
Mereka yang ada ditempat lain pun bersiap untuk mengacau dirumah keluarga Wibawa, mereka memasuki mobilnya dengan melajukan mobil tersebut dijalan beraspal dengan kecepatan cukup tinggi agar mereka lekas sampai ditempat tujuan.
Dirumah, papah Andre pun sudah bersiaga menunggu tamu yang tak udang tersebut.
Mereka yang berjumlah lima orang itu berhenti tidak jauh dari rumah papah Andre.
" Kita berhenti di sini saja, daripada nanti kita berhenti lebih dekat dari rumah itu, siapa tahu mereka masih memperkuat keamanannya, bukannya kabar yang baik yang bisa kita berikan pada Bos Johanes, tapi melainkan kabar buruk, kita bisa saja seperti mereka berdua yang sudah membuat kesalahan sedikit saja dengannya,dan mendapatkan hukuman." ucap salah satu dari mereka.
Mereka berempat menganggukkan kepalanya mendengar perkataan dari salah satu dari mereka itu.
" Bagaimana kalau aku saja yang turun terlebih dahulu, aku akan masuk ke dalam halaman dan melihat keadaan di dalam." Ucap salah satu dari mereka yang lain.
" Apakah kamu sendirian aja ke sananya?" Tanya yang lain.
" Aku yang akan menemani dia, kalau berdua akan lebih enak, kalau terjadi apa-apa dengan kami dalam waktu beberapa menit tidak memberi kabar kepada kalian, kalian bertiga segera menyusul kami." ucap salah satu dari mereka lagi.
" Baiklah kalau seperti itu, hati-hati." ucapnya.
Dianggukkan mereka berdua, kemudian kedua orang itu pun turun dari mobil mereka dan melangkah menuju ke arah kediaman keluarga Wibawa, karena situasi jalanan sudah terlihat sangat sepi, dikarenakan waktu sudah menunjukkan tengah malam, mereka berdua melompati parit kecil yang ada di depan rumah keluarga Wibawa tersebut, Mereka pun kemudian berjalan mengendap melewati pagar rumah itu, untuk melihat situasi di dalam halaman rumah itu dan memang tidak ada orang yang menjaga rumah tersebut, mereka berdua saling berpandangan dan kemudian tersenyum, Mereka berdua pun berbicara seraya berbisik.
" Sepertinya mereka memang meyakini, Kalau hari ini adalah hari yang aman bagi mereka." ucap salah satu dari mereka berdua, mereka kemudian mendekati pintu pagar rumah tersebut.
" Ini adalah keberuntungan untuk kita, pagar rumah utamanya aja tidak terkunci, padahal di dalam itu ada seorang security yang sedang menjaganya."
" Iya benar " Ucap kawannya itu.
" Kita tidak usah merusak Cctv halaman ini, karena tidak penting."
Dianggukkan salah satu temannya.
Mereka pun dengan leluasa masuk ke dalam halaman itu, Mereka kemudian mengendap melangkah menuju ke pos security, Mereka melihat security itu sedang terlelap tidur, mereka berdua tidak sadar kalau ini adalah sebagian dari rencana dari Abi Yosep.
Mereka berdua merasakan mereka aman, tapi mereka tidak sadar ada beberapa orang yang sudah mengawasi mereka dari pojok dalam rumah tersebut.
Padahal di saat mereka melangkahkan kaki memasuki pintu gerbang rumah itu, mereka sudah diawasi dari dalam, karena melihat dua orang yang memasuki halaman rumah keluarga Wibawa tersebut dan melangkah menuju pos security, Abi Yosep kemudian melancarkan rencananya, Dia menyuruh Ayah Candra, Papa Andre dan Abiyasa,serta Marco yang ikut bergabung dengan mereka, untuk bersembunyi, agar tidak terlihat oleh mereka kalau di dalam rumah itu masih terlihat ada beberapa orang yang tidak tidur dan mengawasi kedua orang itu.
