
BAB 139
Arvin menarik nafasnya dengan pelan mereka semua menatap kearah Arvin menanti penjelasan dari Arvin.
Tapi tidak dengan Abiyasa, karena dia sudah mengetahui siapa Maya sebenarnya,sebab Arvin sudah menceritakan kepada Abiyasa Marco dan Clarissa jadi dia biasa saja tidak terkejut lagi seperti keluarganya.
Dia hanya memainkan jari jemari tangan istrinya sembari menundukkan kepalanya sedangkan Papah Bobby, Mamah Lala, Papa Andre, Mama Anisa Ayah Chandra dan Bunda Adel menanti Arvin bercerita.
Sedangkan Abi Yosep dan Umi Vita berada di kamar tante Dwi, mereka meluapkan kerinduan mereka dengan Reno dan istri serta dua orang anaknya tersebut.
" Ada apa nak sebenarnya, jangan bikin Bunda jadi bingung seperti ini, kenapa kamu menyembunyikan ini dari bunda dan Ayah." Ucap Bunda Adel seraya menatap kearah anaknya.
" Arvin tidak menyembunyikan ini Bun, Arvin merasa ini tidak penting waktu itu untuk Arvin ceritakan kepada Bunda dan Ayah karena Arvin merasa masalah ini Arvin bisa menghadapinya Bun seorang diri." Ucapnya seraya mengusap wajahnya dengan kasar.
" Saat itu kejadiannya sejak kapan nak.?" Tanya Bunda Adel.
" Sejak saat Arvin kuliah dulu Bun." Jawabnya seraya menatap Bunda Adel yang duduk disampingnya.
" yang sudah sekarang kamu ceritakan semuanya biar masalah kamu ini lebih jelas dan Bunda tidak merasa penasaran dan dicari solusinya sama-sama." Ucapnya seraya menepuk pundak Anaknya dengan halus.
Arvin menarik nafasnya dengan pelan kemudian dia melirik kearah Nadine, Nadine hanya bisa tersenyum pasrah dengan Arvin.
" Arvin memang kenal dengan Maya Bun, Maya teman sekampus Arvin yang diceritakan Maya dengan Nadine itu adalah Arvin Bun, Arvin yang diceritakan Maya pada Nadine dengan wanita yang dibilang maya Arvin yang menodai seorang wanita yang bernama Lia itu Bun, tapi Arvin tidak tahu Bun apakah Arvin memang melakukannya atau tidak." Ucapnya seraya menghapus keringat yang membasahi jidadnya itu.
" Astaghfirullahaladzim, kenapa sampai seperti itu nak." Ucap Bunda Adel merasa terkejut dengan ucapan Arvin.
Arvin pun mulai menceritakan dari awal sampai akhir, mereka yang ada di situ mendengarkan kata demi kata yang diucapkan oleh Arvin.
Merekapun mencerna kata-kata dari Arvin satu persatu menganggukkan kepalanya dan memahami akan penjelasan yang dikatakan oleh Arvin.
Nadine menatap Arvin penuh cinta, dia tidak menyangka kalau Maya berbuat seperti itu tapi di hatinya dia tidak merasa benci dengan Arvin bahkan dia merasa kalau Arvin tidak melakukan hal yang tidak senonoh seperti itu dengan Lia.
Setelah Arvin berbicara dia pun langsung mengusap wajahnya dengan kasar, Bunda Adel langsung merangkul anak sulungnya tersebut, dan dia pun hanya bisa mengusap punggung anak sulungnya itu dengan penuh kasih sayang.
" Dari cerita Arvin Om mengerti pasti Maya memang sangat dendam dengan kamu Arvin, karena kamu menolaknya dan kebetulan dia pasti tahu juga kalau kamu menyukai Lia anak baru dikampusmu." Ucap papa Bobby.
" Iya Arvin Om juga merasakan dari cerita kamu itu,intinya ada pada Lia, Apakah dia benar-benar ternoda oleh kamu atau Lia masih ada hubungannya dengan Maya untuk membuat kamu malu." Ucap papah Andre lagi.
" Tapi dari cerita Arvin kalau Ayah teliti lagi penjelasan kamu itu nak,semuanya ada pada Maya,dan Lia sama kamu hanya korban karena cintanya Maya tidak tepat sasaran, kita seharusnya mencari tahu keterangan di Maya, karena dalang dari semua ini adalah Maya." Ucap Ayah Candra.
" Tapi bagaimana Yah, mencari keterangan dari Maya sedangkan Maya sudah ada buktinya kalau foto Arvin dan Lia tanpa pakaian ada dengan dia,bahkan Arvin juga ada menyimpan fhoto itu saat maya mengirimkannya lewat chat pribadi setelah dia pindah kuliah,kalau foto itu disebarluaskannya Arvin tidak takut untuk diberhentikan dari kepolisian tapi yang Arvin takut nama ayah dan bunda akan tercemar, karena gara-gara Arvin." Ucapnya seraya menelungkupkan wajahnya dipangkuan sang Bunda, Bunda Adel mengelus sayang anak sulungnya tersebut, sesaat Arvin terdiam mereka juga terdiam,lalu Arvin bangun dari pangkuan Bundanya.
