THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP

THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP
BAB 290



Dua hari kemudian tepatnya hari yang dinantikan keluarga sabun colek dan abu gosok, terlebih bagi pasangan Arvin dan Nadine.


Jam sudah menunjukkan pukul enam pagi, dirumah Ayah Candra, Arvin yang bingung mau ngapain pun ditegur sang Bunda.


" Nak, kenapa belum siap-siap?" Tanya bunda Adel menatap heran dengan Anak lelakinya tersebut.


" Arvin bingung Bun...mau ngapain." Ucapnya.


" Hehehehe....Arvin, anak Bunda yang sebentar lagi punya seorang istri, kamu harus mempersiapkan keperluan kamu sendiri untuk hari pernikahan kamu ini, jangan gugup kaya gitu dong sayang...." Ucap Bunda.


" Hahahah....gugup itu soal biasa nak, yang terpenting kamu jangan sampai lupa dengan penyebutan ijab kabulnya nanti." Ucap Ayah Candra terkekeh seraya membenarkan kacamatanya dan menepuk pelan pundak Arvin.


" Ayo kita segera berangkat, ntar kelamaan lagi mereka semua menunggu." Ajak Bunda Adel tersenyum.


Dianggukkan Arvin, Bunda Adel xan Alena, mereka pun langsung menuju kearah mobil mereka dan kemudian melaju menuju kearah tujuan yaitu tempat acara ijab kabul digelar.


Berbeda dengan Nadine, dia terlihat sangat bahagia, didalam mobilnya bersama keluarganya menuju kearah yang sama, senyum manis terus tersungging diwajah cantiknya itu, sesekali dr Roni tersenyum melihat sang adik yang semenjak dari rumah tersenyum selalu.


" Dek, jangan sering-sering senyum ntar jadi gila lagi hahaha..." Tawa dr Roni pun lepas menggoda sang adik.


" Iih...kakak apaan sih! Selalu saja gitu nggak bisa liat adiknya senang." Ucap Nadine sembari tetap tersenyum.


Mamah Raisha hanya tersenyum saja melihat kejahilan dr Roni pada Adiknya tersebut, begitu juga Lia yang sangat bahagia sekali melihat saudaranya sebentar lagi hitungan menit sudah akan menjadi seorang istri.


" Memangnya kamu nggak gugup gitu sebentar lagi jadi seorang istri dari seorang Arvin.?" Tanya dr Roni sembari menoleh sesaat kearah Nadine yang kebetulan duduk disampingnya tersebut.


" Kalau rasa gugup itu sih sebenarnya ada kak, tapi Nadine berusaha menghilangkan rasa itu, karena kalau Nadine gugup pun tidak akan mengubah apa-apa, pastinya acara tetap dilanjut hehehe..." Ucapnya terkekeh.


" Ya iyalah tetap dilanjut kalau nggak kamu yang akan rugi karena kamu tidak jadi ratu sehari hahahaha..." Ucap dr Roni lagi-lagi teryawa lepas.


" Nah kan kaka...! Mulai lagi deh..." Ucap Nadine sembari cemberut.


" Jangan cemberut sayangnya kakak, kan sebentar lagi nggak ada lagi yang di goda, kamu kan pasti menempati rumah sendiri bersama Arvin suamimu...jadi sebelum kamu sah jadi milik Arvin, kakak gangguin dulu deh...hehehehe..." Kekeh Arvin.


Nadine hanya mendelik sesaat pada sang kaka seraya mencibir pada kakaknya itu.


Mobil mereka pun memasuki halaman gedung yang sudah dipersiapkan untuk acara mereka, Nadine melihat dari dalam mobil sebelum turun di samping kiri banyak beberapa anggota yang hadir.


" Kak..." Panggilnya sembari memegang tangan dr Roni.


" Hmmm..." Jawab dr Roni seraya menoleh kearah Nadine.