Kedua orang tersebut lalu melancarkan aksinya melangkah menuju ke arah pintu utama rumah kediaman keluarga Wibawa melalui jalan samping tembok dengan cara mengendap-ngendap, mereka melihat keadaan rumah itu tidak dijaga lagi oleh beberapa orang yang ditugaskan pihak rumah untuk mengamankan rumahnya, padahal beberapa orang itu berada di dalam rumah keluarga Wibawa karena itu juga sebagian dari rencana Abi Yosep.
Saat mereka mendekati teras rumah tersebut Abi Yosep langsung keluar dia pun langsung meregangkan tangan kakinya,
seolah-olah dia ingin berolahraga malam, kedua orang itu pun langsung mengurungkan niatnya menuju ke pintu utama rumah tersebut, Mereka kemudian bersembunyi di balik pohon rambutan yang agak rimbun, mereka mengira Abi Yosep tidak mengetahui keberadaan mereka dekat pohon tersebut, Abi Yosep melirik sesaat kearah mereka, Abi Yosep sudah mengetahui kalau mereka berdua berada di balik pohon tersebut.
" Segar sekali rasanya hari ini, aku akan berolahraga sebentar, harinya kan sudah pagi, Wow! Cepat sekali paginya, aku suka dengan hari ini " ucapnya sembari terkekeh.
Mereka yang ada didalam tersenyum mendengar kata-kata Abi Yosep karena mengatakan tengah malam sudah pagi.
" Apa lagi yang akan dibuat Yosep Ndre." Ucap Ayah Candra tersenyum.
" Hehehe...sepertinya mulai deh rencana dadakan." Sahut Papah Andre terkekeh pelan.
Mereka berdua yang ada di balik pohon itu pun saling berpandangan.
" Sial!! Siapa orang itu? kenapa dia ada di rumah ini?" bisik salah satu dari mereka.
" Sepertinya orang itu tidak waras! masa tengah malam di bilangnya sudah pagi, biasanya orang tidak waras itu tidak tidur." bisiknya lagi.
Karena suasana malam yang hening dan sepi, Abi Yosep pun memfokuskan pendengarannya dengan pembicaraan kedua orang tersebut yang terdengar berbisik-bisik, karena pohon rambutan tempat mereka bersembunyi itu tidak jauh berada dari Abi Yosep berdiri, dia pun sengaja melangkah menuju kearah pohon itu.
" Terserah gue dong! mau pagi kek! mau tengah malam kek! suka-suka gue lah! emang urusan loh!!" ucap Abi Yosep santai seraya melakukan gerakan kecil senam didekat pohon tersebut.
Mereka berdua terkejut, dan saling menutup mulut Mereka masing-masing, kemudian salah satu dari mereka pun membisikkan sesuatu dengan temannya tersebut.
" Makanya kamu jangan terlalu keras berbicara, hampir saja kita ketahuan, kalau kita berada di sini." ucapnya.
" Maaf!" ucap salah satu dari mereka.
" Tapi mana mungkin dia bisa mengetahui kalau kita ada di sini? padahal kan ini sudah tengah malam, memang sepertinya orang ini ada gangguan jiwa." ucapnya lagi sembari berbisik dengan temannya itu.
Abi Yosep kemudian melangkah menuju ke arah teras, dia pun langsung mengambil sebuah kursi yang bisa diangkutnya untuk dia duduk di dekat pohon tersebut.
" Bagaimana ini, dia malah duduk di dekat kita, kita sekarang sulit bergerak." ucapannya.
" Ya udah kalau mau bergerak, bergerak aja, santai aja kali." ucap Abi Yosep lagi, karena dia memang mendengar ucapan dari mereka pelan tapi tetap terdengar olehnya, karena suasana yang sangat hening sekali.
Lagi-lagi mereka terkejut.
" Semut yang bodoh, kalau mau bergerak bergerak aja." Ucap Abi Yosep seraya mengambil sesuatu yang ada dikakinya.
