THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP

THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP
BAB 133



Arvin tidak menjawab pertanyaan Abiyasa,dia menarik nafasnya dengan kasar.


" Siapa wanita itu Vin?" Tanya Abiyasa.


" Wanita itu bernama Maya teman kuliah ku Bi."


" Memang kenapa dengan dia?" Lanjut Morgan.


Arvin mendesah dan menatap kearah Abiyasa dan Morgan.


" Dia mempunyai masalah dengan ku yang belum terselesaikan." Ucap Arvin.


" Maksud kamu masalah tentang apa itu?" Tanya Morgan menatap kearah Arvin yang terlihat diam seraya menatap lurus entah kemana tatapannya tersebut.


Clarissa kemudian mendekati Arvin Setelah dia mendengar kalau Arvin sudah lama bermasalah dengan teman sewaktu kuliahnya dulu.


" Kenapa kamu tidak pernah mengatakan masalah yang pernah kamu hadapi dengan kami,setidaknya kamu bisa berbicara dengan Abiyasa " Sambung Clarissa yang langsung menghentakkan tubuhnya di sofa ruangan itu.


"Aku tidak ingin cerita dengan kalian masalah yang pernah aku hadapi.Aku berusaha saat itu untuk menyelesaikannya sendiri tapi sampai sekarang tidak ada penyelesaiannya dan malahnya saat ini dia berteman dengan Nadine,aku takut kalau permasalahan kami yang ku sembunyikan bertahun-tahun itu dia ceritkan dengan Nadine."


" Memang selama masalah kalian terjadi saat itu kenapa sampai tidak ada penyelesaiannya.?" Tanya Abiyasa pada Arvin.


Arvin hanya menatap sesaat ke arah Abiyasa,dan kemudian dia langsug menundukkan kepalanya.


" Ceritanya panjang Bi dari awal sampai akhir permasalahan itu belum ada penyelesaiannya, karena saat itu aku mau menyelesaikannya dia pun hilang tanpa jejak." Ucapnya Seraya menarik nafasnya dengan sangat berat.


" Jadi kamu bertahun-tahun menyimpan masalah ini sendirian Vin.?" Tanya Clarissa.


Arvin menganggukkan kepalanya.


" Aku kira selama ini dia menghilang sudah mati,membawa masalah itu dan bukt-buktinya,tapi aku salah ternyata dia datang lagi." Ucap Arvin.


" Om Candra dan tante Adel pun tidak tahu tentang masalah yang kamu hadapi sekarang ini.?" Tanya Abiyasa.


Arvin hanya menggelengkan kepalanya.


" Aku mengira dia pergi tidak pernah akan kembali lagi tapi aku salah ternyata dia kembali bahkan menjadi temannya Nadine."


" Masalah sebenarnya apa? sehingga kamu merasa takut kalau seandainya dia mengatakan masalah kamu yang pernah terjadi di waktu kuliah dulu dengan Nadine, Kamu terlihat menyimpan sesuatu ceritakanlah dengan kami." pinta Clarissa.


Pribadi Arvin di antara mereka memang sangat sedikit tertutup tentang masa lalunya, berbeda jauh dengan ayah Candra masa dulu orang tuanya sangat terbuka menceritakan dengan para sahabatnya tentang masalah yang terjadi tapi tidak dengan Arvin dia menutup masa lalunya itu dalam-dalam.


" Coba kamu terbuka Vin dengan kami kamu cerita semuanya biar kita bisa menyelesaikan masalah ini." ucap Morgan.


Lagi-lagi Arvin menghela nafasnya dalam-dalam dan menatap ketiga sahabatnya tersebut.


" Saat kuliah dulu Aku berteman dengan Maya di mana ada aku Maya selalu bersamaku sampai teman-teman pun mengatakan kalau aku dan Maya adalah sepasang kekasih,sebenarnya aku menganggap Maya itu hanya sebagai teman biasa sama seperti teman-teman yang satu jurusan denganku." Ucapnya seraya menarik napasnya dengan berat.