" Kenapa mereka berkumpul disini?" Tanya Nadine heran.


" Hahahah, Nadine-Nadine, kamu itu jadi bagian dari mereka, karena nanti setelah acara ijab kabul kamu, akan ada acara pedangpora dek, kamu lupa dengan acaranya Morgan dan Anindita?" Tanya dr Roni tersenyum.


" Astaga!...Nadine lupa kak, karena terlalu gugup, rasa gugup sudah menguasai rongga kepala sehingga tidak bisa berpikir jernih hehehe..." Ucapnya terkekeh.


" Ya udah ayo turun, tuh lihat mamah, sudah nungguin dari tadi dipintu samping." Ucap dr Roni seraya menunjuk kearah mamah Raisha yang sudah terlebih dahulu keluar dari mobil dan sudah sampai disamping kanan masuk yang tembus dengan kamar rias dimana seorang wanita yang sudah sejak tadi menunggu mempelai wanitanya datang untuk dipermak wajahnya biar tambah cantik.


Kakak beradik itupun langsung melangkah menuju kearah mamah Raisha kemudian mereka langsung menuju kearah sebuah ruangan yang khusus untuk wanita.


Sesampainya Nadine di ruangan tersebut, wanita tersebut langsung saja menjalankan tugasnya.


Sedangkan Arvin dan keluarganya baru saja sampai dan langsung saja mereka keluar dan melangkah menuju arah dalam dan memasuki ruangan dimana ketiga sahabatnya sudah menunggu dari tadi, sedangkan Niko dan Marco berada diluar karena sedang membantu yang lain menyiapkan yang belum siap.


" Hai-hai calon pengantin..." Ucap Clarissa tersenyum sembari menyambut kedatangan Arvin.


Arvin pun tersenyum dan melangkah menuju kearah mereka, tidak lama Arvin masuk kemuadian datang seorang lelaki yang lemah gemulai memasuki ruangan tersebut membawakan sebuah pakaian Arvin yang akan dipakai saat ijab kabulnya tersebut.


" Pagi say..." Sapanya.


" Pagi Beb..." Ucap Clarissa tersenyum.


" Mana nih pengantinnya?.." tanyanya seraya menatap Morgan.


" Itu noh! Pengantinnya bukan Aku!" Ucap Morgan seraya tersenyum.


Clarissa terkekeh.


" Auh...saya kira mas ganteng itu..." Ucapnya sembari bergaya kaya seorang wanita dengan tangan manisnya keatas seolah-olah terpesona pada Morgan.


" Iih...amit-amit deh!!" Ucap Morgan sembari merengut.


" Hahahaha..." Tawa lepas mereka terdengar menggema diruangan tersebut.


" Oouuhhh...! Ganteng banget deh calon pengantennya kalau kaya gini sih aike mau!auh!..auh..." Ucapnya kegirangan melihat Arvin.


Arvin pun langsung berlindung kebelakang Morgan.


Asisten MUA tersebut yang lebih dikenal dengan nama Lelim itupun terkekeh dan hendak meraih tangan Arvin yang berada dibelakang Morgan itu, dan tanpa sengaja tangannya menyentuh tangan Morgan langsung saja Morgan tersentak.


" Eit... lelembut jangan dekat-dekat! kalau dekat-dekat ntar bisa khilap akunya!" Ucapnya sembari mengacungkan genggaman tangannya kearah Lelim.


" Aauuh...jangan bang..hehehe..." Ucapnya sembari terkekeh.


Mereka pun langsung tertawa bersama melihat ulah Lelim dan Morgan.


Arvin tertawa tak tertahan.


" Heh! Jangan tertawa lucu kaya gitu ntar gugup lagi ijabnya." Ucap Morgan seraya menoleh kebelakang tubuhnya dimana Arvin berada.


" Tenang Broo...sudah ingat semuanya, dan nggak akan bakalan lupa! Dijamin seratus persen akan dinyatakan Lolos! Hehehe." Kekehnya.