" Akhirnya! Bukan kita yang diketahuinya, ternyata semut." Ujar salah satu dari mereka berdua.
" Iya benar, mana ada sih orang kurang waras itu mengetahui keberadaan kita." Sambungnya tersenyum.
" Awas lho, di situ ada ular kobra yang sangat besar, dia bisa menggigit dan kalau sudah tergigit tidak akan bisa diselamatkan lagi, karena gigitannya beracun, hahaha...Eh...semut hati-hati nanti digigit ular." Ucap Abi Yosep tertawa.
" Bukan kita, tapi semut, dasar kurang timbangan." Ucap mereka berdua pelan sembari berbisik, hampir tidak terdengar.
Kemudian dia berdua pun pelan-pelan melangkah meninggalkan pohon rambutan di tempat mereka berlindung itu, karena posisi Abi Yosep membelakangi pohon itu, jadi memudahkan mereka untuk menjauhi pohon tersebut, mereka berdua mengira Abi Yosep tidak mengetahui keberadaan mereka yang sudah menjauh dari pohon itu, padahal Abi Yosep mengetahui karena terlihat sedikit bayangan yang melintas dibelakangnya, walaupun mereka menggunakan pakaian yang serba hitam tapi karena halaman rumah itu cukup terang penerangannya jadi masih terlihat,dan Abi Yosep melirik sesaat kearah mereka yang menjauh darinya.
" Masuk jurang, semut masuk jurang." Ucap Abi Yosep setengah berteriak, mereka berdua pun terkekeh pelan.
" Dasar gila!!" Ucap salah satu dari mereka.
Padahal mereka tidak tahu kalau suara Abi Yosep itu memberikan tanda pada kedua anak buah Abiyasa, karena sudah dipahami mereka kedua anak buah Abiyasa menjalankan perintah dengan tanda suara dari Abi Yosep.
Kedua orang tersebut kemudian melangkah ke samping rumah, Tapi naas bagi mereka karena mereka sudah disambut dengan uluran tangan anak buah Abiyasa, Anak buah Abiyasa keluar melalui pintu samping dan kebetulan pintu samping itulah tempat target kedua orang itu untuk memasuki rumah tersebut.
" Ada berapa orang kalian hah!!' ucap Abiyasa.
" Kami berlima "
" Di mana mereka sekarang!!"
" Mereka ada di luar tidak jauh dari rumah ini."
" Sekarang hubungi mereka!! minta bantuan dengan mereka kalau kalian memerlukan bantuan! cepat!! " ucap Abi Yosep seraya mendorong tubuh mereka dengan amarahnya.
Dia pun menatap kearah Abi Yosep.
" Maaf Pak, bagaimana kami mau menghubungi mereka, karena tangan kami diikat seperti ini."
" Tunjukkan saja di mana gawai kalian!! biar aku yang akan menghubungi mereka!!" ucap Abi Yosep, mereka berdua saling berpandangan.
" Hey!! Kunyuk!! tidak usah kalian saling berpandang-pandangan, karena kalian sudah berada di dalam rumah ini, cepat katakan dimana gawai kalian." ucap Abi Yosep lagi, dengan tergagap salah satu mengatakan kalau gawainya ada di dalam saku celananya, Abi Yosep kemudian mengambil gawai tersebut dan dengan keterangan salah satu dari mereka, Abi Yosep kemudian menghubungi mereka yang ada di luar dan langsung gawai tersebut tersambung dengan lauspeaker menyala.
" Ada apa? Kenapa kalian lama sekali? apakah aman di dalam rumah tersebut?" Ucap suara disebrang sana.
" Aman terkendali, tapi kami mengalami kesusahan, Kami perlu bantuan untuk membawa 2 wanita tersebut." ucapnya sembari terbata-bata berbicara.
" Baiklah! Kami bertiga akan membantu kalian, tapi yakin aman?"
