
Mobil terus bergerak menuju ke arah tujuan,di mana alamat yang mau mereka datangi, mereka ingin mencari tahu di mana keberadaan Lia, beberapa saat kemudian mobil berhenti di ujung jalan.
" Sepertinya alamatnya di sini." ucap Abiyasa.
" Ya benar Biy,Ini alamatnya tapi tidak memungkinkan kita memasuki jalan ini dengan menggunakan roda empat." ucap Arvin.
" Benar juga, tapi tunggu dulu sebelum kita ke sana kita mau menemui siapa." kata Clarissa.
" Astaga! Aku lupa namanya, yang mau kita temuin." ucap Morgan seraya terkekeh.
"Masya Allah Morgan!! ini kita bukannya mau bertemu dengan sahabat lama Morgan! tapi kita ini menjalankan misi tahu nggak sih ah! nih Pak Polisi lupa kok dipelihara sih!" ucap Clarissa sembari memukulkan gulungan kertas yang ada ditangannya kearah Morgan.
" Waduh! Ris,sampai membawa senjata segala sih Ris,heheh,ok! Kak Risa sebentar Aku akan menghubungi Anak buahku dulu." ucapnya seraya mengambil gawainya,dan langsung menghubungi Anak buahnya tersebut.
Selesai Dia mengetahui namanya dia pun menghentikan pembicaraan dengan Anak buahnya itu.
" Siapa namanya yang mau kita temuin." ucap Clarissa.
" Namanya Pak Sahrul."
" Nah gitu dong yang lengkap ini pencari faktanya aja nggak akurat gimana kita mau mencari narasumbernya lagi." ucap Risa sembari mendelik kearah Morgan.
" Iya... iya... maaf,hehehe." ucap Morgan cengengesan.
Kemudian mereka tersenyum dan turun dari mobil,terpaksa mobil ditinggal di ujung jalan karena jalan menuju tempat Pak Sahrul tersebut hanya bisa dilalui dengan pejalan kaki dan kendaraan roda dua saja, mereka berlima menyusuri jalan gang yang beraspal sangat mulus tersebut,di mana penghuninya mempunyai bangunan yang sangat minimalis walaupun terbuat dari kayu,mereka celingak-celinguk mencari tahu di mana keberadaan Pak Sahrul itu.
" Bagaimana kalau kita tanya dengan Pak RT-nya saja." ucap Abiyasa.
" Di mana kita mencari Pak RT-nya kita saja tidak tahu di mana keberadaan Pak RT." ucap Morgan.
" Noh!liat sudah jelas-jelas terpampang tulisan tamu harus lapor satu kali dua puluh empat jam." ucap Clarissa sembari memutar kepala Morgan ke arah tulisan tersebut.
" Hehehe, Aku nggak ngeliat sampai ke situ Ris." ucapnya sembari terkekeh.
Kemudian mereka berlima pun berjalan menuju ke arah rumah Pak RT tersebut, kebetulan saat itu Pak RT sedang duduk santai di depan teras rumahnya,sepertinya sedang menunggu seseorang.
" Assalamualaikum " ucapan Abiyasa bersama Dokter Roni,sedangkan mereka bertiga berada di halaman rumah Pak RT sembari menunggu Abiyasa dan Dokter Roni.
" Waalaikumsalam " ucap pak RT menyambut kedatangan tamunya.
" Ris kamu lihat nggak orang yang berdiri didepan rumah orang itu." ucap Morgan.
" Iya ya,sangat mencurigakan sekali, kan wilayah sini terlihat sepi hanya dua orang itu yang ada " ucap Arvin.
" Jangan-jangan yang diawasi mereka itu adalah rumah pak Sahrul." ucap Risa.
" Sok tahu kamu Ris,kaya tahu aja wilayah sini." ucap Morgan tersenyum.
" Bisa jadi Mor,kamu lupa ya kalau Risa itu paranormal heheh." sambung Arvin terkekeh.
" Hehehehe...benar juga ya." ucap Morgan.
" issshhh.." delik Clarissa,sedangkan kedua sahabatnya hanya tertawa pelan.
" Apaan itu Ris yang kamu bawa itu,dari tadi Aku lihat kamu bawa kertas mulu,apakah itu senjata untuk memukul Morgan.?" tanya Arvin.
" Waduh sampai segitunya Ris, kamu sama calon ipar kamu sendiri." ucap Morgan.
" Untung cuma kertas kalau aku bawa pentungan hansip baru tahu rasa kamu" ucap Clarissa tersenyum.
Kemudian mereka bertiga melihat dua orang yang mengawasi rumah tersebut sudah tidak ada lagi,dan mereka bertiga dikejutkan dengan panggilan Abiyasa dan dokter Roni.
" Hey...Ayo,apa yang kalian lihat ?" tanya Abiyasa.
" Oh, nggak ada " ucap Morgan kemudian mengikuti langkah Abiyasa dan Pak RT menuju kerumah Pak Sahrul.
Tidak terlalu jauh dari tempat Pak RT hanya berjarak kira kira 100 m terdapat sebuah rumah yang mungil penuh dengan bunga-bunga di depannya dan terlihat sangat asri dan sangat damai, bila berada di rumah tersebut saat sore menjelang.
Morgan,Arvin dan Clarissa saling pandang,kemudian Morgan dan Arvin tersenyum.
" Benarkan apa kata Clarissa rumah ini rumahnya pak Sahrul dan kedua orang tadi siapa?" ucap Arvin.
" Pasti ada yang tidak beres ini." sahut Morgan dan dianggukkan Clarissa.