" Jangan lolos-lolos, ntar lupa lagi." Sambung Abiyasa tersenyum.


" Nikahkan aja sama Lelim pasti tidak lupa dan pasti akan lancar hehehe..." Celetuk Lelim terkeleh dengan gaya ciri khasnya tersebut.


" Hahahaha...benar tuh apa kata Lelim, kita nikahkan ulang dia sama Lelim." Ucap Abiyasa tertawa lepas.


Morgan dan Clarissa juga tertawa lepas sedangkan Lelim tersipu malu, dan Arvin hanya mendengus kesal.


" Lelembut, kalau aku nikah dengan mu bukannya lancar ucapanku melainkan gagu haha hihi hoho aja ucapanku." Ucap Arvin seraya mengambil pakaiannya yang dipegang Lelim sedari tadi, pakaian tersebut adalah rancangan calon istrinya sendiri untuk dipakai ijab kabulnya itu.


Mendengar ucapan Arvin lagi-lagi mereka tertawa lepas dan Lelim juga ikut tertawa.


" Pengantinnya udah siap Lim?" Tanya mbak Yoana yang bertugas merias Nadine yang tiba-tiba muncul didepan pintu.


" Sebentar lagi Mbak..." Ucapnya tersenyum.


Lelim memang asisten yang baik hati dan mudah bergaul, dia tidak marah sama sekali walaupun digoda seperti Morgan tersebut, dia dan Mbak Yoana memang yang sering di sewa keluarga Wibawa dari tahun ketahun bila ada acara yang memerlukan perias wajah dan sebagainya.


Saat Abiyasa dan Morgan menikah Lelim tidak hadir membantu Mbak Yoana karena dia berada dikotanya menjaga orang tuanya yang sedang sakit.


" Ayolah Bang di pakai cepatan bajunya..." Pinta Lelim.


" Oke, aku akan pakai, tapi kamu jangan berada didepan ku juga kali." Ucap Arvin.


" Oke deh!" Ucapnya sembari melangkah menuju kearah luar, kalau sudah panggil aku lagi ya..." Ucapnya tersenyum.


Mereka pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


" Baiklah kalau gitu, aku ketempat Nadine ya." Ucap Clarissa.


" Oke!" Ucapnya bertiga sembari tersenyum.


Clarissa langsung melangkahkan kakinya menuju kearah ruangan Nadine yang berada disebelah ruangan Arvin.


" Arvin!" Panggil Morgan sembari duduk dikursi yang ada diruangan tersebut.


" Hmmm....ada apa? Jangan tanya tentang kegugupan ya?kalau rasa gugup itu selalu ada di aku, nih coba pegang telapak tangan ku dingin kan?" Ucap Arvin sembari mengarahkan telapak tangannya ke pergelangan Morgan.


" Idih! Dingin banget Vin, kaya mayat tapi idup hahahaha..." Ucap Morgan tertawa lepas giliran Morgan yang menggoda Arvin karena posisi Arvin sekarang ini sama dengan Morgan saat mau menikah dulu.


" Iya Vin, aku juga saat mau nikah gugup segugup-gugupnya tau nggak! Aku heran aja udah dihapal sehapalnya tentang nama, calon mertua dan sebagainya tetap aja gugup." Sambung Abiyasa.


" Apa lagi aku Biy, Mor...gugup banget, takut salah juga sih nantinya." Ucap Arvin.


" Hehehe...semangat Broo...setelah ijab kabul itu enak jadinya, apalagi malam pertamanya, wow! Fantastic." Ucap Morgan terkekeh.


" Ya nggak Biy..." Lanjutnya lagi seraya menoleh kearah Abiyasa.


" Yoi..." Ucap singkat Abiyasa terkekeh.


