan Dirimu, Kita sebagai orang tua hanya bisa melihat Anak kita bahagia, itu sudah dari cukup, kamu bisa melihat sisi peristiwa yang pernah dialami oleh Lia, dia berhak bahagia." ucap Papa Andre lagi.


Mama Melisa hanya menganggukkan kepalanya saja.


" Jadi Apa jawaban kamu? apakah kamu menerima Lia tetap sebagai calon menantu mu?" tanya papa Bobby


Mendengar ucapan Mamah Melisa seperti itu Niko pun langsung bersimpuh di kaki mamahnya tersebut.


" Terima kasih Mah, karena Mama sudah memberikan kepercayaan yang penuh untuk Niko, in sya Allah Niko menjadi Ayah yang baik untuk Kevin dan suami yang baik untuk Lia." ucapnya seraya tersenyum.


Mama Melisa membelai kepala Anaknya tersebut, Mereka pun semuanya tersenyum bahagia.


" Alhamdulillah " ucap mereka semua dengan hati yang lega mereka bersyukur kepada yang maha kuasa karena Mamah Melisa mau menerima keadaan Lia apa adanya.


Niko kemudian duduk kembali di kursinya terlihat sekali kebahagiaan di wajahnya, Mama Melisa pun tersenyum, Mama Anisha dan yang lainnya pun datang menemui mereka yang berada di ruang tengah, mereka pun ikut bergabung duduk menantikan Adzan sholat isya berkumandang.


" Tapi Kak, Apakah Lia mau menerima lamaran dari Melisa untuk Niko.?" tanya Mama Melisa.


Papa Andre pun tersenyum.


" In sya Allah,Dia mau menerima lamaran kita, besok kita akan berangkat ke rumah Tante Raisa untuk meminta Lia sebagai menantu kita." ucap Papa Andre.


" Tapi kan Kak, besok Kakak mau berangkat ke tempat Nayra?"


" Kita selesaikan dulu Niko dan Lia baru setelahnya mendapatkan kepastian dari Tante Raisa menerima atau tidaknya baru kami akan berangkat ke tempat Nayra." ucap Papa Andre lagi.


" Menurut kalian apakah diterima oleh Tante Raisa lamaran kita ini.?" ucap Papa Boby.


" In sya Allah Tante Raisa menerima,karena Tante Raisa pasti juga ingin melihat Anaknya bahagia." ucap Ayah Candra.


" Tapi satu, pasti Tante Raisa tidak yakin kalau Niko Memang benar-benar mencintai dan menyayangi serta ingin membahagiakan Lia dan Anaknya." ucap Abi Yosep.


" Kenapa kamu punya pikiran seperti itu Yos?" tanya Ayah Candra.


" Karena peristiwa itu pasti menghantui keluarga mereka, coba kalian pikir laki-laki mana yang mau menerima Lia dengan peristiwa yang dialaminya itu, beserta bonusnya Anak laki-lakinya itu, kebanyakan laki-laki di luar sana hanya menginginkan kecantikan dan kemolekan tubuh seorang wanita aja, tapi Dia tidak mau menerima kekurangan dan keburukan dari wanita tersebut, pasti itu yang akan dipikirkan Tante Raisa." terang Abi Yosep.


" Iya! benar juga apa kata kamu Yos,apa lagi Niko dan Lia belum pernah bertemu dan tiba-tiba kita datang untuk melamarnya, pasti pikiran Tante Raisa karena kasihan dengan Lia dan Anaknya." ucap Ayah Chandra lagi.


" In sya Allah tidak Yah, karena Nadine juga sudah menceritakan kalau gelagatnya Bang Niko menyukai dengan Lia, Nadine sudah menceritakan semuanya di depan Mamanya dan Bang Roni, tapi kayaknya Mamanya dan Bang Roni setuju kalau seandainya memang ada laki-laki yang mau menerima Lia dengan apa adanya, Nadine sudah ceritakan semuanya kepada Arvin." ucap Arvin lagi.


" Ya Alhamdulillah,kalau memang seperti itu." ucap Ayah Candra.


" Alhamdulillah, semoga saja lamaran kita ini diterima setelah Arvin menikah nanti kita langsung mengadakan pernikahan Lia dan Niko, anggaplah ini jodoh yang diperjodohkan, bukan jodoh yang ditemukan sendiri tapi melainkan jodoh pada pandangan pertama langsung menikah hehehe..." ucap Papa Boby sembari terkekeh.


