
Dokter Roni yang baru pulang dari dinas luar kota pun memperhatikan sekitar rumah yang terlihat sepi,dia membuka pintu rumahnya sendiri karena ia selalu membawa kunci serepnya untuk memudahkan dia membuka pintu rumahnya jika sewaktu-waktu pulang tengah malam,dokter Roni memasuki rumah dan kembali menguncinya dari dalam,dia menatap kearah kiri dan kanan rumahnya tersebut dia melihat kesekeliling ruangan sepi!seperti tidak ada orang sama sekali.
Dia kemudian berjalan kearah dapur dan dia melihat bi Anti yang sedang membersihkan peralatan dapur yang baru saja di pakainya.
" Bi.." Tegurnya.
Bi Anti menoleh kearah suara.
" Den Roni, baru datang den?"
" Iya Bi,oh ya kenapa rumah sepi pada kemana semua?Mamah dan Nadine kemana.?" Tanya Dokter Roni.
" Ibu tadi kemaren dijemput keluarga ibu,katanya ada acara dan ibu menginap tiga hari disana den, non Nadine ada dikamarnya" Terang Bi Anti,wajahnya terlihat sedih setelah mengatakan tentang Nadine.
" Ada apa Bi? kenapa wajah Bibi seperti itu terlihat sedih?" Tanya Dokter Roni merasa heran karena wajah Bi Anti sepertinya menyimpan sesuatu.
" Non Nadine den." Ucapnya.
" Kenapa dengan Nadine?"
" Non Nadine terlihat sedih banget den, karena waktu itu dia berbicara dengan Bibi kalau dia sangat merindukan almarhum bapak." Terang Bi Anti.
Dokter Roni menganggukkan kepalanya seraya berpikir.
" Tidak mungkin Nadine seperti itu, sesedih-sedihnya dia tidak pernah melontarkan kata kalau dia kangen papah,dia selalu mengatakan kalau kangen sama papah itu biasanya saat senang dia selalu bilang begitu, ini pasti ada yang tidak beres dengan Nadine." Batin dokter Roni berbicara.
" Bi Anti ada melihat keanehan ya di sikap Nadine selama ini." Tanya dokter Roni.
" Iya den, waktu malam itu, non Nadine pulang sangat larut sekali sekitar jam satu malam dia mengetuk pintu rumah dengan keras sekali seperti di kejar sesuatu, dan saat itu ibu tidak berada di rumah,karena saat itu ibu di tempat keluarga ibu yang lagi ada acara dan ibu menginap disana,bibi terkejut dan langsung membukakan pintu dan non Nadine langsung memeluk bibi dan mengatakan ' Bi cepat tutup pintunya dan kunci rapat-rapat ' dengan wajah non Nadine yang terlihat ketakutan dan bibipun langsung menutup pintu dengan rapat dan non Nadine langsung berlari keatas menuju kamarnya, bibi belum sempat menanyakan ada apa, tapi setelah bibi lihat keluar lewat balik tirai ada dua orang laki-laki yang bibi tidak kenal dan satu perempuan yang bibi sangat mengenalnya berada di luar pagar rumah kita ini den, dan mereka menggunakan mobil Non Nadine,ternyata mobil non nadine itu belum dikembalikan oleh non Maya sama non Nadine den,saat non Nadine memeluk saya waktu itu tubuhnya sangat gemetaran den, padahal dia pamit waktu itu mau kebutik tapi menggunakan taksi online yang dipesannya lewat aplikasi karena mobil non Nadine di pinjam oleh non Maya karena saat pulang dari rumah kita ini hari hujan dan dia memaksa meminjam mobil non Nadine, sebenarnya non Nadine berat untuk meminjamkan mobilnya tapi non Maya terus memaksakan kemauannya dan kunci mobil juga bibi lihat sudah berada di tangan non Maya,bibi tidak tahu juga den kenapa non Maya bisa memegang kunci mobilnya non Nadine, beberapa saat kemudian mereka berlalu pergi dari rumah kita ini den, semenjak itu non Nadine tidak pernah keluar rumah lagi bahkan kebutikpun non Nadine tidak pernah lagi semenjak kejadian malam itu, non Nadine hanya mengurung diri di kamar, pernah saat itu non Maya datang kerumah dan bibi tidak membukakan pintu rumah den bibi takut karena di rumah hanya ada bibi dan non Nadine, sampai akhirnya non Maya pergi karena tidak di bukakan pintu rumah,dan ibu juga belum balik dari tempat keluarga ibu karena kata ibu nginapnya tiga hari den." Terang Bi Anti panjang lebar menceritakan semuanya pada dokter Roni.
Dokter Roni mendengarkan cerita Bi Anti dia sengaja tidak memotong cerita Bi Anti dan membiarkan keterangan Bi Anti itu di selasaikan olehnya.Setelah selesai barulah dia menanyakan siapa yang di kenal oleh Bi Anti.
" Siapa wanita yang bibi kenal itu.?" Tanya dokter Roni.
" Yang sering kerumah den."
" Siapa yang sering kerumah?"
