THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP

THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP
BAB 134



" Kenapa kamu tidak pernah bilang Vin, seharusnya kamu itu bilang dengan kami." Ucap Clarissa.


" Aku sebenarnya ingin bilang dengan kalian tapi karena kalian berada jauh di luar negeri Aku tidak ingin merepotkan kalian makanya aku ingin menyelesaikannya sendiri masalahku dengan Maya." Ucap Arvin.


" Terus siapa Ariel.?" Tanya Morgan.


" Aku juga tidak tahu Mor,siapa Ariel itu,yang jelas dikatakan Maya kalau Ariel sedang berbicara dengan Nadine aku takut nanti Nadine dan Ariel dibuat oleh Maya seperti aku dan Lia aku juga takut Ariel itu adalah teman Maya dan ingin menghancurkan Nadine." Lanjutnya lagi.


" Aku mau bertanya denganmu Vin, kalau seandainya Nadine dibuat Maya seperti Lia Apakah kamu bisa menerimanya." Tanya Clarissa.


" Apapun yang terjadi dengan Nadine aku akan menerimanya dengan ikhlas aku mencintai Nadine tulus." Ucap Arvin.


" Kalau seandainya Lia datang dan meminta tanggung jawabmu saat ini,Gimana kamu Vin?" Tanya Clarissa lagi.


" Bukan apa ya Vin,karena aku juga seorang wanita,pasti hancur saat itu dan tidak mungkin langsung berbicara pertanggung jawaban karena dalam kondisi pikiran kacau,Gimana tanggapanmu Vin."


Arvin terdiam dan menarik nafasnya dengan pelan.


" Dua-duanya di rangkul." Ucap Morgan.


Arvin menatap kearah Morgan.


" Sebenarnya aku bingung untuk menjawabnya,di sisi lain aku sangat mencintai Nadine,tapi tidak ingin meninggalkannya ibarat kata aku cinta mati dengan Nadine, di sisi lain kalau Lia minta pertanggung jawaban aku akan bertanggung jawab,meskipun aku harus mengundurkan diri dari kerjaan ku sekarang." Ucapnya.


" Kita akan selesaikan sama-sama Vin, yang jelas kita menyelesaikan masalah Marco dulu " Ucap Abiyasa.


Clarisa menganggukkan kepalanya.


" Apakah besok kita ke kantor polisi." Ucap Clarissa.


" Gimana Morgan Apakah kita harus ke kantor polisi.?" Tanya Abiyasa.


" Sebentar aku akan tanya dengan Feri gimana selanjutnya." Jawab Morgan.


" Sebenarnya aku ingin sekali ke kantor polisi, aku ingin memberikan pelajaran si Danis itu, Aku ingin dia merasakan apa yang dirasakan oleh Marco." Ucap Clarissa mencengkram sesuatu dengan kuat dan mencubitnya dengan kuat.


" Ris, sakit tau Ris, ini paha ku bukan paha Danis,marah sih marah jangan paha ku dong jadi sasarannya!" Ucap Morgan seraya memegang tangan Clarissa yang mencengkram kuat paha Morgan.


Clarissa terkejut dan dia pun menarik tangannya dari paha Morgan seraya tersenyum.


" Maaf Morgan pembawaan emosi." Ucap Enteng Clarissa.


" Emosi sih, Emosi tapi jangan gitu juga kali Ris, sakit tahu, sudah di cengkram di cubit lagi." Ucap Morgan mendelik seraya mengelus halus pahanya yang tertutup celana kain tersebut.


Abiyasa dan Arvin terkekeh pelan melihat Morgan kesakitan dan meringis.


" Untung saja cuma paha, kalau yang itu tuh, gimana ya rasanya, pasti sakitnya seenak makan durian." Ucap Abiyasa tertawa pelan.


" Iya enak makan duriannya, terus biji duren nya jadi pengganti telurku yang pecah,karena di cubit dengan keras." Celetuk Morgan tersenyum dan menjauh dari Clarissa.


Arvin dan Clarissa terkekeh.


" Jika tidak di rumah sakit, aku rasa Morgan teriak keras tuh." Ucap Arvin.


" Ya iyalah, aku teriak,untung aja paha, jika nyawa keduaku yang dipelintir Clarissa karena emosi, nggak tahan lama biji salak gantinya." Ucap Morgan tersenyum masem kearah Clarissa.