Mereka pun semua terkekeh tidak terasa kemudian suara adzan sholat isya berkumandang merekapun kemudian bersiap-siap seperti biasa mereka para laki-lakinya langsung mengerjakan sholat isya di masjid dan perempuannya mengerjakan sholat di rumah seperti biasanya.


*****


Di kediaman Tante Raisa...


" tok tok tok " kamar Nadine diketuk dari luar.


" Masuk!" ucap Nadine.


Kemudian pintu terbuka Nadine menatap kearah pintu terlihat wajah Lia tersenyum Dia kemudian melangkah menuju tempat tidur di mana Nadine sedang duduk di bibir ranjangnya tersebut.


" Ada apa Kak?"


" Enggak ada apa-apa sih dek,tapi Kakak mau bertanya aja denganmu."


" Nanya soal apa Kak?"


" Niko itu yang mana? seperti apa orangnya? Kakak kurang memperhatikan Dia? Kakak nggak pernah lihat hehehe."


" Astaga! Nadine lupa Kak mau memperkenalkan Kakak dengan Kak Niko." ucap Nadine seraya menepuk jidadnya sendiri.


" Ya nggak papa dek yang penting kan Kakak tahu aja yang mana sih Niko itu sebentar."


" Kakak tunggu sebentar ya, Nadine mau menghubungin mas Arvin dulu minta fotonya Kak Niko biar Kakak bisa lihat wajah Kak Niko."


" Enggak usah Dek! kalau seperti itu."


" Enggak apa-apa Kak, lebih baik kan Kakak mengenal Dia melalui foto nanti kalau Kakak bertemu dengannya, Kakak tidak terkejut lagi melihat wajahnya hehehe." ucap Nadine sembari tersenyum, kemudian Diapun mengambil gawainya yang ada di atas meja kecil di samping tempat tidurnya tersebut, Setelah beberapa saat Dia berbicara dengan Arvin dan menyudahi pembicaraannya, kemudian gawainya pun berbunyi pertanda chat pribadi masuk ke dalam gawainya, Dia langsung membukanya dan ternyata Arvin mengirim foto Niko.


Nadine tersenyum Diapun langsung memberikan gawainya tersebut pada Lia.


" Ini Kak fotonya Kak Niko, tampan kan?" ucapnya sembari tersenyum.


Lia langsung mengambil gawai yang ada ditangan Nadine dan Diapun langsung menatap layar gawai tersebut hanya satu kata yang terucap dari mulutnya.


" Tampan!" ucapnya seraya menatap terus kegawai Nadine.


" Gimana Kak, sudah pernah melihat Kak Niko?"


Lia hanya menggelengkan kepalanya.


" Baru kali ini Kakak melihatnya."


" Nah ini namanya Kak Niko, Dia yang mencuri pandang Kakak Tanpa sepengetahuan Kakak, tapi kak ..." Nadine menggantung kalimatnya.


" Tapi kenapa Dek? ada apa?"


" Mungkin Kakak dan Kak Niko tidak jodoh, walaupun Kak Niko menyukai Kakak, tapi Mamahnya Kak Niko sudah mendapatkan wanita lain yang akan dijodohkan dengan Kak Niko."


Lia terkejut Dia langsung meletakkan gawai Nadine diatas tempat tidurnya, Lia menundukkan kepalanya, Dia menghela napasnya dengan berat.


" Kakak tidak apa-apa kan?" tanya Nadine.


" Tidak apa-apa Dek, mungkin tidak jodoh lagi pula kan syukur aja Kakak dan Dia tidak saling kenal,Oh ya sudah kalau seperti itu Kakak mau kembali ke kamar lagi, Kasihan Kevin sendirian tadi belum tidur sudah Kakak tinggal." ucapnya seraya tersenyum.


" Oh ya udah kalau gitu." ucap Nadine sembari menganggukan kepalanya, Lia pun kemudian melangkah menuju keluar kamarnya Nadine, Nadine menatap langkah kaki kakaknya itu.


" Kasihan Kak Lia, mudah-mudahan Kak Lia tidak merasa sakit hati,semoga saja jodoh yang terbaik datang untukmu Kak." ucapnya pelan seiring hilangnya bayangan Lia di balik pintu kamarnya tersebut.