" Non Maya den, padahal Non Nadine sudah tidak ingin bertemu lagi dengannya, karena bibi pernah memergoki non Maya menghapus fhoto kekasihnya non Nadine di dalam gawainya, saat itu non Nadine pergi sebentar keatas kekamarnya dan gawai non Nadine tergeletak di meja ruang tamu dimana dia berada di sana, dan saat bibi masuk ingin mengantarkan jus yang di pinta non Nadine dan non Maya bibi langsung melihat kalau non Maya menghapus semua fhoto yang ada di galeri gawai non Nadine,Bibi menegurnya tapi dia mengancam bibi kalau bibi sampai memberitahukan pada non Nadine bibi akan bahaya, saat itu bibi iyakan aja den, setelah dia pulang dari rumah barulah bibi ceritakan semuanya pada non Nadine dan bibi ceritakan juga pada non Nadine kalau dia mengancam bibi,setelah kejadian itu non Nadine mulai renggang dengan non Maya bertemannya, sampai non Nadine pun menghidari dia saat dia kesini." Terang bi Anti lagi panjang lebar.
" Ada apa ini sebenarnya, kenapa Maya menghapus semua fhoto Arvin di gawainya Nadine, apakah dia mengenal Arvin? atau dia pernah mempunyai hubungan khusus dengan Arvin? membingungkan semuanya ini, yang tahu semuanya ini adalah Arvin dan aku akan coba menanyakannya dengan Nadine apa yang sebenarnya terjadi, dan kenapa juga gawainya tidak pernah diangkat saat aku menghubunginya.? Pikir dokter Roni.
" Ya udah bi kalau gitu,terimakasih ya bi udah menjelaskan dengan saya, kalau gitu bibi bisa lanjutkan saja kerjaan bibi, dan jangan lupa bi pintu rumah di kunci,dan jangan lengah, saya mau menemui Nadine dulu dikamarnya." Ucap dokter Roni tersenyum pada bi Anti.
"Iya den." Ucapnya seraya melanjutkan lagi pekerjaannya yang tertunda.
" Tok..tok..tok.."
Tidak ada suara yang menyahut.
" Dek, boleh kk masuk?" Ucap dokter Roni.
Mendengar suara kakaknya tersebut Nadine langsung membuka pintu kamarnya dan menghambur dalam pelukan sang kakak.
Dokter Roni langsung membalas pelukan sang adik yang terdengar menangis.
" Ada apa ini?tenangkan dirimu dulu dek,jelaskan sama kakak ada apa sebenarnya?" Tanya dokter Roni karena dia melihat Nadine menangis, dokter Roni sebenarnya sudah tahu yang terjadi semuanya, tapi dia pura-pura tidak tahu saja terlebih dahulu karena dia ingin tahu semuanya dari Nadine.
Mereka berdua duduk di sofa yang ada di depan kamar Nadine, dokter Roni menatap kearah adiknya itu yang menghapus air matanya yang mengalir tersebut.
Setelah reda tangis Nadine diapun langsung menanyakan semuanya pada Nadine.
" Sebenarnya ada apa dengan mu, selama kakak tinggal.?" Tanya dokter Roni seraya menatap sang adik.
Nadine menarik nafasnya dengan berat dan melepaskannya dengan pelan.
" Nadine tidak bisa menghubungi Arvin kak." Ucapnya pelan.
" Gawaimu mana?"
" Hilang kak." Jawabnya pelan.
" Kenapa kamu tidak menghubungi Arvin melalui telpon rumah dek, Arvin pasti bertanya-tanya tentang nomer gawaimu yang tidak Aktif." Ucap dokter Roni.
" Nomer Nadine masih aktif aja kak sampai saat ini,meskipun gawai itu sudah berpindah tangan entah dengan siapa kak, tapi tidak ada yang mau menjawab panggilan Nadine, sudah Nadine coba menghubungi kenomer Nadine baik dengan telpo Rumah ataupun gawai bi Anti tapi tidak ada yang menjawabnya,kalau nomer Arvin Nadine lupa tiga nomer dibelakangnya kak." Ucapnya seraya menangis.
" Astaga Nadine! nomer kekasih sendiri saja tidak hapal,Sejak kapan gawaimu hilang?"
" Dua hari yang lalu hilangnya,dan memang kak Nadin nggak terlalu ingat nomer Mas Arvin." Jawab Nadine.
" Pantasan aja Arvin ada menghubungi kakak lewat chat tapi baru terlihat setelah kakak mendapatkan sinyal, kakak hubungi balik ternyata gawainya tidak aktif lagi." Terang dokter Roni.
" Apa kak? mas Arvin menghubungi kakak,pasti dia marah banget dan pasti dia berpikiran yang tidak-tidak tentang Nadine." Rengeknya.
" Gimana ini kak?" Ucapnya seraya menangis.
" Ya udah kamu siap-siap kita langsung kerumahnya." Ajak dokter Roni.
Nadine tampak senang dan mengangguk dia berdiri lalu melangkah kedalam kamarnya untuk berganti pakaian.Sedangkan dokter Roni melangkah menuju kearah kamarnya untuk berganti pakaiannya.