
Mobil yang mereka kendarai memasuki kantor KUA,Mereka pun langsung mengurus semuanya.
Morgan dan Arvin duduk saja di ruang tunggu yang ada di kantor tersebut, sedangkan Abiyasa langsung mengurus semuanya.
Beberapa menit Abiyasa mengurusnya dan menemukan hari dan waktu yang tepat untuk Clarissa dan Marco melaksanakan ijab kabulnya.
Abiyasa terlihat keluar dari salah satu ruangan yang ada di dalam kantor tersebut, dia tersenyum dan langsung mengajak kedua sahabatnya itu keluar dan memasuki kembali mobilnya, beberapa saat kemudian mobil tersebut meninggalkan kantor dan mereka kembali menuju ke rumah Morgan.
Didalam mobil...
" Sebentar aja ya Biy mengurusnya."
" Ya Mor, sebentar karena semua berkasnya sudah rampung jadi enak mengurus suatu urusan kalau berkasnya itu tidak kurang satu apapun, tapi karena memang banyak yang menikah dan hari-hari selanjutnya sudah sangat padat, Bapak penghulu tersebut mengatakan kalau minggu depan digunakan untuk pernikahan Marco dan Clarissa, karena waktu itu yang kosong." terang Abiyasa.
" Berarti tidak keluar dong dari rencana yang ada." ucap Arvin.
" Ya begitulah." ucap Abiyasa merasa senang karena urusan mereka sudah selesai.
Mobil terus melaju menuju ke rumah Morgan, setelah beberapa menit mobil pun memasuki halaman kembali dan Abiyasa memarkirkan kembali mobilnya di samping mobil Arvin, mereka bertiga turun dari mobil dan menuju ke arah teras kembali.
Setelah menghentakkan tubuh mereka duduk disofa teras itu, mereka lalu membicarakan lagi rencana selanjutnya.
" Sebentar Aku mau masuk ke dalam dulu mengatakan kepada kedua orang tuaku kalau urusan kak Marco udah kelar " ucap Morgan.
Abiyasa dan Arvin hanya menganggukan kepalanya saja.
" Gimana Vin Nadine udah siap?"
" Aku sudah menghubunginya agar dia siap-siap di butik nanti Aku jemput."
" Aku dan Morgan akan melacak keberadaan si Bowo itu,dimana dia berada sekarang ini."
" Bagaimana kalian melacaknya padahalkan nomer gawainya tidak kita ketahui."
" Tadi malam aku chat Nadine untuk meminta Nomernya pada pak Sahrul,untung saja nomernya dicatat beliau dibuku kecilnya."
" Kenapa dicatat?padahalkan pak Sahrul punya gawai."
" Kata Nadine menjelaskan padaku pak Sahrul tidak ingin dihubungi terus oleh di Bowo sim card nya di buang." terang Abiyasa.
Arvin hanya mengangguk,dan Morgan pun keluar dari dalam rumahnya.
" Gimana sekarang rencana kita?" tanya Morgan.
" Sekarang Aku akan menuju ke butik Nadine,dan menunggu kabar dari kalian berdua."
Morgan menatap kearah Abiyasa.
" Begini Mor,kita berdua memperhatikan rumahnya tapi kita dari jauh aja,tidak seperti tadi malam yang langsung didepan jalan rumahnya, jangan sampai mobil kita ketahuan,kita mencari tahu apakah dia masih berada di rumah atau sudah tidak ada, kalau seandainya dia tidak ada dirumah kita harus melacak keberadaannya, karena aku tadi malam sudah kirim chat pribadi pada Nadine untuk menanyakan nomor gawai Pak Bowo, jadi kita mudah untuk melacak dimana dia berada, setelah itu baru kita melancarkan aksinya Arvin, tersebut."
" Tapi jangan sampai Nadine atau pun Arvin tertangkap." ucap Morgan.
" Oke siap segera meluncur." ucap Arvin tersenyum.
" Kita berdua masih tetap mengawasi Arvin dan Nadine dari belakang, tapi jangan sampai kita ketahuan dan kalau Arvin sama Nadine kenapa-napa baru kita maju." ucap Abiyasa lagi.
