
Mobil yang mereka kendarai akhirnya sampai di tempat tujuan yaitu tujuan akhir rumah Abiyasa, pintu rumah Abiyasa memang sudah terbuka sejak tadi, ada beberapa mobil yang terparkir di halaman rumahnya, mereka tahu itu mobil keluarga dari mereka, tapi tidak dengan Lia dan Pak Sahrul mereka tidak mengetahui kalau rumah itu adalah rumah Abiyasa, setelah Mobil diparkirkan oleh mereka di depan rumah tersebut, Mereka pun langsung turun dari mobil dan melangkah mengikuti langkah Abiyasa memasuki rumah tersebut.
" Assalamualaikum" ucap Abiyasa.
" Waalaikumsalam" jawab Mama Anisha seraya berjalan mendekati mereka,Abiyasa langsung mencium punggung tangan Mama Anisha, Begitu juga dengan Morgan dan Clarissa membuat tatapan mata Lia dan keluarganya merasa heran,Lia kemudian mendekati Clarissa dan berbicara pelan.
" Maaf Mbak Risa,Apakah ini rumahnya Bos Mbak?"
" Iya ini memang rumah Bos saya."
" Tapi kenapa Mbak..." Lia menggantung kalimatnya.
" Memang ada apa?" tanya Clarissa
" Hmmm...Nggak ada apa-apa Mbak." ucap Lia lagi sembari tersenyum.
" Ya udah ayo kita masuk." ajak Clarissa tersenyum sembari mengajak mereka masuk kedalam, Di mana mereka sudah ditunggu di ruang tengah rumah keluarga Wibawa, terlihat di wajah Pak Sahrul dan di wajah Lia memang penuh dengan rasa penasaran dan merasa ada keanehan.
Mereka disambut dengan ramah dan penuh senyuman diwajah mereka semua.
Saat Lia dan Pak Sahrul serta yang lainnya berjabat tangan mereka semua terperangah karena melihat Lia memang mirip dengan Nadine. sedangkan Nadine dan Tante Raisa masih berada di dalam kamar, karena belum diperbolehkan untuk keluar.
" Masya Allah,mirip sekali mereka berdua." ucap Papa Andre dalam hatinya.
" Memang seperti pinang dibelah dua." sambung Abi Yosep dalam batinnya.
" Perbedaannya hanya gaya rambutnya saja,Rambut panjang yang dimiliki oleh Nadine dan rambut pendek yang dimiliki oleh Lia." gumam Papa Boby.
" Bagaimana Arvin bisa membedakannya ya nantinya, karena mereka sangat mirip seperti ini, kalau seandainya Nadine memangkas rambutnya seperti Lia, aku tidak bisa membayangkannya bagaimana Arvin nantinya." batin Ayah Candra sembari tersenyum, sedangkan para istri mereka hanya menatap tidak menyangka karena Lia berada di hadapan mereka.
" Maaf Ibu, Bapak, Apa ada yang salah dengan saya?" tanya Lia karena merasa diperhatikan oleh pemilik rumah tersebut.
" Oh! tidak ada silakan duduk maafkan kami,karena belum mempersilahkan kalian duduk." ucap Papa Andre.
Lia beserta Pak Sahrul hanya bisa tersenyum kemudian memilih tempat duduk tersebut, mereka semua kemudian menatap kearah Kevin, bocah berusia 8 tahun itu.
" Maaf apakah ini anaknya.?" tanya Mama Anisha.
Lia menganggukkan kepalanya, Kemudian mereka pun saling berpandangan.
" Kalau boleh tahu ke mana suaminya?" tanya Mamah Lala lagi,sebenarnya Mama Lala sudah tahu tentang masalah yang dialami Lia tapi Mamah Lala memang sengaja bertanya seperti itu,apa jawaban Lia nantinya.
Lia kemudian menundukkan kepalanya dan menghela napasnya dengan berat dan melepaskannya dengan pelan.
" Maaf Bu suaminya sudah pergi meninggalkan." ucap pak Sahrul langsung menjawabnya, karena Dia melihat keponakannya itu tidak mampu untuk menjawabnya.