Clarissa terkekeh seraya menutup mulutnya takut tertawanya lepas tidak terkontrol.


" Kapan kamu menghubungi Feri,Mor? biar ada kejelasannya karena Marco harus mendapatkan penyembuhan kita tidak tahu apakah Marco lemah atau tidaknya aku takut kalau Marco sampai lemah akan menyebabkan ketromaan di dalam dirinya." Ucap Abiyasa lagi. Clarissa pun menganggukkan kepalanya.


" Besok kita akan berangkat pulang kalau sudah ada penjelasan dari Fery." Ucap Morgan kemudian mengambil gawainya dia memencet nomor Feri seraya mengusap-usap pahanya yang masih terasa sakit.Dia keluar ruangan dan menghubungi Feri.


" Setelah dari sini kita sampai ke rumah, kita akan mengurus semuanya Vin, kita harus mengatur rencana." Ucap Clarissa seraya menepuk pundak sahabatnya itu.


Arvin hanya menganggukkan kepalanya.


" Tapi kenapa kamu sedih Vin.?" Tanya Abiyasa.


" Aku memikirkan Nadine aku takut Ariel mengganggu Nadine ataupun Maya berbuat yang aneh-aneh dengan Nadine Aku tidak ingin Nadine kenapa-napa." Ucapnya.


" Kalau kamu takut Nadin kenapa-napa coba kamu hubungi kak Roni kamu tanya dengan kak Roni Apakah Nadine ada di rumah atau tidak." Ucap Abiyasa.


" Akhir-akhir Ini aku memang jarang berbicara dengan Nadine karena setiap aku hubungi atau aku chat pribadi Nadine selalu tidak membalasnya tapi Nadine membacanya saja, tadi aja baru dibalas kalau dia sibuk,tapi aku tidak yakin kalau itu balasan Nadine, dia juga tidak menghubungi Aku biasanya dia selalu menghubungi aku tapi aku berusaha untuk tenang,karena kita belum menemukan keberadaan Marco,setelah ketemu Marco pikiran ku sekarang tidak tenang." Ucapnya lagi.


" Lebih baik kamu hubungin aja dulu kak Roni,kamu tanya dia denganya." Ucap Abiyasa.


Kemudian Alvin mengangguk dia mengambil gawainya dan menghubungi dokter Roni Tapi sayangnya dokter Roni tidak bisa dihubungi.


" Kak Roni tidak bisa dihubungi." Ucap Arvin singkat meletakkan gawainya diatas meja.


" Ya sudah aku akan menghubungi anak buah aku di sana." Ucap Abiyasa.


" Biar dia mencari tahu dimana Nadine sekarang." Ucap Abiyasa kemudian mengambil gawainya dan dia pun keluar ruangan untuk menghubungi salah satu anak buahnya agar mencari tahu di mana Nadine berada dan Abiyasa juga meminta kepada anak buahnya tersebut untuk mengawasi Nadine,dan melaporkannya pada dirinya.


Beberapa saat kemudian Morgan masuk ke dalam dan disusul oleh Abiyasa.


" Gimana Mor Apakah besok kita diperlukan.?" Tanya Clarissa.


" Sementara waktu kata Feri kita boleh aja kembali ke kota kita untuk membawa kak Marco tapi nanti disaat kak Marco sudah pulih kak Marco bisa dimintai keterangan,dan pihak mereka yang akan menemui kak Marco." Ucap Morgan seraya duduk di sofa tersebut.


" kalau anak buah aku sudah Aku perintahkan untuk mencari Nadine dan mengawasi Nadine 24 jam."


" Terimakasih ya Bi karena kamu sudah memberikan jalan keluarnya." Ucap Arvin.


" Itulah gunanya kami Vin, jangan kamu simpan sendiri Kamu harus terbuka dengan kami,kamu berteman dengan kami tidak satu dua hari tapi melainkan kita berteman sejak kecil sampai sekarang, jadi kalau ada masalah jangan di simpan sendiri." Ucap Abiyasa seraya menepuk halus pundak sahabat sekaligus sepupunya tersebut.


" Ya udah besok setelah mengurus administrasinya kita berangkat pulang ke kota kita, kita harus menyelesaikan satu persatu masalah yang telah kita hadapi." ucap Abiyasa lagi.


Mereka pun menganggukkan kepala menyetujui apa kata Abiyasa.


" Ya udah kamu istirahat aja Ris, kamu pasti sudah capekan." Ucap Morgan.