Diam sesaat, mereka bertiga menunggu cerita selanjutnya dari Arvin. Hening! tidak ada suara sama sekali di ruangan itu,Hanya bunyi cicak jatuh yang kedengaran, karena saking heningnya menunggu cerita dari Arvin selanjutnya. Arvin kemudian melanjutkan ceritanya.


" Saat aku dan Maya makan di kantin dia terang-terangan mengatakan kalau dia mencintaiku dan menyukaiku sejak pertama bertemu denganku.Tapi saat itu aku mengatakan kepada Maya Aku tidak ingin menyakiti hatinya dengan perasaanku yang tidak bisa mencintainya, Aku menolaknya secara halus Aku kira Maya mengerti dengan penolakak ku kalau aku tidak ada rasa sama sekali dengan dia dan aku menganggapnya sebagai teman biasa." Lagi-lagi Arvin menarik nafasnya sesaat dia pun melanjutkan ceritanya.


" Aku lihat Maya sepertinya menerima di depanku dia tersenyum. Tapi aku tidak tahu isi hatinya." Ucap Arvin.


" Jika saat itu ada Clarissa mungkin Clarissa bisa membaca isi hatinya Maya." Celetuk Morgan.


Abiyasa tersenyum, begitu juga Arvin terkekeh pelan,dan satu gumpalan tissu mendarat diwajah Morgan,Morgan melirik kearah Clarissa seraya terkekeh pelan, Clarissa hanya mendelik pada Morgan.


" Lanjut Vin." Ucap Abiyasa.


" Awalnya biasa saja setelah dia mengatakan kalau dia mencintaiku dan Aku menolaknya agar tidak menyakiti hatinya.Maya juga bersikap biasa aja setelah penolakan ku padanya, masih tetap bersama. Kemudian kami kedatangan mahasiswi baru bernama Lia Pratiwi, awalnya aku biasa aja melihat Lia tapi lama kelamaan pesona Lia menggoyahkan sikapku, Aku menyukai Lia.Saat Lia sendirian di kantin aku menemuinya dan aku bertanya lebih lanjut tentang dirinya, Lia memang tipe wanita pendiam tidak terlalu banyak temannya tapi aku menyukainya. Aku memberanikan diriku mengatakan kepada Lia kalau aku menyukainya tapi diluar dugaanku." Arvin menghentikan kisahnya.


" Terus dugaan mu apa Vin?" Tanya Morgan.


" Ternyata Lia sudah dijodohkan oleh kedua orang tuanya dan saat itu dia sudah bertunangan dengan lelaki pilihan kedua orang tuanya,tapi Lia sempat bicara padaku, kalau dia tidak menyukai lelaki pilihan orang tuanya tersebut, karena lelaki itu playboy yang akut,aku pun menerimanya dengan ikhlas, mungkin ini hukum karma berlaku denganku, karena aku menolak Maya jadi aku pun ditolak oleh Lia."


Mereka bertiga menarik nafas berbarengan seiring dengan berhentinya kisah Arvin sesaat.


" Dan suatu hari itu aku dan Lia ngobrol di kantin,disitu juga ada Maya,kami bertiga ngobrol bersama,tidak ada yang aneh diantara kami,karena jamkos mata kuliah,kami asyik ngobrol, Maya menawarkan kami minuman dia yang mentraktir, aku tidak curiga terhadap Maya, aku mengiyakan begitu juga dengan Lia mengangguk di tawarkan oleh Maya untuk memesan minum,kami minum bersama sembari bercerita,tidak terasa suasana kampus sepi,hanya satu dua yang ada di kampus saat itu." Ucapnya.


Ketiga sahabatnya setia mendengarkan kisah Arvin beberapa tahun yang lalu.


" Saking asyiknya Kami berbicara kami tidak ingin menyudahi bicara kami tersebut,sampai akhirnya Lia mengeluh pusing,aku juga saat itu merasa pusing,tapi masih aku tahan,karena melihat Lia sedikit lemah,Maya pun menyuruh aku untuk mengantarkan Lia,aku setuju dan aku mengajak Lia berjalan kemobil ku,tapi belum sampai kemobil Lia sudah lemah dan tak sadarkan diri, aku berteriak memanggil Maya, Maya pun datang,dan membantu aku mengangkat Lia masuk dalam mobilku,pusing yang aku rasa di kepalaku mulai terasa sakit saat itu,aku memasuki mobil,dan rasa pusing semakin lama semakin terasa,setengah sadar aku melihat Maya bicara dengan tiga orang namun samar aku melihat tiga lelaki itu,dan tatapan ku saat itu menjadi gelap, Aku tidak tahu apa yang terjadi dalam minuman kami yang kami minum di kantin kampus,aku tidak tahu lagi apa yang terjadi." Ucapnya seraya mengusap wajahnya dengan kasar.