" Mantap Aku setuju sekali sangat setuju! karena Aku juga sudah geretan sama si Bowo itu." ucapnya seraya mengepalkan tangannya.
" Ya sudah ayo sekarang kita berangkat." ajak Abiyasa, Kemudian Morgan pun kembali lagi ke dalam mobilnya ,dan Arvin memasuki mobilnya sendiri.Mobil Abiyasa dan mobil Arvin berpisah arah, dan kedua mobil itu pun meninggalkan rumah kediaman Morgan untuk yang kedua kalinya, Abiyasa dan Morgan menuju ke arah rumahnya Pak Bowo,dan mobil Arvin menuju kebutik Nadine.
Abiyasa menyerahkan nomer pribadi Pak Bowo kepada Morgan dan dengan cekatan Morgan melacak nomer pribadi target tersebut.
Sesampainya di tampat tujuan, mereka tidak mau berhenti di depan rumah tersebut seperti tadi malam, melainkan sedikit jauh dari rumah itu, kemudian Morgan bisa mendeteksi keberadaan si Bowo, Setelah dia menemukan lokasi beradanya pak Bowo Morgan langsung mengatakan dengan Abiyasa.
" Ternyata dia masih berada di dalam rumahnya."
Setelah Morgan bicara tidak seberapa lama mereka melihat sebuah mobil meninggalkan rumah kediaman pak Bowo itu, sesuai dengan petunjuk yang mereka cari mobil itu pun mereka ikuti secara perlahan tanpa mencurigakan yang punya mobil.
Ternyata mobil itu berhenti di sebuah kedai kopi yang sangat terkenal di kotanya itu, setelah mobil itu memasuki halaman parkir kedai kopi itu dan mobil Abiyasa memilih berada di seberang jalan parkir seperti mobil yang ada beberapa buah didepannya tersebut.
Abiyasa langsung menghubungi Arvin dan Nadine mata Morgan masih menatap ke arah mobil tersebut, ternyata memang benar Pak Bowo dan dua anak buahnya keluar dari mobil tersebut dan memasuki kedai kopi itu, mereka pun duduk dekat jendela yang memang sangat terlihat dari seberang jalan dimana Abiyasa dan Morgan berada.
Mobil Abiyasa berhenti di pinggir jalan terlihat tidak mencurigakan, karena tertutup dideretan mobil yang parkir di pinggir jalan tersebut.
Sebelum turun Arvin menghubungi Abiyasa setelah mendapatkan penjelasan dari Abiyasa mereka berdua pun langsung turun dari mobil.
Arvin dan Nadine menyeberang jalan menuju ke arah kedai kopi tersebut tapi mereka tidak memasuki kedai itu,melainkan hanya berdiri pas di dekat jendela yang sangat dekat sekali dengan tempat duduknya pak Bowo.
Nadine sedikit berjalan lebih dulu, dan Arvin pun pura-pura berdiri disitu dia sengaja mengikat tali sepatunya yang memang dibiarkannya terlepas.
" Sayang!" panggil Arvin pada Nadine yang sudah sedikit menjauh dari Arvin dengan sedikit keras agar Pak Bowo melihat mereka berdua.
Dan...
Tanpa disangka mata Pak Bowo menatap kearah Arvin dan terlihat Nadine mendekati Arvin dengan posisi wajahnya menghadap kearah pak Bowo duduk.
Pak Bowo terkejut melihat wajah Nadine dan Arvin ada di pandangan matanya.
" Lia "
Pak Rizal menatap kearah Pak Pak Bowo.
" Lia ?mana?"
" Itu dia." ucap Pak Bowo menunjuk kearah Arvin dan Nadine.
Saat Pak Rizal menatap kearah Arvin dan Nadine,mereka langsung menunduk jadi pak Rizal tidak melihat jelas mereka dan pak Rizal menatap kembali kearah pak Bowo.
Kemudian Nadine Dan Arvin pun menatap kearah Pak Bowo lagi,Namun mereka tidak menghiraukan tatapan Pak Bowo tersebut pada mereka.
Karena memang sengaja mereka berdua memancing agar pak Bowo merasa penasaran.
Mereka berdua pun langsung melangkah meninggalkan kedai kopi itu dengan santainya, Pak Bowo melihat Nadine yang dikiranya Lia itu, berjalan berdua dengan Arvin langsung berlari keluar untuk mengejar mereka berdua.