" Kamu juga Vin istirahat, kamu jangan terlalu memikirkan Nadine, insyaallah Nadine akan dilindungi yang kuasa." Ucap Abiyasa.


Arvin menganggukkan kepalanya kemudian dia berdiri dan melangkah ke sofa yang lain untuk merebahkan tubuhnya begitu juga dengan Abiyasa serta Clarissa merebahkan tubuh mereka dan beristirahat.


Morgan kemudian mendekati sang kakak dia menatap kakaknya itu kemudian gawainya berbunyi,Morgan melihat layar gawainya ternyata papanya Carlos yang memanggilnya.


Morgan pun menjawab panggilan dari papanya tersebut, dia melangkah berjalan keluar untuk berbicara dengan papahnya yang berada di luar negeri.


Setengah jam kemudian Morgan memasuki ruangan tersebut dia melihat ketiga sahabatnya Sudah terlelap, kemudian dia mengambil alas yang memang sudah disediakan oleh pihak rumah sakit di ruangan VVIP tersebut,diapun merebahkan tubuhnya di alas tersebut dan beberapa saat kemudian mereka pun tertidur beristirahat.


Dirumah kediaman keluarga Wibawa tepat jam 4 subuh Ayesha bangun dari tidurnya. Dia kemudian duduk di bibir ranjangnya dia menatap kearah foto suaminya tersebut, dia mengambil bingkai foto yang ada didekat meja tidak jauh dari tempat tidurnya itu.


Ayesha tersenyum menatap sang suami.


" Mas kapan kamu pulang? aku merindukanmu." Ucapnya seraya mengusap fhoto suaminya tersebut.


" Kenapa aku sangat merindukan suamiku? dan kenapa aku memginginkan suamiku berada di sampingku saat ini " Gumamnya.


Kemudian dia menaruh kembali foto tersebut saat dia berdiri dia merasa pusing sekali kepalanya,dia duduk kembali.


" Kenapa aku merasakan kepalaku kok pusing seperti ini." Ucapnya.


Beberapa menit dia duduk kemudian dia mencoba berdiri lagi.


" Syukurlah pusingnya sudah sedikit berkurang." Ucapnya seraya berjalan menuju kamar mandi dan membersihkan dirinya,dan melaksanakan sholat subuh di kamarnya seorang diri.


Setalah sholat dia keluar dari kamarnya menuju kelantai bawah dan langsung menuju kearah dapur,walaupun masih terasa pusing,dia melihat mertuanya sedang memasak di dapur bersama Umi tercintanya.


Mama Anisha dan Umi Vita menoleh kearah Ayesha.


" Ayesha Sayang,kenapa mukamu pucat nak? kamu sakit.?" Tanya umi Vita seraya mendekati Ayesha dan memegang badan anaknya tersebut.


" Nak badanmu sedikit panas kamu udah minum obat penurun panas.?"


Ayesha menggeleng dengan lesu.


" Nggak usah diberi obat penurun panas dulu, kita minta Dita memeriksanya,siapa tahu menantuku..." Mamah Anisha menggantung kalimat nya Seraya tersenyum menatap kearah umi Vita.


Umi pita pun tersenyum kemudian Aisyah disuruh duduk di meja makan, Mama Anisha membuatkan susu dan kue untuk Aisyah.


" Minum dan makan ini dulu sayang, biar kamu bertenaga." Saran Mamah Anisha.


Akan tapi Ayesha menggeleng.


" Ayesha tidak mau mah, Ayesha melihat kue dan susu merasa enek dan ingin muntah." Ucapnya seraya berdiri dan setengah menuju kamar mandi belakang dan dia pun muntah.


Umi Vita dan mama Anisha saling berpandangan dan mereka pun merasa bahagia.


" Jangan-jangan anak kita sudah mau memberikan kita cucu." Ucap Mama Anisha seraya menatap kearah Umi Vita.


Umi Vita pun tersenyum merasa bahagia.


Mereka berdua mendekati anaknya tersebut, dia melihat Aisyah terlihat lelah.


" Umi Ayesha mau makan buah mangga muda." Ucapnya setelah keluar dari kamar mandi belakang.


" Nah bener kan." Ucap mamah Anisha terdengar sangat bahagia.


Mamah Anisha kemudian berjalan memanggil Anindita dan meminta Anindita memeriksa Ayesha, Ayesha kemudian dibawa keruang tengah dengan di gandeng Umi Vita, Anindita pun memeriksa Ayesha,dan Anindita pun tersenyum.