" Yakin aman, karena kami sudah berada di rumah ini tepatnya di dalam rumahnya."
" Kenapa kamu terdengar gemetar dan takut?"
" Aku gemetar berbicara seperti ini takut mereka yang lain mendengar dan bangun, cepat aku tunggu jangan lama-lama." ucapnya sembari menyudahi panggilannya, karena gawainya pun langsung diputus oleh Abi Yosep sambungannya.
" Bagus! kalian sudah menghubungi mereka, sekarang kalian aku lepaskan dan kalian harus duduk manis di sofa itu, jangan sampai kalian melarikan diri, kalau kalian masih mau melarikan diri, aku akan meremukkan kaki kalian!!" ucap Abi Yosep.
Mereka berdua menggeleng, kemudian kedua orang itu pun dilepaskan pengikat tangannya dan mereka dipersilakan duduk di sofa tersebut, Mereka bertiga yang ada diluar pun kemudian dengan mengendap memasuki halaman rumah tersebut, karena posisi pagar rumah itu sudah terbuka memudahkan mereka melangkah dan sesekali mereka menoleh ke arah pos security itu, tapi telihat pos itu masih dengan posisinya dengan security-nya terlelap tidur, mereka Langsung melangkah menuju ke pintu depan rumah kediaman keluarga Wibawa.
" Ternyata benar! mereka sudah memberhentikan beberapa orang yang menjaga rumah ini." ucapnya pelan.
Salah satu dari mereka memegang handle pintu itu dan sekali ceklek pintu sudah terbuka.
" Kesini!" Panggil kedua orang temannya itu, merekapun bertiga masuk ke dalam dan menutup pintu kembali, sesaat mereka menoleh kearah ruang tamu, terlihat cahaya remang ruang tamu itu, terlihat mereka bertiga langsung menuju ke arah sofa di mana kedua orang itu duduk.
" Bagaimana? Apakah kamu sudah melumpuhkan dua wanita itu?"
Sebelum kedua orang itu menjawab Abi Yosep, ayah Candra dan papa Andre beserta Abiyasa dan Marco pun langsung muncul di hadapan mereka, mereka tidak menyadari kalau mereka berada di pojok dekat sofa itu, Abi Yosep yang membawa pukulan kayu itu pun langsung mengarahkan kearah mereka, mereka bertiga tidak bisa berbuat apa-apa lagi, mereka hanya mengangkat kedua tangannya dan lampu dinyalakan oleh salah satu anak buah Abiyasa, Mereka pun langsung dilumpuhkan oleh mereka dan tangan mereka semua diikat kebelakang, kelima orang itu pun tidak bisa berbuat apa-apa lagi mereka hanya menundukkan kepalanya.
Di sebuah kamar hotel,tepatnya dikamar dimana papah Boby dan yang lainnya berada.
Johanes yang sudah menelepon kakaknya Kris yang berada di luar negeri itu pun, kemudian memejamkan matanya seraya menarik nafasnya dengan pelan, dengan posisinya semula dengan merentangkan tangannya di sofa, dia mengukir senyum di wajahnya, kemudian mereka yang bersembunyi di tempat yang sudah ditentukan itu pun keluar dan pelan melangkah dan berdiri di hadapan Johanes.
Johanes yang menutup matanya itu merasakan aroma orang lain berada di dalam ruangannya tersebut, dia pun langsung membuka perlahan matanya, dia melihat ada 5 orang berbaris di hadapannya tersebut, tapi dia masih tidak menyadari itu dan kembali menutup matanya setelah beberapa saat, barulah dia menyadari dan membuka lebar-lebar matanya, dia pun terkejut akan kehadiran mereka itu, dia langsung saja mengangkat kakinya dan duduk bersila di atas sofa tersebut.
" Siapa Kalian!! Kenapa kalian bisa masuk kamar ku!!" Tanyanya.