Mereka bertiga masih setia mendengarkan kisah Arvin.


" Saat kamu mendapatkan kesadaran mu? apa yang terjadi Vin?" Tanya Morgan.


" Saat aku mendapatkan kesadaranku,kepala ku masih sedikit pusing,dan aku melihat Lia menangis kesesugukkan, aku melihat Lia disampingku sudah tidak menggunakan pakaiannya lagi,dan tubuh Lia di balut dengan kain gorden jendela yang ada di ruangan kesehatan itu, begitu pula dengan aku yang mendapati diriku sudah bertelanjang dada dan aku melihat di lantai berserakan pakaian Lia, aku terkejut aku mengatakan kepada Lia kalau terjadi apa-apa aku akan bertanggung jawab Lia kemudian menyudahi tangisnya dan dia mengatakan kepadaku saat itu, aku masih mengingat kata-kata Lia.


Kamu tidak perlu bertanggung jawab aku tidak memerlukan tanggung jawabmu, Ucapnya seraya mengambil pakaiannya dan memakainya.Aku cepat-cepat berdiri dan mengambil bajuku yang ada di sampingku,dan berniat ingin mengantarkan Lia, ternyata Lia menolaknya dan dia pun pergi seorang diri dari ruangan kesehatan di kampus dengan kepalaku yang masih terasa sakit Aku berusaha keluar dan aku menuju ke arah mobilku aku juga tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya,aku juga tidak mendapati Maya di tempat itu, aku merasa hanya aku dan Lia berada di sana saat itu.Ternyata hari itu adalah hari terakhir aku bertemu dengan Lia.beberapa hari aku tidak masuk kampus,sejak kejadian itu Maya tidak pernah lagi bersamaku menghubungi ku diapun tidak pernah,aku biasa saja aku pikir mungkin dia sudah bosan berteman dengan ku,aku bersyukur kalau dia sudah tidak dekat dengan ku,tapi paginya saat aku masuk kampus seperti biasanya, Aku berusaha mencari tahu tentang keadaan Lia dan keberadaannya, satu persatu orang di kampus tidak mengetahui keberadaan Lia,sampai tempat tinggalnya pun mereka tidak tahu." Arvin menghentikan ceritanya,karena gawainya berbunyi,ternyata chat pribadi dari Nadine.


Arvin membuka chat pribada yang di kirim Nadine padanya.


" sayang aku lagi sibuk maaf bila panggilanmu tidak aku jawab." isi pesan nadine pada Arvin.


Arvin menarik nafasnya berat seberat beban yang ada padanya.


ketiga temannya hanya bisa menatap kearah Arvin.


" Lanjutkan Vin ceritanya." Ucap Morgan.


" Biar kita tuntas semuanya " Sambung Abiyasa dianggukkan Clarissa.


" Setelah aku mencari tahu dengan pihak kampus,Lia sudah mengajukan berhenti dari kampus dengan alasan Lia menikah dengan tunangannya. kalau aku pikir tidak mungkin dia menikah pada saat hari itu juga sedangkan saat itu terakhir aku bertemu dengan dia saat kejadian itu.Aku pun akhirnya menutup diriku aku diam seorang diri aku tidak mau berbicara dengan siapapun, Aku ingin menyelesaikan kuliahku dengan cepat,aku juga tidak mau mengatakan semuanya dengan bunda dan Ayah,karena aku tidak ingin mengganggu mereka, hari-hari seperti biasanya aku lewati dengan belajar dan belajar.Tapi saat itu aku tidak pernah lagi bersama dengan Maya. Maya pun begitu juga dia nampak menghindar dariku,Aku berusaha menemui Maya tapi dia terus menghindariku,karena aku ingin menanyakan siapa ketiga lelaki tersebut di saat kejadian itu. Sampai suatu saat hari itu dia mengirim chat pribadi padaku,saat aku buka ternyata sebuah fhoto dimana aku sedang tertidur memeluk Lia di ruang kesehatan kampus,aku terkejut dan aku lalu menghubungi Maya mencari tahu dapat dari mana dia fhoto itu,tapi dia tidak pernah menjawab panggilanku, chat pribadi juga sudah aku kirim tapi satu pun tidak di balasnya.