" Nanti siang kita periksa kerumah sakit dan periksa lagi dengan dokter kandungan biar memastikannya kembali." Ucap Anindita.


" Tapi Ayesha hamilkan nak?" Tanya Mamah Anisha.


" Iya mah terlihat begitu, lebih Akurat lagi nanti periksa dengan dokter kandungan di rumah sakit kita." Ucap Anindita tersenyum.


" Ini kenapa rame-rame,Ayesha kamu kenapa? kenapa Nis dengan Ayesha.?" Tanya mamah Lala yang baru saja keluar dari dalam kamarnya.


Mamah Anisha cuma tersenyum saja.


" Menantunya pucat seperti ini kamu malah tersenyum emang ada apa sih Nis,Vita ada apa dengan Ayesha.


Mereka hanya tersenyum.


" Menantu kita mau memberikan kita cucu" Ucap Mamah Anisha.


" Hahai..benarkah itu?" Ucap Mamah Lala tersenyum bahagia.


" Ayesha mau makan mangga muda." Ucapnya.


" Ya udah mamah Lala yang akan manjat mangga muda yang ada di belakang." Ucapnya tersenyum mantap.


" La..beneran kamu mau manjat?" Tanya mamah Anisha.


" Iya beneran Ayo." Ajak Mamah Lala.


Mereka yang ada di ruang tengah tersebut hanya saling pandang.


" Ayo....jangan saling pandang seperti itu." Ucapnya karena melihat mamah Anisha dan Umi Vita saling pandang tak percaya dengan kata-kata mamah Lala.


Mereka berdua hanya bisa mengikuti langkah Lala.


Sesampainya di teras belakang, mamah Lala memperhatikan pohon mangga yang lumayan tinggi tapi ada beberapa buah mangga yang masih muda tersebut.


" Gimana La? bisa nggak manjatnya?" Tanya mamah Anisha.


" Tenang, aku bisa kok jangan khawatir" Ucapnya tersenyum


" Mbak Lala, mending pakai galah panjang aja mbak" Sambung Umi Vita.


" Nggak usah Vit,tenang aja kalian." Ucapnya lagi terkekeh.


" Hati-hati lho La, aku kan tidak pernah liat kamu manjat pohon, nanti kalau kamu kenapa-napa aku enggak bisa ngomong sama Mas Bobby." Ucap mamah Anisha.


" Tenang aja Nis, ayang Mbeb tuh dah tahu kalau aku bisa manjat." Kekehnya lagi


Kemudian Mama Lala memanjat pohon mangga yang ada di teras belakang,dan kedua ibu-ibu tersebut memperhatikan Mamah Lala yang memanjat begitu cepatnya, beberapa mangga muda yang ada di atas pohon diambil oleh Mamah Lala dan diberikan kepada Mama Anisha dan Umi Vita yang ada di bawah pohon mangga itu. Kemudian Mamah Lala turun dengan pelan-pelan dari atas pohon dan dia pun selamat sampai bawah dengan senyuman sumbringahnya. beberapa buah mangga tersebut kemudian mereka cuci dan mama Anisha membikin bumbu rujaknya, Umi Vita mengupas mangga tersebut dan Mamah Lala menyiapkan makanan untuk Ayesha.


" Sebelum kamu makan mangga muda ini kamu harus makan nasi dulu." Ucap Mama Lala tersenyum.


Ayesha hanya menganggukkan kepalanya, walaupun sebenarnya dia tidak mau makan nasi tapi dia memaksakan makanan yang diberikan oleh Mama Lala karena dia takut kalau Mama Lala marah kalau seandainya dia tidak mau memakannya, akhirnya sedikit demi sedikit nasi dan lauknya yang ada di piring dimakan oleh Ayesha, tapi sesekali matanya melirik kearah uminya yang sedang mengupas mangga muda dia begitu menghendaki mangga muda itu,tapi dia harus memakan nasi yang ada di hadapannya tersebut.


Mamah Lala tersenyum karena memperhatikan Ayesha yang sesekali melirik kearah Uminya yang sedang mengupas mangga muda tersebut.


" Sabar sayang, nanti kamu makan buah itu juga kok." Ucap Mamah Lala lagi-lagi tersenyum.


Ayesha hanya tersenyum saja mendengar perkataan mamah Lala.