Mama Lala hanya menganggukkan kepalanya, kemudian mereka kedatangan Art rumah itu membawakan beberapa kue dan minuman hidangan kecil untuk mereka.
Setelah Art itu pun pergi Mama Anisha mempersilahkan mereka untuk memilih dan menikmati hidangan yang ala kadarnya itu.
" Mama Ini rumah siapa lagi.?" tanya Kevin.
" Ini rumah mereka semua." terang Lia pada Anaknya itu.
" Kevin mau punya rumah seperti ini besar sekali, Kevin suka biar Mama senang." ucapnya tersenyum.
Mereka yang berada di situ mendengarkan ucapan polos Kevin.
" Halo Anak ganteng siapa namanya.?" tanya Papa Boby.
" Assalamualaikum, Om,Tante." sapanya sembari tersenyum.
" Waalaikumsalam " ucap mereka menjawab salam Kevin.
" Kenalkan nama saya Kevin usia saya 8 tahun saya ingin menjadi seorang polisi biar bisa menjaga Mama dan bisa membahagiakan Mama,dan biar Mama tidak bekerja lagi untuk Kevin." ucapnya dengan nada bahagianya saat mengucapkan cita-citanya tersebut.
Mereka semua tersenyum dengan kata-kata Kevin Anak usia 8 tahun itu sudah mempunyai pikiran dan cita-cita yang matang untuk dirinya dan Ibunya.
" Wah hebat sekali, kalau mau jadi polisi harus belajar yang rajin." ucap Papa Boby.
" Oh iya Om ini seorang polisi, dan itu Om polisi juga,sama dengan Om itu seorang polisi juga dan itu Tante polwan,Kevin tahu Polwan itu singkatan dari apa?" Tanya Papa Boby sembari menunjuk Ayah Candra,Abi Yosep,Umi Vita dan Morgan.
" Polisi wanita." ucapnya.
Mereka yang ditunjuk Papa Boby hanya tersenyum saja.
Terlihat Kevin pun hanya tersenyum dan merasa bahagia.
" Wah! Kevin pasti sangat senang ya bisa bertemu dengan pak polisi dan Bu polwan ya
Nak" ucap Lia sembari mengusap kepala sang Anak dengan penuh kasing sayang.
Kemudian Sarah diperintahkan Pak Sahrul agar mengajak Kevin bermain diluar,dan dianggukkan Sarah dan Diapun langsung mengajak Kevin keteras belakang karena ada terlihat pintu terbuka dan Kevin pun langsung menuju kearah pintu tersebut.
Lia menatap kearah Papa Candra yang sedang tersenyum kearah Kevin dan Sarah yang sedang melangkah menuju teras belakang
" Wajah orang tua ini kok mirip sekali ya dengan Arvin, cuman ini versi tuanya, Apakah dia Ayahnya Arvin? dulu Aku memang sempat mendengar kalau Arvin itu Anak seorang perwira polisi, tapi Aku tidak tahu siapa nama orang tuanya." batin Lia seraya menatap kearah Ayah Candra, Ayah Candra yang merasa ditatap itu langsung menoleh kearah Lia dan Lia pun langsung menundukkan kepalanya.
" Dia pasti curiga dengan wajahku, pasti Dia mengira Aku adalah Arvin." batin Ayah Candra.
Kemudian Papa Boby menyenggol lengan Ayah Candra dan berbisik,Ayah Candra menoleh kearah Papah Boby.
" Dia pasti mengira kamu itu adalah Ayahnya Arvin, karena wajah kamu itu kan 11-12 dengan Arvin,tapi mudah-mudahan aja Dia belum tahu kalau kamu memang Ayah kandung Arvin." ucap Papah Boby.
" Iya Bob, dari tadi Dia menatap kearahku, Aku juga berpikiran yang sama Bob."
" Makanya Ndra,kalau kamu bikin anak tuh jangan mirip-mirip kamu juga kali, mirip tuh sama Mamahnya, biar kita mau kemana-mana kamu nggak dikira orang punya kembaran." kekeh Papah Boby.
