
" Maaf Mbak,mbak kakaknya korban?" Tanya Arvin.
" Iya pak polisi " jawab Amelia singkat tapi dia tidak menatap kearah Arvin dia hanya memandangi adeknya yang masih menutup matanya tersebut.
" Kalau boleh tahu apakah adik Mbak ini mempunyai masalah sama Mbak, atau sama orang lain?"
Mendengar pertanyaan dari Arvin seperti itu Amelia pun langsung menoleh kearah Arvin terlihat jelas di wajah Amel yang Ada guratan kesedihan dan kecemasan itu, kemudian dia menundukkan kepalanya sembari tangannya mengelus tangan adiknya yang menempel jarum infus di tangannya tersebut.
" Maaf mbak sekali lagi saya mengulang pertanyaan saya, apakah adik Mbak mempunyai masalah dengan mbak atau dengan orang lain? Bukannya apa-apa Mbak, karena dilihat dari olah TKP anak buah saya bapak dokter Roni ini tidak menyentuh sama sekali kendaraannya dengan tubuh Adiknya Mbak, karena adik Mbak tersungkur dan mengalami lecet di tubuhnya itu bukan karena ditabrak kendaraan dokter Roni, dan Pak Roni ini juga melihat ada seseorang yang mengejar adik Mbak dari arah gang tersebut, Tapi saat Pak Roni ini melihatnya dia pun langsung kabur." lagi-lagi Amelia terkejut mendengar pertanyaan Arvin seperti itu.
" Kalau boleh tahu Mbak siapa nama adik Mbak?"
" Nika pak."
" Nika "
" Iya Nama adik saya Nika pratiwi."
" Apakah Nika ada masalah mbak? Dari tadi saya bertanya mbak tidak menjawab pertanyaan saya, ada apa mbak?"
Amelia menghela nafasnya dalam...
" Adik saya tidak ada masalah sama siapa pun,baik sama saya atau orang lain, saat itu dia mau pergi ke tempat temannya dan saya juga tidak tahu ternyata adik saya mengalami kecelakaan dan saya juga juga tidak mengenal orang yang mengejar adik saya itu." Ucapnya.
Tapi Arvin tidak percaya dengan omongan dari Amelia, karena saat dia mengatakan kalau Nika tidak bermasalah dengan laki-laki yang dikatakan Arvin, ada raut kecemasan dan ketakutan saat ia menyebut laki-laki itu.
Saat Arvin mau menanyakan lebih jauh lagi kepada Amelia, tiba-tiba suara gawainya berbunyi dia pun langsung mengambil gawainya yang berada di dalam saku celananya tersebut, dia melihat layar gawainya itu, ternyata Abiyasa yang menghubunginya,dia pun langsung menjawab panggilan dari Abiyasa.
" Sebentar saya jawab panggilan dulu." ijinnya kepada mereka yang ada di ruangan itu, kemudian dia langsung keluar ruangan karena dia tidak ingin mengganggu pasien yang ada di ruangan tersebut.
" Assalamualaikum Biy.."
" Waalaikumsalam,Vin Kamu di mana sekarang?"
" Aku ada di rumah sakit."
" Rumah sakit mana?"
" Di rumah sakit kamu lah masa di rumah sakit Aku." ucap Arvin terkekeh.
" Kamu ini ada-ada daja Vin, siapa tahu kan ada dirumah sakit sebelah." Kekeh Abiyasa.
Terdengar Arvin terkekeh juga..
" Kenapa kamu di rumah sakit?"
" Ada korban kecelakaan tadi."
" Korban kecelakaan, parah?" tanya Abiyasa.
" Tidak, oh ya Ada apa Biy? kamu menghubungiku?"
" Enggak! Aku mau minta bantuan sama kamu."
" Bantuan apa?"
" Mungkin ini bukan jalur kamu, kamu kan khusus ngukur jalan nih hehehe...mau minta bantuan sama Morgan yang memang jalurnya,tapi sayang dia masih dipingit sama kedua orang tuanya hehehe...makanya aku hubungin kamu."
" Ya gitu deh, jadi kangen sama Morgan hehehe...Ada apa Biy?"
" Ini Almira katanya temannya diculik."
" Diculik? maksudnya aku nggak paham nih ceritanya, tolong jelaskan ceritanya biar aku paham dan biar aku menghubungi anak buah Morgan untuk melacak keberadaannya." ucap Arvin lagi.
" Begini temannya Almira ini ceritanya mau ke rumah, untuk kerja kelompok tapi sampai saat ini dia tidak datang dan Kakaknya juga mencari dan menghubungi Almira, menanyakan keberadaan adiknya, tapi sampai saat ini temannya Almira itu tidak sampai ke rumah ini,dan Almira berpendapat kalau temannya ini diculik, karena temannya ini pernah cerita kepada Almira kalau dia itu selalu diikuti dan selalu diperhatikan dengan orang yang dia juga kenal tapi ceritanya aku juga tidak tahu detailnya seperti apa nama temannya itu Nika."
" Apa Nika?"
" Iya Nika Vin,kok kamu kaget sih Vin?"
" Nah itu dia, anak perempuan yang ketabrak ini namanya Nika juga,sekarang ada di rumah sakit ini, coba aja bawa Almira ke sini siapa tahu dia mengenalinya, Apakah ini temannya atau bukan."
" Baiklah kalau kayak gitu, aku akan kesana sama Almira ke rumah sakit, biar dia melihat sendiri apakah itu temannya atau bukan, kalau seandainya itu bukan temannya berarti aku minta tolong denganmu untuk mencari tahu di mana keberadaan temannya tersebut."