" Nak kamu tidak boleh berbicara seperti itu,kita akan berusaha mencari titik terangnya." Ucap Bunda Adel seraya mengusap pipi anak lelakinya tersebut.
" Tidak mungkin dia akan menyebarluaskan foto kamu dan lia itu,kalau seandainya dia menyebarluaskan sudah dari dulu dan kamu pun tidak bisa memasuki akademi kepolisian nak." Ucap Mama Anisha dengan lembut.
Mereka semua mengangguk mendengarkan ucapan dari mama Anisha.
" Begini saja kita akan menyusun rencana untuk mendapatkan bukti dari Maya itu." Ucap Papah Boby.
" Tapi sementara waktu Arvin dan Nadine jangan bertemu dulu, seakan-akan kita buat Arvin dan Nadine itu bertengkar hebat, gara-gara Nadine tidak memberi kabar dengan Arvin selama ini walaupun banyak panggilan tidak dijawab Nadine, padahalkan nomornya Nadine masih aktif,jadi biarkan saja selama ini mereka menggunakan nomor yang lain untuk berhubungan melalui gawai pribadi masing-masing, sebelum ada titik terangnya, kita mau melihat sampai dimana Maya berbuat seperti itu dengan kalian berdua." Ucap Ayah Candra lagi.
" Tenang aja Om serahkan dengan Morgan." Ucap Morgan yang tiba-tiba datang masuk ke dalam rumah menuju keruang tengah rumah mamah Anisha, mereka menoleh ke arah Morgan.
" Sejak kapan kamu berada di sini?" Tanya Abiyasa.
" Kalian tidak mendengar mobilku masukkan karena saking asyiknya berbicara sih." Ucap Morgan yang langsung duduk disamping Abiyasa.
Dan mereka juga melihat Clarissa yang berjalan masuk menuju ke arah mereka.
" Terus di rumah sakit siapa yang jaga?" Tanya Arvin pada Morgan.
" Yang jaga di sana mama, mama sudah aku beri penjelasan semuanya, terus akupun sudah hubungi papa, Papa sudah berangkat dari luar negeri langsung ke tanah air." Ucapnya.
" Terus kenapa kamu tinggali mamahmu." Ucap Abiyasa.
" Mama yang nyuruh kok untuk kami berganti pakaian, nanti sore aku berangkat lagi ke sana." Terang Morgan.
" Kamu bilang tadi tenang aja Om, emang ada rencana apa kamu? kayak tahu aja masalah yang dibicarakan." Ucap Papa Boby.
" Ya tahulah Om, Arvin kan sudah cerita semuanya dengan kami waktu berada dirumah sakit itu."
" Jadi rencana kamu apa?"
" Berhubung gawainya Nadine masih ada dengan Maya kita tinggal lacak saja Maya berada dimana bersama gawai itu,terus nanti diakan tidak pernah tuh melihat Morgan, jadi Morgan yang akan mencoba mendekati Maya dari situlah kita akan mengetahui apa yang akan dilakukan Maya dengan Nadine dan Arvin,Morgan akan mencari tahu dimana bukti itu disembunyikannya."
" Tapi mereka itu pergaulannya sangat bebas Kak, gimana nanti kalau Kak Morgan kenapa-napa." Ucap Nadine.
" Kamu tenang aja! aku juga akan berbuat seperti itu!" Kekehnya.
" Mereka juga sering ke klub malam dan mabuk-mabukan."
" Sudah! kamu jangan mikirin itu,tenang aja." Ucap Morgan santai.
" Semuanya pasti akan terkendali,nanti sekecil apapun perkataan dari Maya aku akan merekamnya dan mencari tahu di mana dia menyembunyikan foto Arvin dan Lia,siapa tahukan Lia bisa kita temukan." Ucap Morgan sembari membenarkan duduknya.
Kemudian Clarisa langsung duduk di samping mamanya tersebut, Mama Lala tersenyum melihat anak gadisnya yang baru juga datang,dia mencium pipi kiri dan kanan sang anak, begitu juga anaknya yang langsung memeluk Mama Lala, mereka berdua saling tersenyum.
" Oh ya Nadine, aku mau tanya dengan kamu." Kata Abiyasa.
" Tanya apa.?"
" Masalahnyakan kamu sudah tahu cerita dari Arvin semuanya,nah kalau seandainya kejadian benar adanya,dan buktinya ada dengan Maya,tanpa diduga Lia datang meminta pertanggung jawaban dari Arvin,karena memang benar Arvin yang melakukannya dengan Lia, Apakah kamu bisa menerimanya?dan Apakah kamu akan mundur atau masih lanjut dengan Arvin?" Tanya Abiyasa seraya menatap kearah Nadine.
Nadine terkejut Mendapatkan pertanyaan dari Abiyasa seperti itu.