" Idih ngeres aja pikiran kalian berdua ini." Ucapnya seraya mengekpresikan wajahnya sembari menunjuk kedua sahabatnya tersebut seraya tersenyum.


" Kamu yang ngeres! Pikiran kamu pasti ehem-ehemkan! Hahahah" ucap Morgan tertawa lebar.


" Ya nggaklah, maksud aku itu enaknya ada teman tidurnya dari tidur sampai bangun lagi dan tidur lagi masih dengan teman yang sama, tapi serepet tetetnya kesitu juga sih hahahahah.." ucap Morgan tertawa lepas di ikuti Abiyasa, Arvin pun spontan melempar Morgan dengan bantalan kecil tapi bukan bantalan sofa yang memang sudah berada diruangan tersebut kearah Morgan, saat mereka asyik tertawa-tawa mereka dikejutkan suara Bunda Adel yang menjemput sang anak untuk segera keluar ruangan dan duduk ditengah-tengah mereka untuk melaksanakan ijab kabul dihari yang dinantinya selama ini.


" Udah siap Nak?"


" Udah Bun..."


" Ayo kita keluar sekarang..."


" Oke Bun..." Ucap Arvin di ikuti dua sahabatnya tersebut, mereka melangkah bersamaan menuju kearah tengah ruangan tersebut.


Arvin didudukkan ditengah tersebut dengan sebuah kursi berada ditengah ruangan itu,dan sudah ada keluarga dua belah pihak, dan beberapa orang teman kantornya Arvin yang hadir di ijab kabulnya tersebut.


Beberapa saat kemudian dan tibalah waktunya ijab kabul akan dilaksanakan dan semua sudah hadir ditengah-tengan ruangan tersebut dimana beberapa kali ruangan itu yang dipergunakan keluarga Wibawa dan keluarga yang lainnya menggelar acara ijab kabul dan diteruskan dengan pelaksanakan pesta pernikahan.


Kemudian pak penghulu memasuki ruangan itu dan melangkah menuju meja dimana Arvin sudah berada disana lengkap dengan saksi dan walinya Nadine.


Pak penghulu pun tersenyum, ini adalah kesekian kalinya memasuki gedung itu dan kesekian kalinya juga dia bertemu dengan mereka.


Dia pun tersemyum lagi dan bergurau dengan Ayah Candra yang duduk disamping kanan Arvin.


" Banyak ya punya Anak laki,. Kalau boleh simpen buat saya untuk jadi menantu... Hehehe..." Ucapnya.


Mereka tertawa mendengar ucapan pak penghulu.


" Boleh pak, tapi masih ada yang kecil dua masih duduk di kelas tiga sekolah menengah atas anaknya pak Yosep dan anaknya pak Boby." Ucap Ayah Candra terkekeh dan pak penghulu juga ikutan terkekeh.


" Masih dipupuk pak anaknya biar subur dan cepat gede." Celetuk Papah Boby.


" Hahaha..." Tawa lepas mereka yang ada diruangan itupun terdengar.


" Broo....! jangan gugup! Enjoy...!" Ucap pak penghulu, karena dia sudah tahu dan terlihat dari wajah Arvin yang gugup, dan juga pak penghulu sudah hapal dengan keluarga mereka dari pernikahan Abiyasa dan Morgan pernah mengalami kesalahan yang mengundang tawa mereka semua.


Arvin hanya mengangguk dan terlihat fokus dengan kehadiran pak penghulu, seperti biasa Nadine tidak berada ditempat disamping Arvin tapi dia berada diruangan yang lain,tapi tetap fokus dengan pengeras suara yang sudah diseting di ruangannya itu.


" Baiklah kita bisa mulai sekarang?" Tanya pak penghulu.


" Bisa pak." Ucap Arvin sembari mengangguk dan dianggukkan mereka semua yang ada di meja tersebut.


" Sudah siap?" Tanyanya lagi pada Arvin.


" Sudah siap pak." Jawab Arvin.