" Siap! " Ucap singkat Arvin.
" Waalaikumsalam."
Merekapun kemudian menyudahi sambungan bicaranya,Arvin pun menatap ke layar gawainya sembari menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum, kemudian dia memasukkan kembali gawainya ke dalam saku celananya tersebut, dan dia kembali melangkah menuju ke masuk ke dalam ruangan lagi.
" Siapa yang menghubungi kamu Vin?" tanya dokter Roni.
" Abiyasa Kak."
" Kenapa ?"
" Karena katanya temannya Almira diculik." Jawab Arvin.
" Almira?" Tanya Amelia setelah mendengar Arvin mengucap nama Almira.
" Iya Mbak, Kamu kenal dengan Almira?"
" Mungkin namanya aja yang sama kali ya, Almira temannya adik saya, saat malam itu adik saya bicara kalau dia besok mau kerja kelompok sama Almira, di rumah Almira, makanya saya mengiyakan, tapi ternyata adik saya sudah berada di tempat tidur ini, tadi juga saya sempat bertanya pada Almira menanyakan adik saya tapi ternyata Almira juga tidak tahu di mana adik saya berada." ucap Amelia menjelaskan kepada mereka.
" Mungkin Almira yang dimaksud adalah Almira Ini Mbak, karena Almira bilang kalau temannya itu bernama Nika, sedangkan adik Mbak kan bernama Nika." Ucap Arvin.
Amelia hanya menganggukan kepalanya kemudian dia menatap Adiknya lagi, sembari berdamai dengan degupan jantungnya saat matanya beradu pandang dengan mata dokter Roni.
" Kita tunggu aja katanya Almira sama kakaknya mau ke sini melihat apakah Nika ini adalah Nika temannya Almira." ucap Arvin.
Arvin menatap kearah Amelia terlihat ada kegelisahan di wajahnya.
" Sebenarnya apa yang terjadi? dengan wanita ini dan adiknya?" Batinnya seraya bersendekap tangan didada dan menyandarkan tubuhnya di dinding ruangan VIP tersebut.
" Oh ya Vin, Nadine tadi udah pulang?" Tanya Dokter Roni mengagetkan lamunan Arvin.
" Oh iya Kak, sudah pulang dan Arvin juga bilang tadi sama dia jangan bilang dengan mama tentang masalah ini, takutnya Mama nanti mendengarnya jadi kenapa-napa."
" Iya itu juga yang ingin aku katakan kepada Nadine, tapi aku lupa karena aku terlalu banyak pikiran." ucapnya.
Di ruangan itu hening! tanpa ada suara hanya helaan nafas yang terdengar, Arvin menunggu kedatangan Abiyasa dengan Almira,dokter Roni menatap kearah Amelia, Amelia pun kadang-kadang mencuri pandang ke arah dokter Roni tanpa sengaja Arvin memperhatikan mereka berdua,dan dia pun tersenyum.
" Jangan-jangan Kak Roni jatuh hati dengan wanita itu, istilah kata jatuh cinta pada pandangan pertama." ucap batin Arvin sembari tersenyum.
Dokter Roni yang menyadari kalau dirinya dipandang oleh Arvin diapun menoleh kearah Arvin,, dan Arvin pun menaik turunkan alisnya menggoda dokter Roni.
Dokter Roni hanya tersenyum dan mengusap wajahnya dengan kasar, dia pun kemudian mendekati Arvin dan menyandarkan tubuhnya didinding ruangan itu di samping Arvin.
" Sepertinya ada love yang berterbangan nih di ruangan ini." goda Arvin.
" Iih...kamu ini Vin,apa-apaan sih, nggak ada kali." ucapnya seraya tersenyum malu-malu.
" Udah nggak usah malu-malu akui aja, siapa tahu ini adalah jodoh yang tertunda." ucap Arvin terkekeh.
Amelia pun menoleh kearah mereka berdua, dokter Roni dan Arvin hanya menganggukkan kepalanya.
" Kamu tidak nanya lagi Vin dengannya?"
" Nanti aja kak."
" Aku merasa ada sesuatu yang aneh dengan dia."
" Sama Kak! perasaanku juga seperti itu, tapi nanti aja kita menanyakannya lebih lanjut lagi." ucap Arvin.
Merekapun kemudian terdiam! sembari menatap ke arah Nika yang masih belum sadarkan diri.
Kemudian pintu ruangan tersebut pun terbuka, Almira dan Abiyasa melangkah masuk ke dalam ruangan itu,Arvin kemudian mendekati Abiyasa,dan Almira mendekati Nika yang masih terbaring menutup matanya di tempat tidur rumah sakit tersebut.
" Ya Allah kak, ini kan Nika temannya Almira, Kenapa dia bisa sampai kecelakaan sih kak Arvin" ucapnya kepada Arvin.
Sebelum Arvin menjawab pertanyaan dari Almira dia pun langsung bertanya kembali dengan Amelia.
" Kak Amel, Kak Amel juga sudah tahu? kenapa Kak Amel nggak bilang sama Almira sih?"
" Kakak juga tidak tahu Dek, kalau Nika mengalami kecelakaan, Kakak mendengarnya dari tetangga aja." ucap Amelia Seraya menceritakan semua yang dia tahu kalau Nika mengalami kecelakaan, bermodalkan dengan tekad yang kuat untuk mencari adiknya sampailah dia di rumah sakit ini.
Almira terlihat sedih dia mengusap tangan sahabatnya itu.
" Nika, kamu bangun Nika, kamu harus cerita ke aku, Ada apa? Kenapa kamu bisa seperti ini?" ucapnya seraya menatap sang sahabat.