Disaat aku masuk kampus aku terus mencari Maya tapi aku tidak menemukannya,aku kembali menemui pihak kampus dan menanyakan kemana Maya, mereka mengatakan kalau Maya sudah pindah kuliah dari kampus karena orang tuanya yang meminta Maya untuk pindah bersamanya,aku juga tidak tahu dia pindah kemana,yang aku tahu Maya putri bungsu dari dua bersaudara,dari pasangan orang tuanya yang mempunyai sebuah perusahaan di luar negeri,aku juga tidak tahu apa penyebabnya dia mengajukan pindah,yang aku dengar dari pihak kampus ya seperti itu, padahal saat itu orang tuanya membujuknya untuk pindah bersama mereka keluar negeri,tapi dia malah tidak mau. Aku pusing memikirkannya saat itu, sampai kelulusanku dari kampus itu,aku tidak pernah ketemu Maya ataupun Lia, bertahun-tahun aku menutupnya sampai suatu hari aku melihat Nadine bersama dengan Maya dalam satu mobil hatiku langsung merasa takut kalau seandainya Maya bercerita dengan Nadine tentang kejadian itu, Aku tidak tahu apakah aku menodai Lia atau tidak.Tapi yang jelas aku merasa dijebak oleh Maya itulah perasaanku saat ini.Ingin aku menyelesaikan masalahnya dengan Maya tapi belum ada waktunya." ucap Arvin panjang lebar menjelaskan cerita yang selama ini ditutupnya dari sahabat-sahabatnya.


Clarissa menepuk pundak Arvin.


" Kamu yang sabar ya kita akan menyelesaikan semuanya Maya bisa bermain seperti itu kita juga bisa bermain lebih dari itu kamu serahkan saja kepadaku untuk mencari bukti dengan Maya." Ucap Clarissa.


" Aku percaya denganmu Ris, kamu pasti akan menyelesaikan kan semuanya itu dan mendapatkan bukti dari Maya. Tapi sebelumnya Vin kita harus menyelesaikan masalah Marco dulu." Ucap Abiyasa.


" Benar kata Arvin dia di jebak, aku menarik kesimpulan dari cerita Arvin ini sebenarnya Arvin memang dijebak oleh Maya karena Arvin masih dalam keadaan sadar melihat Maya berbicara dengan tiga orang lelaki, intinya adalah di Maya." Ucap Morgan.


" Kita serahkan semuanya dengan Clarissa semuanya akan clear sesuai dengan namanya Clarissa." Ucap Abiyasa tersenyum Clarissa juga tersenyum dan menganggukkannya.


" Siap laksanakan!" Ucap Clarissa.


" Aku yakin ketiga lelaki yang berbicara dengan Maya itu masih ada hubungan dengan peristiwa yang kamu alami itu Vin" Ucap Morgan.


" Aku juga mengira seperti itu Mor." Kata Arvin.


" Maya merasa malu mungkin saat itu dia di tolak kamu dan akhirnya dia membalas kamu dengan cara ingin mempermalukan kamu dengan mengandalkan dari fhoto tersebut." Lanjut Abiyasa.


" Yang aku takutkan kalau nanti fhoto itu dan bukti-bukti lainnya masih banyak di Maya dan aku takutkan nantinya fhoto itu di berikan kepada Nadine, dan Nadine akan marah dan membenciku." Ucap Arvin dengan nada sedih.


" Kamu yang sabar,setelah semuanya disini selesai kita akan menuntaskan semuanya." Ucap Abiyasa.


" Kamu ada kami, kamu tidak sendirian Vin menghadapi ini." Ucap Abiyasa di anggukan Morgan dan Clarissa.