Papah Bobby kemudian mendekati dia dan mengangkat kakinya satu keatas sofa itu dan salah satu tangannya bertopang di paha kakinya yang terangkat itu dan tangannya satunya langsung mencengkram wajah Johanes.
" Coba kamu ulangangi lagi kata-kata kamu itu!!"
" Kata-kata apa?" Tanyanya seraya memegang tangan papah Boby yang mencengkram kuat wajahnya itu.
" Kamu tidak mengenali aku hah!! kamu tadi berkoar-koar kalau aku ini adalah orang yang pengecut!! tidak gentlemen!! Hanya berlindung di ketek keluarga Wibawa!!" Ucap papah Boby emosi.
Johanes langsung terkejut, dia membelalakan matanya tidak percaya kalau si Boby yang dia katakan pada sang kakak berada didepannya.
" Gagak busuk!! nggak usah membelalakan mata seperti itu!! mau ku colok kedua biji mata kamu itu hah!! Dan aku santap sekalian!!mau!!!" ucap papah Bobby sembari dengan kuat mencengkram rahang Johanes, Johanes tidak bisa bersuara, tubuhnya bergetar dan tangan kedua tangan yang masih memegang tangan Papa Bobby yang mencengkram wajahnya itu, dia berusaha melepaskan cengkraman Papa Bobby, Tapi papah Bobby dengan kuat masih mencengkeramnya.
" Heh sapi bengkok!! kalau kamu sadar sebagai laki-laki, Ayo kita duel sekarang!!" ucapnya sembari terus menatap tajam ke arah Johanes, Johanes menatap kearah Papa Bobby dengan tatapan ingin mengucap kata lepaskan, Tapi kata-kata itu tidak bisa keluar karena cengkrangan papah Boby sangat kuat.
" Sudah Bob, biar polisi saja yang menanganinya, lebih baik kalian bawa dia kekantor polisi." Ucap pak Bayu seraya mendekati papah Boby dan menepuk pelan pundaknya.
Kemudian papah Boby pun menghempaskan wajah Johanes dengan kasar.
Johanes terlihat kesakitan dan mengusap wajahnya dengan pelan.
" Morgan, Arvin, Niko bawa dia! Kita selesaikan ditempat lain." Ucapnya seraya melangkah keluar mengikuti langkah pak Bayu yang menuju kearah luar.
Tanpa perlawanan Johanes pasrah mengikuti langkah mereka sembari mengenakan pakaiannya.
Setelah berpamitan dan mengucapkan terimakasih dengan pak Bayu akhirnya mereka pun melangkah keluar menuju kemobilnya Morgan dan beberapa saat kemudian mereka pun sudah tidak terlihat lagi dari pandangan pak Bayu.
Didalam Mobil....
" Kalian tidak akan bisa menangkapku cuma-cuma seperti ini, kalian akan merasakan balasannya dari kakak ku!! Lihat saja nanti, aku akan mudah keluar dari kantor polisi.!!"
" Hah? Begitu mudahkah?" Ucap Arvin.
" Ya iyalah mudah! Kalian semua yang akan masuk penjara.!!" Ucapnya.
Mobil sengaja melewati kantor polisi tapi mereka bukan memasuki halaman kantor tersebut tapi malah cuma melewatinya, Johanes terkejut.
" Apa-apaan ini? Kemana kalian akan membawaku, aku akan teriak biar kalian ditangkap karena kalian salah sasaran!!" Ucapnya sedikit kencang, karena berisik kak Niko pun langsung memukul tengkuk Johanes dan Johanes pun langsung lemah dan pingsan.
" Nah!! Gitu dong diem!! Ngoceh aja nggak tahu ujung bicaranya kemana!!" Gerutu Kak Niko seraya menyandarkan tubuhnya dijok mobil yang dia duduki sekarang ini.
Mereka semuapun tersenyum, dan mobil terus melaju menuju kearah rumah kediaman keluarga Wibawa.