
Keesokan harinya mereka melakukan aktifitasnya kembali seperti biasanya dan tidak lupa juga mereka menjenguk kak Nico yang masih berada dirumah sakit, dan para orang tuanya pun membicarakan tentang pernikahan anak-anak mereka yaitu pernikahan kak Nico dan Lia,rencananya mamah Melisha dan papah David akan menemui mamah Raisha didampingi papah Andre untuk menemui mamah Raisha.
Dikantor Morgan...
" tok-tok" pintu ruangan Morgan diketuk dari luar, tapi Morgan tidak mengindahkan ketukan tersebut, karena dia asyik dengan lamunannya.
Arvin sang pengetuk pun terdiam seraya menatap sang sahabat yang sedang duduk manis dikursi kerjanya tersebut sembari menatap langit-langit ruangannya itu, sedangkan Arvin menatapnya sembari bersendekap tangan didada seraya menyenderkan pundak kanannya dibibir pintu ruangan Morgan.
" Ada apa dengan Morgan? kenapa sampai segitunya dia melamun sampai-sampai ketukan pintu aja dia tidak mendengarnya." ucap Arvin seraya melangkah sembari menghela nafasnya dengan pelan dan mengambil duduk didepan sang sahabat yang masih asyik melamun dan tidak menyadari kedangan Arvin.
" Mor...hey..Morgan!! " ucap Arvin sedikit keras.
Morgan terhenyak dengan suara Arvin yang memanggil namanya tersebut.
" Oh...iya Vin, ada apa? " tanya Morgan sembari tersenyum dan membenarkan duduknya sambil menatap kearah Arvin yang tersenyum padanya.
" Eh, bro...seharusnya aku yang bertanya padamu ada apa dengan dirimu, sejak tadi hanya melamun saja, sampai-sampai aku datang aja kamu tidak mengetahui jangankan kedatanganku yang tidak kamu gubris ketukan dipintu aja kamu tidak menghiraukannya, ada apa sih sebanarnya..." ucap Arvin sembari mentap Morgan.
Morgan menghela nafasnya dengan pelan seraya berdiri dari duduknya melangkah menuju sofa yang ada diruangannya tersebut, diikuti Arvin yang melangkah dibelakang Morgan, mereka berdua pun langsung menghentakkan tubuh mereka disofa empuk itu.
" Ada apa Mor, cerita sama aku, siapa tahu aku akan membantu kamu janganlah masalah itu disimpan sendiri ntar kamu sendiri yang sakit hati kalau sampai kamu memendam masalah seorang diri."
" Orang yang selama ini mengganggu aku ingin bertemu nanti malam di kafe Flowers yang tidak jauh dari kantor kita ini." ucapnya seraya menyenderkan tubuhnya disandaran sofa dan merebahkan kepalanya menatap kearah langit-langit ruangannya.
" Wah! bagus itu, kamu bisa langsung melihat dan mengetahui siapa dia sebenarnya, apakah dia itu ada hubungannya dengan masa lalu kamu atau tidak, apa lagi yang kamu pikirkan." ucap Arvin tersenyum.
" Yang aku pikirkan sekarang aku takutnya dia ada hubungannya dengan masa lalu aku, karena aku sebenarnya kurang yakin aja sih kalau wanita dimasa lalu ku itu sudah tiada, aku tidak secara langsung melihat dia dimakamkan." ucapnya seraya menatap kearah Arvin.
" Benar juga sih, kalau aku ada diposisi kamu juga pastinya sangat bingung antara yakin dan tidaknya, terus apakah Anindita tahu kalau kamu ingin bertemu dengan si peneror?" tanya Arvin.
Morgan menggeleng pelan.
" Aku tidak tahu Vin bagaimana nantinya kalau Istriku sampai tahu, aku harus cari jalan keluarnya Vin."
" Dimana jalan keluarnya..?" tanya Arvin.
" Noh!! ada pintu tinggal buka saja kemudian jalan jadilah kamu keluar.." ucap Morgan sedikit kesal dengan sahabatnya tersebut sembari melempar gulungan kertas yang sejak tadi dimain-mainkannya.
" Hahahahah...jangan sewot bro...santai bro..." ucap Arvin tertawa lepas, sedangkan Morgan hanya mendengus dengan kesal.
" Ya sudah ayo kita kekantor Abiyasa siapa tahu dia dan Clarissa ada jalan keluarnya untuk masalah kamu ini." ucap Arvin dianggukkan Morgan, mereka pun kemudian melangkah keluar ruangan Morgan menuju kearah Mobilnya dan perlahan-lahan mobil tersebutpun meninggalkan kantor mereka menuju keara kantor Wibawa Group.