Tapi sayangnya dia tidak menemukan kembali Arvin dan Nadine.
" Kemana mereka berdua? Aku jelas-jelas melihat Lia dan lelaki yang ada di foto itu,ternyata! memang benar dugaanku dia berdua sudah menikah,tapi Aku tidak melihat Lia membawa Anaknya, kemana Anaknya? apakah Anaknya itu sudah dibuang oleh Lia? ataukah Anak itu memang tidak pernah dibesarkan oleh Lia?" ucapnya berbicara sendiri.
Kedua anak buahnya pun mendekati Pak Bowo, beserta dengan pak Rizal .
" Ada apa kamu ini Bowo ?" tanya Pak Rizal.
" Aku melihat Lia bersama dengan lelaki yang ada di foto itu,"
" Apa?mana mereka?"
" Tapi mereka berdua sudah menghilang, baru saja Lia berdiri disini, bersama dengan lelaki itu, saat mereka melihatku, mereka berdua langsung pergi, dan berjalan dengan santainya seakan mengejek ku, tapi saat Aku keluar Aku tidak melihat mereka berdua." ucapnya dengan kesal seraya mengusap wajahnya dengan kasar.
" Astaga Bowo! kamu sudah gila ya! apa kamu ini pasti masih terpengaruh minum minuman yang tadi malam kamu minum, jadi pikiranmu ngelantur kesana kemari,orang lain dibilang Lia dan dan lelaki itu.!dasar gila kamu Wo!"
" Aku yakin kalau itu Lia." ucapnya membela Diri.
" Lia itu sudah tidak ada lagi di kota ini! coba kamu pikir dia hidup pakai Apa ?pekerjaan aja dia tidak punya! dia tidak akan bisa menemukan pekerjaan lagi,dia mau kerja apa dengan ijazah cuma ijazah SMA aja, paling mentok jadi CS itu pun kalu diterima!" ucap Rizal menjelaskan.
" Sudah lah ayo kita nikmati lagi kopi kita sebelum dingin." ucapnya lagi.
" Tidak Rizal,kamu bisa sebut Aku gila atau apalah,tapi Aku jelas melihat Lia dan lelaki itu, Aku harus mencarinya."
" Hmmm...terserah kamu lah, Aku menunggu di sini." ucap Pak Rizal geleng-geleng kepala melihat ulah pak Bowo.
" Kalian kenapa diam disini hah!! cepat cari mereka sana!!" ucapnya emosi pada kedua anak buahnya tersebut.
" Baik Bos!" kemudian kedua anak buahnya pun mengikuti arahan pak Bowo menuju kearah di mana Lia dan Arvin dilihatnya tersebut dan menghilang.
Beberapa menit kemudian kedua anak buahnya kembali dengan tangan kosong dan mereka tidak menemukan keberadaan Nadine dan Arvin.
" Maaf Bos,tidak ketemu mereka menghilang."
" Ini sudah tidak bisa dibiarkan Aku harus mencari Sahrul Di mana Dia berada sekarang ini,Sahrul pasti tahu kondisi Lia sekarang!jelas-jelas Lia Aku lihat bersama laki-laki itu, sepertinya Lia terlihat bahagia dengan laki-laki itu dan dia tambah cantik, sepertinya dia sangat terurus! siapa sebenarnya laki-laki itu? terlihat sekali Lia tidak merasa menderita selama bertahun-tahun ini, sepertinya dia sangat bahagia,berarti mereka berdua memang suka sama suka dan memang sengaja mereka berbuat seperti itu agar pernikahan Ariel dan Lia tidak terlaksana, memang kurang ajar!! Aku tidak akan pernah melepaskan kamu Lia! x ucapnya geram sambil melangkah memasuki kembali kedai kopi tersebut dengan muka kesal nya karena tidak menemukan orang yang dimaksud.
" Lihat Biy..dedengkot itu sudah kebingungan mencari Arvin dan Nadine." ucap Morgan tersenyum kemenangan.
" Iya Mor, Dia sudah masuk perangkap kita." ucap Abiyasa senang karena sudah bisa membuat si Bowo bingung.