" Wajahku udah tua kali Bob, mana mungkin bisa mengaku muda, biar bagaimanapun wajah itu tidak bisa disembunyikan, kecuali perawatan, lah aku malas untuk merawat muka." Kekeh Ayah Chandra sembari menutup mulutnya, karena menahan tertawanya.
Papah Bobby malah tersenyum.
" Oh iya ini adalah Bos kami, namanya Pak Andre." ucap Clarissa membuyarkan perhatian Lia yang sepertinya sudah mulai merasa aneh.
" Oh ya saya adalah Bos dari mereka." ucap Papah Andre tersenyum.
" Pak Bos,ini Mbak Lia itu yang pemenang utama dari ulang tahun Minimarket kita." terang Clarissa.
" Oh iya siapa nama lengkapnya?" tanya Papa Andre, Untung saja Papa Andre sudah diceritakan semua rencana dari mereka oleh Abiyasa jadi dia tinggal melanjutkan rencana yang telah ada aja.
" Nama saya Siti Marliana, sering di panggil Lia."
" Nama Ibu dan Ayah kandung?" tanya Papah Andre lagi.
" Maaf Pak, apakah ini penting?" Lia balik bertanya pada Papah Andre.
Papah Andre tersenyum dan membenarkan cara duduknya.
" Iya Mbak Lia, ini penting untuk pengisian data kami." ucapnya lagi menyakinkan Lia.
" Ayah saya bernama Yuasa Akbar, dan Ibu saya bernama yuni sari, Ayah saya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu, sekarang Ibu saya mengalami sakit depresi yang sangat kuat dan sekarang berada di rumah sakit jiwa." ucap Lia menerangkan pada Papah Andre.
Mereka semua bertatapan setelah mendengar perkataan dari Lia.
" Kalau Bapak siapanya dari Mbak Lia ini?" tanya Papah Andre.
" Saya ini adalah pamannya Lia,saudara kandung dari Mamahnya Lia Ibu Yuni Sari, saya bernama Sahrul pak." jawabnya sembari tersenyum.
" Iya, iya, iya, ya,." ucap Papa Andre seraya menganggukkan kepalanya.
" Mbak sudah tahu kenapa Mbak diajak ke rumah saya.?"
" Iya Pak saya sudah tahu,kata mereka saya memenangkan undian berhadiah di acara ulang tahunnya minimarket yang dikelola sama Bapak."
" Mbak tahu berapa hadiah yang akan saya berikan untuk pemenang utama?"
" Total hadiah kata paman saya dua ratus juta rupiah."
" Menurut Mbak,Apakah Mbak merasa mengikuti undian berhadiah ini?" tanya Papa Andre lagi.
" Jujur ya Pak,sebenarnya saya ragu Pak, karena saya tidak tahu apakah saya mengikuti undian berhadiah ini atau tidak, karena saya lupa." ucapnya.
Papa Andrie tersenyum, begitu pula dengan mereka ikut tersenyum.
" Pak Sahrul,saya mau bertanya dengan Bapak." tanya Papa Boby.
Pak Sahrul pun tersenyum dan menoleh kearah Papah Boby.
" Mau bertanya apa Pak? kalau bisa saya jawab, tapi kalau tidak bisa saya hanya bisa diam" ucapnya sembari tersenyum pada Papa Boby.
" Ah! Bapak bisa aja bercandanya hehehe." ucap Papah Boby.
" Hehehe..." sambung pak Sahrul terkekeh.
" Maaf! sebelumnya pak, pertanyaan ini mungkin keluar dari permasalahan tentang undian berhadiah."
" Tidak apa-apa Pak,kalau memang mau Bapak bertanya dengan saya dan mungkin ini penting untuk ditanyakan silakan saja Pak."
" Sebelumnya saya minta maaf ya pak, saya mau bertanya apakah Lia ini anak kandungnya dari Ibu Yuni Sari?" tanya Papa Boby.
Lia terperangah mendapatkan pertanyaan Papa Boby yang bertanya dengan pamannya itu, Begitu juga dengan Pak Sahrul Dia langsung menatap kearah Lia kemudian menatap lagi ke arah Papah Boby.