" tok tok tok " Pak Rt mengetuk pintu rumah Pak Sahrul, Beberapa saat memang belum ada yang membukakan pintu, kemudian Pak RT kembali mengetuk pintu tersebut, Beberapa saat kemudian pintu terbuka Bu Sari yang membukakan pintu istrinya pak Sahrul.
" Assalamualaikum Bu Sari" sapa Pak RT.
" Waalaikumsalam, Oh Pak RT Ada apa ya Pak RT." ucap Bu Sari.
" Begini Bu Sari, ini ada tamu yang ingin bertemu Pak Sahrul."
Bu Sari langsung menatap ke lima orang tamunya tersebut.
" Siapa Bu?" tanya Pak Sahrul yang datang dari arah dalam.
" Pak RT bersama lima orang tamu yang ingin bertemu dengan kamu Pak." ucap Bu Sari,dan mereka pun langsung dipersilahkan masuk kedalam, Pak RT tersebut ikut juga masuk ke dalam Karena itu adalah permintaan dari Abiyasa supaya tidak dianggap sebagai tamu yang membawa malapetaka untuk pak Sahrul.
Pak RT pun kemudian masuk mengikuti mereka kedalam, mereka mengambil duduk di ubin yang beralaskan karpet yang memang kebetulan rumah tersebut tidak memiliki sofa ataupun kursi tamu, karena kehidupan Pak Sahrul sangat sederhana.
" Maaf Bapak dan Ibu saya mau bertanya ada masalah apa Bapak dan Ibu ini mau bertemu sama saya."
" Sebelumnya kami mohon maaf karena kami datang ke sini mungkin terlihat bersamaan" ucap Abiyasa.
" Sebenarnya kami ini ingin mencari Siti Marliana."
Pak Sahrul pun terkejut mendengar mengatakan ingin mencari keponakannya tersebut.
" Maaf sebelumnya ada apa ya Pak mau bertemu dengan keponakan saya."
" Siti Marliana adalah keponakan Bapak? Apakah benar panggilannya Lia?" tanya Abiyasa.
" Oh iya, memang Lia namanya, kenapa ya pak."
" Begini Pak..." kata-kata Abiyasa langsung dipotong oleh Clarissa.
" Oh begini Pak, Mbak Lia memenangkan undian door prize di Minimarket kami dalam acara ulang tahun Minimarket kami, sebelumnya dia sudah memasukkan undian tersebut di minimarket kami." ucap Clarissa menjelaskan.
" Minimarket? Minimarket yang mana ya?" batin Arvin.
" Pintar juga Clarissa,selalu banyak ide disaat keadaan terdesak." Batin Abiyasa sembari tersenyum.
Mereka yang ada di situ langsung terkejut dan menatap kearah Clarissa tapi mereka semua pandai menyimpan keterkejutannya dan menganggukkan kepalanya.
" Oh iya pak, memang benar itulah maksud kedatangan kami" ucap Abiyasa.
" Hebat juga Clarissa Dia langsung mencari alasan ingin bertemu dengan Lia dengan mengatakan Lia memenangkan sebuah undian." gumam Morgan.
" Apakah benar kalau keponakan saya itu memenangkan sebuah undian? Apakah kalian ada buktinya?"
" Ini Pak buktinya." ucap Clarissa memberikan kertas yang sedari tadi di pegangnya.
" Oalah ternyata kertas itu adalah rencana dari Clarissa untuk bisa bertemu dan mengorek keterangan dari Pak Sahrul ini, Aku kira kertas itu adalah senjata untuk dia memukul Morgan terus." batin Arvin sembari tersenyum.
" Kalau seperti itu Saya permisi dulu ya karena saya ada keperluan sedikit yang tidak bisa saya tinggalkan." ucap Pak RT.
" Oh iya Pak RT " ucap Abiyasa.
Karena Pak RT merasa orang-orang yang ada di hadapannya ini adalah orang-orang yang baik, karena dia tidak melihat gelagat kejahatan di antara mereka berlima, apalagi pakaian mereka sangat perlente, mereka sangat baik dan berpenampilan sangat menarik, tapi beda mereka memiliki aura tersendiri yang memang benar-benar mereka adalah orang baik.
" Apakah keperluan itu sangat mendesak sekali Pak RT.?" Tanya Dokter Roni pada Pak RT tersebut yang bernama Pak Yoga.
" Iya Pak, Maaf Saya tidak bisa menyaksikan pemberian hadiah tersebut,karena saya yakin kalau Bapak-Bapak dan Ibu Ini adalah orang yang baik."
" Apakah yakin Pak RT Kalau kami ini orang baik, bisa ajakan kami ini orang jahat." ucap Clarissa lagi.
" Saya yakin Bu karena tampang-tampang kalian meyakinkan Saya, tidak seperti orang-orang yang baik di depan,tapi jahat di belakang. tapi Saya menilai sendiri kalau bapak dan Ibu ini kebaikannya memang didasari dari hati dan sesuai dengan pekerjaan bapak dan Ibu, Pak Sahrul Maaf saya permisi dulu." ucapnya.
" Oh iya pak RT Terima kasih sudah mengantarkan tamu-tamu ini ke rumah Saya." ucap Pak Sahrul.
" Sama-sama Pak."
Kemudian Pak RT pun keluar dari rumah Pak Sahrul langsung meninggalkan rumah tersebut menuju ke rumahnya sendiri Karena dia sudah terlanjur berjanji dengan seseorang yang ingin berkunjung ke rumahnya.